Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 33


__ADS_3

"Kak, Ku mohon jangan pergi." Megi menggenggam tangan Sean erat.


Sean menghela nafasnya berat, memandang Megi yang saat ini menarik tangannya. Dengan lembut Sean meleraikan pegangan tangan Megi.


"Meg, nanti gue nyusul ya." Sean memegang pucuk kepala Megi dan berlalu pergi.


Megi hanya mampu melihat punggung itu pergi tanpa bisa mencegah. Walaupun hatinya saat ini perih menahan luka. Sakit sekali, melihat Sean lebih memilih pergi dengan Hana di bandingkan ia.


Megi berjalan ke bentangan kaca lantai 32 apartemen. Ia melihat area parkiran dari atas. Walau kecil ia masih bisa melihat Sean dan Hana dari atas sini.


"Kenapa bukan aku, kak?" ucap Megi lirih.


"Kenapa bukan aku yang kakak pilih?" sambungnya.


Buliran bening mulai mengalir menghiasi pipi Megi. Dari kejauhan Megi melihat Hana yang mulai menaiki boncengan motor Sean.


"Kenapa aku tidak bisa menggantikan Hana buat mu kak, aku memang bukan tandingan Hana, tapi aku akan berusaha untuk lebih baik dari Hana, kak."


Perasaan sesak mulai bersarang di dada Megi. Sean, walaupun perlakuannya kasar dengan Hana, tapi ia masih menaruh perhatian dengan keadaan Hana.


Megi masih mengingat jelas bagaimana tadi Sean menghapus air mata Hana, kasar memang gayanya, tapi ia masih menaruh Hana dalam dekapannya.


Megi duduk di lantai koridor itu, di senderkan kepalanya pada bentangan luas kaca apartemen.


"Kenapa aku selalu sendiri, kenapa semua meninggalkan aku sendiri?"


Megi membenamkan wajahnya di atas kedua lututnya, ia kembali memeluk erat lututnya. Perih, kenapa perih sekali melihat Sean dan Hana pergi, tak bisakah Sean merasakan air matanya.


Megi kembali menumpahkan air matanya yang selama ini mulai mengering. Kali ini Megi memilih untuk berhenti, bukan karena lelah, namun karena hati.


Tak mungkin ia bertahan pada egonya, walaupun sebenarnya ia masih menyimpan cinta untuk Sean. Namun pikirannya memilih berhenti di awal lebih baik, dari pada meninggalkannya di akhir.


Hati Sean tak akan pernah ia miliki, bahkan tanpa ada Hana di hadapan Sean sekalipun, ia begitu kokoh. Bagaimana lagi, jika saat ini ada Hana di hadapan Sean. Ia semakin terhempas dari kehidupan Sean.


"Papa ... Tak bisakah Papa bawa Megi pergi? Tak bisakah Megi menyerah pada kenyataan ini?"

__ADS_1


Megi kembali menatap hamparan kaca luas itu. Tak ada lagi Sean di bawah, iya, memang seharusnya ia sudah pergi. Pergi sejauh mungkin, dan hanya meninggalkan perih disini.


Ting ... Notifikasi pesan masuk, Megi menghapus buliran air matanya dan beranjak berdiri. Di lihatnya pesan yang masuk ke dalam ponselnya, dari tante Miranda. Ia mengabarkan, bahwa ia sudah menunggu Megi di butik.


Megi mencoba bangkit, menguatkan kembali kakinya yang melemas karena perih yang di rasakan. Dengan langkah gontai, Megi berjalan menyusuri koridor, menuruni lantai 32 dan menuju ke butik menggunakan taksi.


****


Sean menarik tangan Hana, sesaat setelah memarkirkan motornya di bibir pantai. Sean menghempaskan kuat badan Hana keatas pasir di pinggir laut.


"Mau jelasin apa lagi?" tanyanya ketus.


"Sean, gue mohon dengarkan dulu penjelasan gue. Percaya sama gue, lu salah paham Sean. Cuma salah paham."


"Hah ... Salah paham?" Sean membuang salivanya kesamping.


"Apa lagi yang bisa di jelaskan? cuih ... Salah paham?" Sean tersenyum kecut. Ia melemparkan pandangannya pada gadis manis, yang saat ini mampu membuat ia kembali meradang.


"Lu pikir gue gak tau, kalau lu dulu deketin gue cuma karena Mika, iya kan?"


"Sean, dari dulu gue sukanya sama elu, gue deketi Mika karena Papa yang suruh." bela Hana lembut.


"Hana, apasih kurangnya gue?" ucap Sean kesal.


"Gak ada, Sean gak..."


"Gue belum siap ngomong! jangan putusi kalimat gue!" bentak Sean pada Hana.


Hana sedikit terkejut, kembali mata beningnya mengeluarkan cairan. Hana perempuan yang manja dan cengeng, Hana sering kali menangis saat di bentak. Sebab itulah Sean berpikir bahwa setiap air mata yang di keluarkan wanita hanya sandiwara.


Karena Hana yang sering menangis dan menohon, lalu mengulangi kesalahannya. Hana akan kembali tersenyum setelah di maafkan, Sean pikir Hana menangis karena memohon ibanya. Tanpa ia sadari memang Hana gadis yang cengeng dan mudah tersenyum.


"Hana, tinggal delapan hari lagi. Delapan hari menuju pernikahan setelah delapan tahun menunggu, apa yang tidak gue berikan untuk lu Hana? Apa yang kurang?" Suara Sean kembali meninggi.


"Gue bisa ngasih elu uang, jika itu yang elu carik. Atau kebutuhan elu yang lainnya? Cuma harus sabar menunggu waktu saja, Hana. Itu pun tidak bisa?" Suara Sean menggelegar bak petir menyambar.

__ADS_1


Hana memeluk kaki Sean dan memohon. Dengan cepat tangan Sean menarik badan Hana untuk berdiri. Tak sudi untuk bersentuhan kulit dengan wanita cantik ini.


"Sean, gue di paksa Papa." ucap Hana tergugu.


"Iya gue tau, gue cuma Rayen Putra, bukan Rayen Chandra." Ucap Sean melemah.


"Sean, gue gak tau..."


"Dia Papa gue, Hana! Elu tidur sama Papa gue, Hana!" kembali Sean membentak gadis di depannya itu.


"Bagaimana mungkin kalian tega ngelakuin ini sama gue? Delapan hari lagi kita bakalan nikah, tapi elu ... Elu ngerusak segalanya!" ucap Sean membara.


"Elu hancurin dunia gue, elu hancurin hidup gue, elu hancurin mimpi gue! Elu hancurkan segalanya yang indah dalam hidup gue, Hana! Sekarang elu bilang apa? Gue salah paham?" Bibir Sean tersenyum sinis, ia menggeleng pelan.


Sean berjalan meninggalkan Hana sendiri, banyak sekali beban yang ingin dia berikan kepada perempuan itu. Namun semakin melihat wajah lembut nan cantik tapi menusuk milik wanita itu, semakin membuat hatinya perih.


"Sean, sumpah gue gak tau dia Papa elu. Hubungan elu dan Papa elu tak pernah baik, gue taunya dia tuan Chandra, Sean. Bukan tuan Rayen." teriak Hana keras.


Teriakan Hana mampu membuat langkah kaki Sean berhenti. Sean kembali mendekat kearah Hana. Ia berdiri tepat di hadapan Hana.


"Jadi, kalau bukan tidur sama Papa gue, elu bakalan tidur sama Papa-Papa yang lain?" Ucap Sean sinis.


"Hana lu cantik, sangat cantik malah. Tapi gue gak tau kalau elu itu kotor!" sambung Sean nyelekit.


"Gue tau Sean gue udah kotor. Karena itu gue gak mau elu nikahi gue, gue terlalu buruk untuk lu. Gue cuma mau lu jangan benci gue, Sean. Cinta gue gak sekotor badan gue. Cinta gue suci buat elu." Hana menundukan pandangannya, suaranya terdengar parau.


"Hah ... Bulshit."


Sean membalikan badannya, dengan cepat Hana memeluk Sean dari belakang. Sebesar apapun ia membenci Hana, ia tetap akan selalu mencintainya.


Sean meleraikan pelukan Hana. Menghempaskan tangan Hana kuat, bersentuhan kembali dengan wanita ini hanya akan menambah beban hatinya saja.


"Gue bilang, gue gak suka di sentuh! Apalagi dengan tangan kotor elu!" ucap Sean ketus.


Sean kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena teriakan Hana tadi.

__ADS_1


"Sean, gue sungguh mencintai elu." Teriak Hana kencang.


__ADS_2