Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 35


__ADS_3

Sean kembali menyuapi makanannya, sedikit ada rasa kecewa dalam hatinya. Tapi mau di apakan lagi, memang begitulah sifat anak kecil.


"Lu pikir lu siapa? Mau batalin pernikahan seenaknya. Kalau gue bilang pernikahan ini akan terjadi, ya pernikahan ini akan tetap terjadi." ucap Sean angkuh.


"Kakak gak perlu nikahi aku, aku bisa pulang ke Beijing. Dengan begitu kak Mirza gak akan bisa ganggu aku lagi."


"Elu itu tanggung jawab gue bukan cuma karena Mirza. Om Fandy suruh gue jaga elu dari segalanya."


"Tapi gak perlu kakak nikahin aku kan, kak?"


"Kalok elu tinggal disini, ya gue harus nikahin elu, paham?"


"Buat apa kakak nikahin aku kalok kakak masih suka gamblang sama kehadiran kak Hana?" Ucap Megi yang mulai kesal.


"Jadi elu cemburu?" Sean tersenyum puas.


Perasan ia sedikit lega setelah mengetahui bahwa Megi ingin pergi bukan karena tak mencintainya lagi, namun karena rasa cemburu.


"Memang aku ada izin buat cemburu sama kakak?"


"Kalau elu jatuh cinta sama gue aja tanpa izin, kenapa cemburu juga harus minta izin sama gue?"


"Aku tetap mau pulang, kak. Aku rindu Mommy." panggilan Megi buat tante Fera yang merawatnya dari bayi.


"Kalau gue bilang enggak, ya enggak!"


"Kenapa sih? Kakak gak cinta sama aku, tapi kakak nahan aku disini."


"Karena tanggung jawab."


Megi menghentakan kedua kakinya di lantai. Ia pikir Sean akan senang hati memulangkan ia ke Beijing. Tanpa ia sangka, Sean malah berusaha menahannya dengan segala sikap angkuhnya itu. Bibir Megi mengerucut kesal, ia memainkan sendok di piringnya.


Sean tersenyum dalam hati melihat Megi yang mulai menampakan ekspresinya. Kembali berani melawan ia, dan menentang perintahnya.


Tak lama Miranda kembali dengan sedikit bercak air di bajunya, ia langsung duduk dan memakan isi di piringnya.


"Sean, kamu kasih berkas Megi ke Mama secepatnya ya, nanti biar Mama yang urus segala perlengkapannya."


"Jangan buat yang meriah, Ma. Mama tau kan aku gak suka ribet."


"Iya, pokoknya tenang aja, Mama urus semuanya."


"Yaudah, gue antar elu pulang, Meg."


Tanpa banyak melawan Megi mengikuti perintah Sean. Mereka mencium dan memeluk Miranda sebelum kembali pulang.


****


"Saya terima nikahnya Megisia Mouran binti Affandy Abbas dengan mas kawin emas seberat 23 gram di bayar tunai." dengan satu nafas.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya pak pengulu.


"Sah..."


Megi menatap wajahnya di depan cermin rias. Kembali buliran bening menghiasi pipi yang saat ini sudah di poles riasan. Andai Papa, Mommy dan kak Mika disini. Hari ini akan lebih manis untuk di lewati.


Tok tok... Suara pintu kamar di salah satu istana milik Rayen di ketuk. Megi menghapus buliran bening di wajahnya.


"Megi, kita keluar ya. Ijab sudah selesai." pinta Miranda lembut.


Megi mulai menyingkap gaun kebaya modern yang di pilihkan Sean. Dengan sedikit gontai ia melangkah keluar, di gandeng oleh Rena dan Miranda, Megi mulai berjalan di atas karpet yang di bentangkan panjang untuk menyambutnya.


Sean kembali terpesona oleh Megi. Gaun berwarna broken white yang di gunakan Megi mampu mengeluarkan pesona mematikan milik Megi. Dengan rambut yang di sanggul dan di lingkari oleh sebuah mahkota, Megi bak princess dari dunia dongeng.


Badan mungil Megi menampakan setiap indah lekuk badannya. Dengan memaksakan sedikit senyumnya, Megi berjalan mendekat ke arah Sean.


Seandainya yang saat ini berada di depan Sean adalah Hana, mungkinkah ia akan jauh lebih mempesona?


Tentu saja, Hana memiliki tinggi badan yang semampai. Body yang langsing dan senyum indah dari wajah cantiknya. Pandangan matanya yang sangat lembut. Bahkan tanpa riasan pun Hana masih sangat cantik.


Sean berdecak kesal, ia membuang wajahnya kesamping dan kembali menatap Megi yang berjalan mendekatnya. Pikirannya masih sangat merindui gadis itu.


Megi tak akan kalah di bandingkan Hana. Hanya saja, wajahnya masih terlihat belia walau di poles bagaimanapun. Entah karena umurnya atau karena memang wajahnya yang imut.


Sean tersenyum dan mengulurkan tangannya. Dengan senyum kaku Megi mengambil uluran tangan Sean. Berdiri bersejajar dengan Sean yang tinggi badannya tak bisa di imbangi walaupun memakai heels setinggi 12 centimeter.


Tinggi badan Megi yang masih 152 centimeter, tak mungkin bisa mengimbangi Sean yang saat ini tingginya 185 centimeter.


"Lu tegang Meg?" tanya Sean yang tak puas melihat senyum Megi.


Kemana perginya senyum indah milik Megi itu? kenapa semenjak hari itu Megi seperti kehilangan senyumnya.


"Iya, Kak." jawab Megi sambil menunduk.


"Kan udah selesai, tinggal salami para tamu aja."

__ADS_1


"Aku lebih tegang saat ijab sudah selesai kak."


"Loh, kenapa? lu pikir yang aneh-aneh kan?"


"Enggak..." spontan Megi menjawab dan sedikit berteriak.


Sean langsung membukam mulut Megi. Matanya awas menatapi seluruh tamu yang saat ini sedang makan. Sean membuang nafasnya saat para tamu tak ada yang memperhatikan mereka.


"Gak perlu nge gas kan? kalok lu nge gas berarti emang iya."


"Enggak!" Megi memukul lengan Sean kuat.


Kenapa saat bersama Sean suasan se genting apapun akan berubah secepat kilat. Padahal hati Megi masih bimbang, khawatir akan hadirnya Hana kembali.


Memang setelah hari itu Hana tidak kembali menampakan dirinya, gak tau bagaimana kedepannya. Megi takut Sean akan kembali gamblang saat Hana hadir kembali.


Sementara Sean tersenyum puas, ia selangkah di depan Mirza. Saat ini Mirza tak akan lagi berkutik melawan ia. Tak ada lagi alasan yang bisa membawa Megi pergi. Terlebih lagi, hak dia atas Megi lebih kuat, ia bisa mempenjarakan Mirza jika ia berani mendekat.


Mereka berdua menyalami sebagian para tamu yang hadir. Beberapa kali melakukan sesi foto, baik foto keluarga ataupun foto berdua.


Sean memang tidak melakukan prewed, Sean si lelaki praktis, tak ingin ribet.


"Kita keluar yuk, ambil konsep foto outdoor." pinta fotografer.


Segera Megi menyingkap gaun yang saat ini jauh lebih besar di bandingkan badannya. Perlahan ia menuruni tiga buah anak tangga dan turun dari panggung.


Tapi baru menuruni anak tangga kedua, Sean menginjak gaun yang Megi kenakan. Seketika Megi jatuh dan di susul Sean yang menimpahi badan gadis mungil itu.


Dengan cepat Sean duduk dan menjauhkan badannya dari Megi. Megi melepaskan satu heels yang ia gunakan dan memukul lengan Sean.


"Kakak gimana sih jalannya ih...?" megi menghujani Sean dengan pukulan sepatunya.


"Elu yang gimana? bukannya bener angkat baju." timpal Sean yang tak terima di salahkan.


"Kalian ini gak sabar banget, udah main timpah-timpahan." jawab salah seorang tamu disana.


Saat ini seluruh mata sedang terfokus pada mereka berdua. Namun mereka berdua asyik bertengkar saling menyalahkan.


"Kan kakak yang pilihi gaun ini, seharusnya kakak dong yang bantuin aku."


"Terus kalau aku yang pilihin, aku gitu yang angkat-angkat? dih ... Ogah benget." jawab Sean ketus.


"Seharusnya kakak tanggung jawab dong! gimana sih, laki-laki kok gak tangung jawab benget." celetuk Megi kesal


"Kan kakak sendiri..."


"Ish ... udah-udah. Malu dilihat para tamu, bukannya bangun malah berantem." Miranda menengahkan pertangakaran pasutri gaje itu.


"Ayo Sean, Megi. Bangun dan lanjutkan pemotretannya." perintah Miranda tegas.


Sean membantu Megi berdiri, mau tak mau ia ikut membantu mangangkat gaun Megi. Dari pada jatuh lagi, dan malu lagi. Mereka berlalu keluar untuk melakukan pemotretan wedding.


Sementara sepasang mata terus menatap mereka lekat. Rayen, menemukan celah untuk melawan Sean. Tak ada yang berani melawan Sean selama ini, Megilah orang pertama yang berani melawan Sean lebih garang dari pada Sean.


Rayen memanggil salah satu anak buahnya. Ia memberikan tugas kepada anak buahnya. Megi, gadis yang di jadikan Sean istri, pasti bukan wanita biasa. Ia memang terlihat lugu dan polos, tapi di balik itu semua ada sesuatu yang Sean lihat.


Selesai acara Sean merebahkan badannya di kasur yang sudah ia tinggali selama delapan tahun. Sudah lama sekali ia meninggalkan rumah Rayen dan memilih tinggal di apartemennya.


Acara pernikahan ini di lakukan di kediaman Rayen. Awalnya Sean tak setuju, tapi demi Miranda ia mengalah. Karena keluarga inti dari Sean ikut hadir, Sean memilih untuk tinggal semalam di rumah Rayen.


Megi masuk dengan bibir yang mengerucut. Ia membuka sepatu heels dengan menendangkan kakinya. Salah satu heels yang ia hempaskan kuat mendarat di atas kasur. Beruntung tak mengenai kulit si dingin hati itu.


"Heh ... Lu dendam sama gue gara-gara masalah tadi?" Sean melempar heels Megi kelantai.


"Aku capek kak, kakak kenapa gak peka banget sih?" ucap Megi kesal.


"Gue juga capek, elu pikir elu aja gitu? Dari semalam gue gak tidur hafalin nama elu, tau!"


"Eleh, alasan. Bilang aja kakak gak peduli sama aku. Pake acara ninggalin aku di bawah lagi, aku gak kenal sama keluarga kakak tau." rentetan kekesalan Megi membuat telinga Sean sakit.


"Udah, gak usah berisik bisa? gue pingin tidur!"


"Ih kakak, bantu aku lepasin ini dulu." Megi mendekat ke bibir ranjang.


"Ih manja banget sih, buka sendiri aja deh sana." tolak Sean ketus.


"Kakak gak boleh gitu, aku kan sekarang istri kakak." Megi melemparkan bokongnya di bibir ranjang.


Sean menggaruk-garuk kepalanya dan beranjak duduk.


"Ribet nih bakalan." ucap Sean kesal.


"Udah aku bilang, pulangin aku ke Beijing aja. Kakak gak mau, ya sekarang tanggung aja akibatnya." celetuk Megi kesal.


Sean hanya terdiam dan menatap punggung belakang Megi. Lehernya yang sedikit jenjang terlihat jelas, karena rambutnya yang di sanggul.

__ADS_1


Perlahan Sean melepaskan mahkota dan aksesoris kepala Megi lainnya. Melepaskan sanggulan rambut Megi yang memang hanya menggunakan rambut aslinya.


Rambut Megi bisa di bilang lebat, hitam mengkilat dengan panjang yang hampir sepinggangnya.


"Udah... dah sana gue mau tidur." perintah Sean kasar.


"Kak." panggil Megi lemah.


"Apa lagi?"


"Aku tidur pake baju apa? masak pake ini sih?"


"Yaudah minta sama Mama atau sama Rena, sana gih. Jangan ganggu gue."


"Ish... Kakak minta in lah. Aku gak berani."


"Tinggal minta aja apa susahnya sih? gue males bangkit." ucap Sean yang mulai kesal.


"Ish..." Megi menghentakan kedua kakinya kelantai. Bibirnya kembali mengerucut.


Sean menghela nafas panjang, ia mengacak-acak rambut gondrongnya. Ribet dalam hatinya, ia menikahi gadis kecil ya pasti ribet urusan hidupnya.


Sean mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya. Menekan nama Rena dan tak lama sambungannya terangkat.


"Dek, bawain baju buat Megi tidur ke kamar gue, cepat!" perintahnya.


Tanpa menunggu jawaban ia langsung menutup ponselnya. Menatap Megi sinis.


"Udah, apa lagi?"tanyanya kesal.


Megi hanya menggeleng pasrah dan menunggu di bibir ranjang. Setelah sepersekian menit daun pintu kamar di ketuk.


Megi membuka kamarnya, berdiri Rena dengan paper bag berwarna cokelat. Tanpa ekspresi Rena memberikannya. Bahkan Rena tak tersenyum saat Megi mengucapkan terima kasih.


Dengan cepat Megi masuk kedalam kamar mandi. Namun tangan pendeknya tak sampai membuka kancing gaunnya.


"Kak Sean..." Teriak Megi dari dalam kamar mandi.


Sean hanya menggosokan telinganya kesal. Baru juga mau terlelap sudah harus terbangun oleh teriakan gadis kecil itu.


Sean menutupi telingannya dengan bantal dan kembali tidur.


"Kak Sean... Ih" kembali teriakan itu terdengar namun lebih kencang.


Mau tak mau Sean bangkit, dengan perasaan malas, ia membuka pintu kamar mandinya.


"Apa sih? berisik banget?"


"Bantu aku lepasin kancing bajunya." pinta Megi melas.


"Dih ribet banget, belum juga sehari jadi istri." dengan cepat Sean membuka kancing baju Megi.


Kembali Sean merebahkan badannya asal di atas kasur. Perlahan kesadarannya mulai hilang, pikirannya telah kembali mengawan namun kembali suara jeritan itu membuat ia terjaga.


"Kak Sean..."


Sean menghentakan kedua kakinya diatas kasur. Ia kesal dengan suara Megi yang terus menganggunya.


"Kak..." teriak Megi kembali menguat.


Dengan menghentakan kakinya Sean berjalan menuju kamar mandi. Tapi kali ini kamar mandi terkunci. Ia menggedorkan dengan kuat pintu kamar mandi, Megi membuka dan bersembunyi di sebalik pintu.


Dengan mata yang masih terpejam, Sean masuk kedalam kamar mandi. Keinginannya hanya ingin terlelap tapi gadis ini selalu mengganggunya.


"Apa lagi?" tanyanya dengan mata yang sulit terbuka.


"Itu, bajunya coba kakak lihat. Baju anak kecil yang di kasih." ucap Megi malu.


"Kenapa lagi bajunya?" Sean belum membuka matanya. Ia masih berdiri gontai di ambang pintu.


Sementara Megi bersembunyi di balik pintu kamar mandi. Ia malu keluar hanya memakai handuk yang menutupi sebagian dadanya dan dengan panjang hanya sepangkal pahanya.


Sean masih berdiri di ambang pintu dan memejamkan matanya, lelah sekali matanya. Sementara Megi mulai bosan menunggu sampai Sean sadar. Setelah beberapa menit menunggu Megi mulai kesal karena Sean masih berada dalam posisi yang sama.


Dengan cepat langkah Megi mengambil paper bag di atas wastafel. Ia melemparkannya keras di dada Sean yang sedang tertidur dengan posisi berdiri. Megi menyilangkan kedua tangannya di dada, kesal melihat tingkah Sean. Ia lupa saat ini sedang mengenakan handuk kecil untuk membalut badannya.


Sean dengan berat membuka matanya, sesaat setelah sesuatu menghantam pelan dadanya. Ia mencoba untuk kembali sadar, setelah menguap ia membuka isi paper bag itu.


Alisnya naik sebelah setelah melihat lingerie berwarna hitam berenda dan sangat tipis. Ia membuang pandangan matanya ke arah Megi.


Matanya membelalak lebar setelah melihat badan mulus Megi yang hanya terbalut handuk kecil. Walaupun bodynya kecil, namun lekuk badan Megi cukup menggoda iman Sean.


Dengan susah payah Sean menelan ludahnya.


'Megi, elu cari masalah sama gue.' ucap Sean dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2