Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 57


__ADS_3

Melihat pertengkaran yang terus terjadi, Rayen memegang dada Sean yang saat ini sedang bergejolak panas. Rayen membawa Sean menjauh dari Mirza, Rayen melepaskan pelukannya saat memasuki cafetaria.


"Tenangkan dirimu, Putraku." Rayen menepuk pipi Sean lembut.


Sean mengusap wajahnya kasar, wajahnya telah lebam-lebam kini. Namun sakit itu tak terasa lagi, ada luka lain yang sedang ia rasakan. Semua itu lebih perih dari pada luka fisik.


Sementara Mirza masih menatap lekat tubuh Megi yang terbaring lemah, sedang berperang melawan maut. Ia memang kakak yang buruk, berulang kali menjerumuskan Megi di lembah hitam.


Tapi dia tak pernah sungguh-sungguh ingin mengubur jasad adiknya. Ia hanya ingin Megi merasakan kehancuran seperti yang ia rasakan. Rasa marahnya karena kehilangan Mama tak bisa ia bendung saat melihat wajah Megi.


Namun saat ini pun ia tak kalah hancur, kembali ia melibat wajah sang ibu yang telah lama ia rindui, harus bertarung maut. Sesaat Mirza menyesali perbuatannya.


Ia adalah akar masalahnya. Sean benar, jika bukan untuk memghindari ia, Megi tak akan di titipkan oleh Sean. Seandainya ia bisa menjaganya seperti Mika menjaganya, maka saat ini pasti Megi hidup serumah dengannya.


Ya, penyesalan itu memang selalu datang di akhir perjalanan, saat ini ia hanya mampu menatap Megi dari balik kaca. Andai waktu dapat kembali di putar, ia ingin kembali memeluk tubuh adik kecilnya itu.


"Maaf, Mas. Apa mas yang akan donorin darah buat mbak Megi?" tanya seorang Suster pada Mirza.


Mirza menghapus sudut matanya, berusaha untuk kembali tegar pada kakinya.


"Iya, Sus."


"Mari ikut saya keruangan donor, Mas."


Mirza mengikuti langkah Suster itu, jika darahnya kali ini bisa menyelamatkan nyawa adiknya. Maka anggap ini sebagai permintaan maaf untuknya. Jika Megi bangun, maka ia tidak akan mengganngu Megi lagi.


Setelah mengambil darah secukupnya, Suster menghentikan aliran darah itu.


"Apa itu cukup, Sus?" tanya Mirza pada suster.


"Sementara, ini yang bisa saya ambil, Mas."


"Ambil saja lagi, ambil sebanyak yang di perlukan adik gue, gue rela."


"Tapi ini bisa berbahaya buat, Mas." ucap Suster itu menjelaskan.


"Gue gak peduli, yang penting adik gue bisa hidup."


Suster itu tersenyum simpul. Dia meraih bahu Mirza dan memberikan sekotak sari kacang hijau.


"Mas jaga kesehatan dan banyak minum tambah darah, nanti kalau darah mas di perlukan lagi, kami akan mengambilnya lagi." ucapnya sambil tersenyum.


"Bisakah adik gue selamat, Sus?"


"Itu semua kehendak Yang Kuasa, Mas. Kami hanya berusaha melakukan yang terbaik. Mbak Megi beruntung punya kakak sebaik, Mas." ucap Suster itu sambil berlalu.


Sesaat Mirza tertawa geli mendengar ucapan Suster itu. Bukan beruntung, tapi musibah, ia tak pernah menjadi kakak yang baik.


Sean datang dan mendekat, dia duduk di bibir ranjang. Membelikan beberapa suplement penambah darah dan meletakannya di samping tubuh Mirza.


"Makasih buat pengorbanan elu, tapi gue mohon. Pergilah sejauh mungkin saat Megi sadar nanti." ucap Sean sambil menunduk.

__ADS_1


Mirza menepuk pundak Sean. Ia mengangguk pasrah.


"Sean, lu ingat hari-hari dimana kita di ajarkan bersama?" ucap Mirza parau.


"Gue gak pernah ngelupain apapun dalam hidup gue, Mirza."


"Lu dan Mika adalah kakak yang terbaik. Semoga lu bisa jaga Megi dengan baik ya."


Mirza turun dari ranjangnya, ia mengambil kantongan yang di berikan Sean. Dia masih harus bugar untuk memberikan darahnya lagi. Mirza berjalan sempoyongan membuka pintu dan menghilang dari pandangan.


Mirza masih tak seburuk yang terlihat, apapun yang menjadikannya keras dan kejam, kini telah runtuh tak beraturan. Sifatnya kembali seperti dulu, seperti lima belas tahun yang lalu. Lembut dan juga rela berkorban.


Sean tersenyum getir, banyak hal yang mampu berubah dalam sekejap mata.


****


Rena menarik badan Mirza yang keluar dari rumah sakit. Rena memeluk Mirza erat. Sementara Mirza tak membalas pelukan Rena.


Ia tak pernah mencintai Rena, dulu ia mendekati Rena karena uangnya saja. Kini ia sudah tak ingin lagi kembali pada dunia itu.


Mirza meleraikan pelukan Rena, di tatap wajah Rena sendu.


"Ren, gue mau kita putus ya." ucap Mirza lembut.


"Kenapa?"


"Gue mau ngejalani hidup baru, dan itu gak disini. Gue akan jalani hidup di tempat yang baru."


"Kalau gitu bawa gue pergi, Mirza."


"Carilah orang yang lebih baik dari gue, Ren. Gue ini buruk, dan gue gak bisa sama lu, karena Sean..."


"Sean lagi, Sean lagi." ucap Rena kesal.


"Kenapa sekarang elu takut sama Sean?" tanya Rena sambil menyilangkan tangannya di dada.


"Bukan takut, Ren. Udah saatnya gue jalani hidup yang lebih baik. Gue menyesali semua sikap gue." ucap Mirza lembut.


"Kenapa lu jadi lembek gini sih, Mirza?"


Mirza hanya mengelus pucuk kepala Rena lembut, ia tersenyum sendu dan berjalan meninggali Rena. Rena dengan cepat menarik lengan tangan Mirza.


Mirza sedikit berteriak karena Rena menarik lengan tangan Mirza yang masih sakit karena pendonoran.


"Lu apa-apaan Mirza?" tanya Rena saat melihat perban di tangan Mirza.


"Maksud lu?" tanya Mirza bingung.


"Lu donorin darah buat Megi?" tanya Rena lantang.


"Iya."

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Rena kesal.


"Lu tanya kenapa? dia adik gue, Ren."


"Kenapa gak lu biarin aja dia mati? bukannya lu benci ya sama dia?"


"Gue memang benci sama dia, tapi bagaiamana juga dia adik gue. Gue gak pernah menginginkan kematian dia?"


"Tapi gue udah ngelakuin ini buat lu, Mirza?"


"Maksud lu?" Mirza menaiki kedua alis matanya, bingung.


Sementara Rena menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Jangan bilang elu yang nabrak, Megi?" Mirza menatap Rena tajam.


"Jawab!" teriak Mirza lantang.


Rena hanya terdiam, dia menggigit bibir bawahnya.


"Gak waras, lu Rena. Psikopat lu, ya." Mirza menunjuk tepat di wajah Rena.


"Gue ngelakuin ini karena gue sayang banget sama elu, Za. Gue pingin hidup sama lu terus."


Sementara ada langkah kaki yang datang mendekat, dengan segudang amarah yang membuncah.


Sean berniat mengejar Mirza tadi. Tanpa Sengaja ia melihat Rena dan Mirza. Dia enggan untuk merusak suasana, sekedar ingin melihat perubahan Mirza.


Saat mendengar Mirza menolak Rena, Sean tersenyum dalam hati. Mungkin Megi benar, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah.


Sean berniat pergi, karena menurutnya tak ada masalah lagi dengan hubungan Rena dan Mirza. Namun langkah Sean terhenti saat mendengar pengakuan Rena.


Adiknya, sanggup melakukan hal sekejam itu. Rena adalah adiknya, dan Megi adalah orang yang ia cintai. Haruskah ia diam dengan pengakuan Rena, dan menganggap semua kesalahan Rena tak pernah terjadi?


Lalu bagaimana denga Megi? dia tidak berhak mendapatkan perlakuan seperti ini. Megi gadis yang baik, tak boleh ada yang memperlakukannya begini.


Pikiran Sean berperang, betapa banyak pertentangan dalam hatinya. Rena adalah adik semata wayangnya, bagaimana jika Rena harus di penjarakan.


Hidup Rena akan berubah seratus delapan puluh derajat saat berada di dalam penjara. Lalu bagaimana perasaan Miranda jika ia tahu Rena adalah pelaku di balik kekacauan ini?


Sean mengacak rambutnya, dia bingung harus bagaimana. Sean terdiam sejenak. Terdengar ucapan Mirza dengan nada tinggi dan menahan amarah.


"Gak waras lu, Ren. Psikopat elu ya!" suara Mirza lantang membentak.


Tidak, yang bersalah tetap harus di hukum. Sean berjalan dengan langkah cepat menuju ke tempat Rena. Wajahnya menahan amarah, teringat bagaimana Megi jatuh seketika tanpa membuka matanya.


Perih sekali, jika mengingat itu, sakitnya masih terasa sampai ketulangnya. Megi bisa kehilangan nyawanya, bagaimana Rena bisa sekejam itu? menabrak seseorang tanpa rasa ampun.


Sean berjalan dengan amarah yang tertempa sempurna, langkahnya penuh amarah. Tangan besarnya menampar pipi mulus Rena sesaat dia sampai di hadapan Rena.


Rena membulatkan matanya lebar-lebar, gawat seandainya Sean tahu apa yang akan dia lakukan.

__ADS_1


"Gue gak nyangka lu sekejam ini, Rena." ucap Sean menahan emosinya yang ingin keluar tak tertahan.


"Dia kakak ipar lu, Dek. Bini gue!" ucap Sean dengan nada yang tak bisa di jelaskan lagi.


__ADS_2