Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 142


__ADS_3

Sean menghela nafasnya dan mengacak rambutnya, andai masih Farrel yang di posisi Yohan saat ini, pasti dia lebih tahu untuk berbuat apa.


"Biar saja kalau mereka mau bawa ke kantor polisi. Nanti setelah ini gue urus kesana." ucap Sean datar.


"Baik, Bos." tutup Yohan langsung.


Sean menjatuhkan bokongnya di kursi penunggu, menghela nafasnya yang masih memburu dengan sangat kencang.


"Mas Sean, ayo masuk." perintah seorang perawat dari dalam.


"Iya." jawab Sean lembut.


"Sean." panggil Miranda yang berlari menyusuli anaknya.


"Ma, Pa. Kok sudah ada disini?"


"Mama minta kesini, saat Papa ngabari Megi mau lahiran."


"Oh, yasudah, Mama mau temani aku masuk?"


"Baiklah."


Sean dan Miranda masuk kedalam ruangan bersalin, menemui Megi yang masih duduk di bibir ranjang. Mengatur nafasnya dengan banjiran peluh keringat di dahinya.


"Megi." panggil Miranda mendekat.


Megi langsung memeluk bahu Miranda, menempelkan wajahnya di kepala Miranda. Menghela nafasnya untuk meredakan rasa sakit.


"Sabar, Sayang. Sabar ya, sedikit lagi." ucap Miranda menenangkan.


Megi masih menempelkan kepalanya di kepala Miranda, memegang bahu Miranda dengan sangat kuat.


"Megi, ayo berbaring. Kita cek pembukaan nya ya." perintah Dokter Santi, Dokter yang menangani Megi selama ini.


Megi membaringkan badannya, beberapa kali Megi menghela nafasnya. Menahan rasa sakit dari kontraksi kandungannya.


"Masih kuat? ini masih agak lama, Megi."


"Kuat, Dok."


Megi bangkit kembali, menarik pinggang Sean untuk ia peluk. Megi meremet sisi belakang kemeja Sean, beberapa kali menghela nafasnya, mencari cara untuk meredakan sedikit rasa nyerinya.


"Ma, apa Megi gak di operasi saja?" tanya Sean sambil mengelus kepala Megi yang terus mengeluarkan keringat dingin.


"Kalau Megi kuat, tahan dulu. Kalau bisa normal, akan lebih baik jika normal." ucap Miranda menenangkan.


"Sean, jangan lebay ah. Megi baik-baik saja." ledek Dokter Santi.


"Megi, sini." Dokter Santi mengambil jemari Megi yang meremat kemeja Sean. Menurunkan Megi dari ranjang.


Mengintruksikan Megi untuk melakukan beberapa gerakan agar mempercepat proses kelahiran.


"Sean, peluk Megi dari belakang dan letakan tanganmu di perut Megi." perintah Dokter Santi.


Sean hanya diam dan menuruti perintah Dokter Santi, mengikuti gerakan Dokter Santi dengan sabar.


"Megi tarik nafas, buang." aba-aba Dokter itu kembali.


Megi mengikuti arahan Dokter Santi, beberapa kali ia menarik nafasnya, membuang dengan perlahan. Mengikuti gerakan yang di ajarkan oleh Dokter.


"Sean, katakan sama bayimu, Nak cepat lahir ya, jangan sakiti Mama kamu." perintah Dokter Santi kembali.


"Memang harus seperti itu ya, Dok?"


"Katakan saja!" perintah Dokter Santi ketus.


Sean menghela nafasnya, menaikan badan Megi kembali keatas ranjang. Sean mengelus perut Megi dan menempelkan telinganya ke perut Megi.


"Anak Papa yang baik, keluar ya. Jangan sakiti Mama kamu, kasian Mama kamu, Nak." ucap Sean lembut.


Megi menjatuhkan kepalanya di dada Sean, meremat sisi baju Sean. Wajahnya mulai pucat, menahan rasa sakit yang semakin lama, semakin sakit terasa.


Beberapa kali Sean menghapus peluh keringat di dahi Megi. Namun karena sakit itu, dahi Megi kembali mengeluarkan keringat yang banyak.


"Kamu masih tahan, Sayang?" tanya Sean yang semakin tak tega melihat penderitaan Megi.


"Tahan sekali, Kak." jawab Megi dengan memaksakan senyum di wajah pucatnya.


"Mama." Megi mengangkat tangannya, meminta Miranda untuk mengenggam tangannya.


"Iya, Sayang." Miranda mengambil jemari tangan Megi dan mendekati Megi.


"Dampingi aku melahirkan ya, Ma." pinta Megi lemah.


"Tentu saja." Miranda mengelus kepala Megi yang masih menempel di dada Sean.

__ADS_1


Sean memeluk bahu Megi, mencium bahu Megi. Berusaha untuk menyembunyikan kecemasan dalam dirinya.


"Sakit banget ya, Sayang." tanya Sean berbisik di telinga Megi.


Megi hanya menggelengkan kepalanya dan memeluk bahu Sean, meremat bahu Sean dengan kuat.


"Megi, baring ya. Kita mulai ambil posisi." perintah Dokter Santi.


Megi mulai membaringkan badannya, satu tangan kanannya di genggam oleh Miranda dan tangan kirinya di genggam oleh Sean.


Mengambil posisi untuk memulai persalinan.


"Megi, saat bayinya dorong kamu juga dorong ya. Atur nafas dan siap-siap untuk dorong."


Megi menghela nafasnya beberapa kali, bersiap menunggu dorongan dari dalam. Megi mengangkat sedikit badannya saat dorongan bayi itu mulai terasa.


Mendorong dengan sekuat tenaga, mengalirkan setiap keringat dari pori-pori kulitnya.


Megi kembali menghela nafasnya, terbaring dengan lemas saat dorongan itu memberikan jeda. Tak lama kembali Megi mengejan dengan kuat, menarik nafasnya dengan kuat.


Megi kembali menjatuhkan kepalanya, mengatur nafasnya yang memburu dengan cepat. Miranda meraih dahi Megi, menghapus peluh di dahi Megi den menempelkan wajahnya di kepala Megi. Mencium wajah pucat Megi.


"Istigfar, Megi. Jangan lemah ya." bisik Miranda lembut.


Megi menganggukan kepalanya, mengambil nafasnya yang terengah. Sementara Sean hanya diam memandangi wajah Megi yang semakin memucat, genggaman tangan Megi masih sangat kuat mengenggam tangannya.


"Dorong lagi ya, Megi."


Saat aba-aba mulai di berikan, Megi kembali mengejan dengan kuat. Perlahan air matanya ikut menetes bersama peluh keringat di dahinya.


Beberapa kali Megi mendorong dengan kuat, namun tanda-tanda kepala bayi belum terlihat.


Sean menghapus buliran air mata Megi, melihat Megi mengejan dengan aliran air mata dan juga keringatnya membuat Sean semakin tak tega. Perjuangan Megi, tak pernah mudah.


Megi menjatuhkan kepalanya, menghela nafasnya yang memburu dengan kencang.


"Uhhh." rintih Megi pelan.


Sean mengalihkan pandangannya, tak sanggup lagi melihat wajah Megi yang terus memucat. Air matanya terus berjatuhan setiap kali Megi menarik nafas untuk mendorong bayinya keluar.


Bahkan air mata Miranda ikut mengalir, menemani persalinan Megi.


"Sedikit lagi, Megi. Berjuang ya." pinta Dokter wanita itu kembali.


Megi menarik nafasanya, genggaman jemarinya di tangan Sean dan Miranda semakin menguat. Megi mengangkat badannya, mendorong dengan sisa tenaganya, menjatuhkan kembali cairan bening dari matanya setiap kali badannya terangkat keatas.


Megi menjatuhkan badannya dan menarik nafasnya yang terngah-engah. Perlahan bibirnya tersenyum saat melihat badan bayi mungil yang di pegang oleh Dokter wanita itu.


Sean langsung memeluk bahu Megi yang sedang terbaring lemas, membenamkan hidung mancungnya di bahu Megi. Menjatuhkan buliran air yang sedari tadi ia tahan saat melihat perjuangan keras Megi.


"Anak kalian laki-laki, selamat ya."


Sean menghapus sisa buliran keringat di dahi Megi. Mengelus kepala Megi dengan lembut.


"Bagaimana rasanya, Megi? apa kamu masih merasakan sakit?" tanya Sean yang lebih peduli pada Ibunya di bandingkan bayinya.


"Aku sudah gak merasakan apa-apa, selain bahagia, Kak."


Sean melepaskan senyumnya dan mencium dahi Megi dengan lembut.


"Dasar, padahal tadi kamu sampai netesin air mata setiap kali dorong anak kita. Masih bisa bilang gak sakit?"


"Memang sekarang aku gak sakit, lihat anak kita lahir dengan selamat, aku merasa saat ini sudah baik-baik saja."


"Kamu memang wanita yang kuat."


Sean mengambil tangan Megi dan meletakannya di pipinya, bibirnya tersenyum saat melihat wajah pucat Megi yang begitu bahagia.


Selang beberapa menit, Dokter Santi menyerahkan bayi laki-laki itu ke gendongan Sean.


"Bawa bayinya keluar sebentar ya, saya selesaikan perawatan Ibunya dulu."


Sean tersenyum dan membawa bayi itu menjauh dari Megi.


"Sean, sini Mama yang gendong. Kamu bersih-bersih dulu biar bisa adzani anak kamu."


"Iya, sebentar ya, Ma." Sean memberikan bayi itu dan berjalan keluar.


Sudah ada Mika dan Mirza yang menunggu Sean dan di luar ruangan.


"Eh, kalian kok sudah disini?"


"Bagaimana keadaan, Megi?" tanya Mika cemas.


"Baik-baik saja. Anak kami juga sudah lahir."

__ADS_1


"Syukurlah, selamat ya."


***


Sean memainkan bibir bayi yang ada dalam gendongannya. Bibirnya terus tersenyum saat melihat wajah putra pertamanya.


Sementara Megi hanya menatap Sean tanpa berbicara sepatah katapun. Dulu ia pernah bermimpi untuk melahirkan anak Sean, tak pernah menyangka jika mimpi itu terwujud dengan sempurna.


"Kamu mau gendong anak kita?" tanya Sean saat menyadari Megi yang terus memandanginya sedari tadi.


"Sini kak." Megi menggeser duduknya, mengambil bantal di belakang badannya, meletakan diatas pangkuannya.


Dengan hati-hati, Sean memberikan bayi itu ke pangkuan Megi. Mata Sean tak bisa berhenti menatap anaknya yang kini berpindah ke pangkuan Megi.


"Kak."


"Hem." jawab Sean yang masih asyik memainkan bibir bayinya.


"Kakak kan ingin anak perempuan, tapi anak kita malah laki-laki. Kakak gak kecewa kan?"


"Ngomong apa sih, Megi. Mau laki ataupun perempuan. Yang penting dia sehat, itu sudah membuat aku sangat bahagia." jawab Sean lembut.


Megi menghela nafasnya, menjatuhkan kepalanya di bahu Sean yang saat ini duduk di sebelahnya.


"Kakak sudah siapin nama?"


"Gimana kalau tetap Evgen saja? Evgen Sean Putra." ucap Sean lembut.


"Jangan di pakai Sean Putra nya Kak. Cari yang lain saja."


"Memang kenapa?" tanya Sean bingung.


"Nama Rezi gak ada pakai Sean Putra, aku gak mau nanti dikira kita beda-bedain Rezi sama putra kita."


"Bener juga sih."


"Gimana kalau Evgen Andhika?" tanya Megi lembut.


"Bagus, tapi kalau Evgen Aulia, bagusan yang mana?" tanya Sean lembut.


"Yang mana kakak suka saja lah." Megi meraih sebelah pipi Sean dan mengelusnya dengan lembut.


Sean mengambil telapak tangan Megi, mencium telapak tangan Megi. Memejamkan matanya, merasakan hangat tangan Megi yang masih pucat.


Bayi dalam gendongan tangan Megi mulai merengek, menangis dengan suara ciri khasnya.


"Bayinya kenapa?" tanya Sean.


"Mungkin dia haus."


"Yasudah, kamu kasih asi saja."


"Asi aku belum keluar, Kak." jawab Megi pasrah.


"Jadi bagaimana?"


"Kakak panggilin Mama kesini ya, coba tanya sama Mama saja."


"Oke."


Sean berjalan dengan cepat keluar dari ruang rawat inap Megi, mencari keberadaan Miranda.


Sean langsung mendekat saat melihat Miranda yang sedang berbicara dengan Dokter Santi.


"Ma."


"Iya."


"Bayi Megi nangis, tapi asinya belum keluar, gimana?"


"Ini Mama lagi bicarain sama Dokter Santi. Sebentar ya."


Sean mengangguk dan kembali ke ruangan Megi. Melihat Megi yang mulai kewalahan menangani tangisan bayi mungilnya.


"Mana Mama kak?"


"Sebentar lagi kesini."


Megi menggoyangkan badan bayinya, berusaha menenangkan tangisan si kecil yang mulai menguat.


"Sayang, cucu Oma." Miranda langsung mendekat saat mendegar bayi Megi menangis.


Memberikan susu pengganti dalam botol untuk sementara. Namun bayi Megi seperti tak mau meminumnya, air susu dari botol itu terus ia muntahkan keluar.


"Ma, kenapa dia gak mau minum?"

__ADS_1


"Sepertinya bayi kamu gak mau susu formula, Sayang."


"Hah?"


__ADS_2