Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
105


__ADS_3

Soraya menatap kaca jendela ruangan IGD. Melihat tubuh Chen yang masih tergeletak di sana. Dengan beberapa alat bantu pernapasan yang dipasang ke anggota tubuhnya.


Soraya menghapus buliran airmatanya, mencoba untuk tenang. Namun karena rasa takutnya, ia kembali menangis, tidak tahu harus bagaimana.


"Aya," sapa seorang wanita dari belakang.


"Tante." Soraya mengambil tangan wanita itu dan mencium punggung tangannya.


"Apa yang terjadi? Kenapa Chen bisa tertabrak?" tanya wanita itu bingung.


"Itu ... itu--" Soraya kembali menangis, tak sanggup mengatakan kalau Chen bisa tertabrak karena ulah dia.


Wanita itu mengelus pundak Soraya, mencoba menenangkan perasaan gadis muda itu.


"Sudahlah, Tante tidak menyalahkanmu. Jangan menangis anak cantik," ucap wanita itu lembut.


"Maaf, Tante. Maaf, Aya ... Aya buat Chen begitu," ucap Soraya gemetaran.


Wanita itu tersenyum dan mengelus pucuk kepala Soraya, mencoba kembali menenangkan perasaan calon menantunya itu.


"Aya, ini sudah hampir malam. Kamu sebaiknya pulang dulu ya. Besok kamu bisa temani Chen lagi," perintah wanita itu lembut.


"Tapi, Tante--"


"Aya, Chen akan baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir ya. Chen pasti kuat kok," bujuknya lembut.


Soraya menggelengkan kepalanya, tak ingin meninggalkan Chen sendiri di sana.


Terdengar helaan napas panjang dari wanita dewasa itu. Ia meraih helaian rambut Soraya dan menghapus buliran air mata gadis itu.


"Soraya, dengar Tante, Sayang. Kamu pulang dan bersihin diri kamu dulu, lihat pakaian kamu, banyak kena darah Chen. Tante bukan melarang kamu untuk bertemu lagi dengan Chen, Tante hanya meminta kamu untuk istirahat, biar bisa menjaga Chen besok, ya," bujuk wanita itu, lembut.


Soraya menarik napasnya dan menghapus sisa buliran air di sudut dagunya.


"Baiklah, Tante. Aya pulang dulu ya," ucap Aya mengalah.


Wanita itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Gadis penurut, hati-hati ya, Soraya," ucap wanita itu kembali.


Soraya kembali menatap Chen dari balik kaca pintu ruangan. Sebenarnya ia tidak tega, namun ia juga sadar. Ia masih bukan siapa-siapa buat Chen.


Lebih baik meninggalkan lelaki itu, mengikuti perintah Ibunya.


***


Soraya berlari menyusuri koridor rumah sakit. Dari semalam sampai siang ini, ia masih terus terpikirkan akan keadaan Chen.


Bahkan saat berada di kampus, Soraya masih terus memikirkan bagaimana keadaan Chen sekarang.


Soraya melihat Chen dari balik kaca pintu bangsal, ia menghela napas lega saat melihat Chen sudah duduk dan bermain ponselnya.


Perlahan, Aya membuka pintu kamar Chen. Mendekati Chen yang terduduk di atas kasurnya.


"Chen," panggil Soraya lembut.


Chen menatap wajah Soraya dengan sedikit bingung. Ia menyentuh sudut dahinya yang di balut oleh perban putih.


"Chen, elu sudah baik-baik saja, kan?" tanya Soraya kembali.


"Maaf, elu siapa ya?" tanya Chen polos.


Seketika, airmata Soraya luruh saat mendengar pertanyaan Chen. Perih, hatinya terasa sangat pedih mendengar kalimat itu.

__ADS_1


"Chen, apa elu gak kenal gue lagi? Gue Soraya, masa elu lupa?" tanya Soraya sedikit gemetar.


Chen hanya menggelengkan kepalanya, masih menatap wajah Soraya dengan tatapan polos tanpa dosa.


"Chen gue Aya, gue pacar elu. Masa elu lupa sih?"


"Pacar?" tanya Chen bingung. Chen kembali mengelengkan kepalanya, tak percaya ucapan gadis yang ada di depannya itu.


Soraya duduk di bibir ranjang dan menyentuh kepala Chen. Mengelus perban putih yang melilit kepala Chen.


"Chen, apa elu lupa ingatan? Masa iya elu gak ingat siapa gue?" tanya Soraya kembali.


Chen hanya menggelengkan kepalanya, ia melepaskan pegangan tangan gadis itu.


"Siapi sih? Pegang-pegang segala?" tanya Chen kembali.


Kembali air mata Soraya menetes, kenapa sakit sekali saat melihat Chen tak mengakuinya seperti sekarang ini.


Soraya menghapus buliran air matanya dan bangkit dari duduknya. Cepat, tangan Chen menarik pergelangan tangan Soraya dan kembali mendudukan Soraya di sampingnya.


Chen melingkari tangannya di perut ramping Soraya. Menumpuhkan dagunya di atas bahu sempit milik gadis itu.


"Mana mungkin gue lupa sama pacar tua gue," bisik Chen lembut.


Soraya langsung melepaskan pelukan tangan Chen dan mencubit kulit dada Chen dengan geram.


"Ih ... ini gak lucu, Chen," ucap Soraya ketus.


Chen tersenyum dan menghapus sisi buliran air mata Soraya.


"Maaf ya, sampai nangis gini. Tapi seneng juga, karena gue tahu, elu sudah mulai jatuh cinta sama gue," balas Chen lembut.


Soraya menyilangkan kedua tangannya di dada. Duduk membelakangi Chen, ia masih kesal oleh bercandaan lelaki itu yang sampai membuat ia menangis.


"Menurut lu?" tanya Soraya ketus.


Chen meletakan kedua tangannya di atas bahu Soraya. Memijit lembut bahu Soraya.


"Maaf, Sayang. Sebenarnya gue gak niat buat ngerjai, karena lihat elu nangis, jadi keterusan deh," bujuk Chen lembut.


Aya menghempaskan tangan Chen, melirik kearah Chen, sengit.


"Gak usah manggil-manggil sayang deh. Gue gak sudi," ucap Soraya sengit.


"Iya, deh. Gak panggil Sayang, panggil istriku saja ya." Peluk Chen erat.


Soraya memanyunkan bibirnya, ia tidak bisa marah lebih lama lagi oleh lelaki lembut ini.


Soraya menangkupkan tangannya di depan mulut. Menahan gejolak dari dalam perutnya yang ingin keluar.


"Eh ... Sayang. Elu kenapa?" tanya Chen lembut.


"Sepertinya asam lambung gue naik, Chen."


"Kok bisa naik? Pasti elu gak makan kan?" tanya Chen bawel


Soraya hanya mengganggukan kepalanya, lembut.


"Hah, bandel sih. Sudah tua juga, bukannya jaga kesehatan," ucap Chen ketus.


"Chen elu apa-apaan sih? Ngomongi gue tua mulu?"


"Habisnya, bukannya jaga kesehatan. Kenapa gak makan?"

__ADS_1


"Gue gak bisa makan," jawab Aya jutek.


"Kenapa gak bisa makan?"


"Kepikiran elu terus," balas Aya sengit.


"Eh apa?" tanya Chen kembali.


"Gak apa-apa!"


Soraya kembali menangkupkan tangannya di depan mulut, saat gejolak itu kembali terasa.


"Soraya, gue panggilin suster untuk berikan obat ke elu ya," bujuk Chen lembut.


"Gak usah, gue nanti beli obat di apotek saja."


"Sekalian beli obat buat anak dalam perut elu juga ya, biar anak kita sehat-sehat saja," goda Chen lembut.


"Hah apa? Anak kita?" tanya Soraya kaget.


"Iya, elu mual sekali, karena asam lambung. Mual dua kali, karena lagi mengandung anak kita kan?" tanya Chen memainkan kedua alis matanya.


"Anak, mata lu soak? Buat saja enggak pernah, dari mana jadinya?"


"Kalau gitu kita buat sekarang juga bisa."


"Chen mesum!" teriak Soraya geram.


"Kenapa sih? Segitunya nolak ngandung anak dari gue?" tanya Chen merajuk.


"Bukan nolak--"


"Berarti mau kan?" Chen langsung memeluk badan Soraya.


"Ih ... Chen lepas!" teriak Soraya lantang.


"Lu itu kenapa sih? Otak lu geser ya karena kejedot aspal?" tanya Soraya ketus.


"Lu sendiri kenapa? Sudah mual-mual, tapi gak mau ngaku kalau itu anak gue?"


"Apa? Soraya hamil?" tanya wanita yang baru datang dari balik pintu.


"Soraya hamil anak kamu, Chen?" tanya wanita itu terkejut.


"Eh Tante, ini cuma--"


"Iya, Ma. Soraya lagi hamil anak aku," putus Chen sambil melirik kearah Soraya dan tersenyum dengan menggoda.


Soraya membelalakan matanya, mulutnya menganga seketika. Kenapa bukannya meleraikan permasalahan ini, Chen malah mengakui kesalahpahaman ini?


"Chen, Mama gak habis pikir kamu bisa melakukan hubungan seperti itu." Wanita itu memegang sudut dahinya, pusing melihat ulah putranya itu.


"Maaf, Ma. Enak, eh khilaf maksud aku, Ma" jawab Chen setengah bercanda.


Wanita itu menatap wajah Chen dan Soraya secara bergantian. Ia tidak tahu harus berucap apa lagi. Sudah terjadi, hanya bisa di arahkan agar tak menjadi semakin buruk lagi.


"Huh, setalah keluar rumah sakit, bawa Mama ketemu keluarga Soraya. Kalian harus menikah secepatnya," ucap wanita itu kembali.


Chen melepaskan senyumnya selebar mungkin.


"Siap, Ma," jawab Chen semangat.


Soraya mengusap wajahnya dengan kasar, tak habis pikir, Chen menjebaknya dengan trik murahan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2