Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 92


__ADS_3

4 Tahun Kemudian.


Seorang wanita membuka pintu kaca kantornya. Ia berlari cepat memasuki ruangan kerjanya. Membuka laptopnya dengan cepat, matanya melihat dengan cermat, lalu di waktu tertentu tangannya menari indah diatas karton.


Megi, saat ini dia telah membuka perusahaannya sendiri. Menyelesaikan kuliah lebih cepat dari yang lainnya. Ia bekerja paruh waktu saat masih kuliah dulu. Kali ini bukan sebagai penyanyi atau penyiar radio.


Megi menyisakan waktu kuliahnya untuk bekerja di perusahaan desain. Selama dua tahun bekerja di perusahaan desain, kini Megi membuka perusahaannya sendiri.


Perusahaan kecil yang ia dirikan baru berjalan enam bulan, namun kini orderan yang masuk melebihi kapasitas kemampuan ia.


Berawal dari tender pertama yang ia menangkan dengan hasil mengejutkan, kini perusahaan desainnya mulai bersaing dengan perusahaan besar lainnya.


Bekerja part time membuat Megi mengenal banyak relasi, dan pengalaman kerja yang cukup baik, kini ia mampu mengokohkan kakinya untuk berdiri sendiri.


Saat ini Megi tidak lagi menetap di Beijing, ia telah pindah ke kota dimana impian ia ingin hidup bersama Sean dulu. Shanghai, kota ini sekarang menjadi tempat ia berpijak, memulai hidup baru di kota yang baru.


Menata kembali hatinya yang sempat hancur dan berantakan dalam dunia baru yang ia ciptakan. Perlahan namun pasti, Megi membangung dunianya sendiri.


Tok ... Tok ...


Daun pintu ruangan Megi di buka, menyembul seorang gadis muda dari balik daun pintu kaca ruangannya.


"Permisi, Nona." sapa gadis muda itu ramah.


"Iya."


"Nona, ada pertemuan dengan client."


"Baiklah, kirim lokasinya." Megi membereskan pekerjaannya.


Ia keluar dengan jaket tebal dan topi rajut musim dinginnya, berjalan menyusuri jalan menuju tempat ia akan memperkenalkan desain barunya.


Saat ini hidup Megi jauh lebih baik, ia mendapatkan segala apapun yang pernah menjadi impiannya dulu. Hanya satu yang saat ini tidak bisa ia raih, hati milik seseorang disana.


Megi sesekali masih merasakan hampa dalam hatinya, cintanya begitu tertancap kuat untuk Sean. Bagaimana ia, dimana Sean berada. Megi tak tahu, mungkin Sean masih berada di kota yang sama. Kota dimana mereka pernah mengukir indah kenangan mereka bersama.

__ADS_1


Di tengah perjalanannya Megi memberhentikan langkahnya di sisi jalan. Matanya menatap hamparan sungai panjang Shanghai.


Perlahan Megi mendekat, dan berdiri di sisi sungai panjang Shanghai, sungai Huangpu. Dulu ia pernah berniat ingin naik sampan disungai ini, namun keinginan itu tak pernah sampai.


Mata Megi menatap luas ke hamparan air sungai. Kembali ia terbayang hari-hari indah yang pernah ia lewati bersama Sean dulu. Andai saat ini semua keadaannya masih sama, mungkin jalan nya juga akan berbeda.


Megi membuang nafas panjangnya, kembali melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti. Ini sudah bertahun-tahun namun Megi tak bisa melupakan kenangan itu. Sean sangat berarti dalam hatinya, bahkan kalung Sean masih menempel di lehernya.


Tak ada yang tahu kalung itu dari mana, bahkan Mika pun tak tahu. Saat ada yang bertanya, ia hanya menjawab dengan senyumnya.


Biarlah kenangan itu menjadi sebuah memori yang tertinggal dalam hatinya. Tak perlu di korek lagi ataupun di ingatkan lagi. Karena tanpa diingati pun, kenangan itu tak pernah memudar.


Megi keluar dari gedung pertemuan itu, ia menghela nafasnya dengan mengeluarkan sedikit kabut dari dalam bibirnya. Ia memasukan kedua tangannya kedalam kantong jaketnya. Berjalan kembali menuju perusahaannya.


Megi membuang bokongnya kasar ke kursi yang ada di ruang tunggu perusahaan kecil miliknya. Kali ini tendernya kalah, ia menghela nafas berat dan melipat kedua tangannya diatas Meja.


Ia membenamkan wajahnya kedalam kedua tangannya. Kadang ia lelah menghadapi semua ini. Di tengah kesuksesan ia saat ini, kadang ia merindukan sosok Sean. Punggung dan hangatnya pelukan Sean.


"Sudahlah!" Megi menggelengkan kepalanya dan tersenyum getir.


Hidupnya saat ini sudah cukup baik, tak perlu mengingat apapun lagi yang membuat ia sakit. Impian yang selalu Sean pinta raih, sudah berada dalam genggamannya.


"Seharusnya, semua baik-baik saja saat ini. Huft ..." Megi menghela nafasnya.


"Iya, semua sudah baik-baik saja." Megi mulai bangkit dari duduknya.


Megi kembali keluar dari pintu kacanya, berjalan keseberang jalan. Memesan sebuah kopi untuk sekedar menghangatkan badannya.


Saat menunggu pesanan kopinya, salah seorang karyawan Megi melambaikan tangannya. Megi langsung berlari sesaat setelah pesanan kopinya ia terima.


Dengan cepat Megi membuka pintu kaca perusahaannya dan mendekat ke karyawan itu.


"Ada apa?" tanya Megi tergesa.


"Ada telepon dari client tadi."

__ADS_1


Megi mengangkat dengan cepat, berbicara dengan sedikit tersenyum. Ia mengangguk dan terus tersenyum. Lalu tak lama ia menutupnya.


"Ada apa, Nona?" tanya salah satu karyawan Megi.


"Ada kesempatan kedua buat perusahaan kita lagi," jawab Megi riang.


"Wah benarkah?" tanya mereka antusias.


Megi hanya tersenyum dan mengangguk pasrah.


"Tapi saya harus terbang ke Macau. Persentase keduanya akan dilakukan disana."


"Wah selamat ya, Nona." suara riuh karyawan Megi terdengar.


Megi sangat dekat dengan karyawannya, ia tak pernah menganggap anak buahnya sebagai seorang pekerja, ia membuat perusahaan ini seperti keluarga.


Di tengah keasyikan mereka tertawa, ada suara langkah kecil yang datang mendekat.


Seorang anak perempuan berumur tiga tahun datang dan langsung memeluk tubuh Megi.


"Eh..." sedikit terkejut, Megi melihat badan mungil anak perempuan yang memeluk tubuhnya erat.


Dengan melepaskan senyumnya, Megi membalas pelukan gadis kecil itu, dan tak lama meleraikannya. Berjongkok dan mencium pipi anak gadis kecil yang mirip sekali dengan wajah ia.


"Hey ... Sayang. Sama siapa kesini?" tanya Megi sambil tersenyum, dan mencubit kedua pipi mungil gadis kecil itu.


"Sama Papa." ucap gadis mungil itu polos.


"Papa?" tanya Megi, ia membuang pandangannya ke sisi kosong. Namun lelaki yang di maksud gadis kecil itu tak kelihatan juga.


"Mana Papa?" tanya Megi kembali dengan merapikan rambut gadis kecil itu.


Gadis kecil itu menunjuk kearah toko bunga di seberang jalan. Seorang pria gagah berjalan mendekat dengan sebuket bunga piony di tangannya.


Mata Megi menatap lekat lelaki yang saat ini berjalan menyeberangi jalanan di depan kantornya.

__ADS_1


Senyum Megi merekah lebar saat lelaki itu sampai di hadapannya.


__ADS_2