
Sean dan Rayen duduk santai di teras depan, memainkan catur bersama. Menikmati suasana malam yang tenang berdua.
"Sean, apa kamu berpikir kalau Papa akan mengulangi kesalahan Papa sama Megi?" tanya Rayen hati-hati.
Sean menghela nafasnya dan mengalihkan pandangannya ke arah Rayen yang berhadapan dengan ia.
"Kali ini berbeda." ucap Sean lembut.
"Apanya yang berbeda?" tanya Rayen tak puas dengan jawaban Sean.
"Aku melihat Papa kali ini menatap Megi tidak dengan nafsu, tapi dengan kasih sayang sebagai seorang Ayah. Aku pun melihat mata Megi memandang Papa seperti ia memandang om Fandy, bukan seperti dia memandang aku." jawab Sean sendu.
"Papa tahu kamu masih belum bisa percaya sama Papa sepenuhnya, Sean. Tapi apalagi yang bisa di lihat si tua bangka ini? Papa saat ini lebih terfokus sama Rezi dan anak Rena. Tak ingin lagi menyiksa diri bermain-main dengan wanita."
"Hoo ... Benarkah dengan apa yang di ucapkan si tua bangka ini? kenapa seperti menyedihkan sekali?" ledek Sean.
"Hey anak muda, sopanlah sedikit pada tua bangka ini. Bagaimana juga aku ini Papa mu." jawab Rayen kesal.
"Hah..." Sean menghela nafasnya dan berjalan dua langkah kedepan.
"Aku tak ingin lagi Mama tersiksa dan menyimpan luka, Pa. Aku harap Papa bisa aku percaya kata-katanya." ucap Sean serius.
"Papa pernah bersalah pada keluarga ini sebelumnya, Sean. Andai maaf itu tak pernah ada, mungkin hidup Papa tak akan senyaman ini sekarang."
Rayen ikut bangkit dan menepuk salah satu bahu Sean.
"Tak ada lagi yang Papa perlukan, Papa hanya ingin beristirahat dengan tenang. Bermain bersama cucu-cucu Papa." ucap Rayen lembut.
"Hoo ... Si tua bangka ini masih penuh dengan sandiwara dan tipu daya."
"Anak muda nakal, jangan sembarang menuduh." sanggah Rayen kesal.
"Tak ada yang namanya meninggalkan perusahaan. Papa pikir aku bodoh tak mampu mengartikan drama Papa?" jawab Sean sengit.
Rayen tertawa dan mengelus pundak Sean dengan lembut.
"Kamu masih tak berubah anak muda, masih sulit untuk di tipu dan masih terlalu pintar untuk di takhlukan."
"Sementara, kemana si tua bangka yang enam tahun lalu masih gagah berdiri dan berusaha melawan aku? berusaha untuk melumpuhkan setiap gerakan aku?" tanya Sean datar.
"Tua bangka ini sudah lelah, Sean. Kapan kamu akan melepaskan beban tua bangka ini?"
"Tunggu Rezi sampai dewasa dan membantu aku di perusahaan. Baru aku akan melepaskan Tua bangka yang menyedihkan ini." jawab Sean sengit.
"Lupakanlah, itu berarti tunggu si Tua bangka ini jompo, kamu akan terus memaksa Papa? kamu terlalu kejam jadi anak, Sean." ucap Rayen sendu.
"Teruslah berdrama Tua bangka. Aku tak akan luluh dengan sandiwaramu itu."
"Eh Sean, bukankah salah satu kakak Megi punya keahlian di bidang bisnis ya? kenapa kamu gak minta dia buat bantu kamu?"
"Yang Papa maksud, Mirza?"
"Hem, dia cukup pintarkan?"
Sean menghela nafasnya dan mengacak rambutnya.
"Megi juga sangat rindu sama dia, Pa. Tapi aku gak tahu dia dimana. Terakhir kali ketemu dia, lima tahun lalu di barat kota. Setelah itu aku gak tahu dia berada di mana."
"Hah, pada akhirnya si Tua bangka ini yang masih jadi korban." ucap Rayen lemas, berjalan masuk kedalam rumah.
Sean melepaskan tawanya dan menggeleng pasrah. Walaupun perseteruan panjangnya dengan Rayen telah berakhir lama, tapi mereka masih sering saling meledek satu sama lain.
Sean menaiki anak tangga rumah Rayen perlahan. Saat berjalan ke kamarnya, pandangan Sean teralih dengan Megi yang berdiri terpaku di balkon lantai dua.
Sean mendekat perlahan dan melingkari bahu Megi.
"Apa yang kamu lakukan disini Kuaci kecil?" tanya Sean lembut.
"Bulannya indah kan Kak?" ucap Megi sendu.
Sean memalingkan pandangannya, menatap sinar bulan penuh di atas sana.
"Tak seindah dirimu, Megi." jawab Sean lembut.
"Dulu, waktu aku tinggal sama Mommy, saat kita memandang bulan penuh seperti ini, Mommy bilang mohonlah sesuatu, maka langit akan mendengarnya."
"Apa kamu punya keinginan, Sayang?"
__ADS_1
"Emh." Megi menganggukan kepalanya pasrah.
"Kalau gitu memohonlah, bukan pada bulan. Tapi pada sang pencipta bulan."
Megi menghela nafasnya, matanya masih memandang bulan itu dengan lekat.
"Aku mohon, semoga takdir kembali menemukan aku dan Kak Mirza. Aku ingin, kak Mirza dan kak Mika kembali berdamai, dan keluarga kami bisa bersatu. Tanpa harus terpisah kembali."
Sean menatap wajah Megi yang masih terfokus pada bulan. Sean menyingkap rambut Megi dan mengelus kulit leher Megi.
"Eh ..." ucap Sean kaget
"Ada apa kak?"
"Di leher kamu ada bekas merah tadi siang, Sayang."
Megi hanya melepaskan tawanya dan menggeleng.
"Gak apa-apa deh, tanda kalau kamu punya aku."
"Bukannya ini sudah cukup jadi tanda ya kak?" Megi menaiki jarinya, memperlihatkan cincin di jarinya.
"Itu cuma tanda sebuah ikatan, Sayang. Kalau ini tanda hangatnya sebuah hubungan, iya kan?"
"Tanda keganasan kakak yang benar." ledek Megi.
"Tapi kamu sekarang juga semakin ganas, Megi." Sean mencium leher Megi lembut.
"Besok kita ke barat kota ya, sama Rezi juga."
"Kok tiba-tiba Kak?"
"Besok peringatan 4 tahun meninggalnya Farrel dan runtuhnya gedung barat, Megi. Jadi kita akan adain pengajian besok sore."
"Emh, baiklah."
***
Megi menggandeng jemari kecil Rezi memasuki lobi apartemen gedung di barat kota. Rezi langsung berlari saat melihat beberapa rekan kerja Ayahnya berdiri di ruang tunggu lobi.
"Eh ... Rezi." panggil Megi saat Rezi berlari dengan kencang.
"Biarkan saja, Rezi punya banyak Ayah angkat disini." tahan Sean lembut.
"Hah?" Megi memalingkan wajahnya melihat kearah Rezi
Rezi sudah berada dalam gendongan tangan besar Nino, dan beberapa anak buah Farrel yang lama.
Megi melepaskan senyumbya dan menghela nafas lega.
"Banyak sekali yang menyanyangi Rezi ya Kak."
"Sama seperti Ayahnya." jawab Sean lembut.
"Megi..." seorang wanita langsung memeluk bahu Megi erat dari belakang.
"Eh ... Apa ini?" tanya Sean ketus.
"Haish Tuan Muda, saya lagi pelukan, masih harus di jelasin?"
"Gak boleh peluk-peluk istri gue." ucap Sean sengit.
"Tapi dia adik kecil kami." wanita itu mencium pipi Megi gemas.
"Ih ... Ada acara cium-cium lagi. Cuma gue yang boleh cium." ucap Sean ketus.
Megi tersenyum dan melepaskan pelukan wanita itu. Membalikan badannya dan memeluk kembali badan wanita itu.
"Mbak Della, ya Tuhan, aku rindu sekali." peluk Megi erat.
"Megi, gak boleh rindu sama orang selain aku."
"Hey Tuan Muda galak, jangan lupa darah aku mengalir di dalam tubuh Megi. Jadi kami ini tak terpisahkan." jawab Della kesal.
"Cih ... Jika bukan karena pengorbanan elu, gak gue izinkan elu menyentuh kulit istri gue."
"Kakak hentikan, ih." ucap Megi menengahi.
__ADS_1
"Yasudahlah, yabg di bela juga gak mau. Aku pergi dulu." ucap Sean berjalan menjauh dari Megi dan Della.
"Mbak Della kok bisa ada disini? mbak Della sendiri?"
"Semua ada disini." jawab Della lembut.
"Maksudnya?" tanya Megi bingung.
Della menarik pergelangan tangan Megi, menyeretnya memasuki sebuah ruangan khusus karyawan.
"Echm." ucap Della di ambang pintu.
"Della, kok baru datang sih? ayo sini, acara akan mulai sebentar lagi." perintah Mia garang.
"Lihat siapa yang datang sama aku." ucap Della riang.
Kepala Megi menyembul dari balik badan Della.
"Hai." sapa Megi ramah.
"Megi..." teriak wanita-wanita itu mengerubungi Megi. Memeluk badan Megi satu persatu.
"Ya Tuhan gak nyangka, setelah lima tahun akhirnya bisa ngelihat kamu lagi." ucap Tessa senang.
"Iya, ya ampun. Masih sama saja seperti dulu." sambung Nina lembut.
"Eh ... Kamu kok bisa disini?" tanya Mia kembali.
"Tebak dong." jawab Megi riang.
"Kamu balikan sama Bos Sean ya?"
Megi tersenyum dan menganggukan kepalanya.
"Ya ampun senangnya."
"Kalian semua kok bisa ada disini? memag gak kerja di hotel lagi?"
"Semenjak pak Farrel meninggal, kami orang lama semua pindah kesini. Mungkin Tuan Muda ingin suasana disini seperti dulu." jawab Della lembut.
"Kecelakaan itu pasti buat kak Sean terpuruk." ucap Megi sedih.
"Eh, kamu naik keatas dulu ya. Kami bentar lagi nyusul." ucap Mia.
"Mau aku bantu?" tanya Megi ramah.
"Gak perlu!" jawab mereka serentak.
Megi tercengang melihat kekompakan mereka, masih sama seperti dulu. Megi melepaskan senyumnya.
"Aku masih Megi yang dulu, loh." ucap Megi melas.
"Kami tahu, tapi kami gak mau buat Bos Sean marah. Kamu naik saja, nanti kami kesana."
"Ehm ... Yaudah deh. Aku ke atas ya."
"Oke." jawab mereka serentak.
Megi meninggalkan ruangan itu dan menekan tombol lift. Tak lama pintu lift terbuka, dengan santai Megi memasuki lift tersebut.
Saat pintu lift ingin tertutup, seorang lelaki dengan pakaian rapi berlari kencang kearah lift.
Dengan cepat tangan Megi menahan pintu lift, memberikan waktu untuk lelaki itu masuk.
"Terima kasih." ucap lelaki itu dengan nafas yang memburu.
"Sama-sama." jawab Megi lembut.
Terdengar helaan nafas yang memburu keluar masuk dari bibir lelaki itu.
"Hai, aku Sandy." lelaki itu mengulurkan tangannya.
"Megi." jawab Megi lembut tanpa menyentuh tangan lelaki itu.
"Hem, nama yang bagus." ucap lelaki itu kembali.
Megi hanya mengangguk dan tersenyum, saat pintu lift terbuka. Dengan cepat Megi keluar, namun lelaki itu meraih pergelangan tangan Megi.
__ADS_1
"Tunggu." tarik lelaki itu.
Sementara di depan sini, ada mata yang memandang mereka berdua dengan panas. Rahangnya menggeretak geram.