Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 68


__ADS_3

Setelah menjalani beberapa pemeriksaan, Megi di izinkan pulang. Keadaan nya kembali membaik seperti semula. Sedikit benturan di kepalanya sudah di nyatakan baik-baik saja.


Sean melajukan mobilnya kembali ke apartemen milik mereka. Tak ingin lagi terjadi hal seperti kemarin. Sean tak ingin lagi mampir kemanapun, banyak hal yang membuat Sean mengalami trauma.


Sean menggendong badan Megi sambil memasuki gedung apartemen miliknya.


"Siapa nama Papa elu?" tanya Sean sambil berjalan dari parkiran.


"Affandy Abbas."


"Siapa nama Tante elu?"


"Mommy, kak." jawab Megi meralat.


"Oh iya, Mommy elu."


"Fahera Jenara."


"Nama kakak elu?"


"Mikail yusuf Abbas."


"Dan ...?"


"Mirza Noah Abbas."


"Terus kenapa nama elu Megisia Moran?"


"Mommy yang kasih nama, aku gak tau, tapi Mommy bilang, Moran itu julukan untuk seseorang yang pintar membaca pikiran, kak."


"Memang elu bisa baca pikiran orang?"


"Enggak!" jawab Megi enteng.


"Terus..."


"Tapi aku bisa baca hati kakak." Megi melingkari tangannya di pundak Sean yang saat ini berjalan menggendong dia.


"Dikota mana elu di besarkan?"


"Beijing."


"Kuliah di?"


"Hati kakak." jawab Megi terkekeh.


Sean tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya. Langkah besarnya dengan cepat melewati koridor dan masuk kedalam apartemen miliknya.


"Dan ... siapa gue?" tanya Sean sambil membuang bokongnya di atas sofa.


Sementara ia mendudukan Megi diatas pangkuannya.


"Sean Rayen Putra." ucap Megi tersipu malu.


"Orang yang paling penting buat aku." sambungnya sambil memandang wajah Sean.


"Benarkah?" tanya Sean menggoda.

__ADS_1


"Kakak tahu?"


"Enggak!" jawab Sean cepat.


"Ih ... Aku belum siap ngomong, kak." Megi memukul-mukul badan Sean lembut.


"Iya, apa?" tanya Sean geli.


"Bahkan saat aku kehilangan ingatan aku, aku tak pernah kehilangan perasaan aku ke kakak. Mau berapa kali kehidupan aku di ulang, orang yang aku cintai tetap kakak." ucap Megi sendu.


"Kenapa?" tanya Sean serius.


"Karena hati aku tetap sama kak. Walaupun memori aku berbeda namun hati aku masih sama. Kakak adalah orang yang terukir didalam hati, bukan dalam ingatan."


"Hem." jawab Sean cuek.


Padahal saat ini jantungnya sedang bertabuh tak menentu. Namun demi menutupi perasaannya dia hanya mengungkapkan ekspresi datar. Namun rona wajahnya tak bisa di sembunyikan, pipinya mulai memerah muda.


"Ciye ... Pipi kakak kok merah nih?" Megi mencolek dada Sean dengan satu jarinya.


"Enggak, siapa bilang!" Sean menangkupkan tangannya, menutupi mulutnya dengan tangannya. Membuang pandangan kesisi kosong.


"Kakak kalau sudah jatuh cinta sama aku jujur saja deh." ucap Megi menggoda.


"Enggak, gue gak jatuh cinta sama elu. Gak usah ge er!" jawab Sean ketus.


"Eleh ... Gaya-gaya an. Padahal sudah ngakui." goda Megi pada Sean.


"Kapan?!" tanya Sean sedikit berteriak.


Megi memukul bibir Sean lembut.


"Iya, sorry, kapan gue bilang jatuh cinta sama elu?"


"Jawabnya ada di ujung langit, kak." ucap Megi kesal.


"Kita kesana dengan seorang anak, anak yang tangkas dan juga pemberani..." sambung Sean menanyikan sondtrack dargon ball.


"Kakak aku serius!" Megi berteriak kesal.


Kali ini gantian Sean yang memukul bibir Megi.


"Kebiasaan ngomong sama suami nge gas! Lu pikir gak dosa?"


"Iya, maaf kak. Habis nya kakak sih, aku ngomong serius malah nyanyi."


"Kan biar kayak di film-film itu, Meg. Ada lagu saat lagi momen manis."


"Iya, kalok di film kan lagunya romantis kak. Ini malah sondtrak kartun." Megi mengerucutkan bibirnya.


"Bertarunglah ... Dragon Ball ... Dengan ..." Megi menutup mulut Sean dengan cepat. Menghentikan lagu yang dinyanyiin Sean.


"Ih ... Kakak serius tau!"


"Aku juga lagi serius nyanyi." jawab Sean enteng.


Sean menggoyangkan kakinya, menggoda Megi yang saat ini sedang duduk diatas pangkuannya.

__ADS_1


Megi meletakan kepalanya di dada bidang Sean. Ia mendengarkan detak jantung Sean yang saat ini bertabuh kencang. Megi mendongak kan pandangannya, menatap wajah Sean yang saat ini bersemu merah.


Sementara Sean hanya menatap wajah Megi dengan tatapan dingin, Megi menyengir kuda saat mata Sean melihat kearahnya.


"Kakak takut kan kehilangan aku?" tanya Megi kembali menempelkan kepalanya di dada Sean.


"Enggak!"


"Gak usah bohong, nanti hidung kakak makin mancung." Megi mentoel ujung hidung Sean.


"Kakak cinta kan sama aku?" tanya Megi sambil menatap binar bening mata Sean.


Sementara Sean hanya sibuk sendiri, merapikan poni Megi yang saat ini sudah panjang melewati dagunya. Tangannya asyik membentuk poni Megi.


"Begini cantik." setelah selesai membentuk poni panjang Megi.


Megi memiringkan kepalanya, melihat bayangan wajahnya dari pintu kaca lemari yang ada di belakang sofa.


"Biar jidat lebar elu kelihatan." Sean tertawa meledak.


Megi hanya mengerucutkan bibirnya, tangannya memainkan kerah kemeja Sean. Sean kembali memandang Megi lekat, tangannya kembali merapikan rambut Megi lagi.


Menyingkap rambut Megi ke balik telinganya. Sean memasukan tangannya kerambut Megi, menarik kepala Megi dan kembali mencium bibir Megi lembut.


Setelah beberapa waktu, ia melepaskannya. Sean tersenyum sendu, dan mengecup kedua kelopak mata Megi.


"Istirahat gih!" perintahnya.


Megi mulai turun dari pangkuan Sean dan berjalan menuju kamarnya, sebelum ia membuka pintu kamarnya, Megi kembali menoleh kearah Sean. Melihat Sean yang saat ini terduduk melamun diatas sofa.


Menatap Sean yang seperti ini, kembali membuat hati Megi bimbang. Saat ini ia sudah merasakan hangat kasih sayang Sean. Megi tak ingin lagi kehilangan kehangatan yang telah lama ia nantikan ini.


"Aku gak akan kembali ke Beijing, kak." ucap Megi sambil memegang gagang pintu kamarnya.


"Harus, Meg." ucap Sean mengeras.


"Lu harus kembali kesana!"


"Tapi kak, aku mau tetap disini." Megi kembali mendekat ke sofa.


"Tapi gue gak mau lu disini!" ucap Sean ketus.


"Kenapa kak?" tanya Megi ngeyel.


"Gue bilang lu harus pulang ke Beijing ya lu harus kesana!" perintah Sean menekan.


"Kak, tapi rumah aku disini. Pulang itu adalah pergi ke tempat, dimana ada orang yang kita sayangi tinggal, kak. Orang yang aku sayangi ada disini!"


"Meg, lu gak boleh lemah. Lu harus raih mimpi elu."


"Saat ini mimpi aku hidup bersama kakak, aku gak butuh apapun lagi kak."


"Tolong, Meg. Jangan sia-sia in perjuangan Mika, jangan sia-sia in perjuangan gue. Jangan hanya karena ego lu, lu sia-sia in perjuangan kami." Sean bangkit dan memasuki kamarnya.


Sean membanting daun pintu kamarnya dengan kuat. Saat ini pun ia sebenarnya tak ingin berpisah. Namun jika hanya memikirkan ego masing-masing, entah apa yang akan terjadi kedepannya.


Megi hanya bisa tertunduk lesu, di tatapnya layar ponselnya. Tertera tanggal hari ini, Megi kembali mengingat tanggal terakhir kali ia tertabrak.

__ADS_1


Hari ia tertabrak adalah hampir lima bulan yang lalu, Megi membuang nafasnya lemas. Waktu tiga bulan ia habiskan hanya untuk berbaring tak berdaya.


Seharusnya waktu yang segitu lamanya bisa ia gunakan untuk mencoba meyakinkan Sean. Saat ini waktunya sudah hampir habis, namun Sean masih kekeh pada pendiriannya.


__ADS_2