Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 129


__ADS_3

Mika mengikuti langkah kaki Sean yang lebih dulu berjalan di depannya.


Saat Sean membuka pintu mobil, Mika menarik kera belakang kemeja Sean dan melayangkan satu tumbukan di wajah Sean.


"Saat gue mukul lu begini? apa pikiran elu bisa kembali waras?!" teriak Mika lantang.


"Maksud lu?" tanya Sean bingung.


Kembali Mika memukul wajah Sean, membuat badan Sean yang lebih besar dari Mika jatuh di halaman depan rumah Sean.


Mika meraih kera kemeja Sean, mencengkramnya dengan kuat.


"Bisa-bisanya elu tukar semua harta dan perusahaan yang elu punya, memilih untuk hidup di penjara, apa otak lu masih bekerja?" tanya Mika meradang.


"Yang penting gue gak di pisahin sama Megi. Apapun bisa gue korbani."


"Terus kalau elu di penjara, bagaimana kehidupan yang akan di jalani sama adek gue? apa lu mau lepasin tanggung jawab gitu aja?"


"Tenang, gue ninggalin uang yang cukup buat adek lu. Setidaknya dua atau tiga tahun ini hidup dia masih bisa baik-baik saja. Asal dia bisa ngatur keuangan." jawab Sean datar.


"Apa lu pikir adek gue cuma butuh materi aja? apa adek gue gak butuh suami yang bisa lindungi dia?"


Mika menguatkan cengkraman tangannya, geram setengah mati melihat sahabat karibnya itu.


"Gue, akan minta bantuan Yohan buat lihatin, Megi. Nino atau yang lainnya, Megi masih ada dalam pengawasan gue."


"Terus apa lu gak pikiri bagaimana nama elu akan hancur saat elu masuk dalam penjara, apa lu pikir mudah bangun perusahaan itu setelah nama baik elu hilang?"


"Gue gak peduli, yang penting Megi dan anak gue aman. Kalau hal yang lain, gue gak peduli."


Bugh


Satu tinjuan kembali mendarat di atas perut Sean.


"Bodoh, kenapa gue bisa punya sahabat yang di perbudak oleh cinta seperti elu? geli gue lihat elu." Mika menghempaskan badan Sean di tanah.


Mika mengambil nafasnya yang memburu dengan kencang. Sementara Sean masih tertidur diatas rumput halaman depan rumahnya, menarik nafas yang sedikit tersengal karena bogeman tangan Mika.


"Bangun lu, bertarung sama gue. Biar otak lu gak hanya di penuhi oleh Megi saja."


"Mau lu penggal kepala gue, orang yang gue pikiri cuma Megi."


"Bacot lu, gue bilang bangun!" teriak Mika lantang.


Dengan sedikit sempoyongan, Sean bangun dan berusaha berdiri. Berhadapan dengan Mika yang saat ini sedang mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Lawan gue, saat elu bisa buat gue nyerah. Maka gue lepasin elu dari penjara."


Sean tersenyum dan membalikan badannya. Berjalan menuju mobil.


"Kenapa? lu takut sama gue?" tanya Mika saat melihat Sean berjalan menjauh.


"Gue lebih takut buat ngelukai elu, sekali gue lukai kepercayaan elu. Gue gak akan mau lukai apapun lagi kalau itu menyangkut elu."


Mika berjalan dengan cepat, menyeret kembali kera kemeja belakang Sean.


"Lu pikir kalau lu bilang begitu gue akan luluh? gue bukan perempuan yang bisa tertipu sama bual manis elu." ucap Mika geram.


"Percaya atau gak, itu hak elu. Gue hanya melakukan apa yang seharusnya gue lakukan. Untuk berusaha melindungi keluarga gue." jawab Sean datar.


Mika membalik badan Sean, menarik kembali kera baju Sean.


"Lu, berlagak sama gue?!" tanya Mika lantang.


Sean hanya tersenyum dan mengikuti semua amarah Mika.


Mika mengepalkan tangannya, kembali mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Bersiap untuk melayangkan satu tinjuan lagi.


Namun gerakan tangan Mika terhenti sebelum menyentuh ujung hidung Sean. Mika menarik bahu Sean dan memeluknya dengan erat.


"Kenapa? gue hanya punya sahabat karib satu, tapi kenapa menjijikan sekali sifatnya." ucap Mika sendu.


Sementara Sean masih terkejut oleh perlakuan Mika. Sean meleraikan pelukan Mika dan memandang wajah Mika yang saat ini mulai melunak.


"Kenapa elu bisa jadi budak cintanya, Megi? kenapa elu gak ngelawan saat gue nyiksa elu begini?" tanya Mika kembali meradang.


"Karena memang gue yang bersalah." jawab Sean lembut.

__ADS_1


"Terus kalau elu sudah salah, apa elu terima di siksa dengan mudah begini? iya? kemana hilangnya taji elu?"


Sean melepaskan senyumnya dan merangkul bahu Mika kembali.


"Sudahlah, jangan buang waktu. Ayo kita ke penjara." ajak Sean kembali.


Bugh


Satu pukulan kembali menghantam perut Sean.


"Apa elu belum sadar juga?" tanya Mika sinis.


"Maksudnya?" tanya Sean bingung.


"Dari awal gue gak pernah niat buat penjarain elu. Gue hanya menggeretak, tapi elu serius menanggapinya."


"Maksud elu, lu maafin gue?" tanya Sean memastikan kembali.


Mika menendang tulang kering kaki Sean dengan kuat.


"Gue gak sudi. Sudahlah, temui istri tercinta elu sana, jangan buat kandunganya bermasalah lagi." Mika menyilangkan kedua tangannya di dada dan berjalan meninggalkan perkarangan rumah Sean.


Sean melepaskan senyumnya dan mengejar langkah kaki Mika. Merangkul bahu Mika.


"Mik, makasih, Sob. Makasih banyak." ucap Sean senang.


"Pergi sana, gue lelah. Mau istirahat lebih awal untuk pekerjaan besok." Mika menghempaskan rangkulan tangan Sean dan kembali berjalan meninggalkan Sean.


"Mik, lu jadi kerja di pelayaran lagi?" tanya Sean kembali.


"Gue harus bener-bener kerja. Kalau gak, besok gue bisa di pecat sama Singa Afrika." jawab Mika datar.


"Tapi kasus yang sudah di buka lagi, bagaimana?"


Mika tersenyum dan membalikan badannya, melihat Sean yang berdiri terpaut 3 meter di belakangnya.


"Gue sudah mengira, kalau lu gak bakalan lihat surat penangkapan yang gue kasih. Kalau lu lihat dulu, seharusnya pertarungan ini gak harus terjadi."


Mika tersenyum sinis dan kembali berjalan memasuki perkarangan rumahnya.


Sean membuka daun pintu kamarnya, melihat Megi yang sedang berjongkok, menyembunyikan wajahnya diatas kedua lututnya. Memecahkan tangisannya yang membuat seluruh badan kecilnya bergetar.


Sean tersenyum dan ikut berjongkok di depan Megi. Memeluk badan Megi erat.


"Lepasin aku, Kak Mika!" Megi menghempaskan pelukan tangan Sean, menolak dada Sean dengan keras, sampai terjatuh.


"Puft ..." Sean memuntahkan darah dari dalam mulutnya saat terjatuh di lantai.


Seketika tangisan Megi langsung terhenti saat melihat lelaki di depannya.


"Kak Sean." lirih Megi terkejut, ia masih tak percaya apa yang di lihat oleh matanya.


"Ya ampun, maafin aku, Kak." Megi langsung mendekat dan memindahakn kepala Sean keatas pangkuannya.


Sean mengambil nafasnya yang tersengal dan tersenyum dengan lembut. Menghapus bibirnya yang memerah karena darah.


"Kakak kok bisa disini?" tanya Megi bingung.


"Gak suka, kalau aku masih disini?" tanya Sean lembut.


"Kakak bicara apa?" Megi mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Sean.


Sean menolak wajah Megi dan kembali memuntahkan darah dari dalam mulutnya.


"Bantu aku bangun, Sayang. Aku bersihkan ini dulu." ucap Sean lemas.


Megi membantu Sean duduk di ranjang. Membersihkan badan Sean dan juga wajah Sean yang kembali lebam.


"Apa kita perlu kerumah sakit?" tanya Megi saat memeras handuk basuhan darah Sean.


"Gak perlu, ini gak apa-apa. Hanya luka beberapa hari yang lalu belum sembuh total."


"Apa kalian laki-laki seperti ini menyelesaikan masalah? selalu gunakan otot di bandingkan otak." cerca Megi mulai menggarang.


"Apapun yang terjadi, yang penting saat ini kita bisa sama-sama lagi kan."


Megi memanyunkan bibirnya dan mendudukan badannya di atas pangkuan Sean. Melingkari kedua tangannya di bahu Sean.

__ADS_1


"Sekarang semua beneran baik-baik saja kan, Kak?" tanya Megi manja.


"Iya, semuanya baik-baik saja. Maaf beberapa minggu ini buat kamu khawatir dan juga stres ya, Sayang."


"Syukurlah jika semua baik-baik saja sekarang." Megi memeluk badan Sean dengan erat.


Menghela nafasnya yang terasa begitu sangat lega.


***


Megi memandangi perutnya yang sudah besar di depan kaca lemarinya. Memegangi beberapa guratan di bagian bawah perutnya.


"Kak kalau setelah melahirkan perut aku masih besar gimana?" tanya Megi sambil memandangi guratan-guratan merah di perutnya.


"Memang setelah melahirkan anakmu masih tertinggal? kok bisa besar?"


"Maksud aku melar loh, Kakak." ucap Megi sambil memilih baju-baju nya yang sebagian sudah tak muat lagi.


"Biarkan sajalah, Megi. Kenapa harus pusingin itu." jawab Sean yang masih terfokus pada laptopnya.


Megi menaiki kancing bajunya dengan sedikit kesusahan. Menghela nafasnya yang kadang tersengal karena perutnya yang sudah besar.


"Kak, baju aku sudah banyak yang gak muat, temeni aku beli beberapa potong baju hamil ya."


"Sekarang?"


"Enggak, tunggu hamil anak ke lima." jawab Megi geram.


Sean menyeringai dan masih terfokus dengan layar laptopnya.


"Beri aku waktu tiga puluh menit ya, nanti aku temani selesai ini."


Megi duduk di bibir ranjang, menunggu Sean dengan sabar. Beberapa kali Megi menghela nafasnya, namun Sean masih tak sadar.


Sudah hampir satu jam, tetapi Sean masih asyik dengan pekerjaannya.


"Sudahlah, aku minta temani kak Irena saja." ucap Megi merajuk.


"Eh iya, iya. Ayo." Sean langsung menutup laptopnya dan menggandeng tangan Megi.


Megi memilih beberapa baju hamil di gantungan baju. Mencocokan dengan badan kecilnya.


Setelah beberapa lama, Megi membawa beberapa baju ke kasir. Melihat Sean yang masih sibuk di bagian baju yang lainnya, Megi datang mendekati Sean.


"Kakak lagi ngapain sih?" tanya Megi mendekat.


"Sssstttt." Sean meletakan satu jarinya di depan bibir. Menarik Megi kedepan cermin besar yang ada di toko.


Membedirikan Megi di depan cermin itu dan memakaikan kerudung berwarna cokelat muda di kepala Megi.


Megi melihat pantulan dirinya dari kaca besar, bibirnya tersenyum saat melihat bayangan Sean yang tersenyum dengan manis di belakangnya.


"Aku suka saat lihat kamu dalam balutan berwarna cokelat dan putih." ucap Sean lembut.


"Kakak suka lihat aku dalam balutan warna cokelat? atau kakak suka lihat aku pakai hijab?" tanya Megi mendongakan kepalanya, melihat Sean yang berdiri di belakangnya.


"Aku suka lihat wajahmu saat tertutup dalam balutan hijab. Wajahmu terlihat lebih indah saat tertutup dengan sempurna."


Sean tersenyum dan membalikan badan Megi. Memandang wajah Megi dengan lembut.


"Tapi aku tak mau memaksamu, karena ini adalah perubahan besar dalam hidupmu. Maka lakukanlah saat kamu benar-benar yakin atas keputusanmu sendiri, bukan hanya karena aku suka tapi hatimu tak bisa menerima."


"Baiklah." jawab Megi lembut.


"Kamu sudah siap memilih?"


"Iya."


"Aku ke kasir dulu." Sean berjalan menuju kasir, meninggalkan Megi sendiri.


Megi memandang wajahnya kedalam kaca cermin itu sekali lagi. Tersenyum dengan lembut dan menarik kerudung itu dari atas kepalanya.


Megi mengelus perutnya dengan lembut dan berjalan ke kasir dengan membawa kerudung itu.


"Ini juga, Mbak." ucap Megi sambil menyerahkan kerudung itu.


Sean melirik ke arah Megi, tersenyum saat Megi mengambil kerudung yang ia pilihkan.

__ADS_1


__ADS_2