
"Matanya tajam sekali." lirih Megi.
"Nyonya." dengan cepat Yohan mengangkat tubuh Megi untuk berdiri.
"Nyonya gak apa-apa? maaf saya teledor, gak menjaga Nyonya dengan baik."
Megi memegangi perutnya yang sedikit sakit karena terjatuh tadi. Matanya masih terus menatap Silvy yang berdiri di depannya.
"Aku gak apa-apa." jawab Megi lembut.
"Silvy apa yang kamu lakukan?" tanya Yohan mencengkram lengan tangan Silvy dengan kuat.
"Maaf Pak, saya gak sengaja."
"Kamu tahu yang kamu tabrak ini siapa?" tanya Yohan geram.
"Yohan bawa dia keluar dari perusahaan, gue gak ingin lihat dia lagi di anak perusahaan dan seluruh perusahaan yang bekerja sama dengan kita." ucap Sean tegas sambil berjalan mendekati Megi.
Sean meraih kedua pipi Megi dan mengelusnya dangan lembut.
"Kamu gak apa-apa, Sayang?" tanya Sean lembut.
"Aku gak apa-apa, Kak."
"Baik, Bos." jawab Yohan lembut.
"Tapi Pak Yohan saya gak sengaja, Nyonya maafkan saya. Saya salah." ucap Silvy bersalah.
Dengan cepat satu tangan Sean mencengkram pipi Silvy dengan kuat.
"Jangan lu pikir gue gak punya mata." ucap Sean membara.
"Kakak jangan seperti ini." tahan Megi cepat.
Sean melepaskan cengkaramannya dan memalingkan wajahnya.
"Yohan, bawa dia keluar dari sini!" bentak Sean keras.
Seketika seluruh karyawan yang berada disana terdiam terpaku. Melihat amarah Sean yang kembali membara.
"Tenanglah, Kak." Megi meraih jemari Sean dan mengenggamnya dengan erat.
"Lihat aku gak apa-apa kan. Jangan terlalu keras jadi pimpinan, Kak. Kakak pernah janji satu hal kan sama aku saat di bandara, apa kakak lupa?" tanya Megi lembut.
"Tapi dia sengaja, Megi. Dia bahayain anak kita." jawab Sean menekan.
"Apa? anak kita?" lirih Silvy, terkejut.
"Tapi aku gak apa-apa Kak. Anak kita juga gak apa-apa. Aku yakin dia juga gak sengaja, hem." bujuk Megi lembut.
"Gak bisa Megi, aku bukan orang bodoh yang gak bisa lihat apa yang dia buat. Dia sengaja!" tekan Sean keras.
"Nyonya maafkan saya." ucap Silvy kembali.
"Diam!" bentak Sean keras.
"Kakak sudahlah, gak perlu sekeras ini juga. Aku gak apa-apa."
"Dia harus tahu posisi dia, Megi. Aku gak terima ada orang yang menyakiti kamu. Untung dia wanita, kalau laki-laki..."
"Ssttt ... Sudahlah kenapa harus di perpanjang?" putus Megi langsung.
Sean menghela nafasnya dan memandang Megi dengan lembut. Mengelus pucuk kepala Megi.
"Yohan pindahkan dia ke kantor cabang yang terjauh, dan pastikan gue tak pernah melihat dia saat melakukan kunjungan." perintah Sean melemah.
"Baik, Bos."
"Terima kasih Tuan Muda, Nyonya." ucap Silvy lemah.
"Jika bukan karena Megi yang minta, bahkan mendengar suara lu saja gue gak sudi."
Sean berjalan melewati mereka dan menarik Megi kedalam ruangannya.
Yohan melihat wajah Silvy yang sedang menunduk kebawah dan menghela nafasnya kasar.
"Haish Silvy, aku tak bisa menyelamatkanmu walaupun kamu adik sepupu aku." ucap Yohan pasrah.
__ADS_1
"Maaf Bang, aku gak tahu dia istri Tuan Muda."
"Jangan sembarangan dengan orang-orang di sekitar Bos, Silvy."
Yohan berjalan ke jajaran karyawan wanita, menatap wajah karyawan wanita itu dengan lekat.
"Kalian, kalau masih mau kerja disini, jangan buat kesalahan dengan orang-orang di sekitar Bos Sean. Apalagi nyonya Megi, bahkan Ardian saja sanggup di hancurkan sama Bos, karena membawa Nyonya Megi dalam bahaya."
"Baik, Pak." jawab mereka serentak.
Yohan mengusap wajahnya kasar, melihat Silvy yang membereskan barang-barangnya.
"Bahkan pak Farrel saja gak berani menyinggung dia, kalau kalian masih punya nyali, berarti kalian cari mati."
"Pak Farrel bukannya sudah meninggal empat tahun yang lalu ya, Pak?" tanya salah satu karyawan disitu.
"Iya."
"Berarti Nyonya Megi?"
"Dia sudah menjadi istri Tuan Muda lima tahun yang lalu. Jadi sebaiknya kalian jaga sikap saat bertemu dia."
***
Sean memeriksa beberpa dokumen yang di bawa Silvy tadi. Mengingat Silvy yang membawa dokumen itu keruangan dia, Sean menghempaskan seluruh dokumen itu dari atas mejanya.
"Yohan!" teriak Sean lantang.
"Iya, Bos." langkah Yohan terhenti saat melihat ruangan Sean yang berantakan dengan kertas.
"Bawakan gue semua salinan dokumen ini. Gue gak sudi menyentuh barang yang sudah di sentuh wanita itu." ucap Sean membara.
"Baik, Bos."
Megi mengalihkan pandangannya dan menghela nafasnya kasar. Melihat Sean yang masih memerah padam. Sean memang berubah lembut, namun itu hanya di depan matanya saja.
'Tuhan, ternyata suamiku masih gak berubah.' lirih Megi dalam hati, Megi memegang sudut dahinya.
Kembali matanya memandang Sean di balik meja kerjanya. Megi menghela nafasnya dan mulai bangkit perlahan.
Sean hanya mengalihkan perhatiannya, melihat Megi yang berjalan mendekatinya.
"Aku udah pilihi beberapa desain yang bagus, nanti aku ubah sedikit dan cocokin warna sama ruangan gedungnya. Lihat ini." Megi meletakan tabletnya di atas meja Sean.
Menggeser layarnya untuk memberikan pilihan desain untuk Sean.
"Menurut kamu bagus yang mana?" tanya Sean lemah.
"Menurut aku lebih bagus pakai desain yang paling simple, karena arsitektur bangunannya sudah sangat bagus, jadi hanya perlu menampilkan sisi dinding yang kakak desain dengan detil, dan menambahkan sedikit kombinasi." jelas Megi rinci.
Sean tersenyum lembut dan menarik Megi, mendudukan Megi diatas pangkuannya.
"Terserah kamu saja, apa yang di buat oleh tangan kamu, pasti hasilnya menakjubkan."
Sean mengambil jemari Megi, mencium telapak tangan Megi dengan lembut.
"Karena bakat yang di anugerahkan Tuhan, di tangan ini. Itu sebuah keajaiban yang menakjubkan, Sayang."
Megi tersenyum dan melingkari bahu. Sean dengan kedua tangannya. Sean meraih pipi Megi dan mendekatkan perlahan.
"Ini di kantor, Sayang. Tahan sedikit."
"Satu kali aja." pinta Sean manja.
Megi tersenyum dan bangkit dari pangkuan Sean.
"Yohan itu pengganti Farrel ya, Kak?" tanya Megi lembut.
"Kalau di bilang pengganti, dia tak seperti Farrel, bahkan sepersepuluh Farrel pun tak ada dalam dirinya."
"Hem? masa sih?"
"Aku kasih tahu sama kamu, Megi. Farrel, dia yang menemani aku dari bawah, merebut kekuasan berkat keterampilan dia. Farrel memiliki kemampuan yang luar biasa, gak ada yang bisa jadi pengganti dia."
"Berarti Farrel sama hebatnya seperti kakak dong ya?"
Sean tersenyum sendu dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bahkan otak aku gak secanggih dia, Megi. Dia itu punya koneksi dan kepintaran yang luar biasa. Kenan, Nino, Denny. Mereka bukan orang biasa, mereka ketua beberapa geng berandalan di beberapa daerah. Kalau aku bilang, Farrel itu luar biasa." jawab Sean sendu.
"Aku gak nyangka kak, Farrel sekuat itu." ucap Megi terkejut.
"Yohan itu hanya salah satu bawahan Farrel, dia yang paling pintar di antara yang lain. Tapi dia tak sepintar Farrel dalam mengelola jaringan."
"Emh, apakah Farrel itu memiliki IQ di atas rata-rata?"
"Iya, Yohan hanya bisa membuat pelindung dan pengunci dokumen-dokumen penting perusahaan. Tapi kalau Farrel, dia bisa membuat virus hanya dalam waktu dua jam, dan memasukannya sebagai peretas dalam kecepatan detik."
"Wow, aku gak nyangka loh kak."
"Karena itu Ardian mengincar Farrel, karena melukai Farrel sama saja seperti mematahkan sebelah sayapku." Sean tersenyum kecut dan menundukan kepalanya. Ada kesedihan yang kembali menyelimuti hatinya.
"Andai aku tak melawan Ardian, mungkin kamu dan Farrel tak akan pernah terluka. Semua ini salah aku, Megi. Apa Sezi akan memaafkan aku atas penderitaannya selama ini?" ucap Sean melemah.
"Bahkan Sezi tak pernah mau menatap wajah aku, Megi. Ada kebencian yang dia pupuk dalam dirinya untuk aku. Aku menghancurkan mimpinya, aku menghancurkan kebahagiaanya, aku merenggut hidupnya."
"Aku yakin Sezi gak pernah benci sama Kakak." jawab Megi lembut.
"Kamu gak pernah lihat tatapan matanya, jadi kamu gak pernah tahu rasanya. Ada anak panah yang selalu ia tujukan padaku lewat tatapan mata dinginnya, Megi."
"Gak ada yang namanya seandainya dalam hidup ini Kak. Bukan kuasa kita, semua itu kehendak Dia. Seandainya kakak gak melawan Ardian, maka Farrel tetap akan pergi karena memang sudah waktunya."
Sean terdiam dan menundukan pandangannya. Apa yang dikatakan Megi benar.
"Itu hanya sebuah alasan yang di buat oleh manusia kan? pada akhirnya kita semua juga akan pergi, tidak ada yang salah kak. Tidak ada yang bersalah sama sekali, semua sudah tertulis dan kita gak mampu merubah takdir. Farrel pergi, karena itu sudah sampai waktunya."
"Kamu benar Sayang, tapi Sezi tak pernah berpikir seperti itu.
"Saat ini, Rezi hidup dengan sangat layak dan nyaman. Dia bahkan gak kekurangan kasih sayang. Mama dan Papa menyanyangi Rezi lebih dari apapun. Menurut aku, tak ada lagi hutang antara kakak dan Sezi."
"Seperti itu kah?" tanya Sean sedih.
"Jika kakak masih merasa bersalah, berdoalah untuk mereka berdua. Semoga sang maha kuasa memberikan tempat ternyaman buat mereka."
Sean tersenyum dan memandang Megi dengan sangat lekat.
"Aku beruntung karena saat ini ada kamu yang selalu membuka jalan pikiranku, Megi."
"Hem, jadi kalau seandainya Sezi gak benci kakak, apa dia akan menjadi Nyonya Sean Putra?" tanya Megi kembali menggoda.
"Enggak akan."
"Kenapa?"
"Karena aku gak akan pernah menyentuh sesuatu yang berharga milik Farrel, yang Farrel jaga sekuat tenaganya."
"Jadi kalau dia bukan sesuatu yang berharga buat Farrel, apa kakak akan menyentuhnya?"
"Enggak!"
"Kok enggak sih."
"Karena kalau dia bukan sesuatu yang berharga buat Farrel. Gak ada alasan buat aku nikahi dia."
Megi terdiam, tak ada lagi kata-kata yang bisa ia lontarkan. Megi tersenyum dan memandang Sean yang masih duduk santai di balik meja kerjanya.
"Kenapa diam? gak ada lagi kah kata-kata yang ingin kamu ucapkan untuk menyalahkan aku, atas luka lima tahun ini?" tanya Sean dengan senyum tipis.
"Aku gak ada nyalahin kakak."
"Tapi selama ini kamu terus menyalahkan aku, Sayang." jawab Sean lembut.
"Gak ada ya Kak."
"Tapi memang seperti itu kenyataannya Kuaci Kecilku."
"Hǎo ba, Hǎo ba." (Baiklah.) jawab Megi lembut "Wǒ cuòle" (Aku yang salah.) sambungnya lirih.
"Kenapa? apakah kamu terlalu takut mengakui kesalahan dalam bahasa Indonseia?" tanya Sean sinis.
"Bisakah kita cari seuatu untuk dimakan? aku dan anak kakak lapar." pinta Megi mengalihkan pembicaraan.
Sean menutup laptopnya dan bangkit dari kursi kerjanya, berjalan mendekati Megi.
"Zǒu ba." (Ayo). ucap Sean saat melewati Megi.
__ADS_1