
17 tahun kemudian.
"Evgen ... Evgen ...!" teriak Megi lantang di lantai dasar.
Sejenak Megi terdiam dan memberikan waktu kepada putranya itu turun dari kamarnya.
Megi menyiapkan beberapa hidangan diatas meja, seperti biasa, pagi hari mereka penuh dengan teriakan Megi yang bertengkar dengan putra keduanya itu.
"Evgen Aulia!" panggil Megi menggelegar.
"Megi, kamu datangi ke kamar sana. Jangan teriak-teriak begini." ucap Sean lembut.
"Aku pusing lihat anak itu satu, kenapa susah sekali bangun pagi?"
"Niki, banguni kakakmu sana!" perintah Sean kepada putra bungsunya.
"Iya, Pa." jawab Niki lemas.
"Niki habiskan saja sarapanmu, setelah itu berangkat terus sama kak Rezi, biar kakakmu itu Mama yang hajar." Megi mengambil segelas air dan dengan cepat membawanya menaikai anak tangga.
Sementara Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya, setiap hari Megi tak pernah tak bertengkar dengan putranya itu.
"Ah ... Mama!" teriakan lantang Evgen terdengar memenuhi rumah.
"Mama kalian itu, kalau tidak kasar dengan Evgen tidak senang." ucap Sean lembut.
Sementara Niki dan Rezi hanya tersenyum. Sudah biasa kalau Evgen dan Megi terus bertengkar siang dan malam.
Tak lama Megi turun dengan wajah yang memerah padam, kembali duduk di sebelah Rezi.
"Kamu sudah siap makan, Nak?" tanya Megi lembut.
"Sudah, Ma. Aku mau berangkat, tapi Evgen bagaimana?" tanya Rezi lembut.
"Biarkan saja dia, siapa suruh lambat sekali." Megi dengan cepat menyendoki nasi di dalam mangkuk
"Kasian kalau di tinggal kan, Ma."
Megi hanya bisa menghela nafasnya, ia selalu kalah kalau bicara dengan Rezi yang lemah lembut, gaya bicaranya jelas berbeda sekali dengan Evgen dan Niki. Memang gen itu tidak bisa di bohongi.
"Evgen Aulia ...!" teriak Megi kembali.
"Iya, iya Ma. Aku sudah mau turun." jawab Evgen yang dengan santai menuruni anak tangga, memakai kemeja putih sekolahnya.
"Cepat makan, jangan sampai adik dan kakak mu telat hanya karena menunggu kamu!" perintah Megi ketus.
Megi mengambil piring Evgen dan menaruh nasi dan beberapa lauk di piring Evgen. Dengan cepat tangan Megi menarik ikatan rambut Evgen.
"Auw." rintih Evgen saat Megi menarik ikatan rambutnya dengan kasar.
"Mama apa-apaan sih? sakit banget ini." ucap Evgen kesal.
"Kenapa belum potong rambut juga? Evgen kamu itu masih SMA, mana boleh anak SMA panjangi rambut." ucap Megi galak.
"Siera dan Siena rambutnya juga panjang." balas Evgen ketus.
"Kalau begitu baik lagi ke kamar kamu, ganti celana abu-abu kamu dengan rok, ganti cepat!" ucap Megi meradang.
"Sudahlah, Ma. Biarin Evgen makan dulu, ini sudah siang, kasian Niki kalau harus terlambat." tengah Rezi lembut.
Megi menghela nafasnya dan kembali duduk di kursinya, menyuapi makanan kedalam mulutnya.
__ADS_1
"Mama kalau kak Rezi yang sudah bicara pasti ngikuti, kalau sama aku marah saja bawaannya." ucap Evgen tak senang.
"Kalau kamu nurut juga Mama gak bakalan marah-marah, kamu yang bandel, jelas Mama marah." jawab Megi sengit.
"Aku bicara baik-baik pun Mama sengit saja. Aku curiga, aku ini tertukar ya di rumah sakit, makanya Mama sengit terus sama aku."
"Evgen, Mama kamu berjuang maut saat melahirkan kamu, jangan bicara yang enggak-enggak." balas Sean tegas.
"Kalau tahu besarnya begini, lebih bagus kecil dulu Mama tukar kamu dirumah sakit."
"Megi, sudahlah. Kenapa harus berkata seperti itu?" tengah Sean kembali.
"Evgen, Mama dulu seumuran kamu sudah kuliah di Beijing, nah kamu apa? nilai rapor rendah terus, sebenarnya kamu di sekolah ngapain saja?"
"Iya, anak Mama kan cuma kak Rezi. Kak Rezi yang sudah selesai S1 padahal umurnya baru 21 tahun. Aku ini apa?" Evgen meletakan sendok makannya dengan sedikit membanting, berjalan keluar dengan cepat.
"Evgen!" panggil Megi kembali.
"Megi, sudahlah. Jangan terus mengatakan hal-hal yang menyakiti Evgen. Kasian dia." tahan Sean lembut.
Megi mengalihkan pandangan matanya kearah Evgen yang berjalan keluar dari pintu rumahnya.
"Niki ayo salim sama Mama dan Papa. Kita berangkat." perintah Rezi lembut.
Niki bangkit dan menyalami Sean dan Megi, di ikuti Rezi yang ikut menyalami Kedua orang tuanya itu.
Berjalan kedepan mendekati Evgen yang sudah melipat kedua tangannya di dada.
"Rezi, gue ikut mobil elu ya." ucap Aya yang datang dari sebelah.
"Yasudah, yuk." balas Rezi lembut.
Aya menendang badan Evgen yang lebih tinggi darinya saat Evgen ingin membuka pintu depan mobil Rezi.
Sementara Aya hanya menurunkan kaca mobil dan menjulurkan lidahnya, mengejek Evgen yang mulai memadam karena terbakar amarah.
Di belakang, Evgen kembali menutup pintu mobil dengan keras dan berjalan keluar dari halaman rumahnya.
"Evgen." panggil Rezi lembut.
Namun Evgen terus berjalan semakin jauh.
"Niki cepat naik, kita kejar kak Evgen."
Menuruti perintah Rezi, Niki langsung naik tanpa banyak bicara. Rezi memundurkan mobilnya dan mengejar Evgen yang sudah berjalan jauh dari rumah.
"Evgen, naik. Nanti kamu bisa telat kesekolah." perintah Rezi lembut.
"Enggak, biar saja, mau telat atau enggak, siapa yang peduli?" ucap Evgen ketus.
"Dek, ayo masuk. Jangan buat Mama sedih."
"Aku gak mau naik mobil selama ada wanita itu, aku gak peduli. Aku gak suka dekat-dekat dengan wanita!" teriak Evgen keras.
"Evgen Aulia, masuk kakak bilang." perintah Rezi kembali.
"Enggak!" sanggah Evgen keras
Melihat ada mobil lain di belakang mereka, Rezi melajukan mobilnya kedepan, membiarkan mobil itu melaju lebih dulu.
"Evgen, kenapa jalan?" tanya seorang pria dari balik kaca mobil putih di belakang Rezi tadi.
__ADS_1
"Ayah." lirih Evgen lembut.
"Kamu mau kesekolah kan? Ayo naik sama Ayah, Nak." bujuk Mirza lembut.
"Iya." Evgen membuka pintu mobil Mirza dan naik kedalamnya dengan cepat.
"Kamu berantem sama Kakak kamu?" tanya Mirza lembut.
"Bukan sama Kak Rezi, tapi sama perempuan itu." ucap Evgen sengit.
Mirza melepaskan senyumnya dan melihat si kembar yang duduk di jok belakang mobilnya.
"Ayah tahu, kamu pasti lagi kesal sama Mama kan? tapi kamu lampiaskan sama kakak sepupu kamu."
"Habisnya, setiap hari Mama selalu bilang, Evgen saat Mama seumur kamu Mama sudah jadi mahasiswi di universitas Beijing." ucap Evgen mengikuti gaya bicara Megi.
"Apa maksudnya coba? padahal otak manusia kan berbeda, kenapa juga aku harus ikuti Mama?" sambung Evgen kesal.
Mirza hanya tersenyum saat mendengar celoteh Evgen.
"Tapi Mama kamu memang sudah jadi mahasiswi di umurnya 16 tahun, membangun perusahaannya sendiri di umur 23 tahun. Mama kamu hebat kan?"
"Ayah ayolah, kenapa harus ngungkit Mama lagi?" tanya Evgen sebal.
"Baiklah, baiklah. Maafkan Ayah jagoan Ayah Sayang. Sekarang kita pergi ke sekolah kalian ya." balas Mirza mengalah.
Sementara disisi lain, Rezi keluar dari mobilnya, berjalan dengan santai memasuki gedung tinggi universitasnya.
"Rezi, nanti siap kelas antar aku ke toko buku bisa? aku ada tugas keuangan." pinta Aya lembut.
"Baiklah." balas Rezi lembut.
Rezi mahasiswi termuda di jejeran mahasiswa S2 jurusan jaringan dan tekhnik komputer. Bakat Farrel dan juga kecerdasan Farrel turun ke ia seluruhnya. Sikapnya yang tenang dan juga lembut, penurut dan juga sigap.
Tak ada satupun sifat Sean yang menurun padanya, semua sifat dan sikap Rezi benar-benar mirip Farrel. Tak terlalu banyak bicara namun sangat cepat dalam bekerja.
Rezi menunggu Aya yang belum keluar dari kelasnya. Padahal langit sudah berubah warna menjadi kejinggaan, namun kelas Aya belum bubar juga.
Satu persatu tetesan air hujan jatuh menimpahi kepala Rezi. Rezi mengeluarkan ponselnya dan menelpon Aya yang masih belum keluar dari gedungnya.
Namun panggilan teleponnya sama sekali tidak di angkat oleh Aya. Setelah beberapa lama, Aya keluar dan langsung berlari menuju mobil Rezi.
"Maaf ya, Rezi. Aku harus kumpulin kuis dulu tadi."
"Gak apa-apa, cepat masuk!" ucap Rezi lembut.
Rezi melajukan mobilnya sedikit kencang menembus jalanan senja. Setelah menurunkan Aya di toko buku, dengan terburu Rezi menuju masjid terdekat.
Selain pintar dan tenang, Rezi juga di kenal dengan anak yang rajin ibadah. Statusnya sebagai anak angkat, membuat Rezi menanamkan prinsip untuk menjadi yang terbaik.
Rezi membuka payungnya, berjalan perlahan menuju parkiran mobilnya setelah selesai beribadah. Tanpa sengaja, mata Rezi melihat seorang gadis yang sedang berjongkok di emperan toko.
Menyembunyikan wajahnya dalam pelukan kedua tangannya. Melihat keadaan wanita itu yang sedikit menyedihkan, tanpa sadar langkah kaki Rezi berjalan mendekati gadis itu.
Rezi menghentikan langkahnya saat berdiri di hadapan gadis itu, namun gadis itu masih menyembunyikan wajahnya dalam-dalam.
terlihat tubuh mungil gadis itu mulai bergetar karena kedinginan. Rezi melepaskan kemeja yang ia kenakan, menyisakan kaus tipis berwarna gelap.
Rezi meletakan kemejanya diatas bahu wanita itu, seketika wanita itu mendongakan kepalanya. Melihat lelaki yang sedang menunduk, menatap dirinya dengan sangat lekat.
Sementara Rezi hanya terdiam, saat menatap mata bulat yang begitu jernih milik gadis muda ini.
__ADS_1
Kejernihan bola mata gadis itu membuat Rezi masuk dalam pesona gadis asing itu.