
Suara kerincing dari lonceng yang berada diatas pintu kaca toko Ruby berbunyi.
Ruby memalingkan wajahnya saat mendengar bunyi lonceng itu. Ia mendekati pintu dan menyapa lelaki yang baru datang.
"Selamat datang, Mas mau bunga yang mana?" Sapa Ruby ramah.
"Oh, maaf. Saya gak cari bunga," ucap Rezi sambil memandang punggung badan Neha yang sedang merangkai bunga.
"Terus?"
"Saya cari Neha," jawab Rezi lembut.
Neha memalingkan pandangannya, ia tersenyum saat melihat Rezi berada didepan pintu.
Neha berjalan mendekati Rezi, melambaikan tangannya untuk menyapa Rezi.
"Hai," ucap Rezi lembut.
Neha tersenyum lebar, menampilkan deretan giginya yang tersusun dengan rapi.
"Kamu lagi sibuk?" Tanya Rezi lembut.
Neha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Ikut aku sebentar yuk." Rezi menarik pergelangan tangan Neha keluar dari toko Ruby.
Neha hanya tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Ruby.
Rezi memasukan badan Neha kedalam mobil, melajukan dengan santai menuju rumah Neha.
Neha mengernyitkan dahinya, ia menangkupkan tangan, membolak balik telapak tangannya, diikuti gerakan dari mulutnya.
"Aku mau tunjukin sesuatu, ayo turun." Rezi membuka seat beltnya dan membuka bagasi mobil.
Ia menurunkan kotak dan meletakannya didepan Neha. Neha berjongkok dan membuka kotak itu.
Bibirnya langsung melebar saat melihat anak ayam berwarna warni yang dibawa oleh Rezi.
Neha mengambil salah satu anak ayam itu dan mengenggemnya erat.
"Eh ... Neha," tahan Rezi cepat.
"Jangan di remat, nanti dia mati." Rezi meraih tangan Neha dan mengeluarkan anak ayam itu.
Neha mengenggam jemari di samping pipi, memejamkan matanya dan tersenyum. Menampilkan ekspresi seperti gemas terhadap sesuatu.
Rezi hanya tersenyum dan mengembalikan anak ayam itu kedalam kotak.
"Aku tahu kamu gemas kan, tapi kalau dia mati bagaimana?" Tanya Rezi lembut.
Rezi mengeluarkan sebuah ponsel baru dari dalam sakunya. Ia menyerahkannya ke Neha.
__ADS_1
"Ini ponsel buat kamu, aku sudah save nomor aku didalamnya," ucap Rezi lembut.
Neha meraih ponsel itu dan mencari kontak Rezi. Tak lama sebuah pesan masuk kedalam gawai Rezi.
(Terima kasih, tapi seharusnya kamu gak melakukan ini).
Neha menyerahkan kembali ponsel itu kedepan Rezi.
Rezi tersenyum dan merangkul bahu Neha, berjalan kedalam rumah Neha sambil menenteng kotak anak ayam itu.
"Ambil saja, aku sudah merusak ponselmu. Jangan takut, ini aku beli pakai uang aku kok, bukan uang keluarga aku," ucap Rezi lembut.
Neha menghentikan langkahnya dan memandang kearah kotak yang dibawa Rezi.
(Lalu anak ayam itu untuk apa?) tulis Neha dalam ponselnya.
"Aku mau minta kamu rawat anak ayam ini, boleh? akan aku buatkan kandang di samping kolam teratai, kamu kasih makan ya," pinta Rezi lembut.
(Memang anak ayam itu punya siapa?)
"Ini diberikan adikku, gak tahu juga dia dari mana? anak itu memang ada-ada saja tingkahnya," ucap Rezi dengan tersenyum kecut dan menggelengkan kepala.
Ia tidak habis pikir, dari mana Evgen mendapatkan anak ayam warna warni sebanyak ini. Jika ia beli pun, untuk apa ia beli sebanyak ini?
Rezi tahu betul, kalau Evgen bukanlah orang yang suka bermain-main dengan hewan seperti ini.
"Oh, aku ada belikan pakan ayam, selagi aku buat kandangnya, kamu kasih makan dulu ya," ucap Rezi kembali.
Neha membawa kotak itu keatas jembatan, menunggu Rezi membawa pakan untuk anak ayam itu. Ia duduk menikmati semilir angin di kolam teratai.
Rezi menumpukan karung pakan ayamnya disebelah kebun Neha. Tidak tahu bagaimana cara merawat ayam, Rezi membelikan beberapa jenis pakan ayam untuk piarannya.
Evgen benar-benar merepotkan saja.
Rezi menghela nafasnya, ia mengelap dahinya yang sedikit berkeringat dan menelpon seseorang diseberang sana.
Meminta bantuan untuk membuatkan kandang si ayam warna warni itu.
Tidak lama berselang, orang yang dipanggil Rezi datang dengan beberapa perlatan dan juga beberapa batang bambu.
Tak banyak membuang waktu, Rezi dan beberapa tukang, membangun kandang kecil untuk ayam-ayam itu.
Diatas jembatan, Neha hanya memandangi Rezi yang sudah bercucuran keringat. Ia tersenyum dan mengeluarkan bukunya, tangan lentiknya mulai bermain diatas kertas.
Sampai terik matahari membakar tubuh mereka. Rezi menghela nafasnya dan terduduk lemas, memperhatikan kandang ayam bambu yang baru selesai setengah.
Rezi berjalan kearah Neha, panas-panas begini, ia malah memilih duduk diatas jembatan.
"Neha, mataharinya terik sekali. Sebaiknya kamu masuk dan istirahat. Disini panas sekali," ucap Rezi lembut.
Neha mengetik layar ponselnya dengan cepat, tidak lama pesan kembali masuk kedalam gawai Rezi.
__ADS_1
(Sudah tengah hari siang, aku masakin makan siang buat kalian ya).
"Gak usah, nanti repoti kamu. Aku beli saja di warung depan," ucap Rezi menolak.
Neha menggelengkan kepalanya dan bangkit dari duduknya. Ia membereskan bukunya dan berjalan masuk kerumahnya.
Kembali sebuah pesan masuk kedalam gawai Rezi.
(Aku akan masak, jangan beli makanan atau gak, aku akan marah). Ancam Neha lewat pesan gawainya.
Rezi tersenyum dan menyusuli langkah Neha. Ia memasuki dapur Neha.
Rezi menggulung lengan baju kemejanya dan mendekati Neha.
"Aku bantu ya, biar cepat selesai."
Neha hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Rezi membalas senyuman Neha dan mulai mengupasi beberapa sayur yang ada diatas pantry.
Walaupun tidak terlalu mahir memasak, namun Neha terbiasa melakukan pekerjaan ini. Karena hanya hidup berdua dengan Ayahnya, keahlian Neha juga bisa dibilang tidak terlalu buruk.
Neha membilas tangannya saat ia selesai menyiangi ikan. Neha menghidupkan kompornya, memasukan ikan itu kedalam minyak panas.
Lalu ia berjalan kesisi lain untuk mengambil sesuatu. Niat ingin membantu Neha, Rezi malah membalik ikan yang ada didalam penggorengan.
Tanpa sengaja tangan Rezi terciprat oleh minyak panas.
"Auw," lirih Rezi pelan.
Neha memalingkan matanya dan mendekati Rezi. Saat melihat tangan Rezi terciprat oleh minyak, Neha langsung membilasnya dengan air.
Mengelus dengan lembut, kulit mulus tangan Rezi. Setelah beberapa lama, Neha melirik kearah Rezi dengan tajam.
Ia mematikan api kompornya dan menarik tangan Rezi untuk keluar dari dapur. Neha mendudukan Rezi di sofa ruang tengah, ia mengoleskan salap ke kulit tangan Rezi.
Rezi tersenyum lembut, perlakuan hangat Neha yang seperti inilah yang membuat ia semakin jatuh hati pada Neha.
Rezi menarik tangannya yang sedang di olesi salap, semakin Rezi menarik tangannya, Neha semakin mendekat ke Rezi. Saat wajah Neha semakin dekat, Rezi mencium dahi Neha dan memeluk badan Neha erat.
"Aku sangat mencintaimu, Neha," ucap Rezi lembut.
Neha tersenyum lembut dan meleraikan pelukan Rezi. Ia memukul dada Rezi dengan sedikit keras. Neha mengambil bukunya dan menuliskan sebuah kalimat, sebelum ia kembali ke dapur.
(Disini saja, aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Jika kamu menggodaku lagi, aku bisa memberikan jawaban lebih cepat). Ancam Neha lewat tulisan tangannya yang indah.
Rezi hanya tersenyum, ia membalik lembaran buku Neha. Bibirnya melebar saat melihat lukisan anak-anak ayam itu dalam buku Neha.
Rezi membalikan lembarannya kembali, senyumnya memudar saat melihat lukisan yang baru Neha buat setengah.
Rezi menyentuh permukaan lukisan itu. Ia menghela nafasnya dan kembali tersenyum. Melihat lukisan dirinya yang sedang memotong batang bambu.
Rezi memalingkan pandangannya, melihat kearah Neha yang sedang asyik berkutat didapur.
__ADS_1
"Neha, aku berjanji, tidak akan pernah mengecewakanmu."