
"Kak, untuk terakhir kalinya aku bertanya." Megi menahan sengal nafasnya.
"Tak bisakah kita tetap bersama?"
Sean meleraikan pelukannya, ia mencium bibir Megi lembut. Lalu tak lama melepaskannya begitu saja.
"Apakah itu cukup? untuk membuat lu bertahan tanpa gue?"
Megi kembali memeluk badan Sean, bagaimanapun ia tak sanggup kehilangan dada lelaki ini. Dada yang selama ini melindungi ia sekuat tenaga.
Walaupun berat, Megi masih harus tetap menerima keputusan Sean. Ia tahu, Sean tak pernah bertindak sembarangan, mungkin inilah yang terbaik buat mereka berdua. Apapun keputusan yang diambil Sean. Semoga ini yang bisa membuat mereka bahagia.
Mereka bertiga mulai bersiap-siap untuk ke bandara. Sebelum memasuki bandara, Sean memberhentikan mobilnya untuk sarapan. Hanya hening suasana di meja makan mereka. Tak ada kata yang keluar, air mata Megi terus mengalir deras.
"Sampai kapan mau nangis, Meg?" tanya Sean saat melihat air mata Megi terus membasahi pipi.
"Sampai sesak ini sedikit berkurang, kak."
"Jangan di pikiri, perlahan semua akan berkurang."
"Sean." panggil Mika lembut.
Sean hanya memandang wajah Mika yang ada dihadapannya.
"Jaga diri elu."
"Lu juga, Sob, kita lanjut?" tanya Sean terus terang.
Sebenaranya Mika ingin mengatakan hal yang lain, namun memandang mata Sean kini ia tahu jawabannya. Sean tak benar-benar ingin melepaskan, namun Sean berkorban demi masa depan Megi.
Sean menyerahkan amplop sejumlah uang kepada Mika saat memasuki bandara. Mika menaiki sebelah alis matanya, ia membuka amplop itu, sejumlah uang dengan nilai besar yang sudah ditukar dengan mata uang Yuan.
"Apa ini?" tanya Mika sambil menempelkan amplop itu di dada Sean.
"Bukan buat elu, tapi buat pendidikan istri gue."
"Ini gak perlu Sean, gue bisa hidupi Megi."
"Gue percaya, tapi biarkan gue melakukan sedikit kewajiban gue."
"Baiklah." Mika menghela nafasnya, ia berjalan masuk dan memberikan ruang untuk Megi dan Sean berbicara.
Sean mengalihkan pandangannya ke arah Megi yang saat ini sedang berdiri sejajar dengannya. Megi hanya menundukan pandangannya, air mata terus mengalir deras dari mata indahnya.
__ADS_1
Sean meraih kedua pucuk bahu Megi, mendongakan kepala Megi. Dengan lembut ibu jarinya menghapus buliran air mata yang terus menghiasi pipi Megi.
"Jaga diri baik-baik ya." ucap Sean sambil memeluk badan Megi.
"Makasih kak. Untuk kesempatan yang kakak berikan buat aku." Megi membenamkan wajahnya kedada Sean. Menikmati sejenak hangat dada bidang milik lelaki ini.
"Makasih untuk segalanya, Megi. Untuk sinar yang elu berikan buat gue."
Sean mengeratkan pelukannya, tak ia pedulikan saat ini berada di tengah keramaian. Nafasnya terlalu berat, ia berusaha untuk tetap kuat diatas kakinya.
Sean menghela nafasnya dengan berat, menarik badan Megi yang memeluknya erat. Sean menempelkan dahinya di dahi Megi. Menyentuh ujung hidung Megi dengan ujung hidungnya.
Satu kecupan mendarat di dahi gadis kecil tersebut, sementara Megi hanya memejamkan mata, dengan buliran yang kembali menetes dari sepasang binarnya.
"Bismillah ..." Sean menghela napas cukup berat.
"Megisia Moran ... aku ... menceraikanmu," ucap Sean lirih.
Megi menelan saliva berat mengganjal di kerongkongan, kedua kelopak matanya masih mengatup. Namun, perkataan itu mampu membuat air mata sang gadis luruh, bahkan dalam mata yang masih terpejam.
Gadis itu membuka katupan matanya, luruh lagi sebuah lara dari bening indahnya, dia pandangi wajah Sean lamat. Detik kemudian gadis berbadan mungil itu tertawa pahit, lalu kembali menangis pilu.
Melihat itu, membuat Sean ikut terluka, sebuah bening mengalir tanpa suara melintasi pipinya. Sesak, seperti ada ribuan ton yang tengah mengimpit dadanya.
Sean mengulas senyum, dia buang pandangan sejenak. Lantas, kembali menatap sang mantan istri. Satu jari kekar tersebut menyentuh sudut bibir Megi, tempat dimana lesung gadis itu tercipta berada.
Megi hanya mengangguk pelan, ia kembali memeluk badan besar Sean. Sungguh ini terlalu berat, bahkan ini lebih berat dari beban yang pernah dia jalani dulu. Apakah harus pilihan pahit ini yang mereka ambil?
Sean kembali memeluk Megi erat, ia mencium pucuk kepala Megi. Tak tahu mengapa, namun kali ini dia benar-benar merasakan luka.
"Megi, ayo jalan." suara Mika menyadarkan mereka berdua. Melepaskan pelukan Sean dan juga Megi.
Mika memeluk badan Sean untuk terakhir kalinya.
"Makasih banyak, Sob. Makasih udah jagain Megi selama ini."
"Gue yang harusnya makasih Mik. Elu udah ngasih kesempatan buat gue mengenal Megi."
Sean menatap Megi yang saat ini sedang menundukan wajahnya, air matanya masih menetes deras.
"Kalau gue gak kenal Megi, mungkin hidup gue gak akan seindah ini."
Mika hanya mengangguk, ia tahu saat ini hati mereka berdua sedang tersakiti. Mika berjalan perlahan, menyeret koper Megi untuk memasuki tempat pemeriksaan.
__ADS_1
Sean melingkari tangannya di bahu Megi. Memeluk dari belakang, meletakan dagunya di pucuk kepala Megi.
"Berjanjilah sama gue, lu harus raih impian elu." ucap Sean pahit.
Megi hanya mengangguk pasrah, ia tak sanggup lagi menjawab ucapan Sean. Sesaat mereka saling berdiam, membiarkan diri mereka larut dalam kesedihan mereka.
Megi membalikan badannya dan melingkari bahu Sean. Meraih pipi Sean dan menundukan kepala Sean. Mendarat ciuman di dahi Sean. Dengan menahan sengalan nafasnya, Megi mengecup lembut dahi Sean.
Kini nafas Megi mulai menyesak, ia kembali tergugu walau hanya untuk menghirup oksigen.
"Berjanji ... Sama aku, kak." Megi mengambil kembali oksigen yang saat ini sangat sulit untuk dia hirup.
"Hiduplah lebih baik dari pertama kali kita bertemu."
Megi kembali menarik wajah Sean, mengecup dahi Sean dengan memejamkan matanya. Buliran itu kembali mengalir saat kelopak matanya tertutup.
Dengan cepat Megi meleraikan pelukannya dan berlari, namun tangan Sean lebih cepat menrik lengan tangannya, Sean melingkari kembali bahu Megi dari belakang. Sean mendekati bibirnya ketelinga kanan Megi.
"Aku sungguh mencintaimu, Sayang." ucap Sean lirih.
Megi dengan cepat melepaskan tengan Sean, berlari menjauh dari Sean. Saat ini hatinya begitu hancur, perpisahan ini sungguh meningalkan perih yang teramat dalam.
Mika berjalan mendekati Sean, Sean memeluk badan Mika dan membenamkan wajahnya di bahu Mika. Tak lama Sean berlari keluar dari bandara, menuju ke mobilnya dan memecahkan tangisnya yang sudah ia tahan beberapa hari.
Saat ini dia hanya perlu ruang kosong untuk menerima keadaan ini. Berat memang, namun akan lebih mudah saat dijalani. Sean terhanyut dalam tangisannya, ia menangisi segala sesak yang bersarang dihatinya. Setelah sedikit rasa itu berkurang, Sean keluar dari mobilnya.
Memandang langit diatasnya, saat pesawat melintas di hadapannya ia hanya tersenyum getir.
"Gue ikhlas atas kepergian elu, Meg. Bahagia disana." Sean memandangi pesawat yang mulai jauh dari pandangannya, ia kembali tersenyum getir.
Kembali pada kenyataannya, walau saat ini dia hancur, tapi luka ini juga yang pernah menyembuhkannya. Saat ini hari-harinya akan kembali kaku namun itu tak akan membuat ia kembali keras.
*****
Sean memasuki kembali apartemennya, ia membongkar tas ransel besarnya, mencari dokumen yang hilang. Farrel sudah marah-marah, namun ia tak bisa menemukan dokumen itu.
Ini sudah setahun semenjak kepergian Megi, dan hidupnya tidak baik-baik saja, semua masih sama. Hampa, itu yang saat ini sedang ia rasakan.
Sean kembali membongkar seisi lemarinya, mungkin ia salah menyimpan.
"Huhh, dimana dokumennya?" Sean memegang sudut dahinya, ia pusing mencarinya.
Sean membuka laci lemarinya, membongkar kembali, lalu ia berpindah pada buffet di samping kasurnya. Tanpa sengaja Sean menyenggol sebuah kotak, saat kotak itu terjatuh tutupnya terbuka, mengeluarkan sebagian isinya.
__ADS_1
Mata Sean tertuju pada blingan cahaya dari sebuah gelang. Sean tersenyum getir dan mengambil rantai gelang itu.
"Kenapa elu bisa tertinggal? padahal temen elu udah gue balikin ke Tuannya." ucap Sean sambil memandang bintang-bintang kecil itu.