Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
67


__ADS_3

Neha menghentikan gerakannya dan melirik kearah Rezi. Neha melepaskan pelukan Rezi dan membalikan badannya.


Neha menggerakan jemari tangannya diikuti gerakan dari mulutnya.


Kali ini, Rezi benar-benar tidak mengerti sedikitpun, apa yang ingin diucapkan oleh Neha.


Neha menghela nafasnya, ia menarik tangan Rezi untuk duduk disofa. Neha menulis dengan cepat diatas bukunya.


(Jangan gila kamu Rezi. Mau menikahi gadis sepertiku?)


"Jadi, maksud kamu, kamu hanya mau pacaran dengan aku. Tetapi kamu gak mau menikah denganku?" tanya Rezi sengit.


Neha menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya.


(Bukan tidak mau menikahimu, tapi ini terlalu terburu-buru. Rezi, kamu bahkan gak kenal bagaimana karakter aku).


"Aku bisa mengenalmu setelah kita menikah nanti."


Neha menggelengkan kepalanya dan menulis dengan cepat.


(Sadarlah Rezi, hubungan kita baru berada diawal. Keluargamu seperti apa, aku belum tentu bisa berbaur dengan lingkup hidup kamu. Rezi, aku butuh waktu untuk semua ini. Coba, rasakan sedikit saja, bagaimana perasaanmu jika berada diposisi aku).


"Tentu aku senang, aku langsung bilang iya saat pacarku mengajak menikah!" sanggah Rezi sedikit kesal.


Neha memandang Rezi dengan mata bulatnya. Bagaimana lagi ia harus menjelaskan, Rezi hanya akan semakin memadam jika persoalan ini diteruskan.


"Neha." Rezi meraih kedua bahu Neha dan menekannya sedikit kuat.


"Apa kamu gak percaya sama cinta aku? kamu gak percaya jika aku beneran serius terhadapmu? apa kamu kira aku hanya sekedar main-main padamu?"


Neha menggelengkan kepalanya, ia mencoba menjelaskan dengan gerakan bibirnya.


"Aku gak mau, aku gak mau mengerti, Neha. Saat aku ingin menjadi pacarmu, kamu menolakku. Saat aku ingin menikahimu, kamu juga menolakku, sebenarnya apa aku ini buatmu? hanya mainan? atau alat untuk menghiburmu dikala sepi?" tanya Rezi meradang.


Neha mencoba meraih kedua pipi Rezi, perbedaan diantara mereka membuat Neha kesulitan untuk berinteraksi.


"Apa? mau jelasin apa? mau jelasin soal perbedaan kita? kamu yang hanya bisa diam dan aku yang sempurna? terus saja, terus bilang hal-hal yang membuat aku muak padamu."


Neha menggelengkan kepalanya dan menekan pipi Rezi. Membuat bibir Rezi mengerucut kedepan, berusaha untuk membuat Rezi diam.


Rezi menghempaskan tangan Neha dan membuang pandangannya, ia masih geram dan juga kesal terhadap jawab Neha.


"Ini lagi, alasan klise lagi. Benar-benar, Neha. Apa kamu gak bisa membiarkannya berjalan seperti seharusnya? apa kamu gak bisa tetap berada disampingku dan mendukung aku? kenapa? kenapa harus selalu mematahkan semangatku?" tanya Rezi tanpa jeda.


"Di patahin lagi, sudah mau tumbuh, dipijak lagi. Terus saja begini, terus dan terus saja begini!" rutuk Rezi kesal.


Neha kembali meraih kedua pipi Rezi, kali ini Rezi benar-benar menumpahkan segala beban hatinya.


Neha memandang wajah Rezi, mencoba menenangkan Rezi lewat tatapan matanya.


"Enggak, kamu hanya membujukku lewat mata beningmu itu. Kali ini gak mau, gak bisa!" Rezi menundukan pandangannya, mencoba untuk tidak menatap mata Neha yang akan membuat ia luluh kembali.

__ADS_1


"Kamu itu pintar, pintar sekali menarik terus memutuskannya. Bukan lagi mengulur, tapi memutus...,"


Neha memotong kalimat Rezi dengan mencium bibir Rezi. Mencoba membungkam mulut Rezi yang terus berceloteh kesal.


Mata Rezi membulat seketika, ia masih mencerna perbuatan Neha. Setelah beberapa lama, Neha meleraikannya. Kembali menatap wajah Rezi dengan sedikit malu.


"Neha," panggil Rezi lembut.


Neha menundukan pandangannya, ia masih malu oleh perbuatannya sendiri.


Rezi meraih dagu Neha, menaikan wajah Neha yang tertunduk malu.


"Neha, kamu, kamu beneran kamu?" tanya Rezi bingung.


Rezi menggelengkan kepalanya.


"Bukan, maksudnya, kenapa kamu cium aku?"


Mendengar pertanyaan Rezi, Neha kembali menundukan pandangannya. Ia benar-benar malu oleh perbuatannya.


Rezi menggeser posisi duduknya agar lebih dekat ke Neha. Rezi memandangi wajah Neha yang bersemu merah.


"Neha," panggil Rezi lembut.


"Mungkin ini memang terlalu cepat, maaf ya kalau aku memaksa," ucap Rezi lembut.


Rezi menghela nafasnya dan menarik kepala Neha untuk dijatuhkan kedadanya.


"Aku hanya terlalu takut, aku takut tidak bisa menahan diri. Aku takut untuk menyakitimu, aku takut jika kamu berpikir aku lelaki yang sama sekali tidak menghormatimu. Banyak sekali ketakutan yang aku rasakan, aku takut kamu berpikir yang aneh-aneh tentangku," jelas Rezi lembut.


Neha tersenyum dan menusuk pipi Rezi dengan ujung jarinya. Rezi melirik kearah Neha, Neha melepaskan senyumnya dengan lebar.


Rezi mengelus pucuk kepala Neha dengan lembut, tangannya menarik pinggang Neha agar bisa lebih menempel kepadanya.


"Neha," panggil Rezi lembut.


Rezi menarik dagu Neha dan memainkannya, sedikit geram.


"Aku cium kamu, ya. Boleh kan?" tanya Rezi lembut.


Neha tersenyum dan menundukan pandangannya. Kembali pertanyaan Rezi membuat wajahnya bersemu merah.


Rezi menarik dagu Neha perlahan, mendekatkan wajah Neha agar bisa ia pandang dari jarak dekat.


"Neha, maaf. Tapi aku hanya terlalu mencintaimu," ucap Rezi, mencium bibir Neha lembut.


***


Shenina membalikan badannya, ia menatap wajah Evgen dengan sedikit bingung.


"Apa? lu bilang apa?" tanya Shenina kembali.

__ADS_1


"Kalau elu gak dengar yasudah. Dasar budek!" ucap Evgen ketus.


"Hei, kamu bilang apa?" Shenina menyenggol lengan tangan Evgen lembut.


Menggoda lelaki sombong disebelahnya yang mulai memerah. Antara tersipu dan juga malu.


"Apaan sih? ayo masuk!" ajak Evgen kesal.


"Hei ... kenapa elu kabur?" tanya Shenina menggoda.


"Siapa yang kabur?" 


"Elu."


"Gue gak kabur, gue cuma mau lihat penampilan teman-teman gue," ucap Evgen, meninggalkan Shenina sendiri dibelakang.


"Kalau elu kabur, apa elu gak mau dengar jawaban gue?" tanya Shenina menggoda.


Seketika Evgen menghentikan langkahnya, ia membalikan badannya dan melihat kearah Shenina.


"Lu mau kasih jawaban buat gue?"


"Kenapa enggak?" Shenina berjalan mendekati Evgen dan mengacak rambut rapi Evgen.


"Maaf ya Evgen, tapi gue gak ada rasa sama elu. Gue cuma anggap elu teman," jawab Shenina serius.


"Oh," balas Evgen lemas.


Evgen menundukan pandangannya, ternyata Shenina masih menyimpan kak Rezi dalam hatinya.


Shenina tersenyum lembut dan berjalan meninggalkan Evgen sendiri. Shenina tahu, perasaan Evgen pasti terluka karena hal ini.


Shenina hanya ingin memberikan waktu untuk Evgen menenangkan hatinya.


"Tapi elu bisa coba dulu kan sama gue," ucap Evgen, menahan Shenina.


"Maksud elu?" tanya Shenina bingung.


"Gue gak pernah menerima sesuatu dengan mudah. Gue juga tahu hati elu bukan buat gue, tapi elu bisakan beri gue waktu untuk mencoba membuka pintu hati elu?"


"Hubungan itu bukan untuk coba-coba, Evgen," jawab Shenina lembut.


"Tapi kalau gak dicoba gak akan tahu kan? untuk itu ayo coba pacaran denganku."


Shenina melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja ucapan Evgen ini, dia mengajak orang lain pacaran, seakan mengajak teman bermain saja.


"Gue serius, Shenina," tekan Evgen kesal.


"Kasih gue alasan, kenapa gue harus mencoba pacaran sama elu?" tanya Shenina kembali.


"Alasan itu akan elu dapatkan setelah elu pacaran sama gue," jawab Evgen lembut.

__ADS_1


"Alasan macam apa itu?" tanya Shenina kembali.


"Karena cinta hadir gak butuh alasan, Shenina. Tapi cinta butuh jawaban, elu akan dapeti jawaban setelah elu jalani sama gue. Karena gue, akan memberikan alasan terindah buat elu, kenapa elu harus jatuh cinta sama gue,"


__ADS_2