
Sean tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Menatap wajah putranya itu dengan lekat.
"Pikirkan lagi Evgen, kampusnya akan di buka akhir musim dingin. Mungkin kamu akan dua atau tiga bulan menganggur di sana," ucap Sean lembut.
"Aku akan menghabiskan waktu dengan belajar, Pa. Aku pasti akan masuk ke kampus pilihan Papa dan tidak akan mengecewakan Papa. Papa bisa pegang ucapan aku," pinta Evgen lembut.
"Apa ada yang mengecewakanmu?" tanya Sean langsung.
"Tidak ada, hanya saja ... aku ingin benar-benar belajar dewasa."
Sean menghela napasnya dan melirik ke arah Megi.
"Megi, bagaimana menurutmu?" tanya Sean saat melihat ekspresi Megi yang berubah sendu.
"Kenapa buru-buru sih? Kamu belum lihat kelulusannya kan, lagian masih banyak waktu. Kenapa tidak nanti saja? Papa bisa mengatur segalanya untukmu," bujuk Megi lembut.
Evgen menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut.
"Ma, aku sudah hampir delapan belas tahun. Jika Mama saja bisa kuliah di Beijing, kenapa aku enggak?"
"Tapi dulu Mama ada kak Mika. Dan Beijing adalah kota di mana Mama dibesarkan, Evgen. Jadi Mama paham bagaimana kehidupan di sana."
"Aku ini laki-laki, Mama. Aku akan jaga diri, Mama jangan khawatir. Mama bisa pergi jenguk aku saat adik dalam perut Mama sudah lahir nanti."
"Tapi, Evgen--"
"Evgen benar Megi," putus Sean langsung.
"Jika bukan saat ini? Kapan dia akan belajar mandiri?"
Megi meletakan cake yang ada di tangannya dan memeluk badan putranya itu. Walaupun ia dan Evgen lebih sering bertengkar, namun ia juga tidak rela jika harus berpisah.
Bagaimana juga, Evgen adalah Putra yang ia lahirkan dari rahimnya. Tidak mungkin jika ia tidak khawatir dengan keadaan putranya di sana.
"Sudahlah, Ma. Aku kesana kan untuk kuliah, aku bukan mau buat ulah ataupun nambah masalah. Jangan terlalu khawatir, aku akan baik-baik saja."
Megi meleraikan pelukannya dan menjewer telinga putranya itu.
"Ingat Mama ya, Nak. Jangan buat Mama cemas sama kamu di sana. Jaga kesehatan dan jangan banyak bergaul sama orang luar. Harus jaga batasan, ingat kita ini muslim. Jangan ikuti pergaulan mereka di sana," titah Megi tanpa jeda.
Evgen tersenyum dan mengecup dahi Megi dengan lembut.
"Aku janji, Ma. Aku akan menjaga diri," ucap Evgen menenangkan.
***
Evgen menaiki kursi bar yang ada di restoran mewah hotel milik papanya itu. Bersama beberapa teman dan sepupu dekatnya itu.
"Wei, Bro. Yakin ini bakalan ninggalin kita-kita? Lu pergi jauh banget, Man," ucap Bayu, teman sepermainan Evgen.
"Gue sudah memutuskan ingin ke sana. Lagian rumah gue di sini. Gue akan sering-sering pulang ke sini. Kenapa heboh sekali?" tanya Evgen malas.
"Lalu ... Shenina bagaimana?" tanya Putra lembut.
Evgen menghela napasnya, ia memalingkan pandangannya saat melihat bayangan Shenina berjalan di belakangnya dari pantulan kaca display minuman.
Memperhatikan gerakan gadis itu yang sedang tersenyum ramah kepada beberapa pelanggan.
Evgen ikut tersenyum saat melihat bibir mungil gadis itu melengkung. Mungkin, ia akan sangat merindukan gadis itu nantinya.
"Hei." Tepuk Putra di pundak Evgen.
"Gue ajak ngomong, kenapa melamun?" sambungnya kembali.
Evgen menggelengkan kepalanya, kembali meminum jus yang ada di hadapannya.
"Tuan Evgen, anda di panggil Tuan Besar di ruangannya," ucap Bima, salah satu asisten pribadi Sean saat ini.
Evgen menganggukan kepala, bangkit dari kursinya.
"Gue duluan ya, Bro," pamit Evgen ke teman-temannya.
__ADS_1
Dengan memasukan kedua tangannya di saku jaket, Evgen berjalan menyusuri koridor hotel milik Papanya itu.
Tanpa sengaja di tengah jalan Evgen berselisihan dengan Shenina.
"Hei, Evgen. Elu di sini?" tanya Shenina lembut.
Evgen tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya. Memandangi gadis kecil itu lekat.
"Lu mau kemana?" tanya Shenina kembali.
"Gue mau ke ruangan, Papa. Gue ... duluan ya," pamit Evgen.
Shenina melepaskan senyumnya, menganggukan kepala. Matanya terus memandangi punggung badan Evgen yang berjalan meninggalkan dirinya.
Evgen membuka pintu ruangan Sean, mendekati Papanya yang sedang duduk di balik meja kerjanya.
"Pa," panggil Evgen lembut.
"Hei, kamu sudah datang." Sean menutup laptopnya dan melihat putra nakalnya itu.
"Papa sudah siapkan apartemen kamu di sana, memang agak jauh dari kampus kamu nantinya. Tapi Papa pilih daerah tempat tinggal itu, karena daerahnya lebih ketat keamanannya," jelas Sean lembut.
"Sebenarnya Papa gak perlu siapin apapun, aku bisa tinggal di asrama kampus nantinya."
"Kamu kesana dua bulan lebih cepat Evgen. Apa kamu pikir bisa masuk asrama langsung?" tanya Sean ketus.
Evgen menghela napasnya dengan berat, menarik kursi yang berseberangan meja dengan Sean.
"Pa."
"Iya."
"Soal pendidikan Shenina, bagaimana?" tanya Evgen lembut.
"Shenina, Papa sudah lihat nilai dia dan adik dia. Cukup bagus, Papa akan bantu dia untuk kuliah di sana," jelas Sean lembut.
Evgen melepaskan senyumnya, puas oleh hasil yang diucapkan oleh Papanya itu.
"Baik, Pa." jawab Evgen senang.
"Papa akan minta paman Yohan untuk ikut bersamamu, nanti paman Yohan yang akan mengatur segala keperluanmu sebelum kuliah. Dan ... Papa sudah pesan tiket untuk penerbangan hari Sabtu nanti."
"Emh, aku mengerti."
"Baiklah, Boy. Nikmati hari-harimu bersama temanmu saat ini."
Evgen tersenyum dan keluar dari ruangan Sean dengan tersenyun lebar. Mencari keberadaan gadis itu.
"Shen," panggil Evgen lembut.
Shenina membalikan badannya dan tersenyum lembut. Tangannya masih sibuk mengelap meja bekas pelanggan yang baru saja keluar.
"Gue mau bicara, kita ke rooftop sebentar yuk," ajak Evgen lembut.
Shenina menganggukan kepalanya, mengikuti keinginan si lelaki angkuh itu menuju lantai atas.
Evgen menumpuhkan kedua sikunya di atas pagar kaca rooftop hotel mewah itu. Menyusun kata-katanya untuk memulai pembicaraan.
"Shen."
"Hem."
"Kalau ada beasiswa untuk elu dan Seta, elu mau gak?"
"Ya jelas maulah, sekolah gratis, siapa yang gak mau?" ucap Shenina lembut.
"Terus kampus yang ditawari oleh teman elu itu bagaimana?" tanya Evgen basa-basi.
Shenina menghela napasnya dan ikut menumpuhkan tangannya di pagar.
"Gue belum lihat sih, gue masih mikirin lagi. Soalnya sama saja, kalau Seta ikut beasiswa, lalu makan kami bagaimana?"
__ADS_1
Evgen menganggukan kepalanya, pandangannya teralih pada gadis yang sedang berdiri di sampingnya.
"Shen."
"Hem," jawab Shenina tanpa berpaling ke arah Evgen.
"Gue ... gue akan kuliah di London," ucap Evgen lirih.
Shenina langsung memalingkan wajahnya saat mendengar pernyataan Evgen. Ada rasa yang menusuk relung hatinya, hatinya terasa perih saat mendengar ucapan Evgen.
Shenina tersenyum getir dan menganggukan kepalanya.
"Selamat ya," ucap Shenina lembut.
Shenina membuang pandangannya ke sisi kosong. Menghela napas berat yang mulai menyengal dadanya. Ia tahu kalau selama ini hubungan dia dan Evgen lebih sering bertengkar.
Namun entah kenapa, saat mendengar Evgen akan pergi sama sekali tidak membuat hatinya merasa senang. Malah hatinya terasa sangat sakit dan tidak rela, jika lelaki itu harus berada jauh darinya.
"Shen."
Shenina menghapus sudut matanya dan melihat ke arah Evgen. Tersenyum kaku, berusaha untuk kuat di hadapan lelaki itu.
"Lu cuma ngucapin selamat? Lu gak mau ucapin yang lain?" tanya Evgen sendu.
"Hem?" Shenina memutar bola matanya, berpikir sejenak. Tak ada lagi yang ingin ia ucapkan selain kata ....
'Jangan pergi, Evgen," lirih Shenina dalam hati.
Namun ia masih terlalu angkuh untuk mengucapkan kalimat itu.
"Berapa lama elu akan berada di sana?" tanya Shenina basa-basi.
"Empat atau lima tahun," jawab Evgen cepat.
Shenina menganggukan kepalanya, memandang jauh ke bawah.
'Jangan pergi, bisakah elu tetap di sini?' pinta Shenina dalam hati.
Shenina kembali tersenyum kaku, melirik ke wajah Evgen kembali.
"Emh, setelah lulus. Apa elu akan kembali ke sini?" tanya Shenina kembali.
"Belum tahu."
"Nanti elu pulang bawa cewek London gak?" tanya Shenina bercanda.
Evgen terus memandangi wajah Shenina yang terlihat memaksakan senyumnya. Gadis itu masih berpura-pura baik-baik saja di depan Evgen.
"Huhhhh." Shenina melepaskan napasnya, ia kembali tersenyum kaku di hadapan Evgen.
"Lu baik-baik ya di sana." Shenina menumbuk dada bidang Evgen, lembut.
Evgen menarik bahu Shenina dan memeluk badan mungil gadis itu. Mendekapnya dengan erat.
"Katakan jika elu gak mau gue pergi. Katakan jika elu mau gue tetap di sini," ucap Evgen lembut.
'Jangan pergi,' lirih Shenina dalam hati.
"Tahan aku di sini, tahan aku bersamamu, Shenina."
'Tetaplah di sini. Tetaplah bersama gue, Evgen.'
Shenina meleraikan pelukan Evgen, menepuk lembut lengan tangan kekar lelaki itu.
"Kenapa elu bicara begitu? Elu kan ke sana buat meraih mimpi. Jadi harus pergi, ya," ucap Shenina lembut.
Evgen melepaskan senyum getirnya dan menggelengkan kepala. Bahkan sampai akhir, ia tidak pernah ada di dalam hati Shenina.
"Baiklah, kalau begitu," ucap Evgen lemah.
"Kalau elu mau gue pergi, ayo kita pergi bersama, Shenina. Ikut gue, kita kuliah sama-sama di London. Kota impian elu."
__ADS_1
"Apa?"