
Evgen menggendong Shenina di pundak belakangnya. Menyusuri jalanan licin yang sudah tertutup salju seluruhnya.
Kembali menuju penginapan sederhana yang ditempati Shenina sementara.
"Elu hanya bawa sepatu sepasang dari Indonesia?" tanya Evgen lembut.
"Iya."
"Kenapa ceroboh sekali sih?" tanyanya mulai ketus.
"Gue pikir, gue hanya tinggal berapa hari saja. Jadi gue gak bawa banyak sepatu karena gak ngira bakalan rusak secepat ini," jawab Shenina lembut.
"Pantas saja kaki elu mati rasa. Jalan kaki di tengah hujan salju begini dan memakai sepatu robek. Elu pikir elu itu hebat ya, Shenina? Kaki elu itu baja ringan yang tahan dingin?" tanya Evgen ketus.
"Maaf."
"Besok sebelum ke bandara, gue akan belikan sepatu baru. Jangan dipakai lagi sepatu yang ini, buang saja."
"Tapi ini masih bisa dijahit, sayang kalau dibuang. Nanti aku akan benerin setelah sampai di Indonesia," jawab Shenina polos.
"Shenina, gue mohon. Jangan seperti ini. Kenapa suka sekali mengumpulkan barang rusak sih?"
"Hem, baiklah," jawab Shenina mengalah.
Shenina tersenyum lembut, melihat tengkuk leher Evgen dan juga merasakan aroma gel rambut Evgen yang menembus penciumannya.
Ia rindu sekali dengan lelaki ini, seperti sudah sangat lama ia tidak bertemu dengan Evgen. Harum bau parfumenya dan juga hangat dekapannya. Semua yang ada dalam diri Evgen, terus membuat ia semakin rindu, walau saat ini lelaki itu sudah berada di sisinya kembali.
Saat ini walau harus tertimbun salju sekalipun ia tak peduli. Asalkan bisa begini seterusnya, maka itu lebih baik.
Evgen mendudukan Shenina di atas sofa penginapannya. Membuka sepatu Shenina dan melihat seberapa parah luka di kaki Shenina.
Evgen menyiapkan air hangat, merendam kedua kaki gadis itu di dalam air.
"Sudah terasa? Atau masih mati rasa?" tanya Evgen cemas.
Shenina menggelengkan kepalanya, ia masih belum merasakan apa-apa pada kedua kakinya.
Evgen menghela napasnya, ia mulai sibuk menyiapkan air mandi untuk Shenina.
"Lu mandi saja dulu, jangan sampai sakit dan nanti elu gak bisa pulang," ucap Evgen lembut.
"Evgen," panggil Shenina lembut.
"Ya."
"Apa elu segitu inginnya agar gue cepat-cepat kembali?" tanya Shenina pahit.
Evgen terdiam, ia hanya melihat Shenina dengan tatapan sendu.
"Lu mandi saja dulu, gue akan panasi makanan yang tadi," ucap Evgen mengalihkan perhatian.
Shenina menghela napasnya, ternyata Evgen masih bersikap dingin kepada dirinya.
***
Shenina keluar dari kamarnya dengan pakaian tebal yang membalut badannya. Ikut duduk di depan perapian bersama Evgen.
Sejenak mereka berdua hanya terdiam. Sibuk pada pikirannya masing-masing.
Memandangi api yang sedang berkobar di depan mereka. Shenina melihat ke arah Evgen. Perlahan ia menjatuhkan kepalanya di atas bahu lelaki itu.
"Kenapa elu ke sini?" tanya Evgen serius.
"Karena elu," jawab Shenina cepat.
"Tapi percuma Shen. Gue ... gak akan kembali dalam waktu cepat."
__ADS_1
"Gue tahu, gue juga gak berharap agar elu mau kembali sama gue. Gue ke sini hanya ingin mengatakan, maaf dan terima kasih."
Evgen melihat ke arah Shenina, ia masih bingung dengan kalimat terakhir yang diucapkan gadis itu.
"Maaf karena telah menyakiti elu selama ini. Dan Terima kasih, karena elu sudah memberikan cinta yang tulus kepada gue," sambung Shenina lembut.
"Sekarang apa artinya? Mau bagaimana elu bujuk gue, gue sudah bertekad sejak pertama kali menginjakan kaki di sini. Kalau gue, gak akan kembali sebelum mengenggam kesuksesan di dalam tangan gue," jawab Evgen menatap kosong ke perapian di depannya.
"Kalau gitu gue, hanya bisa dukung elu. Gue ... akan dukung apapun impian elu itu."
Evgen tersenyum kecut, matanya masih menatap kosong ke dalam perapian itu.
"Gue sebenarnya tidak tertarik pada Universitas College London ataupun kota ini."
Shenina memalingkan wajahnya, memandang wajah Evgen yang masih menatap kosong ke perapian.
"Maksudnya?" tanya Shenina bingung.
"Elu ingat saat gue bertanya, kalau ada kesempatan elu ingin kuliah di mana?"
Evgen tersenyum dan melirik kearah Shenina.
"Dengan senangnya elu bilang kalau elu ingin sekali ke London. Dan kota ini adalah kota impian elu. Tanpa berpikir banyak, gue menyampaikan sama Papa, bahwa gue akan kuliah di London."
Shenina menatap wajah Evgen dalam-dalam. Ia tak percaya, bahwa alasan Evgen ke London sepenuhnya adalah karena dirinya.
"Kenapa? Kenapa elu mau ke sini hanya karena gue ingin ke sini?"
"Karena semenjak dekat dengan elu, gue merasakan segala hal dalam hidup gue berubah. Gue menemukan diri gue, saat gue mengejar elu. Gue menemukan mimpi gue, saat gue melihat mimpi elu. Gue melewati banyak kesusahan, namun berubah menjadi mudah saat ada elu di sisi gue. Gue merasakan itu semua selama ini. Dan karena itu pula, gue selalu menempeli elu kemanapun elu pergi. Alasannya, karena gue selalu merasa hidup saat berada di sisi elu," jelas Evgen lembut.
"Evgen, gue ... gue." Shenina menundukan pandangan matanya. Ia bingung mau mengucapkan apa.
Ia sama sekali tidak tahu, sebesar itu Evgen mencintainya dulu. Dan mungkin, Evgen masih sangat mencintainya sampai detik ini.
"Gue bisa lepasin elu dari pandangan gue. Tapi gue gak bisa lepasi mimpi elu yang ada mimpi gue di dalamnya. Jadi ... gue gak akan kembali sampai gue mengenggam kesuksesan itu di tangan gue," jelas Evgen kembali.
"Evgen, kenapa elu lakuin ini semua? Hanya karena gue menyukai kota ini, elu ingin menjadikan kota ini sebagai tujuan hidup elu. Gue merasa semakin bersalah sama elu, saat gue mengingat bagaimana dulu gue selalu menolak elu," ucap Shenina parau.
Evgen tersenyum dan merentangkan sebelah tangannya. Menarik bahu mungil gadis itu agar bisa ia dekap lebih erat.
"Gue gak tahu sejak kapan, tapi semenjak gue jatuh cinta sama elu. Saat melihat senyum elu, gue menemukan kebahagian. Saat gue mengalami kesulitan elu lah yang menjadi jalan untuk memudahkan. Gue melihat jati diri gue ada, saat gue terus bersama dengan elu. Segalanya, menjadi lebih indah saat elu ada di dalamnya, Shenina."
Shenina menutup kedua kelopak matanya. Meluruhkan buliran air dari kedua bola matanya.
Perasaannya semakin memburuk saat ia mendengar semua ungkapan hati Evgen saat ini.
"Maaf, Evgen. Maaf kalau selama ini gue gak pernah peka sama perasaan elu. Maaf, maaf karena buat elu kecewa sedalam ini."
"Gue gak pernah menyesali apapun yang pernah terjadi di antara kita, Shen. Gue merasa bersalah saat elu menangis, gue merasa hampa saat elu tidak lagi ada dalam pandangan gue. Walau hanya bayangan elu saja, gue tetap akan mengejarnya walau harus sampai keujung dunia."
Evgen menarik kepala Shenina, merapikan helaian rambut gadis itu dan menghapus sisa bulir yang terisisa di pipinya.
"Karena elu adalah debaran, dan gue jantungnya. Kita akan tetap seirama walau berada dalam tubuh yang berbeda," ucap Evgen lembut.
Shenina tersenyum pahit dan kembali melepaskan air matanya. Ia menyesali, kenapa baru saat ini ia menyadari betapa dalam dan besar pengorbanan yang dilakukan Evgen untuknya.
Kalau saja ia menyadarinya lebih cepat, mungkin hari ini tidak akan pernah terjadi.
Evgen menarik kepala Shenina dan mencium pucuk kepalanya. Mendekap erat badan gadis yang mulai menangis terisak itu.
"Gue menyesal Evgen. Sungguh, gue benar-benar menyesal. Seandainya waktu bisa diputar, gue pasti akan menerima elu dalam hati gue. Gue gak akan melepaskan pelukan hangat ini, sesesak apapun elu akan menahan gue. Gue akan berusaha untuk tetap bertahan, karena saat ini. Tidak ada elu di sisi gue adalah hal yang lebih menyesakan dari apapun."
Evgen mengelus rambut Shenina dengan lembut. Menghapus kembali air mata yang mengalir di pipi Shenina.
Evgen mencium kedua kelopak mata Shenina dan tersenyum lembut. Mengelus pipi mulus gadis itu dengan ibu jarinya.
"Istirahatlah lebih awal, besok pagi gue akan mengantar elu ke bandara."
__ADS_1
Evgen bangkit perlahan, Shenina menarik pergelangan tangan Evgen. Menahan agar lelaki itu tetap berada di dekatnya.
"Evgen, bisakah elu izini gue tinggal beberapa hari lagi di sini?"
Evgen menghela napasnya dan menggelengkan kepalanya.
"Ini adalah kota impian gue. Apakah elu gak mau mengajak gue berkeliling dulu sebelum pulang?"
"Shenina, bukan gue gak mau. Gue hanya gak bisa, gue rasa gue gak akan sanggup untuk menciptakan kenangan bersama elu di sini," jawab Evgen lembut.
"Evgen, ini adalah kota impian gue. Dan elu adalah harapan gue. Sebentar saja, berikan gue dua hal yang paling berharga dalam hidup ini. Kelak jika kita tidak berjodoh, maka elu adalah harapan terindah yang pernah gue miliki."
Evgen kembali duduk di sebelah Shenina. Ia meraih kedua belah pipi gadis mungil itu.
Menatap binar bening milik Shenina dengan dalam dan lekat.
Perlahan Evgen mendekatkan wajahnya ke Shenina. Terasa embusan napas Evgen yang mulai memburu kencang.
Hangat setiap embusan napasnya menembus kulit pipi gadis itu. Perlahan Shenina memejamkan kedua kelopak matanya.
Menerima ciuman hangat dari bibir tipis lelaki itu. Setelah beberapa lama, Evgen meleraikannya dan tersenyum dengan lembut.
"Tiga hari," ucap Evgen lembut.
"Hem?" Shenina menaikan sebelah alis matanya.
"Tiga hari cukup? Untuk kita menghabiskan waktu mengelilingi kota ini?"
Shenina tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya.
"Cukup, terima kasih, Evgen."
Evgen meraih pucuk kepala Shenina dan mengacak rambutnya dengan sedikit geram.
"Tidurlah, gue akan pulang saat hujan mulai reda."
Shenina menganggukan kepalanya dan berjalan memasuki kamarnya.
Saat Shenina ingin memasuki kamarnya, Evgen kembali memanggil gadis itu.
"Shenina."
"Hem."
"Pakai selimut lu, jangan biarkan tubuh elu kembali membeku," ucap Evgen lembut.
"Baiklah," jawab Shenina cepat.
"Shen," panggil Evgen kembali.
"Hem, ya?"
"Jangan pernah berpikir macam-macam tentang gue, karena sampai sekarang--"
Evgen menundukan pandangan matanya dan berjalan mendekati Shenina.
Menarik pinggang gadis itu agar bisa menempel lebih erat padanya.
"Gue ... masih sangat tergila-gila sama elu," lirih Evgen pelan.
Namun Shenina mampu mendengar itu dengan sangat jelas. Perlahan rona wajah Shenina mulai memerah, tersipu malu oleh ucapan lelaki yang ada di depannya itu.
Evgen menarik dagu Shenina, mendongakan kepalanya. Menatap binar bening mata gadis itu kembali.
"Pernah memiliki elu, adalah harta yang paling berharga. Yang mungkin tak akan pernah sirna sampai kapanpun."
Evgen mengecup pipi merah muda Shenina dan kembali tersenyum lembut.
__ADS_1
"Karena elu adalah debaran dan gue jantungnya."