Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
136


__ADS_3

Seorang lelaki menepuk bahu Evgen. Seketika Evgen memalingkan wajahnya. Melihat lelaki yang berdiri di sampingnya itu.


"Evgen, lama gak jumpa. Masih sendiri saja nih," sapa Bayu ramah.


"Hai, Bay." Evgen bangkit dari kursinya dan memeluk badan teman sepermainanya itu.


"Apa kabar lu?" tanya Evgen lembut.


"Baik, sangat baik malah. Lihat, gue akan menjadi Papa." Bayu menarik lengan tangan istrinya.


Wanita itu tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya. Evgen menyambut uluran tangan wanita itu dan ikit tersenyum lembut.


"Gila, gue terkejut banget waktu Putra menghubungi gue dan buat acara reuni dadakan karena elu pulang."


Evgen hanya tersenyum dan menyentuh belakang kepalanya. Bingung mau berkata apa, entah sejak kapan? Ia merasa canggung saat bertemu teman lamanya.


"Buat acara semewah ini hanya untuk menyambut elu? memang dari dulu elu mah beda," ledek Bayu.


"Lu bisa aja. Tapi kalau gue lihat, reuninya kurang ramai. Gak semuanya datang ya?" tanya Evgen basa-basi.


"Sudah segini ramai, elu bilang belum ramai?" tanya Bayu kembali.


Bayu berdehem pelan dan merangkul bahu Evgen lembut.


"Apa karena Shenina gak datang, makanya menurut elu kurang ramai?" goda Bayu kembali.


"Apaan sih?" Sikut Evgen di dada Bayu.


"Benarkan?" tanya Bayu kembali.


Evgen hanya melepaskan senyumnya, ia tidak berniat untuk menjawab.


"Tujuh tahun, Bro. Move on kenapa?" ledek Bayu kembali.


"Apaan sih elu, Bay?"


Bayu melepaskan tawanya dan menumbuk dada Evgen lembut.


"Shenina ... dia pindah ke luar kota tahun lalu. Kami gak pernah jumpa dia lagi. Gak tahu juga dia ada di mana," ucap Bayu serius.


Evgen menatap wajah Bayu seketika, tak lama ia menganggukan kepalanya. Jadi itu alasan kenapa saat ini Shenina tidak berada di sini?


"Yasudah, nikmati pestanya ya. Dan gue akan kirim hadiah pernikahan elu. Sorry, telat."


"Wah ... serius, Bro? Thank's ya Brother," jawab Bayu senang.


Evgen hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Kembali terduduk di balik kaca restoran.


Pantas saja, hatinya terasa begitu hampa. Ternyata gadis yang dia tunggu tidak lagi ada.


Evgen meraih gelasnya dan meminum air di gelasnya.


Dunia banyak sekali mengalami perubahan, namun ia hanya ingin berlari ke dalam pelukan gadis itu.


Ingin selalu berada di sisi Shenina, walaupun dunia akan berunah. Namun rasa cintanya masih tetap sama.


Evgen menghela napasnya dan meletakan gelas itu dengan sedikit membanting. Kesal sendiri jika mengingat kegagalannya dua tahun lalu.


Setelah banyak mengalami cobaan, hatinya tak pernah goyah. Namun siapa sangka, bahwa takdir begitu mudah mempermainkan.


"Perlahan kehangatan dan kelembutan cinta elu berubah menjadi bekas luka yang dalam. Sampai kapan gue sanggup menahan rasa sakit karena terlalu merindukan elu, Shenina?"


***


Evgen mengetukan tiga jarinya ke atas meja. Menatap wajah tampan adiknya itu.


"Bagaimana, Kak? Acaranya meriah kan? Band kami juga bagus, kan?" tanya Niki senang.


"Bagus," jawab Evgen datar.


Evgen mengeluarkan uang lembaran pound sterling dan memberikannya ke Niki.


"1.000£," ucap Evgen lembut.


Niki melihat uang yang diberikan oleh Evgen. Ia mengacak rambutnya dengan sedikit geram.


"Kak, aku hanya memintanya. Tapi bukan berarti Kakak membayarnya dengan mata uang pound sterling juga," jawab Niki kesal.


"Jadi bagaimana?" tanya Evgen bingung.


"Bayar dalam jumlah rupiah."

__ADS_1


"Tapi kamu tadi mintanya apa?"


"Iya, memang. Memang aku minta 1.000£, tetapi maksud aku, Kakak berikan dalam bentuk rupiah."


"Kakak gak ada uang rupiah, adanya ini semua," balas Evgen datar.


"Kan, Kakak bisa pinjam dulu sama Papa."


"Mau tidak?" tanya Evgen dingin.


"Ya mau, tapi aku gak mau menukarnya lagi ke bank. Berikan dalam jumlah rupiah," pinta Niki ketus.


Evgen menghela napasnya, ia mengeluarkan selembar uang rupiah dan memberikannya ke Niki.


"Kenapa cuma seribu rupiah?" tanya Niki semakin kesal.


"Kamu minta berapa tadi? Seribu kan? Aku kasih seribu kenapa masih nanya?" tanya Evgen ketus.


"Kak, 1.000£ mana bisa disamain dengan 1.000 rupiah," jawab Niki kesal.


"Mau ambil, tidak mau tinggal saja. Kamu hanya tinggal ambil salah satunya, kenapa bawel sekali?" tanya Evgen kembali.


Terdengar suara tawa yang tertahan dari dua teman Niki lainnya. Namun vokalis dari band itu terus memandangi wajah Evgen tanpa bergeming.


Ia terus terpaku memandangi wajah Evgen.


Evgen melirik ke arah lelaki muda itu, ia menaikan sebelah alis matanya saat melihat ekspresi lelaki muda itu.


"Ada apa? Apa ada yang salah dari wajah aku?" tanya Evgen pada lelaki itu.


Lelaki itu seperti terkejut, ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Kak. Kakak itu, Kakaknya Niki?" tanya dia lembut.


"Iya, kenapa?" tanya Evgen dingin.


"Tidak ada, aku hanya terpukau lihat wajah Kakak yang tampan sekali," jawabnya tertawa kecil.


Evgen mengernyitkan dahinya, baru kali ini ada lelaki yang memujinya secara langsung.


Evgen tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Aku pulang dulu. Kamu jangan pulang terlalu malam ya, Niki," ucap Evgen dingin.


Evgen mengambil jasnya dan berjalan keluar dari kaca cafe. Sementara teman Niki masih terus melihat punggung badan Evgen yang menjauh dari cafe.


"Nik, dia kakak elu?" tanya lelaki itu kembali.


"Iya, dia baru pulang dari London setelah tujuh tahun."


"London?" tanyanya sekali lagi.


"Iya, dan akhir minggu ini dia akan kembali ke sana," jelas Niki sekali lagi.


Lelaki itu hanya menganggukan kepalanya. Melihat sekali lagi ke arah jendela. Tetapi bayangan Evgen tidak lagi berada di sana.


Evgen membuka pintu kamarnya, meletakan jasnya di atas kasur. Matanya langsung tertuju pada kamar Kakaknya.


Sedari ia pulang kesini, ia sama sekali belum menemui putra dari Kakaknya itu.


Evgen membuka pintu kamar Rezi, Yi Wen langsung berlari, memeluk badan Evgen saat melihat lelaki itu datang.


"Kakak." Peluk Yi Wen erat.


"Kenapa belum tidur?" tanya Evgen lembut.


"Wen'er masih main sama anak kak Rezi," jawab Yi Wen lembut.


Evgen mengelus pucuk kepala Yi Wen dan berjalan memasuki kamar Rezi.


"Kak Neha, apa kabar? Maaf baru sempat menyapa sekarang." Evgen mendekati ranjang bayi dan melihat langsung bayi lelaki itu.


"Baik, Evgen."


Evgen langsung memalingkan wajahnya saat sekilas ia mendengar Neha menjawab.


"Kakak bilang apa?" tanya Evgen tak percaya.


Neha hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Terkejut, ya?" tanya Rezi lembut.

__ADS_1


"Kak Neha sudah operasi?" tanya Evgen kembali.


"Enggak, kak Neha sedang terapi untuk latihan bicara."


"Wah ... selamat kalau begitu. Ini sebuah keajaiban," ucap Evgen sambil menarik Yi Wen ke dalam pelukannya.


"Iya, ini keajaiban Tuhan. Setiap orang pasti memiliki keajaibannya sendiri. Evgen, ayo buat keajaiban sendiri untuk hidupmu."


Evgen tersenyum dan bangkit dari duduknya.


"Kakak ngomong apa? Keajaiban itu tidak bisa di buat, dia hanya bisa datang dengan keinginannya sendiri."


"Benarkah? Bukannya keajaiban akan datang karena usaha orang itu sendiri?"


"Kak, dalam hidup ini tidak ada yang namanya usaha seseorang. Semua berjalan atas apa yang telah Dia kehendaki. Tidak ada kebetulan, tidak ada tiba-tiba. Semua sudah ditakdirkan. Yang hanya ada, rencana Tuhan."


Evgen menggulungkan lembaran uang pound sterling itu. Meletakannya di sebelah kepala putranya Rezi.


"Cepat besar, Nak," ucap Evgen lembut.


"Wah, Evgen ternyata sudah berubah menjadi lelaki dewasa ya," ledek Rezi.


"Tentu saja, aku ini Evgen Aulia."


"Benar kamu adalah Evgen Aulia. Tetapi hatimu masih sangat hampa. Evgen, cobalah untuk mencari pasangan dan menikah, segala usahamu akan sia-sia jika kamu tidak membentuk sebuah keluarga."


Evgen hanya tersenyum, ia melirik Yi Wen dan mengangkat badan kecil gadis itu.


"Sudah ada sayangku, Xia Yi Wen yang akan menemaniku seumur hidup. Aku tidak membutuhkan yang lain lagi, benarkan Cintaku?" tanya Evgen sembari menciumi gadis kecil itu.


"Ah ... Kakak, Wen'er masih mau main. Turuni Wen'er," pinta Yi Wen merengek.


"Heh, ini sudah malam. Ayo ikut tidur denganku," ucap Evgen membawa Yi Wen memasuki kamarnya.


Membuang badan mungil gadis itu ke atas kasur dan menggelitiki pinggang kecilnya.


Yi Wen memecahkan tawanya saat tangan Evgen terus bermain di perutnya.


"Kakak, hentikan!" teriak Yi Wen keras.


"Kamu akan ku hukum jika tidak tidur. Ayo tidur!" perintah Evgen lembut.


"Baiklah, Wen'er akan tidur. Tapi Wen'er mau bertanya dulu."


"Tanya apa?"


"Kalau suatu saat nanti kak Evgen menikah, apa kak Evgen akan meninggalkan Wen'er?" tanya Yi Wen lembut.


"Memang aku mau menikahi siapa? Aku hanya mencintai Yi Wen seorang," jawab Evgen.


"Hem, Kakak bohong!" tuding Yi Wen ketus.


Yi Wen mengeluarkan selembar foto dari dalam bajunya.


"Bukannya Kakak mencintai wanita ini?" tanya Yi Wen, memperlihatkan foto Shenina.


Evgen langsung merebut foto yang ada di tangan Yi Wen.


"Dari mana kamu dapat foto ini?" tanya Evgen langsung.


"Dari dompet Kakak."


"Gak baik melakukan hal itu, Yi Wen. Jangan diulangi ya."


"Kakak, apa Kakak mencintai dia? Apa Kakak akan meninggalkan Wen'er?" tanya Yi Wen sendu.


Evgen menarik bahu Yi Wen, menidurkannya di atas bantal.


"Anak kecil ayo tidur. Jangan bicarain cinta segala."


"Kakak! Wen'er akan marah jika Kakak memilih cewek lain. Wen'er akan pulang kampung ke Beijing kalau Kakak mau menikah. Dan Wen'er akan meninggalkan Kakak selamanya!" ucap Yi Wen merajuk.


"Sudah ayo tidur! Siapa yang mau menikah, cepat tidur," perintah Evgen lembut.


Yi Wen memasukan badannya ke bawah selimut. Sementara Evgen terus memandangi wajah manis wanita yang ada di dalam foto itu.


Perlahan sebuah senyum menghiasi wajah tampan lelaki itu.


"Akankah kita punya kesempatan untuk bertemu lagi, Shenina?" tanya Evgen pahit.


"Akankah kita menjadi asing saat kita berjumpa kembali?"

__ADS_1


Evgen tersenyum kecut, membuka laci nakas kamarnya dan meletakan foto Shenina di dalam sana.


"Apakah elu mengingat kisah kita? Kita pernah bahagia, kita pernah tertawa dan kita pernah menangis bersama. Jika gue bilang gue gak sengaja mengingkari janji kita, apakah elu akan percaya?"


__ADS_2