
Evgen sibuk dengan ponsel dalam genggaman tangannya. Bermain game online bersama beberapa temannya di meja kantin.
Tak peduli pada keributan dan keramaian di dalam kantin. Mereka asyik dengan game online dalam gawai masing-masing.
Braaak
Setumpuk buku dijatuhkan tepat di depan Evgen. Evgen melirik sekilas, lalu sibuk kembali pada layar datarnya.
"Heh Evgen, elu itu santai banget ya? Kita gak lama lagi ujian akhir loh," ucap Shenina ketus.
"Terus?" tanya Evgen yang masih fokus pada game gawainya.
"Gue lihat akhir-akhir ini elu cuek banget. Elu sebenarnya masih niat belajar bareng gue gak?"
"Masih," jawab Evgen datar.
"Jadi, kenapa elu sok sibuk banget kalau diajakin belajar bareng? Kalau datang sebentar, terus pergi lagi. Lu gak kasian sama Papa elu yang sudah kasih biaya buat pendidikan elu?"
"Bukan urusan elu," jawab Evgen cuek.
"Ini urusan gue karena gue jadi guru elu, Evgen. Kalau elu gak mau lagi belajar bareng gue, biar gue bilang sama Papa elu."
"Oh," jawab Evgen dingin.
Shenina menghela napasnya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Sebenarnya ia bosan menghadapi tingkah Evgen yang berubah cuek dan dingin akhir-akhir ini.
Shenina menghentakan kakinya, berjalan meninggalkan Evgen dan teman-temannya.
Sebelum ia mati kesal dibuat oleh lelaki angkuh ini. Lebih baik ia pergi sebelum terpancing amarah.
Evgen melirik kearah Shenina, ia mengerdikan bahunya dan masih acuh oleh kepergian Shenina.
"Heh, elu sama Shenina lagi kete-an?" tanya Putra penasaran.
"Enggak."
"Jadi, tumben banget elu cuek dan dingin sama dia?"
"Hei sepupu gue yang ganteng, ini itu namanya trik. Lu tahu gak trik? Hem?" tanya Evgen bangga.
"Trik apaan?"
"Trik agar Shenina bertekuk lutut sama gue," ucap Evgen sambil memainkan kedua alis matanya.
"Shenina? Tekuk lutut sama elu? Gak mungkin, Evgen. Itu gak mungkin," ledek Putra.
"Heh, kenapa elu gak percaya? Gue bakalan buktiin kalau Shenina akan takhluk sama trik yang gue gunakan."
"Memang trik apaan? Gue lihat elu gak gunakan trik apapun?"
Evgen tersenyum lembut dan merangkul bahu Putra. Duduk lebih dekat dengan sepupunya itu.
__ADS_1
"Gini ya Put, wanita itu makhluk yang rumit. Saat elu terlihat suka sama dia, dia pasti akan menjauh. Tapi saat elu gak peduli, dia akan cari-cari cara untuk menarik perhatian elu," ucap Evgen lembut.
"Terus?"
"Sebagai lelaki, tunjukan pesona elu. Bersikap dingin dan tenang, biar sisi kekerenan elu itu terlihat," ucap Evgen sambil memainkan kedua alis matanya.
Bangga karena sudah bisa mempraktikan trik yang diajarkan oleh Papa kerennya itu dengan sempurna.
"Hem, elu dapetin trik itu dari mana? Dari buku atau baca artikel gak mutu? Gak beres banget triknya," jawab Putra malas.
"Heh, sembarangan elu. Ini itu trik yang memang sudah teruji kelulusannya, gue sudah lihat sendiri hasilnya," jawab Evgen senang.
"Itu hasilnya?" tanya Putra sambil menunjuk ke arah Shenina.
Evgen membalikan badannya, matanya langsung memerah saat melihat Shenina sedang berbicara dengan lelaki berpakain rapi di meja sebelah.
"Sialan Shenina, bagus sekali dia tebar-tebar pesona sama lelaki lain," ucap Evgen memadam.
"Elu sih yang terlalu norak, makan itu trik dan tetaplah tenang saat Shenina ditikung orang lain."
Evgen mengepalkan kedua tangannya, tak terima oleh perlakuan Shenina.
Dadanya mulai naik-turun dengan cepat. Mengambil nafas memburu akibat gejolak amarah yang tertahan dalam dadanya.
***
Evgen memandangi wajah Shenina yang sedang menjelaskan beberapa rumus padanya.
Beberapa kali ia menghela napas, masih terbayang bagaimana Shenina bisa tertawa begitu bahagia saat bersama lelaki asing tersebut.
"Kenapa? Ada yang enggak elu pahami?"
"Ada."
"Rumus yang mana?" tanya Shenina sambil melirik kearah buku Evgen.
"Rumus yang ini," ucap Evgen menepuk dada sebelah kirinya.
Shenina menaikan sebelah alis matanya, tak mengerti dengan maksud Evgen.
"Maksudnya?" tanya Shenina bingung.
"Gue gak ngerti, kenapa dada gue terasa panas saat melihat elu bercanda dengan lelaki lain. Gue gak ngerti kenapa gue marah saat elu duduk sama lelaki lain. Gue gak ngerti kenapa gue bisa seperhatian ini sama elu. Bisa, elu jelasin kenapa gue merasakan semua ini?" tanya Evgen sendu.
Shenina menundukan pandangannya dan mengelus tengkuk lehernya. Sebenarnya lelaki ini kenapa? Tiba-tiba dingin, sekarang malah jadi melow begini.
"Evgen--"
"Siapa dia?" tanya Evgen lembut.
"Hah? Siapa?"
"Lelaki yang bicara sama elu di kantin tadi."
__ADS_1
"Oh, itu salah satu anak panti yang sudah dewasa dan lagi magang di sekolah kita."
"Ehm, begitu."
"Iya, namamya Bang Angga, dia itu lelaki yang hangat dan juga penyayang banget sama anak-anak." Shenina tersenyum lembut saat membicarakan lelaki itu.
Semakin membuat perasaan Evgen, memburuk. Ia cemburu saat Shenina bercerita tentang lelaki lain dan bisa senyaman itu, walau hanya sekedar bercerita tentangnya.
"Shen, bisa gak sih elu gak usah dekat-dekat lagi sama dia?" tanya Evgen sendu.
"Hah? Kenapa gue harus menjauhi dia? Dia itu abang yang besar bareng sama gue di panti. Jadi--"
"Walaupun besar bareng elu, tapi dia bukan abang elu. Jadi ada kemungkinan kalau dia suka sama elu, Shenina!" jelas Evgen ketus.
"Ya terus apa urusannya sama elu?" tanya Shenina jutek.
"Jelas lah urusan gue, pokoknya ya itu urusan gue. Gue bilang jangan dekat-dekat ya jangan dekat-dekat. Titik."
Shenina mengernyitkan dahinya, lagi, sifat lelaki ini berubah sesuka hatinya saja.
"Dasar gak waras, kalau elu gak mau lagi belajar yasudah. Gue balik kerja!"
"Yasudah pergi sana! Elu pikir gue peduli?"
Evgen menghempaskan buku-bukunya yang berada di atas meja. Ia kesal dan juga cemburu, namun kenapa wanita itu tidak mau mengerti sedikitpun.
Evgen mengacak rambutnya dan terduduk lemas di kursi stainles rooftop.
Ia memegangi sudut dahinya yang mulai berdenyut karena terus memikirkan kejadian Shenina siang itu.
...
Evgen memasukan kedua tangannya di kantung jaket. Memandangi Shenina yang sedang bercanda dengan lelaki bernama Angga itu, di halte bis.
Beberapa kali Evgen menghela napasnya. Mencoba meredam amarah yang sudah membara dari pertama kali melihat mereka berdua.
Tak butuh waktu lama, bis yang di tunggu Shenina pun tiba. Ia dan Angga menaiki tangga bis dan memasuki bis yang akan membawa mereka kembali kerumah.
Evgen ikut menaiki bis itu dan duduk di kursi paling belakang. Memperhatikan setiap gerakan mereka berdua yang asyik bercanda dalam satu bangku.
Evgen mengusap wajahnya kasar, ia sudah tak sanggup lagi melihat Shenina dan Angga yang bisa sedekat itu.
Evgen berniat untuk turun di halte selanjutnya, namun lebih dulu Angga yang turun dari bis. Meninggalkan Shenina di bangku sendiri.
Evgen mengurungkan niatnya, ia kembali duduk, tepat di belakang Shenina. Namun gadis itu tak menyadari kalau ada mata yang selalu memperhatikan ia sedari tadi.
Mata Shenina terus terfokus pada jalanan malam yang semakin gelap. Beberapa kali mulut Shenina menguap, menahan rasa kantuk yang semakin berat menyerang.
Beberapa kali mata Shenina berkedip, mencoba menghilangkan rasa kantuk yang ia rasakan. Entah karena lelah, mata Shenina terus terpejam.
Perlahan kepala Shenina mulai terjatuh, sebuah tangan menahan kepala Shenina dari belakang. Menangkap kepala gadis itu sebelum terbentur kaca jendela bis.
Evgen, menahan kepala Shenina sepanjang perjalanan menuju rumah Shenina. Walau bibirnya berkata ia tidak akan peduli, namun pada kenyataannya, ia masih terus melindungi gadis itu tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Kenapa elu bisa seceroboh ini, Shenina? Bagaimana kalau ada orang jahat yang akan menyakiti elu?" ucap Evgen sedikit tersenyum.
"Kapan elu sadar? Kalau gue ... benar-benar sayang sama elu?"