
Sean bangkit dari kursinya dan berlari menaiki anak tangga. Mencari Megi di kamarnya namun Sean hanya menemui Rezi bermain sendiri diatas kasur.
Sean menghela nafas dan berjalan mendekati balkon lantai 2.
Sean meletakan tangannya diatas punggung tangan Megi yang sedang ia tumpuhkan diatas pagar balkon.
Mengurung badan Megi dalam dekapannya.
"Masih marah sama aku?" tanya Sean lembut.
Megi hanya diam, matanya menatap kearah bawah dengan kosong.
"Kamu yang paling tahu emosi aku bagaimana, tapi kamu juga yang sering buat emosi aku memuncak."
"Terus saja salahi aku, memang aku yang salah kok." balas Megi ketus.
Sean tersenyum dan mengelus pucuk kepala Megi dengan lembut. Mencium rambut Megi.
"Ada apa? kenapa kamu tiba-tiba curiga sama aku? kamu paling tahu, aku bukan lelaki yang suka main-main sama wanita."
"Iya, aku memang yang paling tahu sifat kakak. Karena itu aku tahu juga, pandangan mata kakak sama kak Hana waktu itu beda sekali."
Sean melepaskan senyumnya dan meletakan dagunya diatas pucuk kepala Megi. Memeluk Megi erat dari belakang.
"Katakan bagaimana menurut kamu pandangan aku ke Hana saat itu?" bujuk Sean lembut.
"Kakak memandang dia tanpa emosi, bahkan kakak bersikap lunak sama kak Hana, gak seperti biasanya, kakak selalu terbakar saat melihat dia, kakak selalu mandangi dia dengan segala kebencian dari mata kakak."
Sean hanya tersenyum dan mengelus perut Megi dengan lembut. Hanya karena itu, kenapa bisa ia secemburu ini?
Padahal biasanya, Megi tak peduli bagaimana Sean di puja-puja oleh gadis muda lainnya. Jika menyangkut Hana, Megi bisa terbakar habis oleh api cemburunya.
"Kakak jatuh cinta lagi sama kak Hana? walaupun kak Hana seumuran dengan kakak, bahkan wajah Kak Hana tampak lebih muda dari aku."
"Jatuh cinta? aku rasa tidak."
"Bohong!" Megi menghempaskan tangan Sean yang melingkari perutnya.
Membalikan badannya dan memandang wajah Sean di hadapannya.
"Kalau kakak gak jatuh cinta sama dia, kenapa kakak begitu lunak sama dia? apa selama lima tahun tanpa aku, kakak ada hubungan lagi sama kak Hana? iya?" tanya Megi tanpa jeda.
"Aku baru ketemu dia hari itu, setelah lima tahun, Megi."
__ADS_1
"Terus kenapa kakak melihat kak Hana begitu? kenapa kakak sama sekali gak menunjukan kebencian kakak sama dia? aku ingat bagaimana kakak dulu memperlakukan dia, bahkan menghirup oksigen yang sama saja dengan kak Hana, kakak gak mau."
"Seharusnya kamu senang aku bisa bersikap seperti itu sama Hana, Sayang."
"Jangan panggil aku sayang setelah kakak nyebut nama kak Hana!" teriak Megi keras.
Seketika raut wajah Sean berubah dingin, matanya memandang Megi dengan tatapan yang begitu dingin. Ia sudah berusaha mengalah, bukan berarti bisa terus di salahkan begini.
"Aku harus senang kakak bersikap begitu sama Kak Hana?" Megi menggelengakan kepalanya.
"Jangan konyol kak, aku harus senang kalau kakak bisa balikan sama kak Hana? iya?" tanya Megi memadam.
"Aku ini masih suamimu, tidak bisakah kamu berbicara dengan nada yang sedikit lembut saat di hadapanku?" tanya Sean dingin.
"Sudahlah, percuma aku mengalah padamu dan berusaha menjelaskan. Memang tidak ada yang perlu di jelaskan atas kecemburuanmu yang gak beralasan itu." Sean membalikan badannya dan berjalan meninggalkan Megi dengan cepat.
Melihat Sean pergi, Megi mengejar langkah kaki Sean dan memeluk pinggang Sean dari belakang.
"Kakak, aku minta maaf. Aku hanya takut, takut jika kakak meninggalkan aku lagi dan memilih kak Hana seperti hari itu."
"Tidak ada yang meninggalkanmu, Megi. Dari dulu pun aku memang tak meninggalkanmu, aku pergi dengan Hana karena ada yang harus di jelaskan Hana padaku. Aku ikut dia pergi, karena aku tak ingin melukai kamu dengan masa laluku."
Sean tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya.
Sean melepaskan pelukan tangan Megi dan melanjutkan langkahnya yang terhenti.
"Kakak." tarik Megi di pergelangan tangan Sean.
Sean menghela nafasnya dan membalikan badannya. Meraih kedua ujung bahu Megi.
"Dengarkan, aku gak mau membahas Hana lagi setelah ini." ucap Sean menguatkan pegangan tangannya.
"Megi kamu tahu, orang yang paling bisa melukai mu itu bukan musuhmu, tapi orang yang paling dekat denganmu."
"Maksud kakak?"
"Orang yang bisa mengkhianatimu bukan orang yang kamu benci, tapi orang yang paling kamu percayai."
Sean meraih kepala Megi, mengelus rambutnya lalu turun ke sisi samping wajahnya. Sean meraih dagu Megi dan mendongakan kepalanya.
"Dulu, aku pernah sangat mencintai Hana, aku pernah sangat mempercayainya. Tapi dia juga yang membuat aku jatuh berantakan dan tak bersisa. Karena semua rasa itu, aku membencinya, karena aku tak pernah bisa melupakannya dan membuang dia dari dalam hatiku." Sean menghela nafasnya dan tersenyum sendu.
"Padahal dia adalah orang yang membuangku, tapi kenapa aku tidak bisa membuang dia dari hatiku? itu yang membuat aku sangat marah saat melihat dia hadir kembali di depanku, karena melupakan dia itu aku butuh waktu dan juga emosi yang banyak."
__ADS_1
"Terus kenapa? kemarin kakak ..."
Sean meletakan satu jarinya di depan bibir Megi. Menghentikan ucapan Megi.
"Dengarkan dulu, aku belum selesai berbicara." ucap Sean lembut.
"Saat aku bisa berbicara lembut dan memandang dia tanpa emosi, seharusnya kamu bisa mengerti, bahwa dia sama sekali tak ada lagi artinya di hatiku. Seharusnya kamu bisa melihat, perubahanku bukan karena aku kembali jatuh cinta padanya, tapi karena hatiku telah beku seutuhnya saat berhadapan dengan dia." sambung Sean lembut.
"Kamu lebih tahu dari aku bagaimana rasanya, mencairkan hati yang beku, lebih sulit di bandingkan memadamkan api yang membara, iya kan?" tanya Sean lembut.
Megi meraih sebelah pipi Sean dan mengelusnya dengan lembut.
"Kakak gak lagi bohongi aku kan?"
"Aku rela menukar apapun yang aku punya demi kamu Megi, lantas apa yang bisa Hana lakukan sampai aku bisa menukarmu dengan dia?"
"Kak Hana orang yang pertama ada di dalam hati kakak."
"Hanya pertama, apa hebatnya? di bandingkan yang terakhir dan satu-satunya. Hem?" tanya Sean memainkan kedua alisnya.
Megi tersenyum dan menarik pinggang Sean. Membenamkan wajahnya di dada Sean.
"Aku harap kakak gak pernah bohongi aku tentang ini semua."
"Dasar bodoh, sudah ada kamu, bayi kita dan Rezi. Apapun tak bisa sebanding dengan kalian, bahkan nyawaku tak lebih berharga dari kalian semua, Sayang."
Sean mengambil kedua pipi Megi dan mendongakannya. Menekan kedua pipi Megi dan memainkannya. Geram melihat Megi.
"Siapin Rezi ya, aku mau bawa dia ke tempat Ayahnya."
"Eh ... Ke kuburan?" tanya Megi.
"Iya."
"Aku ikut ya."
"Boleh, tapi cium aku dulu." Sean menundukan kepalanya di depan Megi.
Dengan cepat Megi mengecup pipi Sean dan berjalan ke kamarnya.
Sementara Sean hanya tersenyum dan melihat punggung badan Megi berlalu.
"Bagaimana aku bisa membenci Hana, setelah hutang masa lalunya ia bayar dengan menyelamatkan nyawamu, Megi?" lirih Sean lembut.
__ADS_1
"Aku tak ingin menyembunyikan apapun lagi, tapi saat bertemu Hana, aku mengerti, Hana melakukan itu semua agar tak melukai kamu lagi, aku tak bisa melukaimu, Megi. Aku harap kamu bisa mengerti dan percaya. Aku dan Hana tak pernah ada jalan untuk kembali"