Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 71


__ADS_3

"Jangan main-main sama gue, Meg." ucapnya sengit.


"Kakak mau cobain ini? enak loh." Megi mengulurkan tangannya, menyuapi Sean dengan cupcake yang ia makan setengah.


Dengan wajah malas Sean menghindar, menjauhkan cupcake itu dari mulutnya.


"Gue gak mau." jawab Sean menolak tangan Megi lembut.


"Cepat habiskan, setelah itu kita pergi dari sini." sambung Sean ketus.


"Jangan terburu-buru kenapa kak, kakak bilang mau temeni aku kemana aja." jawab Megi merajuk.


"Tapi disini cewek semua, Megi!" ucap Sean sedikit menekan.


"Terus kenapa kalau cewek semua? kayak bakalan ada yang mau perkosa kakak aja." Megi menyilangkan kedua tangannya di dada. Mengerucutkan bibirnya yang masih menempel krim merah muda di ujung bibirnya.


Sean menghela nafasnya, ia menghapus sudut bibir Megi dengan sebuah tisu.


"Ya baiklah, kali ini gue ngalah." ucap Sean mengalah.


Kembali Megi tersenyum manis, memilih-milih cupcake karakter yang akan ia makan kembali.


"Kakak gak mua coba?"


"Apa itu bisa di makan?" tanya Sean melirik ke warna-warna cupcake yang mencolok matanya itu.


"Bisa, Kak." Megi menyodorkan sebuah cupcake berwarna ungu muda kehadapan Sean.


"Ayo ak, kak. Coba dulu." bujuk Megi.


Sean menaiki sebelah alis matanya, menatap warna cupcake itu yang sama sekali tak meyakinkan untuk bisa di makan.


"Ayo kak," perintah Megi kembali.


Dengan sedikit malas, Sean membuka mulutnya. Menggigit sedikit cupcake itu. Dengan cepat tangannya meraih soft drink di sebelahnya, mendorong cupcake yang nyangkut di tenggorokanya.


"Ini terlalu manis Megi, jangan suka makan makanan yang seperti ini." ucap Sean sambil mengelap bibirnya.


"Menurut aku cupcake ini tidak terlalu manis kok kak?" jawab Megi kembali melahap potongan cupcake yang imut itu kedalam mulutnya.


"Hem ... Heran, kenapa perempuan bisa suka sekali dengan makanan manis." jawab Sean datar.


"Ini gak manis sama sekali kakak." ucap Megi sambil meraih gelas minumnya.


"Kenapa kakak bisa bilang ini terlalu manis, karena kakak makannya sambil mandangi aku." sambung Megi mentel, dengan meletakan kedua telapak tangannya di pipinya.


Sean hanya bisa melepaskan tawa geli, saat melihat tingkah Megi. Menggeleng pasrah, dan kembali menenguk soft drink di tangannya.


Sementara Megi menyadari ada mata-mata yang memandang Sean kagum saat Sean tersenyum. Megi melihat jejeran beberapa Meja yang sempat beberapa kali mencuri pandang kearah Sean.


"Kakak!" bentak Megi saat melihat Sean masih tersenyum.


"Apa?" tanya Sean sedikit kaget.

__ADS_1


"Jangan tertawa!" Megi melototkan matanya garang.


Namun bukannya takut, Sean malah kembali tertawa. Menampilkan lesung pipinya yang tak terlalu dalam. Membuat beberapa pasang mata kembali terpesona oleh paras Sean yang menggoda.


"Ih ... Kakak aku bilang jangan tertawa!" Megi menarik salah satu pipi Sean, kesal.


"Aduh ... Duh. Apa sih Megi?" Sean melepaskan cubitan tangan Megi lembut.


"Jangan tertawa!" ancam Megi kembali.


Namun Sean kembali tertawa karena ekspresi wajah Megi yang di buatnya garang malah menjadi lebih lucu di mata Sean.


"Ih ... Kakak jangan tertawa." Megi bangkit dari kursinya dan membekap mulut Sean secara paksa.


Sementara Sean hanya bisa tertawa geli, kadang Megi bertingkah aneh tanpa alasan. Sikapnya yang spontan bukannya garang malah lebih terlihat imut.


"Ih berhenti tertawa ... Berhenti, kakak!" ucap Megi meguatkan bekapannya.


Namun bagi Sean bekapan tangan kecil Megi bukanlah apa-apa. Jangankan sakit bahkan berasa pun tidak.


"Ih kakak, berhenti tertawa. Ayo kita pulang!" Megi menarik kerah baju Sean paksa. Menyeret Sean keluar dari toko itu.


Setelah lumayan jauh, Sean menghentikan langkahnya di samping pagar lantai 3 mall tempat mereka makan tadi.


"Ada apa sih? kalau ngajak pergi maksa, ngajakin pulang juga maksa."


"Aku gak suka kakak tebar-tebar pesona sama wanita!" jawab Megi jutek.


"Cih ... Kapan gue tebar pesona?" tanya Sean sambil berjalan mendekat.


"Ih ... Kakak, sadar! kakak itu suami aku." Megi menghujani lengan tangan Sean dengan cubitannya yang membabi buta.


"Iya, iya ampun. Gue tahu." ucap Sean mengalah.


Megi mengurucutkan bibirnya dan menumpuhkan kedua siku tangannya diatas pagar. Matanya memandang kearah bawah, melihat keramaian orang berlalu lalang di lantai bawah.


Sean menghela nafasnya dan berjalan mendekati Megi. Merapikan helaian rambut Megi yang terlihat berantakan.


"Jadi elu cemburu?" tanya Sean lembut, tangannya mengelus pucuk kepala Megi.


"Menurut kakak?" tanya Megi jutek.


Sean melepaskan senyumnya, ia meraih kedua bahu Megi. Membalikan posisi Megi agar berhadapan dengan dia.


"Gue bukan orang yang bisa menjelaskan dengan kata-kata Megi." ucap Sean sendu.


Sean menundukan kepalanya, ia mensejajarkan kepalanya dengan kepala Megi. Menepuk satu jarinya di pipi kanannya.


Mendapatkan kode yang Sean berikan, Megi menggulum senyum. Dengan sedikit tersipu malu, ia mendaratkan ciuman di pipi Sean.


Sean kembali tersenyum lebar, menatap Megi dengan lekat. Menarik tubuh mungil Megi untuk ia dekap.


"Sadar gak perbedaannya apa?" tanya Sean datar.

__ADS_1


"Apa?" tanya Megi sambil mendongakan kepalanya.


"Ck ... Dasar bodoh." Sean meleraikan pelukannya, mentoyor kepala Megi dan melangkah pergi.


"Ih ... Kakak." panggil Megi sambil tersenyum.


"Ih kakak, tunggu!" Megi berlari menyusul langkah besar Sean. Melingkari lengan Sean dengan manja.


"Kakak ayo bilang perbedaan nya apa? ayo bilang." Megi menggoyang-goyangkan lengan tangan Sean.


Sementara Sean hanya tak peduli, ia masih berjalan melangkahkan kakinya keluar dari mall.


"Kakak ayo bilang, ayo!" Megi menarik tangan Sean. Menghentikan langkah Sean.


"Ayo bilang, bilang ih." bujuk Megi sambil menatap wajah Sean.


"Ayo bilang, kak. Apa?" Megi memainkan jarinya di bawah dagu Sean.


"Bilang ih." Kembali Megi memainkan jarinya, seperti mengelitik seekor anak kucing.


"Mau dengar gue ngomong apa?" tanya Sean kembali.


"Apa perbedaan aku sama mereka?"


Sean hanya tersenyum, kembali menarik kepala Megi untuk di peluk, ia mencium pucuk kepala Megi.


"Masih gak tahu juga apa bedanya?" tanya Sean datar.


"Ih, apa susahnya di bilang kak?" tanya Megi sambil menarik-narik ujung kemeja Sean.


"Ada beberapa hal yang gak harus elu katakan, tapi cukup dirasakan Megi." kembali Sean melangkahkan kakinya menjauh dari perkarangan mall.


"Kak, tapi aku maunya kakak juga bilang."


"Kak!" panggil Megi sedikit berteriak.


"Sudah, ayo pulang." jawab Sean semakin meninggalkan Megi di belakang.


Dengan sedikit berlari, Megi mengejar langkah kaki Sean. Megi menarik pergelangan tangan Sean kasar. Ia membalikan badan Sean agar melihat kearahnya.


"Bilang dulu, aku gak mau pulang kalau kakak gak mau bilang!" ancam Megi pada Sean.


"Gak mau pulang, yaudah!" Sean membalikan badannya, berjalan menjauh dari Megi.


Baru beberapa langkah Sean berjalan, Megi memeluk badan Sean dari belakang. Kembali menghentikan langkah kaki Sean.


"Aku gak akan lepasin kakak, sebelum kakak bilang apa perbedaannya." ucap Megi sambil mengencangkan pelukannya.


Sean hanya melepaskan senyumnya, menikmati debaran jantung Megi yang terasa menendang kulitnya. Ada nada yang sama di dalam dadanya, saat mereka berjalan bersama.


"Lu gak sadar Meg, saat ini, kapanpun lu mau, kapanpun lu ingin. Elu adalah satu-satunya gadis yang bisa nyentuh gue." ucap Sean lembut.


"Lu tahu kan gue gak suka di sentuh, tapi saat sama elu, gua selalu ingin menyentuh elu." sambungnya lembut.

__ADS_1


"Elu adalah batasan yang selama ini gak pernah bisa di capai, Megi."


__ADS_2