Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
30


__ADS_3

"Bukannya elu yang bilang, Papa gue tadi sugar dady, kenapa sekarang elu nanya balik?"


Shenina menghela nafasnya dan mengusap wajahnya kasar.


"Sudahlah, ayo pulang," ajak Shenina mengalah.


Sementara Evgen masih bertanya-tanya, ia masih bingung dengan makna sugar dady yang sesungguhnya.


Evgen menuruni lift dan berjalan cepat menuju loby. Sebelum keluar, Evgen memberhentikan langkahnya di konter resepsionis.


Setelah menunggu beberapa lama, Evgen keluar dengan sebuah kantungan di tangannya.


Evgen langsung memberikan kantungan itu ke tangan Shenina.


"Apa ini?" Tanya Shenina lembut.


"Buat adik elu," ucap Evgen lembut.


Shenina membuka kantungan itu, matanya membulat saat melihat isinya. Makanan yang ia makan tadi dengan Evgen, beserta makanan penutupnya juga ada.


"Evgen ini," Shenina mendongakan kepalanya, namun Evgen sudah tidak ada lagi disebelahnya.


Evgen melambaikan tangannya sambil terus berjalan menjauh.


Shenina tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Aneh sekali anak itu, kadang sifatnya nyebelin, kadang juga sangat baik." Ucap Shenina dengan tersenyum tipis.


Shenina menghela nafasnya dan berjalan berlawan arah dengan Evgen. Kembali menuju rumah sederhana miliknya.


***


Neha berlari kesebelah rumahnya saat mendengar suara berisik dari beberapa alat kerja.


Neha mengernyitkan dahinya, saat halaman luas disebelah rumahnya dikerjakan oleh beberapa alat kerja berat.


Padahal ia sedang mengumpulkan uang untuk membayari tanah itu. Tapi sepertinya tanah itu sudah milik orang lain.


Neha berjalan kesalah satu pekerja itu dan menyerahkan selembar kertas.


(Apa yang terjadi? kenapa berisik sekali?)


Pekerja itu melihat kearah Neha dan tersenyum.


"Maaf Nona, disini akan di buat kolam teratai. Kami akan pergi kalau sudah selesai. Mohon maaf kalau berisik ya," ucap pekerja itu lembut.


Neha memainkan tangannya, bertanya siapa pemilik kolam teratai itu.


Pekerja itu hanya mengerdikan bahu dan menggelengkan kepalanya.


"Kolam teratai ini punya aku,"


Neha langsung memalingkan kepalanya, ia melihat Rezi yang berjalan mendekati kearahnya.


Neha langsung pergi menjauh saat melihat Rezi ada disini. Ia berjalan cepat dan memasuki rumahnya.


Tidak tahu lagi harus bagaimana mengusir Rezi dari perkarangan rumahnya. Rezi selalu saja mencari alasan untuk bisa bertemu dengan Neha.


Neha membersihkan kebunnya, berusaha untuk mencari kesibukan dan mengacuhkan Rezi.


Namun Rezi masih tetap berada disana, walau hari mulai senja, Rezi masih sibuk dengan pembuatan kolam teratai itu.


Sesekali Neha mencuri pandangannya kearah Rezi, Rezi hanya tersenyum saat mata Neha teralih padanya.


Dengan gaya yang sedikit angkuh, Neha memalingkan pandangannya. Bukannya kesal, Rezi hanya tertawa.

__ADS_1


Tak peduli sekeras apa Neha menolaknya, ia akan berusaha lebih keras lagi untuk meluluhkan hati Neha.


Neha menghela nafasnya dan menghapus buliran keringat didahinya. Neha melihat langit yang mulai berubah warna menjadi kejinggaan.


Namun Rezi masih sibuk dengan kolam yang ia buat, walaupun saat ini para pekerjanya sudah pulang.


Neha kembali melihat kearah Rezi, walaupun ia berusaha untuk acuh dengan keberadaan Rezi, tapi ia tetap tidak bisa untuk membiarkan Rezi sendiri.


Rezi mondar mandir, meletakan bibit-bibit bunga teratai di kolam barunya. Karena tanah yang licin, tanpa sengaja Rezi terpeleset dan tercebur kedalam kolam.


Neha tersenyum dengan lebar, Neha menggelengkan kepalanya dan berjalan kesisi kolam.


Neha membungkukan badannya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Rezi.


Rezi bangkit dari kolam dengan melihat seluruh pakaiannya yang basah. Sebuah tangan terulur tepat didepannya.


Rezi mendongakan wajahnya, melihat Neha yang tersenyum dengan lembut.


Rezi meraih tangan Neha dan naik dari uluran tangan Neha.


Karena berat badan Rezi yang tak seimbang, bukannya Rezi yang naik, tapi malah Neha yang ikut tercebur.


Neha berdiri dengan cepat, mengambil nafasnya dengan memburu. Neha mengusap wajahnya yang basah karena air.


Setelah pandangannya terlihat jelas, Neha memukul badan Rezi dengan membabi buta. Ia kesal karena harus mandi air kolam bersama dengan Rezi.


"Ha ha ha," Rezi memecahkan tawanya saat melihat wajah Neha.


Ia tidak berniat untuk menarik Neha, siapa sangka kalau mereka malah jadi basah berdua.


Rezi mengangkat badan Neha untuk naik keatas, tanpa memikirkan Rezi lagi. Neha langsung berjalan kembali kerumahnya.


"Neha tunggu! aku numpang mandi ya," ucap Rezi sambil mengikuti langkah Neha.


Angin berhembus pelan, menyapa tubuh dingin Rezi. Seketika tubuh Rezi mengiggil, angin itu membuat suasana semakin dingin saja.


"Neha, aku tidak percaya kamu sekejam ini," ucap Rezi, menahan kedinginan.


Sebuah handuk terlempar kewajah Rezi, dengan sedikit kesal Rezi menurunkan handuknya.


Matanya langsung tertuju pada Neha yang sudah berganti pakaian, namun rambut cokelatnya itu masih setengah basah.


Neha menempelkan kertas di dahi Rezi. Lalu ia berjalan dengan cepat memasuki rumahnya.


(Cepat masuk, aku tidak akan berbaik hati dua kali.)


Rezi tersenyum dan langsung masuk, mengikuti langkah kaki Neha.


Sambil menunggu Rezi mandi, Neha menyeduh teh dan menyiapkan beberapa makanan untuk makan malam mereka.


Menyusun dengan rapi diatas meja makan dengan sebuah vas berisi bunga tulip berwarna ungu.


Rezi keluar dari kamar mandi, ia langsung berjalan mendekati Neha yang masih sibuk di dapur.


"Mau aku bantu?" Tanya Rezi sambil menarik sebuah kursi dimeja makan.


Neha hanya menggelengkan kepalanya dan mengantarkan piring terkahir keatas meja.


"Neha, kamu tahu gak sih. Kita seperti suami istri yang sedang makan malam berdua," goda Rezi lembut.


Neha mengalihkan tatapan matanya, memandang Rezi dengan tajam.


"Baiklah, aku akan diam," ucap Rezi seakan mengerti maksud dari tatapan mata Neha.


Rezi melihat bunga tulip didalam vas itu dengan sedikit bingung. Selama ia membantu Neha di kebun. Bunga yang selalu Neha letakan didalam vasnya selalu bunga tulip.

__ADS_1


"Neha," panggil Rezi lembut.


Neha mengalihkan pandangan matanya.


"Apa makna dari bunga tulip ungu ini?"


Neha hanya mengerdikan bahunya, ia mulai menarik kursi di depan Rezi dan menyendoki makanan.


Rezi menghela nafasnya dan ikut memakan masakan Neha, melihat Neha yang asyik makan, seperti tidak merasakan ada ia disini.


Rezi tidak membuka suaranya, bahkan sampai selesai makan, Neha masih acuh terhadap kehadiran Rezi.


Selesai makan, Neha membereskan piring makanan tanpa melihat Rezi sedikitpun.


Sementara Rezi memperhatikan setiap gerakan Neha. Walaupun ia kesal dengan sikap acuh Neha, ia sama sekali tidak bisa marah.


Rezi meraih ranselnya dan bangkit perlahan.


"Neha aku pulang ya!" Pamit Rezi lembut.


Neha tidak mengangguk dan juga melihat kearah Rezi. Ia masih sibuk dengan piring yang ia cuci.


Melihat sikap acuh Neha, Rezi kembali menghela nafasnya dan berjalan pelan menuju pintu.


Rezi membalikan badannya, melihat Neha sekali lagi. Namun Neha masih terus terfokus pada piring-piringnya.


Rezi membanting pintu rumah Neha dan melepaskan ranselnya. Berjalan dengan tergesa menuju dapur Neha.


Rezi menarik kedua jemari Neha, membalikan badan Neha dan melingkari pinggang Neha.


"Kenapa? kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini, Neha?" Tanya Rezi kesal.


Neha mendorong dada Rezi menggunakan kedua lengan tangannya. Namun bukannya melepaskan, Rezi malah menempelkan badan Neha keperutnya.


"Aku hanya jatuh cinta sekali, dan itu hanya padamu. Tapi kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini?" Tanya Rezi ketus.


Neha memainkan tangannya dengan cepat, berusaha membuat Rezi mengerti oleh ucapannya.


"Aku gak mau mengerti, jika yang kamu ucapkan hanya penolakan dan penolakan terus," ucap Rezi sedikit memaksa.


"Aku gak percaya, aku gak percaya jika kamu tidak ada rasa sama aku, Neha," ucap Rezi sedikit keras.


Plaaak,


Neha menampar pipi Rezi sedikit keras. Karena teriakan Rezi, refleks tangan Neha melayang ke pipi mulus Rezi.


Perlahan pelukan tangan Rezi melonggar, ia melepaskan Neha dari dalam pelukannya.


Dengan cepat Neha membalikan badannya dan kembali pada kegiatannya.


Rezi masih terdiam, ia masih mencerna perlakuan Neha padanya.


Terkadang Neha sangat lembut, tapi Neha bisa juga menjadi sangat kasar. Sungguh, semua perlakuan Neha membuat ia bimbang.


"Neha, bagaimana perasaanmu padaku? sebenarnya bagaimana perasaamu padaku selama ini? benarkah kamu tidak pernah menyukaiku?" tanya Rezi lembut.


Seketika gerakan tangan Neha yang sedang mencuci gelas terhenti. Bohong jika ia tidak menyukai Rezi, jelas ia sangat nyaman saat berada disamping Rezi.


Namun perbedaan dirinya dengan Rezi sangat terlihat. Ia bukan gadis yang pantas untuk dicintai Rezi.


Neha menundukan pandangannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Rezi melepaskan senyum getirnya dan membalik badan Neha kembali. Mendekap badan Neha lebih erat dari sebelumnya.


Rezi meraih sebelah pipi Neha dan mencium bibir Neha secara paksa. Seketika mata Neha terbuka dengan sangat lebar.

__ADS_1


__ADS_2