
Megi mondar mandir di taman hiburan itu, mencari sekali lagi dengan seksama.
"Kak Mika akan murka, bodoh banget sih Megi, ah..." Maki Megi pada dirinya sendiri.
Mika menutup teleponnya langsung saat mendengar berita ini. Megi menjadi kelimpungan tak karuan, di sekanya air mata yang deras mengalir sedari tadi.
"Megi." Sean berlari mendekati Megi.
Dengan mengambil nafasnya ia berusaha tenang dengan wajah kepanikannya.
"Kak ... Kak aku minta maaf kak." ucap Megi sambil menangis tergugu.
"Yaudah kita cari dulu ya. Jangan nangis." ucap Sean lembut.
Megi dan Sean mencari keliling taman, Megi mengikuti langkah Sean yang kadang sedikit berlari mencari anaknya.
Beberapa kali Sean berhenti, melihat ke sekeliling wahana permainan. Mencari putra semata wayangnya yang hilang.
Sean menghela nafasnya dan memegang sudut dahinya. Menarik nafasnya yang sedikit lelah karena berlari.
"Kak, aku minta maaf. Aku gak tahu kemana Aya sama Rezi." ucap Megi dengan menghapus air matanya yang terus mengalir karena rasa bersalah dan juga ketakutan.
"Sudahlah Megi, jangan nangis dulu. Cari lagi ayo." Sean kembali belari.
Kali ini langkah kaki Sean berlari kebukit yang ada di dekat taman hiburan itu. Mendaki bukit yang lumayan tinggi. Walaupun lelah Megi hanya berlari mengikuti langkah kaki Sean.
Sean menghentikan langkahnya di puncak bukit. Menarik nafasnya yang terengah karena berlari. Sean membungkukkan badannya sambil membuang letih.
"Kak kok kesini sih?" tanya Megi bingung.
Sean hanya merentangan telapak tangannya, ia belum sanggup berbicara karena lelah habis berlari. Sean sedikit menyengir karena kelelahan.
"Megi." panggil Sean lembut.
"Iya." Megi memalingkan wajahnya ke Sean.
"Duìbùqǐ." (Maaf) ucap Sean kaku.
"Ah? kok kakak yang minta maaf sih?"
Sean mengeluarkan ponselnya, melihat pesan yang di kirimkan oleh Mika.
"Megi, Wǒ chéngrèn, wǒ cuòle." (Aku mengakui, aku salah.) ucap Sean dengan sedikit menaiki alis matanya.
Megi melepaskan tawanya mendengar logat Sean yang kaku berbicara dalam bahasa mandarin.
"Kakak ngomong apaan sih?" tanya Megi dengan tertawa.
"Ah ... Gue gak tahu, tapi Mika nulis begini." Sean menunjukan layar ponselnya ke arah Megi.
Megi membaca tulisan yang di kirim oleh Mika. Bibirnya tersenyum, dia mengalihkan pandangannya kearah Sean.
"Jadi kakak ngaku salah karena di suruh kak Mika?" tanya Megi sedikit kecewa.
"Gue gak tahu apa yang di tulis sama Mika, tapi yang gue mau tunjukin, itu."
Sean menunjuk kearah samping, melihat luasnya kota dari puncak bukit. Megi mengalihkan pandangannya, melihat apa yang ingin di tunjukan oleh Sean.
Sean mengancungkan satu jarinya, kemudian menjadi dua, Megi menaiki alisnya, bingung dengan yang di lakukan Sean. Saat Sean mengancungkan tiga jarinya, lalu...
Duuuuaaarrr...
Suara kembang api yang memenuhi langit hitam Beijing. Seketika langit hitam itu berhiaskan warna warni dari cahaya ribuan kembang api. Mata Megi membelalak lebar, mulutnya menganga dengan senyuman, tak percaya dengan pandangan yang ia lihat.
Sean hanya tersenyum memandangi wajah Megi yang saat ini sedang takjub pada kejutan yang ia buat. Mata Megi terus memandang dengan senyum yang kian melebar. Setelah beberapa lama Megi membuang pandangannya ke Sean.
__ADS_1
"Gue izinkan." ucap Sean saat Megi melihat kearahnya.
"Gue izinkan elu jadi ibu sambungnya Rezi." Sean berlutut dihadapan Megi.
Meraih kedua tangan Megi dan memakaikan gelang di salah satu pergelangan tangan Megi. Gelang yang senada dengan kalung Megi, gelang yang selalu Sean bawa kemanapun ia pergi.
"Wǒ ài nǐ." (Aku cinta kamu.) ucap Sean lembut.
"Gak usah pake bahasa asing, aku mau kakak bilang dengan jelas. Karena sekarang aku gak suka berbelit-belit." jawab Megi meledek.
Sean tersenyum dan meraih kedua jemari Megi. Memandang wajah Megi dengan lekat.
"Megi, menikahlah denganku, Lagi..." ucap Sean sambil tersenyum.
Megi hanya mengumbarkan senyum terbaiknya, di tengah riuh suara ledakan kembang api itu, ia hanya mendengarkan perkataan Sean.
Megi mendudukan badannya diatas pangkuan Sean. Ia melingkari tangannya dikedua bahu Sean. Perlahan wajahnya mulai mendekat, namun tangan Sean dengan cepat menutup mulut Megi.
"Jangan kebiasan nyosor." ucap Sean ketus.
Megi hanya tersenyum, setelah bertahun tahun pun Sean tak berubah. Sean meraih kepala Megi dan mengecup dahinya lembut.
"Aku mau, kak. Aku mau menikah dengan kakak. Lagi..."
"Apa sekarang elu mau nerima lamaran gue, karena gue ngelamar elu dengan cara yang benar?"
"Ha ha ha. Tapi aku lebih suka lamaran ekstrim kakak. Lamaran di tengah puing pecahan kaca." ledek Megi, mengingat bagaimana dulu Sean melamarnya.
Sean tersenyum dan memeluk badan Megi yang saat ini sedang duduk diatas satu kakinya. Ada rasa rindu yang begitu mendalam ia rasakan saat ini. Rasa yang tak pernah memudar selama apapun mereka terpisah.
"Jadi kenapa kakak kemarin nolak aku?" tanya Megi meningat kejadian kemarin. Sean meleraikan pelukannya dan meraih wajah Megi.
"Padahal kalau gue jumpa lagi sama elu, gue pingin, gue yang ngejar elu. Tapi gue selalu kalah cepet sama elu."
"Terus kenapa kemarin kakak judes banget sama aku?"
"Menurut elu? pikir dong, memang lagi di Macau, tapi lu cium gue di tengah jalan."
"Aku cuma gak mau kehilangan kakak lagi."
"Tapi apa seperti itu caranya? kita ini orang apa, Megi?"
"Maaf, kak." ucap Megi bersalah.
"Gue gak nyangka Megi, kita kembali di pertemukan. Elu padahal tinggal di kota lain, dan gue dari negara yang lain. Siapa sangka Tuhan mempertemukan kita di Macau."
"Bukannya kakak bilang apa yang di rencanakan Tuhan akan lebih baik, ya?"
Sean mengangguk pelan, mengelus pipi Megi lembut.
"Tuhan mengirim gue ke Macau untuk menyelesaikan bisnis gue, ternyata ada hal lain juga yang harus gue selesain disini."
Megi kembali mengumbar senyumnya, menampilkan lesung yang ia miliki.
"Gue rindu banget sama ini, Meg." jari Sean menyentuh lesung di sudut bibir Megi.
"Aku juga rindu sama rambut panjang Kakak. Tapi kok udah gak panjang lagi sih?" tanya Megi manja.
"Gue kan udah jadi Papa, sekarang." jawab Sean dengan mengacak rambut.
"Megi, lu sama Mika ngomong apa tadi sore?" tanya Sean kembali.
"Ngomong apa?" tanya Megi bingung.
"Gue lihat lu bicara sama Mika dengan sedikit keras. Memang Mika bilang apa?"
__ADS_1
"Kapan?" tanya Megi memutar bola matanya mengingat-ingat.
"Tadi sore, sebelum Mika pergi ke rumah sakit."
"Oh, yang itu." jawab Megi pasrah. Sesaat ia tersadar dan melihat wajah Sean seketika.
"Kakak kok tahu?" tanya Megi terkejut.
"Menurut lu?" Sean memainkan kedua alis matanya
"Kakak ada di rumah kak Mika juga ya?"
"Anak nya aja ada, masa Papa nya enggak sih?"
"Tapi bukannya kakak seharusnya ada di Macau?"
"Menurut lu? gue cuma nitip Rezi harus jauh-jauh ke Beijing gitu? kenapa gak langsung balik ke Indonesia aja?"
"Pantas saja, kak Mika tumben banget ngomong sama aku pake bahasa Mandarin, eh rupanya karena ada kakak disitu." Megi tertawa puas melihat Sean.
"Ngomong apaan sih? penasaran gue, sampek segitunya elu ngelawan Mika?"
"Au ah, tanya aja sama kak Mika, kan kalian sekongkol buat godain aku."
Megi kembali tertawa puas, kali ini Sean bisa ia bodohi.
Sean hanya memandang wajah Megi yang sedang tertawa di depannya saat ini. Tak menyangka bisa melihat senyum itu kembali menghiasi hidupnya.
"Tapi kalau lu nikah sama gue, gimana perusahaan elu, Meg? lu baru jalankan bisnis itu kan?" ucap Sean menyadarkan Megi.
Seketika Megi bangkit dari atas pangkuan Sean, ia berjalan ke sisi bukit yang lainnya.
"Lu tau kan gue gak suka kalau bini gue kerja. Apa lagi perusahaan elu ada di sini, gue gak bisa tinggal disini." sambung Sean.
Megi membuang pandangannya ke Sean. Matanya menatap kosong.
"Sebelum ketemu kakak disini, buat aku kota ini hanyalah sebuah kekosongan, Kak. Aku tak pernah benar-benar hidup disini."
"Tapi elu udah ngabisin banyak waktu untuk meraih mimpi ini, apa elu gak nyesel suatu saat nanti? perusahaan itu di bangung atas kerja keras lu sendiri."
Megi tersenyum dan kembali menatap hamparan luas pemandangan malam kota Beijing.
"Saat seseorang ingin meraih sebuah impian, maka orang itu harus mengorbankan impian yang lain, kak." Megi membalikan badannya dan kembali melihat Sean yang berada lima meter di belakangnya.
"Saat ini impian aku adalah meraih surga bersamamu, kak."
Sean ingin tersenyum mendengar ucapan Megi, namun ia menahannya. Perkataan Megi sudah meluluh lantahkan kekuatan hatinya, seketika benteng yang ia bangun untuk merelakan Megi, hancur tak bersisa.
Sean berjalan mendekati Megi, menarik badan Megi agar berada dalam pelukannya. Tangannya mengelus kepala Megi yang saat ini tertutup topi rajut musim dingin.
"Lalu perusahaan elu bagaimana?"
"Biar itu jadi urusan aku kak."
Megi kembali memeluk badan Sean, lalu ia tersadar dan mendorong badan Sean kuat. Mereka berdua terlalu asyik, sampai lupa sama dua anak yang masih menghilang itu.
"Aya ... Sama Rezi gimana kak, ayo cari lagi." Megi dengan cepat berlari.
Sean kembali memeluk Megi dari belakang, melingkari bahu Megi dengan tangannya.
"Aya sama Rezi?" tanya Sean dengan mengeratkan pelukannya.
"Mungkin lagi minum cokelat panas dirumah Mika." sambungnya dengan senyum tipis.
"Apa?" ucap Megi terkejut.
__ADS_1