Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 79


__ADS_3

Suara bersik dari seberang villa menganggu ketenangan mimpi indah Megi. Dengan dahi yang mengernyit, Megi menguap dan merentangkan badannya.


Melihat ke sisi luar jendela yang sudah terang benderang. Megi menyingkap kain gorden kamarnya, matanya langsung membulat sempurna saat melihat suami tercintanya sedang asyik bermain voli pantai bersama para anak buahnya.


Megi berlari dengan cepat, tak percaya Sean bisa sesantai ini. Bermain dengan para anak buahnya.


Farrel melemparkan sebotol air mineral, dengan sigap Sean menangkap botol air mineral itu. Sean meneguk sedikit, lalu mencuci mukanya dengan sisa air.


Terdengar suara beberapa jeritan pengunjung pantai wanita yang histeris melihat wajah basah milik Sean.


"Ayo lanjut!" perintah Sean pada lawannya di seberang net.


Selama pertandingan, mata Megi memandang Sean dengan lekat. Badan tegap Sean yang sedang berolahraga sangat menakjubkan. Dengan celana pendek dan kaus oblong, rambut yang terurai. Sering kali helaian rambut Sean menyapu muka, dan itu membuat pesona Sean semakin mematikan.


Setelah pertandingan selesai, Sean mengacak rambutnya yang sedikit basah, berjalan mendekat dan duduk di sebelah Megi. Tangannya membuka penutup botol air mineral dan menenggaknya kembali.


Megi memandang Sean yang duduk di dekatnya, sedetikpun ia tak ingin melewati pemandangan langkah ini.


"Semua! kita sarapan ayo." ajak Sean pada anak buahnya.


Sean membersihkan pakaiannya dan bangkit, sementara Megi masih terpaku, pesona Sean sungguh membuat ia lupa segala sesuatunya.


Menyadari istri kecilnya yang masih duduk diam di atas pasir. Sean kembali berjalan mendekati Megi.


"Meg, lu gak ikut sarapan?"


Megi tersentak dan tersadar, ia mengalihkan pandangannya ke Sean yang saat ini berdiri di hadapannya.


"Gendong!" pinta Megi manja, ia mengulurkan kedua tangannya.


"Cih ... Jalan lah, punya kaki juga." Sean membalikan badannya dan kembali meminum air di tangannya sambil berjalan menjauh.


Mendengar ucapan Sean, Megi langsung bangkit dan berlari mengejar langkah kaki Sean. Megi melompat dan menemplok di punggung badan Sean.


Seketika Sean tersungkur karena pergerakan Megi.


"Megi, lu apa-apaan?" tanya Sean kesal.


"Gendong." pinta Megi manja.


"Ogah ... Jalan sendiri!" Sean kembali bangkit dan membersihkan pasir yang lengket di belakangnya.


Sementara Megi hanya mengerucutkan bibirnya panjang.


"Aku gak mau jalan kalau kakak gak mau gendong!" ancam Megi sambil menyilangkan kedua tangannya.


Sean menghentikan langkahnya dan membalikan badannya, melihat Megi yang masih menempel mesra di atas pasir.


"Gak mau jalan?" tanya Sean kembali.


Megi menggelengkan kepalanya dan mengerucut panjang. Sean mengambil kacamata hitamnya dan memakainya dengan santai.


"Yaudah!" jawab Sean cuek. Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju cafe di seberang jalan.


"Ih ... Kakak!" teriak Megi lantang.


***


Sean memainkan batang rokok di antara dua jari tangannya. Menjatuhkan abu dari batang rokok yang baru ia hisap sekali.

__ADS_1


"Kak." panggil Megi lembut.


Sean hanya menatap Megi dengan ujung matanya.


"Tumben kakak olahraga pagi, santai banget." ucap Megi dengan menyedot air berwarna oranye di gelasnya.


"Kakak lagi banyak waktu luang ya? kita jalan ya!" pinta Megi.


"Mau jalan kemana?" tanya Sean datar.


"Kemana aja, yang penting jalan, ya!"


"Oke." jawab Sean datar.


Megi menggulum senyum manisnya, ia bahagia setengah mati saat Sean meng-iyakan ajakannya.


Sementara anak buahnya sudah mengeluarkan keringat dingin saat Sean mengajak mereka sarapan di satu meja yang sama.


Bagaimana tidak, mereka semua paham sifat Sean. Semakin dingin dan santai sikap yang di tunjukan Sean, maka semakin matang persiapan penyerangan yang akan ia lakukan.


Apalagi dengan raut wajah Sean yang begitu datar dan mengerihkan, bisa di pastikan rencana yang ia susun sudah benar-benar matang.


Ting ...


Sebuah notifikasi masuk kedalam ponsel Farrel, Sean membuang pandangannya ke arah Farrel.


"Bos, sudah ada." ucap Farrel spontan.


Sean tersenyum sinis, ia memandang Megi di sebelahnya dengan sangat tajam. Sementara Megi masih asyik makan tanpa tahu tatapan lelaki yang saat ini mengelilinginya.


"Megi, kalau udah siap ganti baju gih. Kita jalan!"


"Enggak, tahun depan aja, nunggu air laut warna nya biru." Sean bangkit dan langsung meninggalkan cafe.


"Eh ... Kak, kan memang air laut warnanya biru." jawab Megi mengikuti langkah kaki Sean yang menjauh dari cafe.


Huft ... Seketika helaan nafas terdengar dari para anak buahnya Sean, saat Sean dan Megi meninggalkan mereka berdua.


"Pak Farrel, kok Bos santai banget ya? saya jadi ngerih." ucap Kenan bergidik, ngerih.


"Iya, Pak. Pandangan matanya itu loh, tajam banget, di tambah senyumnya itu. Haduh, sepertinya ada perang besar ini." sambung Nino.


"Saya juga ngerih saat Bos Sean bersikap sesantai ini. Ini artinya penyerangan akan besar-besaran. Semakin tenang Bos bersikap, maka semakin sadis rencana yang ia buat." Farrel menghela nafasnya dan bangkit dari kursinya.


"Persiapkan diri kalian!" ucapnya sebelum berlalu meninggalkan anak buahnya.


***


Megi memainkan genggaman tangannya saat berjalan memutari lantai kilat mall besar di barat kota. Sudah dua jam mereka memutari setiap lantai disini. Namun Megi belum menentukan mau kemana.


"Gue lelah Megi, lu sebenarnya mau cari apa disini? di ajakin main game juga gak mau."


Megi hanya menyeringai kuda, ia menggoyangkan genggaman tangan mereka dengan manja.


"Aku sebenarnya bosan kak, aku gak suka kesini. Kita pergi ke tempat lain yuk." ajak Megi manja.


"Eh, lu gak beli banyak baju kan kemarin? sekarang lu belanja baju aja sana, gue mau ke cafe di sebelah."


"Yaudah, aku ikut ya."

__ADS_1


"Yakin lu mau ikut? gue mau meeting sama client loh."


"Aish, aku udah tahu, kakak pasti kesini, gak mungkin gak buat kerja." Megi melepaskan genggaman tangannya dengan cepat.


Ia melangkahkan kakinya menjauh segera.


"Hem, merajuk lah itu." ucap Sean saat melihat punggung badan Megi berlalu.


Bersamaan dengan notifikasi ponsel Sean berbunyi, dengan cepat Sean membuka isi pesan yang di kirim Farrel. Tanpa membuang waktunya lagi, Sean menuju lokasi yang di kirimkan Farrel padanya.


Dengan mengukir senyum terbaiknya, Sean menyapa dua orang client yang sudah berbincang dengan Farrel terlebih dahulu.


Membicarakan rancangan yang akan mereka kerjakan. Selama dua jam lebih percakapan mulai meruncing panas.


"Kalau gitu kerja sama kita, berakhir!" bentak client itu di hadapan Sean.


Dengan gaya santai Sean hanya tersenyum dan menggeleng pasrah. Ia menggoyangkan sebelah kakinya yang ia naikan keatas pahanya.


"Saya tahu kamu anak yang pintar Sean, pak Rayen beruntung kamu memiliki anak sepintar kamu, tapi sayang kamu brutal." ucap satu client yang lainnya.


"Yakin mau putus hubungan? baiklah, kita akhiri saja." ucap Sean dengan santai.


"Farrel, berikan kontrak pembatalan kerja sama kita. Jangan biarkan sampah-sampah ini menjalin hubungan lagi dengan perusahaan kita kedepannya."


"Huh, sombong sekali kamu anak muda, kita lihat saja bagaimana Reaksi Papa kamu mendengar kabar ini!" ancam lelaki bertubuh gempal itu dengan sedikit emosi.


Mereka berdua keluar dengan emosi yang terbakar. Sementara Sean hanya tersenyum gembira, merentangkan badannya yang terasa lelah.


"Umpan kita dimakan dengan sangat lahap, aku tak tahu mereka selapar itu Farrel." ucap Sean senang.


"Tapi Bos, ada masalah lain." ucap Farrel sedikit gugup.


"Maksud elu?"


"Pemutusan besar-besaran terjadi pada client yang di kerahkan ke selatan kota Bos, sepertinya mereka sudah menebak rencana kita." jawab Farrel cepat.


"Ternyata keledai kita sudah mulai mengikuti permainan ini. Farrel, kasih tahu anak buah elu, kita akan mengakuisisi perusahaan dalam 2 hari. Mereka harus bekerja ekstra sepertinya."


"Tapi ini agak berbahaya, Bos."


"Kita lihat saja, siapa yang lebih dulu menginjak tanah."


"Baiklah kalau gitu, saya berangkat sekarang, Bos."


"Hem."


Sean menghela nafasnya dan mengusap wajahnya kasar. Saat kaki Sean ingin melangkah, jemari Sean di tarik kuat.


"Kak." panggil Megi lembut.


Dengan sedikit terkejut, Sean berusaha untuk kembali tenang.


"Megi elu kok ada disini? elu buntuti gue ya?" tanya Sean mengalihkan perhatian.


"Aku gak buntuti kakak sama sekali, tapi aku gak sengaja kesini karena haus."


"Oh yaudah, ayo kita jalan lagi." tarik Sean.


Namun Megi masih berdiri terpaku, tak ingin melangkah pergi. Sesaat Sean mengalihkan pandangannya, menatap Megi.

__ADS_1


"Kakak, apakah kakak selama ini ngejalani bisnis dengan dunia hitam?" tanya Megi takut.


__ADS_2