
Braaakkk... Suara daun pintu di tendang keras. Membuka secara paksa dan membuat daun pintu jebol separuhnya.
Sontak membuat pria paruh baya itu menunda kegiatannya.
"Siapa kamu?" Tanya nya saat melihat Sean di depan pintu.
Tanpa bicara, Sean hanya berjalan melewatinya. Mendekati Megi yang meringsut di sudut kamar.
Mendengar samar ada keributan, Megi membenamkan wajahnya keatas lututnya.
Mata Sean memerah, saat ia lihat Megi dengan keadaan yang sangat buruk. Bajunya robek, kulitnya memerah dan beberapa bekas lebam terlihat jelas di kulit putih Megi.
Sean menarik lelaki gempal itu, mencengkram kerah bajunya dan menempelkan badan lelaki itu di dinding. Sedikit mengangkat pria gempal di hadapannya.
Rahangnya mengatup keras, gretakan di antara kedua giginya terdengar jelas.
"Lu udah berurusan dengan orang yang salah!" ucap Sean keras.
Tangannya terus menekan cengkraman kerah baju lelaki paruh baya itu. Matanya mulai berembun karena amarah yang meledak dari dalam dirinya.
"Uhuuk... Kamu... uhuk..." Lelaki itu terbata untuk mengucapkan kalimatnya.
Sean menyadari lelaki itu akan mati jika ia bertahan seperti ini. Dengan keras ia menghempaskan lelaki itu ke lantai. Berjalan kesudut kamar untuk mendekati Megi.
Megi masih membenamkan wajahnya, tubuh mungilnya bergetar ketakutan. Menangis sesegukan, perlahan Sean mencoba untuk mendekat.
Ia berlutut di depan Megi, menumpuhkan satu dengkulnya di atas lantai. Mencoba meraih Megi, namun Megi menghindar sebelum tangan Sean menyentuh kulitnya.
"Meg, ini gue. Sean." ucapnya lembut di depan Megi.
Seperti tak mendengar, Megi masih menangis, dia terus memeluk kedua kaki yang di lipatnya erat.
"Meg, jangan takut. Angkat kepala lu, lihat, ini gue. Gue gak akan nyakiti elu."
Sean memberi ruang untuk Megi mencerna perkataannya. Miris, hatinya begitu sakit melihat keadaan gadis kecil di hadapannya. Apa yang akan ia katakan pada Mika, jika ia tahu kejadian ini.
Perlahan Megi mendongakkan kepalanya. Kembali rahang Sean mengatup keras, saat melihat dahi Megi terluka, ada bekas tamparan di pipi kirinya, dan sudut bibir yang pecah.
Sean menyadari langkah yang datang mendekat kearahnya. Di lirik dengan ujung matanya, lelaki paruh baya itu berjalan mendekat.
Dengan cepat, kaki panjang Sean menunjang lelaki gempal itu.
Lelaki paruh baya itu gelempang, kembali tersungkur di atas lantai
"Tangan mana yang lu buat untuk mukul dia?" Tanya Sean sambil memijak salah satu lengan tangan lelaki itu.
"Kiri atau kanan?" Kembali ia bertanya.
__ADS_1
Namun lelaki itu tidak sanggup menjawab karena sakit yang dirasakannya.
"Tangan mana yang mau gue lumpuhkan? Atau mau keduanya?"
Sean menaruh kedua tangannya di kantong jeansnya. Wajahnya merah padam, gretakan giginya beberapa kali terdengar.
"Ma... Maafkan a...ku, am... puni a... ku." ucap lelaki itu terbata.
"Maaf? Ampun? Haah!" Sean tersenyum sinis.
"Seharusnya lu ucapin itu sebelum datang kesini. Lu ucapin untuk hawa nafsu bejat lu itu!"
"Ahhhhh... Tolong Tuan. Ampuni aku, kasihan anak istri aku." ronta lelaki itu.
"Hahh, kasian? Seharusnya lu pikiri itu sebelum lu kesini."
Lelaki paruh baya itu kembali meraung kuat. Menahan sakit, dalam pikirnya, mungkin tangannya akan patah oleh lelaki bengis yang menyiksanya saat ini.
Megi mulai kembali tersadar karena jeritan itu, ia melihat samar Sean dengan gaya coolnya menghukum lelaki paruh baya itu. Seperti acuh, Megi hanya membuang pandangannya.
"Bos, cukup." Farrel menarik tubuh besar Sean.
Membuat pijakan Sean berpindah.
"Kalau dia mati, bahaya buat kita, Bos." Sambung Farrel, mencoba membuat Sean waras kembali.
"Akkk... Ampun Tuan." ucap lelaki itu kembali. Merintih menahan sakit.
"Mau kaki kiri atau tangan kanan yang gue patahin? atau keduanya juga gak masalah." ucap Sean.
Matanya menatap tajam, wajahnya memerah bak api menyala. Kedua tanganya masih ia masukan di dalam kantong jeansnya, tapi kakinya memijak keras. Tak memberi sedikitpun ruang buat lelaki itu bernapas.
Farrel yang melihat itu mulai panik. Tak mungkin ia melarang atasannya untuk tidak mematahkan tulang lelaki itu. Tapi jika terus di biarkan, tuan Rayen akan marah besar.
Farrel memutar cepat otaknya untuk mencari jalan keluar. Di lihatnya Megi yang masih meringsut, menangis sesegukan di sudut kamar.
"Bos, cukup. Biar ini kami yang teruskan."
"Sstttt... Ssttttt..." Sean menaruh satu jarinya di depan bibir.
Suara lelaki itu menggelegar lantang kesakitan.
Jika ia mau, ia bisa mematahkan dengan hitungan detik. Tapi itu terlalu mudah buatnya, Sean ingin lelaki itu tersiksa perlahan.
Untuk menebus perlakuannya pada Megi.
"Bos, dia bisa mati, Bos." ucap Farrel sambil menepuk pundak Sean.
__ADS_1
"Biarkan, manusia begini harus di tuntaskan dari muka bumi." Jawab Sean dengan mata yang mematikannya.
"Bos, Nona Kecil lebih butuh perhatian Bos saat ini. Ini biarkan saya selesaikan."
Sesaat Sean tersadar, pijakannya merenggang. Ia melirik kearah Megi, Megi masih menangis sesegukan. Tubuh mungilnya masih bergetar ketakutan.
Sean melepaskan pijakannya, seaat Farrel menghela nafas lega.
Sean mendekati Megi, ia membuka kemeja yang ia gunakan, menyisakan kaos ketat berwarna gelap di badan six packnya.
Ia menutupi tubuh mungil Megi dengan kemejanya. Terlihat Megi yang sedikit menghindari bersentuhan dengan dia.
"Meg, ini gue. Sean, lihat..." ucapnya sambil berlutut di hadapan Megi.
"Gak papa ya, gue peluk badan elu. Jangan takut."
Ia menarik lembut badan Megi, dengan sesegukan Megi mencoba menyadarkan pandangannya. Di tatapnya lekat wajah Sean yang saat ini sedang menggendong tubuh mungilnya.
Perlahan, pandangannya kembali jernih. Sean dengan peluh keringat di dahinya, wajahnya memerah padam. Di peluk badan besar Sean dan membenamkan wajahnya di dada Sean.
"Kak Sean." Ucapnya di selingi sesegukan.
"Gak papa. Udah gak ada apa-apa. Jangan takut, gue disini." ucap Sean mencoba menenangkan.
Sean menatap Megi yang berada di gendongannya itu sendu. Malang sekali nasib gadis kecil ini.
Ia menggendong tubuh Megi melewati koridor penginapan mewah. Lelaki paruh baya itu juga bukan orang sembarangan, ia salah satu orang yang berpengaruh di dunia bisnis.
Buat Sean itu bukan alasan, siapa saja yang berani menyentuh kulit gadis kecil ini, maka bersiaplah untuk mati.
Perlahan gendongan Sean mengendur, ia kehilangan kekuatan dari badannya. Saat ia melihat seorang wanita berjalan mendekat kearahnya.
Matanya menatap lekat.
Tangannya mulai melemas, bahkan ia berdiri juga gamblang. Wanita itu menatap Sean dengan senyum yang merekah.
Cantik, dengan tinggi semampai dan bodi yang langsing.
Pakaiannya modis, dengan jeans hitam yang melekat ketat. Rambut hitam yang panjangnya sedikit melewati bahu, terlihat berkilau.
Wajahnya lembut dan juga kalem, mirip seperti artis korea.
Hanya senyumnya mampu membuat seluruh tulang Sean melemas.
Ia menurunkan Megi dari gendongannya, sebelum tubuh Megi jatuh karena terlepas dengan sendiri.
"Hana."
__ADS_1