
Evgen membuka pintu rumahnya, mempersilahkan Seta dan Shenina masuk ke dalam.
Mata Shenina memandang kesekeliling rumah, tak bisa lepas dari pemandangan rumah mewah itu. Gaya dan arsitekturnya benar-benar terlihat seperti karakter pengusaha ternama itu.
"Evgen, ternyata rumah elu gak kalah mewah dari hotel milik papa elu ya," ucap Shenina lembut.
"Kalau elu mau, gue akan buatkan rumah yang lebih elegan di Sevilla."
"Evgen!" tekan Shenina ketus.
"Hem, baiklah. Gak ada lagi Sevilla di dunia ini," jawab Evgen malas.
Shenina hanya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya. Mengikuti langkah kaki Evgen menuju ruang makan.
Sudah ada keluarga Evgen yang menunggu mereka di sana.
Shenina melepaskan senyumnya dan berjalan menyapa kedua orang tua Evgen. Sedikit canggung, ia tidak terbiasa berhadapan dengan orang kaya seperti mereka.
"Ayo silahkan duduk!" perintah Sean lembut.
Shenina dan Seta hanya mengangguk, mengikuti perintah lelaki yang mulai menua itu.
"Jadi, nama kamu Shenina, kan?"
"Benar, Tuan," jawab Shenina cepat.
"Jangan panggil saya Tuan, kita sudah bukan atasan dan bawahan lagi, Shenina."
Shenina melirik ke arah Evgen dan tersenyum kaku. Ia bingung harus memanggil apa?
Niki menghela napasnya, baru juga acara di awal. Tetapi ia bosan duduk dalam suasana formal seperti ini.
"Seta, ini bukan acara kita. Ikut gue ke kamar yuk. Kita latihan bersama," ajak Niki.
"Tidak bisa!" tahan Evgen cepat.
"Kenapa tidak bisa? Yang mau Kakak nikahi kan kakaknya Seta, apa urusannya sama kami?"
"Seta adalah walinya Shenina, dia harus berada di sini untuk mendengarkan. Kamu! Sebaiknya diam di tempat," ucap Evgen ketus.
"Mana bisa seperti ini Kak, aku bosan berada di acara seperti ini."
"Niki!" tekan Evgen kembali.
Niki hanya bisa mengacak rambutnya dan kembali duduk dengan tenang. Mendengarkan rencana pernikahan Kakaknya tersebut.
Sementara si gadis kecil itu hanya tertunduk lesu. Memainkan makanan yang ada di dalam piringnya tanpa memakannya sedikitpun.
"Tak perlu undang banyak orang, pernikahannya cukup di masjid saja. Papa juga bisa gabungkan acara resepsi pernikahan aku dan acara pemberian nama anak kak Rezi."
"Tidak bisa, Evgen. Ini tidak adil buat Shenina," jelas Sean lembut.
"Aku gak masalah, Om. Bagaimana menurut Evgen baik, aku akan turuti."
"Kamu yakin?" tanya Sean sekali lagi.
Shenina tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya. Tidak perlu banyak orang, karena dari pihak ia juga hanya ada anak-anak panti.
Sederhana saja, karena saat ini yang terpenting bukan resepsinya, namun akadnya.
Sean menghela napasnya, memandang Evgen dan Shenina secara bergantian.
"Evgen, tidak bisakah kamu tidak kembali ke London lagi? Papa rasa ini bukan hal yang baik, kamu terburu-buru, Evgen."
"Pa, aku masih terikat kontrak di London. Aku tahu Papa sanggup bayar penaltinya kalau aku membatalkan kontrak. Tapi bisakah, Papa percaya padaku? Aku bisa melakukan semuanya dengan usahaku sendiri. Aku sudah dewasa, Pa. Aku gak akan lari atau meninggalkan tanggung jawabku lagi."
"Maksud Papa, tinggallah lebih lama, persiapkan pernikahan ini sebaik-baiknya."
"Aku sudah mempersiapkan ini semenjak tujuh tahun lalu, Pa. Apa lagi yang harus aku tunggu?"
Sean memandangi wajah Evgen dengan lekat, tak lama ia beralih pada putra pertamanya.
"Bagaimana menurut kamu, Rezi?" tanya Sean lembut.
"Menurut aku pernikahan lebih baik disegerakan, Pa. Untuk masalah resepsinya, aku gak keberatan untuk gabung dengan, Evgen. Benarkan, Neha?" tanya Rezi beralih pada wanita yang duduk di sebelahnya.
Neha tersenyum, ia mengangukan kepalanya dengan cepat.
"Baiklah, jika kamu berpikir seperti itu. Papa akan atur semuanya untukmu," ucap Sean mengalah.
__ADS_1
"Dari dulu, Papa akan mengambil keputusan setelah mendengar ucapan kak Rezi. Memang aku seburuk itu?" tanya Evgen ketus.
"Bukan buruk Evgen. Tetapi belajarlah untuk lebih tenang dan santai seperti Kakakmu. Dia ... lebih mempertimbangkan segalanya dengan matang."
Sean bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Evgen.
"Karena dia, memutuskan dengan hati. Bukan hanya sekedar emosi."
Sean menepuk pundak Evgen dan berjalan menaiki lantai atas.
"Jadi maksud Papa aku masih sering menggunakan emosi?" tanya Evgen memadam.
"Nikmati makan siang kalian. Papa masih harus kembali bekerja." Sean menaiki anak tangga dengan cepat.
Yi Wen meletakan sendoknya dengan sedikit membanting. Berlari mengikuti langkah kaki Papanya menaiki anak tangga.
Evgen menarik pergelangan tangan Yi Wen. Menaikan gadis itu ke atas pangkuannya.
"Yi Wen, kamu masih marah padaku?" tanya Evgen lembut.
Yi Wen menyilanglan kedua tangannya di dada. Membuang pandanganya ke sisi kosong.
Sedang, Niki dan Rezi menahan tawanya. Menyaksikan drama baru dalam rumah mereka.
"Ehem, sepertinya drama akan dimulai. Kak, apa Kakak mau semangkuk popcorn?" tanya Niki menggoda.
"Boleh, juga. Akan lebih seru jika ditambah dengan sekaleng soda," jawab Rezi memanasi.
Mereka tertawa berdua, melihat wajah Evgen yang mulai memerah karena menahan amarah.
"Kenapa kalian berdua tertawa?" tanya Evgen ketus.
Rezi menghela napasnya dan merentangkan badannya.
"Nothing," jawab Rezi lembut. "Sayang, ayo kita ke atas. Sepertinya anak kamu bangun," ajak Rezi pada Neha.
Neha hanya menganggukan kepalanya, tersenyum melihat Evgen dan Yi Wen yang sedang perang dingin.
"Seta, ikut gue ke kamar. Jangan ganggu drama persaingan cinta di sini."
"Maksudnya?" tanya Seta bingung.
"Shenina," panggil Megi lembut.
"Iya."
"Selamat datang di keluarga kami." Megi tersenyum dan ikut bangkit dari kursi.
Memberikan ruang agar Evgen bisa memperkenalkan Shenina pada Yi Wen.
"Kenapa sih? Sebenarnya ada masalah apa, Evgen?" tanya Shenina mulai bingung melihat tingkah keluarganya.
Evgen menghela napasnya, ia melirik ke arah gadis kecil yang ada di atas pangkuannya.
Merapikan helaian rambut ikal gadis kecil itu.
"Yi Wen, ayo kenalan sama kak Shen," ucap Evgen lembut.
Shenina tersenyum dan mengulurkan tangannya. Yi Wen membuang pandangannya, mengabaikan uluran tangan Shenina.
"Xia Yi Wen, apakah aku mengajarimu seperti itu?" tanya Evgen ketus.
Yi Wen hanya diam, ia menekuk wajahnya dengan ketat.
"Xia Yi Wen." Evgen mengelus pucuk kepala gadis itu, dibalas hempasan kuat dari tangan mungil gadis itu.
"Gūgū," panggil Evgen lembut.
Yi Wen mengurucutkan bibirnya, semakin tak suka oleh panggilan Evgen.
Evgen melirik ke arah Shenina, sementara gadis itu hanya tersenyum. Ia mulai mengerti mengapa gadis kecil itu marah.
"Měilì de mèimei (Adikku yang cantik)," panggil Evgen lembut.
Yi Wen melirik ke arah Evgen, menatap Evgen dengan sengit.
Evgen menghela napasnya, menurunkan Yi Wen dari atas pangkuannya.
Meraih kedua ujung bahu Yi Wen dan memandang wajah gadis kecil itu lekat.
__ADS_1
"Xiǎojiě, (Nona)," bujuk Evgen kembali. "Kenapa kamu marah padaku?" tanya Evgen lembut.
"Gak apa-apa!" Yi Wen melepaskan pegangan tangan Evgen dan berlari keluar rumahnya.
Evgen mengacak rambutnya, ia mulai kesal melihat tingkah adiknya itu.
Sementara Shenina tertawa dengan geli, melihat ekspresi wajah Evgen yang mulai kesal.
"Apa itu lucu menurut elu?" tanya Evgen ketus.
"Pantas saja mereka bilang ini drama cinta," ledek Shenina senang.
Evgen tersenyum sinis dan menganggukan kepalanya.
"Apa mau gue bawakan sepiring camilan untuk elu menyaksikan drama?" tanya Evgen sengit.
Shenina semakin memecahkan tawanya, baru kali ini ia melihat Evgen kesusahan menghadapi wanita.
Biasa, dia akan begitu terus terang tanpa basa-basi. Sekarang ia merasakan batunya.
"Hah, selucu itukah?" tanya Evgen geram.
"Evgen, gue tebak. Apa kalian terlilit cinta saudara?" tanya Shenina berusaha menghentikan tawanya.
"Ayolah Shenina, masalah ini serius. Yi Wen, adalah adik kesayangan gue. Gue gak tega kalau melihat dia terluka," ucap Evgen bingung.
Shenina menghentikan tawanya, melihat ke arah belakang. Memperhatikan Yi Wen yang sedang bermain dengan Nao dan Tara.
"Tenang saja, gue akan bujuk dia," ucap Shenina lembut.
"Huh, Mama saja tidak bisa membujuk dia. Apalagi elu, yang membuat dia merasa tersaingi," jawab Evgen ketus.
"Bagaimana kalau gue bisa?" tanya Shenina menantang.
"Gue akan berikan cincin berlian buat elu?"
"No, gue gak suka barang mahal."
"Terus?"
Shenina memutar bola matanya, tak lama ia melirik ke arah Evgen.
"Kalau gue bisa membujuk dia, tidak ada lagi pembahasan soal pindah warga negara, bagaimana?" tanya Shenina.
"Baik," jawab Evgen langsung. "Tapi gue gak yakin elu bisa. Elu gak tahu bagaimana karakter Yi Wen, Shen."
"Gue memang gak kenal sama karakter Yi Wen. Tapi gue dan Yi Wen itu memiliki satu kesamaan."
"Apa?"
"Kami mencintai lelaki yang sama. Karena itu gue percaya, bahwa gue bisa membujuk dia."
"Jadi--" Evgen tersenyum lembut dan mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Shenina.
"Elu sudah benar-benar mengakuinya, kalau elu itu sungguh mencintai gue?"
Shenina menyunggingkan sebelah bibirnya, melihat ekspresi Evgen yang kembali angkuh.
"Iya, gue memang mencintai elu. Tapi gue gak tergila-gila seperti elu."
"Oh." Evgen menganggukan kepalanya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Gue tahu, seumur hidup elu. Elu hanya akan menemukan gue, orang yang selalu tergila-gila sama elu. Karena di dunia ini, orang yang paling mencintai elu, adalah gue," ucap Evgen lembut.
Shenina melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah.
"Sekarang elu sudah punya keahlian buat merayu ya, Evgen."
"Benar, karena mulai saat ini. Setiap detik waktu di hidup gue, hanya akan gue habiskan untuk merayu elu."
"Kenapa?"
"Karena di dunia ini, elu hanya boleh jatuh cinta dan terus jatuh cinta sama gue saja."
Shenina tersenyum malu, kemerahan mulai muncul di kedua pipinya. Shenina mengambil tasnya dan memukul Evgen lembut.
"Dasar gombal, sudah gue mau jumpai Yi Wen dulu." Shenina bangkit dan berjalan ke arah taman belakang.
Evgen menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut.
__ADS_1
"Dasar wanita, kalau dirayu hanya akan mengatakan gombal. Padahal gue tahu, hatinya sedang berbunga-bunga saat ini."