Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
63


__ADS_3

Wanda tertawa dengan lebar, terkadang Rezi si genius dari kampus ini bisa juga di bodohi.


"Rezi, kaktus itu gak cuma satu jenis saja. Dia juga banyak jenisnya," ucap Wanda menjelaskan.


"Oh begitu, jadi yang punya teman saya yang mana?" Tanya Rezi lembut.


"Kalau dilihat dari bentuknya, itu seperti jenis kaktus tanpa duri."


"Eh ... Ada juga kaktus tanpa duri?" Tanya Rezi bingung.


"Ya ada dong, sini kita ke bagian kaktus Ariocarpus, dan kamu bisa pilih sendiri jenis kaktus yang milik temanmu," ucap Wanda berjalan ke jajaran kaktus yang lainnya.


Rezi mengernyitkan dahinya, melihat banyaknya warna bunga yang ada didalam lab tumbuhan ini.


Memang kampus ini merupakan kampus unggul dikotanya. Tidak heran juga jika lab tumbuhannya bisa lengkap dan banyak sekali jenis tanamannya.


"Baru kali ini saya tahu, kalau kaktus bisa berbunga," ucap Rezi kaget.


Wanda hanya tersenyum, melihat Rezi yang bingung dengan pemandangan yang ada dihadapannya.


"Bu, yang punya teman saya yang mana?" Tanya Rezi bingung.


"Saya juga gak tahu yang mana, masih kecil sekali dan juga sudah terlanjur busuk sih," ucap Wanda pasrah.


"Terus bagaimana?"


"Yah kamu pilih saja yang mana kamu suka, terus ambil bibitnya buat kamu tanam lagi," ucap Wanda lembut.


"Mana bisa begitu, Bu. Nanti dia bisa marah dan gak terima," jawab Rezi lemas.


Wanda kembali tersenyum dan mengambil salah satu pot kaktus yang sudah tumbuh subur.


"Ambil ini, biasa orang suka sekali dengan kaktus mountain rose ini," ucap Wanda sambil menyerahkan satu pot kaktus yang sedang tumbuh subur.


Rezi mengambilnya dan melihatnya, ia sudah kehilangan kesempatan. Mau bagaimana lagi?


"Kenapa lemas begitu? belum cukup?" Tanya Wanda kembali.


Wanda mengambil dua pot kaktus mini jenis parodia dan gymnocalycium. Memberikan kaktus yang sudah mulai berbunga itu ke tangan Rezi.


"Bawa saja, pasti temanmu akan menyukainya," ucap Wanda lembut.


Rezi mengambil dua pot itu dan memeluknya. Keluar dari lab tumbuhan dengan wajah muram.


"Ehm, Bu."


"Iya," jawab Wanda lembut.


"Saya harus bawa bunga apa ke lab tumbuhan untuk barter-nya?" Tanya Rezi lembut.


"Hem, apa ya?" Wanda mengelus sudut dagunya dan memutar bola matanya.

__ADS_1


"Lab sudah lengkap sih, kalau kamu mau bawa sesuatu ya bawa saja. Kalau tidak bawa juga gak masalah." Wanda tersenyum dan menepuk bahu Rezi.


"Saya duluan ya," pamit Wanda lembut.


Rezi menganggukan kepalanya, setelah Wanda menjauh. Ia memandangi pot-pot yang ada di dalam gendongannya dan menghela nafas.


"Kok malah jadi begini?" Lirihnya sedih.


***


Evgen turun dari tungganganya dengan gaya sombong. Ia mengacak rambutnya dan berjalan dengan santai menuju koridor sekolah.


Sebagian mata remaja wanita memandang Evgen dengan binar kagum. Terlepas dari kenakalannya, Evgen adalah lelaki yang di puja-puja remaja wanita di sekolah.


"Eh, Shen." Tahan Evgen saat Shenina melintas didepannya.


Shenina melirik kearah Evgen dan memandang Evgen dengan tatapan dingin.


"Pulang nanti, kita jadikan ke mall?" Tanya Evgen lembut.


"Terserah elu sajalah," jawab Shenina malas.


"Lu kenapa sih? ini sudah seminggu lebih. Lu masih saja dingin banget sama gue, kan bukan gue yang ada salah sama elu," ucap Evgen lembut.


Sejenak Shenina berpikir, memang bukan Evgen yang punya salah sih. Tapi perubahan suasana hatinya membuat ia malas berurusan dengan orang lain.


"Sorry," ucap Shenina lembut.


"Iya, kenapa? gak terima elu? yasudah," ucap Shenina jutek.


"Ha ha ha." Evgen menangkupkan tangannya di depan mulut, ia tertawa dengan lebar.


"Kenapa elu tertawa? kesurupan elu?" Tanya Shenina ketus.


Evgen menghela nafasnya dan meraih pucuk kepala Shenina. Evgen membungkuk dan menyamakan wajahnya dengan wajah Shenina.


Mata Shenina membulat saat melihat wajah Evgen yang berada tepat didepan matanya. Bahkan aroma parfume Evgen sangat terasa menembus penciumannya.


"Gitu dong, lu balik lagi seperti semula. Seharusnya elu tetap begini terus, jangan sampai kehilangan diri elu sendiri, saat elu terluka dan tersakiti." Evgen meraih ujung hidung Shenina dan menariknya dengan lembut.


Evgen tersenyum dengan lembut, membuat wajah angkuhnya itu terlihat sangat tampan saat dilihat dari jarak yang sangat dekat.


"Siapapun yang elu sukai, seharusnya elu gak boleh kehilangan diri elu sendiri. Walaupun ia menyakiti elu ataupun meninggalkan elu, elu ya elu. Apapun diri elu, itulah yang seharusnya elu jaga." Evgen kembali tersenyum, ia menegakan badannya dan mengacak rambut Shenina.


"Gue duluan ya," pamitnya lembut.


Sementara Shenina hanya terdiam di tempat, entah sejak kapan. Namun terkadang Evgen bisa bersikap sangat hangat.


Bahkan hangatnya sikap Evgen bisa melebihi sikap Rezi padanya. Shenina menundukan pandangannya, ia menghela nafasnya dengan sedikit berat.


Tak lama ia memalingkan pandangannya, tak sengaja melihat beberapa remaja perempuan yang merasa iri padanya.

__ADS_1


Shenina, ia tidak perlu susah payah menarik perhatian bintang sekolah. Namun ia malah sering sekali di perhatikan oleh Evgen.


Shenina kembali menghela nafasnya, ie berjalan ke kelasnya yang berbeda dengan Evgen. Mau tidak mau, jika ia dekat dengan seseorang yang populer, maka otomatis dirinya juga akan ikut populer.


***


Rezi menatap pot kaktus yang ia bawa dari lab tumbuhan. Memandangi pot itu dengan sedih, lalu ia memalingkan pandangannya menatap Neha yang sedang sibuk menyirami tanaman di kebunnya.


Rezi menghela nafasnya dan mengeluarkan pot itu. Mau tidak mau, kenyataan ini memang harus dihadapi.


Rezi meletakan pot-pot itu keatas meja. Ia menemui Neha yang masih sibuk pada bunga-bunganya.


"Neha," panggil Rezi lembut.


Neha memalingkan pandangannya dan tersenyum dengan lebar. Menampilkan jejeran giginya yang tersusun dengan rapi.


"Aku mau balikin bibit kamu," ucap Rezi lembut.


Neha tersenyum dan berjalan mendekati bibit itu. Ia langsung tersenyum saat melihat bibitnya tumbuh subur dan sudah berbunga.


Neha mengetik ponselnya dengan cepat. Mengirim pesan ke ponsel Rezi.


(Sudah tumbuh ya, ternyata berbunganya lebih cepat dari yang aku duga).


Rezi memalingkan matanya, ia melihat Neha yang masih tidak sadar dengan bibit yang sudah berganti jenis. Apa sebenarnya Wanda tahu, dan menggantinya dengan bibit yang sama.


Neha meraih pot itu dan membawanya ke jejeran kaktus di kebun miliknya.


Rezi sedikit terkejut, melihat ada beberapa kaktus dengan jenis yang sama. Namun kaktus itu sudah lebih besar dan banyak sekali tunas barunya.


'Jadi Bu Wanda tahu, dan dia memilihkan jenis kaktus yang sama?' Lirih Rezi dalam hati.


"Neha," panggil Rezi lembut.


Neha membalikan badannya dan tersenyum lembut. Ia megambil jemari Rezi dan menggenggamnya dengan erat.


Neha menarik tangan Rezi dan melingkari pinggang Rezi. Memeluk badan Rezi dengan erat.


Sebuah notifikasi pesan masuk kedalam gawai Rezi. Rezi mengeluarkan ponselnya dan membaca pesan yang masuk.


(Terima kasih Rezi sudah merawat bibit ini dengan baik, aku menerima kamu).


Neha mendongakan kepalanya, ia kembali tersenyum saat Rezi melihat kearahnya.


Sementara Rezi hanya terdiam dan menghela nafasnya. Bahkan ia tidak membalas pelukan Neha.


Antara bingung dan juga senang. Ia tidak tahu bagaimana bisa Neha tidak sadar dengan bibitnya, namun ia juga tidak tega untuk membohongi Neha.


Mau jujur juga tidak mungkin, bagaimana jika Neha marah dan kembali memutuskan untuk pergi darinya.


Semua ini membuat Rezi semakin bingung saja. Ia tidak tahu harus bagaimana mengambil langkah. Kali ini ia benar-benar pusing.

__ADS_1


__ADS_2