
Shenina memanyunkan bibirnya dan menyerahkan helm itu kembali ke arah Evgen.
"Gue gak bisa buka kaitannya, bisa gak, kalau nggak usah pakai helm?" tanya Shenina sedikit tersenyum.
"Hem, dasar bodoh," ucap Evgen sedikit tersenyum.
Evgen mengambil helm yang dipegang oleh Shenina. Membuka kaitannya dengan sedikit memaksa dan memakaikan ke kepala mungil Shenina.
Mengaitkan talinya saat helm itu sudah berada di atas kepalanya.
"Bukan gue gak yakin sama kemampuan gue berkendara. Tapi melindungi elu sebelum terjadi apa-apa, itu lebih baik dari pada menyesal saat elu terluka nantinya," ucap Evgen sambil mengetuk helm yang digunakan Shenina.
Kembali mengukir senyuman di bibir mungil Shenina. Sekaligus tersipu oleh perkataan Evgen yang kembali membuat wajahnya menghangat.
Perasaan yang sudah lama memudar, kini kembali terasa. Saat ia berada di samping lelaki angkuh ini.
Di balik semua sikap kasar dan sombongnya itu. Evgen masih memiliki sikap hangat yang mampu membuat hati beku Shenina mencair secara perlahan.
Shenina menaiki boncengan motor besar itu, memegang bahu Evgen untuk mendapatkan pegangan.
"Shen," panggil Evgen lembut.
"Hem."
"Gue bukan tukang ojek, bisa gak jangan pegang pundak?" tanya Evgen ketus.
"Oh." Shenina melepaskan pegangannya dan menumpuhkan kedua tangannya di ujung dengkul kakinya.
Evgen berdecak kesal dan menarik kedua tangan Shenina. Melilitkan kedua tangannya di pingang miliknya.
"Kalau elu gak pegangan sama gue, ntar jatuh gimana?" tanya Evgen kembali.
Shenina kembali tersenyum dan mentoyor kepala Evgen dengan kuat.
"Modus banget elu, sudah ayo pergi!" ajak Shenina lembut.
***
Evgen menyilangkan kedua tangannya di dada, ia bosan menunggu Shenina yang masih mengantre makanan ringan.
Sedang, Shenina terus menggerutu dengan kesal. Ia sudah terpesona oleh lelaki angkuh itu, namun malah disuruh antre begini.
"Dasr Evgen angkuh, kasar, sombong. Bisa-bisanya dia nyuruh gue antre begini? Lihat saja nanti, akan gue balas semua perlakuannya ini," rutuk Shenina sembari mengepalkan kedua tangannya.
Geram sekali jika mengingat perlakuan Evgen yang seperti ini.
Setelah lima belas menit, Shenina kembali dengan dua gelas minuman soda dan popcorn di tangannya.
"Lama banget sih?" tanya Evgen ketus.
"Lu gak lihat antrean sebanyak itu?" tanya Shenina geram.
"Hem, lihat."
"Terus kenapa masih banyak tanya? Cepat ambil ini popcorn elu!"
Shenina menyodorkan popcorn di tangannya, namun saat Evgen mau mengambil, Shenina mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Evgen hanya tersenyum dan menggeleng, mengambil popcorn itu dengan mengelus pucuk kepala Shenina.
"Ayo masuk! Nanti ketinggalan filmnya loh," ajak Evgen melembut.
Shenina menganggukan kepalanya, berjalan mengikuti langkah Evgen. Namun kembali sifat usil Shenina hadir saat melihat badan besar lelaki sombong itu berjalan di depannya.
__ADS_1
Ia menendang bahu Evgen dengan kuat, namun bukannya Evgen yang terpental, malah bahunya yang terasa sakit.
"Auw," lirih Shenina pelan.
"Bodoh sih elu," ucap Evgen mentoyor kepala Shenina.
Shenina mengerucutkan bibirnya dan menghentakan kedua kaki. Kembali berjalan mengikuti langkah Evgen memasuki ruangan bioskop itu.
"Badan kecil saja, sok-sokan mau nendang gue, sakit kan?" ledek Evgen senang.
Shenina hanya terdiam, ia melirik dengan tajam kearah Evgen yang berjalan melewati dirinya.
Hukum karma, seseorang menabrak bahu Shenina saat ia sedang berjalan menuju kursinya, menjatuhkan popcorn yang ada di dalam genggaman tangannya.
Shenina melihat popcorn itu dengan binar sedih, belum juga sempat di makan, malah sudah terbuang sia-sia.
Shenina mengerucutkan bibirnya dan duduk di sebelah Evgen. Hanya bisa minum sepanjang film yang terputar. Sementara lelaki angkuh itu malah tidak peka, ia masih asyik menonton sambil memakan snacknya tanpa memikirkan perasaan Shenina sedikitpun.
"Evgen," panggil Shenina sedih.
"Hem."
"Bagi popcornya sedikit, donk," pinta Shenina manja.
"Ogah! Punya elu mana?" tanya Evgen sambil memasukan popcorn kedalam mulutnya.
"Jatuh ditabrak orang waktu masuk," jawab Shenina melas.
"Yasudah, itu derita elu. Kenapa ngerusuhi gue?"
"Ih sedikit saja," pinta Shenina manja.
"Ogah," jawab Evgen sambil memeluk popcornya dan duduk sedikit miring, membelakangi Shenina.
"Hisss, bisa diem gak? Lagi seru ini," ucap Evgen kembali.
Shenina menyilangkan kedua tanganya dan meminum kembali soda di tangannya. Melirik kearah popcorn yang di pegang oleh Evgen.
Perutnya mulai kerucukan, lapar karena tidak ada makanan yang bisa menyumpal mulutnya.
Shenina melirik kearah Evgen, perlahan tangan Shenina mulai meraih popcorn itu, namun di balas pukulan oleh Evgen.
"Heh, gue bilang ogah ya ogah. Siapa suruh elu jatuhin?"
"Lagian elu kenapa pelit banget sih? Gue minta dikit doang, Evgen."
"Enggak! Nanti gue gak kenyang," tolak Evgen kembali.
"Mau kenyang, makannya pakai nasi."
"Suka-suka gue lah. Kenapa elu yanh ribet?" tanya Evgen kembali.
"Dasar pelit!" ejek Shenina geram.
"Bodo," jawab Evgen ketus.
Mendengar ucapan Evgen, Shenina mendorong bagian bawah popcorn yang Evgen pegang. Membuat isinya berhamburan keluar, mengenai wajah tampan lelaki angkuh itu.
"Shenina!" teriak Evgen ketus.
Shenina menjulurkan lidahnya, kembali menonton film dengan tenang. Hatinya bersorak dengan senang, kalau ia tak makan, maka Evgen juga tidak boleh makan.
"Elu, berani ya," ucap Evgen geram.
__ADS_1
"Sssttttt." Seseorang di belakang Evgen meletakan satu jarinya di depan bibir.
Meminta dua pasangan itu untuk diam dan tenang selama film berjalan.
Evgen menghela napasnya dan duduk kembali dengan tenang. Walaupun sebenarnya ia sudah kesal setengah mati melihat ulah gadis di sampingnya itu.
Shenina berjalan tanpa dosa, meninggalkan Evgen yang sedang mengejar langkahnya dari belakang.
"Heh, Shenina!" tarik Evgen di pergelangan tangan mungil gadis itu.
"Apa?" balas Shenina jutek.
"Lu apa-apaan buat popcorn gue berantakan? Hebat banget elu ya, makin berani melawan gue," ucap Evgen geram.
"Terus kenapa kalau gue berani melawan elu, gak suka? Elu merasa terhina gitu?"
"Haish." Evgen mengepalkan jemari tangannya dan memandang Shenina dengan sedikit geram.
"Lagian, katanya sayang, katanya suka. Berbagi popcorn saja elu ogah. Apanya yang sayang? Apanya yang suka? Boong aja tahu gak elu?" ucap Shenina geram.
"Ya kalau sayang gue memang sayang. Tapi masalah perut itu lain lagi Shenina, lagian gue kan sudah suruh elu beli satu, kenapa itu elu jatuhi?"
"Karena elu yang jalan tanpa nungguin gue, seandainya elu nungguin gue. Gue gak akan kehilangan itu popcorn, gak kayak lelaki sejati elu itu," balas Shenina sambil berjalan meninggalkan Evgen.
Evgen berlari, kembali mengejar langkah Shenina. Ia menarik bahu Shenina, memutar badan mungil itu agar bisa berhadapan dengannya.
"Elu mau bukti kalau gue lelaki sejati?" tanya Evgen menggoda.
Evgen mendekatkan kepalanya ke wahah Shenina. Membuat rona di wajah Shenina mulai muncul secara perlahan.
Aroma gel dari rambut Evgen mulai menembus penciuman Shenina. Membuat jantung Shenina berdetak, lebih cepat dari biasanya.
"Elu, mau gue perlihatkan kesejatian lelaki diri gue?" bisik Evgen lembut di telinga Shenina.
Shenina tersenyum lembut, kedua tangannya mulai menyentuh bahu besar milik lelaki tampan itu.
Shenina mendekatkan langkahnya, berdiri tepat di depan Evgen.
Shenina kembali tersenyum saat melihat wajah songong Evgen, menarik bahu Evgen dan melompat dengan kuat, menjedutkan kepalanya ke wajah tampan lelaki angkuh itu.
"Auw, Shenina!" teriak Evgen sambil memenggangi bagian pelipis matanya.
"Makan itu kesejatian elu! Dasar lelaki mesum, gak tahu malu!" teriak Shenina menahan amarah.
"Heh tapi ini sakit, tahu gak?" tanya Evgen ketus.
"Bodo! Mau sakit, mau mati terserah elu, gue gak mau dekat-dekat sama elu lagi, ogah!" balas Shenina berjalan menjauh.
"Hei, Shen. Gue hanya bercanda, jangan marah." Evgen mencolek lengan tangan Shenina.
Dengan kasar gadis itu menampel tangan Evgen. Berjalan dengan kesal meninggalkan gedung tinggi itu.
"Heh, Shen. Gue hanya bercanda, jangan marah, please, ya, ya," ucap Evgen manja.
"Ogah, marah gue. Gak sudi kalau harus dekat-dekat sama elu." Shenina terus berjalan menjauh, keluar dari mall bertingkat itu.
Sementara, Evgen hanya tersenyum. Mengikuti langkah Shenina yang berjalan semakin menjauh.
Entah kapan, ia dan Shenina bisa berkencan layaknya pasangan muda-mudi biasa. Yang bisa tomantis tanpa harus bertengkar dan marah-marahan seperti ini.
Terkadang, hubungan percintaan yang seperti ini terlihat lebih indah. Karena menjalani bukan hanya dengan hati, namun juga dengan segala emosi yang bebas meluap tanpa harus di pendam dalam hati.
Sadar atau tidak, mereka tetap menjadi dua orang yang sama seperti sebelumnya. Mencintai tanpa harus menyembunyikan jati diri.
__ADS_1