
Dokter masuk dan langsung memindahkan Megi keruang pemeriksaan selanjutnya. Setelah lama menunggu, Megi kembali dibawa keruang rawat inapnya.
Dokter memanggil Sean untuk datang keruangannya. Sean duduk di hadapan Dokter yang memeriksa Megi tadi.
Sebuah foto hasil rontgen kepala Megi di keluarkan oleh Dokter itu.
"Apa yang terjadi, Dok?" tanya Sean langsung.
"Gak ada masalah lagi di kepala, Megi. Seharusnya ini hanya masalah waktu saja."
"Maksud Dokter?"
"Biasa setelah koma seseorang melupakan beberapa bagian di hidupnya. Biasa ini hanya sebentar, perlahan ia akan mendapatkan ingatannya kembali."
"Apa dia tidak akan amnesia, Dok?"
"Seharusnya, tidak. Dia hanya butuh waktu untuk kembali mendapatkan memorinya, jangan di paksakan. Dia masih muda, benturan keras di kepalanya bisa menjadi trauma dalam untuk ingatannya."
"Jadi apa yang harus saya lakukan, Dok?"
"Cukup dampingi dia, jangan buat ia merasa terbebani oleh kelupaan sementaranya. Buat suasana hatinya selalu senang, itu bisa sangat membantu penyembuhannya."
"Baik, Dok."
"Terus sakit kepalanya itu tidak bermasalah kah, Dok?" tanya Sean cemas.
"Megi masih sangat muda, benturan di kepalanya bisa jadi trauma otak buatnya. Kalau bisa, jangan biarkan dia memaksakan ingatannya."
"Apa tidak akan ada masalah kedepannya, Dok?"
"Semoga semua baik-baik saja, ya. Kamu harus sabar."
Sean menghela nafasnya, ia memijat sudut dahinya yang terasa cenutan karena masalah baru ini.
"Terima kasih, Dok. Kalau begitu saya permisi." pamit Sean, beranjak dari kursi.
"Silahkan."
Sean berjalan meninggalkan ruangan Dokter. Ia menghela nafasnya dan menguatkan kakinya. Seberat apapun bebannya, hidup akan masih terus berjalan.
Sean membuka pintu kamar Megi, ia melihat Megi masih terbaring diatas kasur. Kini matanya terbuka lebar, menatap ruangan bercat warna krim itu.
Sean berjalan mendekat, menarik sebuah kursi dan membelai rambut Megi.
"Kepala lu masih sakit?" tanya Sean lembut.
Megi hanya mengangguk pasrah. Matanya menatap wajah Sean lekat.
__ADS_1
Ingatannya memang memudar, tapi rasa hati tak akan menghilang begitu saja. Dadanya masih terasa begitu hangat saat melihat wajah lelaki di hadapannya ini.
Walaupun saat ini Sean sangat terasa asing buatnya. Namun entah kenapa, ada perasaan tenang saat Megi menatap wajah Sean.
"Istirahat ya, gue disitu. Kalau lu butuh apapun panggil saja." Sean bangkit dari duduknya.
Megi menarik tangan Sean, Seketika Sean menolehkan pandangannya, menatap wajah pucat Megi.
"Ada apa?" tanya Sean lembut.
"Nama kakak siapa?" tanya Megi dengan senyum lembut.
Sean seperti terhempas dari kenyataan, saat mendengar pertanyaan Megi. Namun saat melihat senyumnya ia seperti kembali pada kekuatannya. Sean kembali duduk di sebelah Megi dan mengusap lembut dahi Megi.
"Menurut lu, gue cocoknya pakai nama apa?"
Megi menaiki sebelah alis matanya, kenapa lelaki ini malah balik bertanya. Megi menggeleng lemas. Sean hanya tersenyum pasrah dan kembali ke tempat duduknya.
Membuka laptopnya dan berusaha kembali pada kenyataannya. Sean memandang Megi yang masih terbaring lemah, harus bagaimana ia menghadapi kenyataan yang begitu memilukan ini?
Pasrah, itu yang hanya bisa ia lakukan. Sean dengan sabar menunggu Megi untuk kembali pada ingatannya. Sean hanya menghibur tanpa mau bertanya apapun.
Setiap hari Sean hanya menunggu Megi untuk pulih seutuhnya, lelah yang menderanya tak lagi ia rasakan. Ia sendiri mengurus Megi dan pekerjaannya. Farrel baru ia liburkan, tak mungkin jika harus ia bebankan.
Sean kelimpungan mengurus dua hal yang saat ini sedang ia fokuskan. Sering kali tempat pertemuan untuk meeting client di pindahkan ke cafetaria rumah sakit, ataupun mencari cafe yang berada di sekitaran rumah sakit.
Namun beban berat ini sedikit lebih ringan terasa, karena senyum Megi mulai menghias di hari-hari lelahnya. Kadang Megi juga sudah bisa berceloteh ngawur, walau setelah berbicara sembarangan ia tersipu malu.
Sementara Megi yang melihat Sean dengan padat aktifitasnya itu, masih berusaha untuk menemaninya. Menyempatkan sedikit waktunya, bahkan Sean selalu berusaha kembali disaat-saat tertentu.
Sean seperti tak ingin melewatkan setiap momen yang bisa ia lakukan. Mengukir segala kenangan indah di setiap harinya.
Sean selalu kembali walau hanya untuk menyuapi makanan. Atau Sean yang selalu sabar mengelap kulit Megi saat pagi dan sore. Sean yang dengan sisa tenaganya menggendong Megi yang hanya ingin ke kamar mandi.
Sikap over proteck Sean kembali menghidupkan percikan api di hati Megi. Memang perasaan tak semudah pemikiran.Walau pemikiran Megi telah terhapus seluruhnya, namun hati Megi masih merasakan getaran yang berbeda saat memandang wajah Sean.
Sean berjalan cepat melewati koridor rumah sakit. Langkahnya terhenti saat tangannya memegang gagang pintu.
Sean mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam. Ia menghela nafas berat dan duduk di kursi yang berada di sisi koridor.
Sean menyisir rambut gondrongnya kebelakang, mengeluarkan sebatang rokok dan menghisapnya perlahan. Semoga ada kekuatan yang kembali hinggap di dalam dirinya.
Sudah terlalu lelah menghadapi segala sesuatunya, Sean mengepulkan asap yang keluar dari bibirnya keatas. Menyandarkan kepalanya ke sisi belakang kursi.
"Mau sampai kapan elu menghukum gue seperti ini, Megi?" ucap Sean lirih.
Mata Sean menerawang langit-langit putih koridor rumah sakit.
__ADS_1
"Hukuman yang elu berikan hampir membuat gue gila, gue gak akan bertahan seandainya mata lu tertutup lebih lama."
Sean kembali duduk tegap, ia menyisir rambutnya kebelakang. Tersenyum getir, mentertawai nasibnya yang begitu pahit untuk ia telan.
"Bahkan saat mata lu terbuka pun, elu masih menghukum gue dengan sangat berat." Sean menjatuhkan puntungan rokok yang baru dua kali ia hisap.
Menginjaknya keras dan bangkit dari duduknya. Sean menghela kembali nafasnya, membuka pintu kamar Megi perlahan.
"Kak." panggil Megi lembut setelah melihat Sean masuk kedalam kamar.
"Iya, ada apa?" tanya Sean datang mendekat.
"Aku bosan, aku butuh udara segar kak." ucap Megi manja.
"Tapi elu kan masih lemah, Meg."
"Seminggu aku terbaring disini, kak. Aku lelah."
"Seminggu?" tanya Sean dengan mengeryitkan dahinya.
"Iya, sudah seminggu kan?" tanya Megi polos.
Sean hanya menggelangkan kepalanya, Megi dengan mudahnya bilang ia hanya terbaring seminggu. Setelah kenyataan pahit yang begitu panjang dan melelahkan tubuh Sean. Bahkan hampir membunuh Sean. Melumatkan seluruh tulang Sean, melahap habis kekuatannya.
Segala yang terjadi begitu panjang, proses perjalanan ini begitu melelahkan. Bahkan segalanya menjadi tak terkendalikan.
"Seminggu?" Sean kembali mengucapkannya lirih dengan senyum getir dan menggelengkan kepalanya.
Andai memang hanya seminggu waktunya, mungkin ia tak akan selemah ini. Mungkin ia tak akan selelah saat ini. Andai hanya seminggu Megi terbaring, mungkin ia tak akan setakut ini. Tak akan juga sekalut sekarang ini.
"Kak, kok malah diem sih?"
"Seminggu ya Meg?" tanya Sean kembali tersenyum pahit.
"Kakak kenapa, sih?" tanya Megi bingung dengan sikap Sean.
Apa ada yang salah dengan ucapannya, kenapa Sean terus mengulangi perkataannya. Seminggu? apa yang salah dengan seminggu?
"Kak mau gak sih bawa aku jalan-jalan? kok malah bilang seminggu terus?"
"Oke, aku tanya Dokter dulu." jawab Sean mengalah.
Sean berjalan keluar dengan mulut yang masih mengucapkan kata seminggu. Entah kenapa kata itu begitu membuatnya menarik nafas panjang. Ia masih tak bisa terima di bilang waktunya hanya seminggu.
"Seminggu?" Sean kembali tersenyum getir.
"Terlalu banyak yang terjadi dalam waktu seminggu itu, Meg. Sampai gue lupa menghitung berapa banyak waktu yang telah terbuang tanpa ada elu disisi gue." ucap Sean sambil berjalan menuju ruangan Dokter.
__ADS_1