
Megi meletakan tangannya di atas pagar. Melihat Evgen yang tersenyum dan bercanda dengan Rara sebelum pergi sekolah, dari atas balkon kamarnya.
Tanpa sadar air mata Megi kembali melintasi pipi putihnya. Selama bertahun-tahun, ia tak pernah sadar kalau Evgen dan dia begitu jauh.
Entah kapan terakhir kali ia memeluk Evgen seperti Rara yang memeluk Evgen saat ini. Selama beberapa tahun ini, selain bertengkar dengan Evgen, Megi tak pernah memperhatikan apapun lagi.
Sean meraih kedua ujung bahu Megi, memeluk Megi dari belakang. Sementara, Megi masih terus menatap lekat ke arah rumah Rara.
"Apa yang kamu pikirkan, Megi? tumben kamu gak nyiapin sarapan, malah biarin Rezi dan Niki sarapan berdua saja?"
"Kak."
"Hem."
"Kapan terakhir kali Evgen memperlakukan aku, seperti dia memperlakukan Mbak Rara?" Tanya Megi pahit.
Sean menghela nafasnya dan meletakan ujung dagunya di pucuk kepala Megi.
"Kapan pun itu, tapi hubungan kamu dan Evgen juga lebih erat dari apa yang kamu lihat kok."
"Benarkah? kenapa aku merasa, jika Evgen lebih nyaman sama Mbak Rara di bandingkan aku?"
"Apapun ceritanya, Evgen tetaplah anak kita, Sayang."
"Benarkah dia anak kita, Kak?" Tanya Megi yang masih menatap lekat ke arah rumah Rara.
Disana ia malah melihat Evgen yang bercanda ria sebelum pergi sekolah dengan Rara. Sesekali Rara mencubit pipi Evgen, bukannya kesal, Evgen malah memeluk badan Rara.
"Tapi kenapa aku merasa, Evgen tidak lagi nyaman saat bersama kita, Kak."
Sean menelan salivanya dan memandang kearah rumah Rara. Jelas Megi bukan seseorang yang buta. Ia pasti bisa melihat pemandangan itu.
"Ingat dulu bagaimana Siera dan Siena yang lebih nyaman sama aku di bandingkan sama Mirza?" Tanya Sean lembut.
"Tapi lihatlah, saat ini si kembar malah jarang main kesini. Mereka sudah remaja dan punya dunianya sendiri. Sama seperti sekarang Megi, suatu saat Evgen akan mengerti dan akan kembali ke sisi kita lagi."
"Tapi bagaimana jika itu tidak pernah terjadi? lihat bagaimana Evgen merasa nyaman di pelukan Bundanya, aku gak yakin kalau Evgen masih menyanyangi kita."
"Hey, apapun yang terjadi hati dia dan hati kamu saling terhubung, Megi. Evgen hanya mencari tempat untuk melampiaskan kekesalannya sementara. Saat dia sudah tenang, ayo kita bicarakan baik-baik sama dia."
"Kak, bagaimana jika Evgen gak mau pulang lagi?"
Sean tersenyum dan mengelus pucuk kepala Megi dengan lembut.
"Jangan pikiri hal-hal yang gak perlu. Evgen juga hanya di depan rumah, tenanglah Megi, semuanya akan baik-baik saja."
"Evgen memang di depan rumah kita kak, tapi aku ngerasa kalau Evgen lebih jauh dari apapun saat ini."
__ADS_1
"Itu hanya perasaan kamu saja. Ayo turun, kasian Niki dan juga Rezi, mereka nunggu kamu sebelum pergi."
***
Evgen memeras kain pel, dengan muka yang di tekuk ketat. Evgen mengepel lantai koridor didepan toilet.
"Hey, Evgen yang disana belum kena," ucap Shenina sambil menunjuk kearah koridor yang satu lagi.
Evgen menendang ember airnya, dan menyeret pelnya kesisi lain. Tak menjawab tapi juga tidak melawan ucapan Shenina.
Melihat perubahan sikap Evgen, membuat Shenina penasaran.
"Evgen, sini juga sekalian elu yang ngepel ya."
"Iya," jawab Evgen malas.
"Sekalian didepan pintu toilet ya," goda Shenina kembali.
"Hem," balas Evgen sambil memindahkan embernya.
Melihat Evgen yang begitu penurut, Shenina berjalan mendekati Evgen. Meletakan punggung tangannya di dahi Evgen, dengan cepat tangan Evgen menampel tangan Shenina.
"Heh, tangan elu itu kotor. Enak saja main pegang-pegang kulit mulus gue."
Shenina memanyunkan bibirnya dan memutar bola matanya malas. Ternyata Evgen masih sadar dan belum kesurupan setan kamar mandi.
"Gue pikir elu kesurupan, secara elu jadi penurut gitu? salah makan ya?"
"Hiihhh, siapa juga yang mau lama-lama sama elu? jangan lupa, elu masih harus nyuci mangkuk sebelum pulang."
"Iya, gue tahu!"
Evgen menarik embernya dan memeras kain pel di tangannya. Membersihkan beberapa tempat sebelum ia kembali.
Setelah selesai menjalani tugasnya, Evgen berjalan kebelakang kantin. Membuka seragam putihnya dan mengangkat mangkuk-mangkuk, ke tempat pencucian piring.
Sementara Shenina hanya bisa diam melihat segala pergerakan Evgen. Entah sejak kapan ia menjadi begitu penurut dan tak banyak berulah seperti biasanya.
Jelas sekali, sikap Evgen tidak seperti lelaki angkuh dan juga sombong yang selalu bertengkar dengannya selama dua tahun ini.
Evgen menghapus peluh di dahinya dan mengambil seragamnya. Menyelempangkan di salah satu bahunya.
Evgen terduduk lemas di kursi koridor sekolah. Ia masih terbayang oleh wajah Sean yang memadam kemarin.
Kata-kata Sean masih membuat ia bergidik takut, walau hanya mengingatnya.
Semakin besar juga rasa penasaran Evgen tentang Papanya dahulu. Bagaimana Papanya bisa menjadi seorang yang sangat lembut saat ini.
__ADS_1
Sebuah botol air tersodor di depan wajah Evgen, dengan sedikit bingung, Evgen memandang Shenina yang saat ini sedang berdiri di sebelahnya.
"Buat elu," ucap Shenina lembut.
"Kenapa?" Tanya Evgen bingung.
"Ya ... Cuma pingin kasih elu air saja, apa gak boleh?" Shenina mengikuti Evgen, duduk di sebelah Evgen.
"Gak biasanya elu baik sama gue? itu pasti ada racunnya kan?" Tanya Evgen sengit.
"Elu ya, gak bisa apa hargai niat baik seseorang?"
Dengan sedikit kesal, Shenina membuka penutup botol itu dan mengenggaknya sedikit.
Melihat Shenina meminum air itu, Evgen merebut botol itu dan meminumnya dengan tergesa.
"Itu bekas mulut gue, loh," ucap Shenina lembut.
"Memang kenapa?" Tanya Evgen tak peduli.
"Lu gak jijik?"
"Lu sejenis binatang?" Tanya Evgen angkuh.
"Apa? elu itu kurang ajar ya," ucap Shenina meradang.
"Kalau elu masih manusia, kenapa gue harus jijik?"
"Yah maksud gue, gak semua orang mau minum sesuatu yang bekas orang lain. Apa lagi elu."
"Gue? memang gue kenapa?"
"Elu itu kan anak orang kaya, elu biasa juga angkuh dan sombong. Heran saja gue."
"Yah, terserah elu sajalah, mau anggap gue apa," balas Evgen malas.
Shenina memandangi wajah putih Evgen, memang hari ini Evgen sedikit berbeda, Evgen terlihat lain dari biasanya.
Apa masalah kemarin membuat Evgen jera? tapi Evgen bukan seseorang yang mudah menerima kekalahan begitu saja.
"Evgen, lu baik-baik saja?" Tanya Shenina bingung.
"Memang apa yang bisa terjadi sama gue?"
"Gak seperti biasanya, kenapa hari ini elu jadi penurut dan lebih tenang?" Tanya Shenina kembali.
"Lu pikir? gue harus buat masalah terus dan ngorbani beasiswa elu? gue juga gak seburuk itu, Shen. Gue gak mau nakal dengan merugikan orang yang sama sekali gak ada sangkut pautnya sama gue."
__ADS_1
Evgen bangkit dan berjalan dengan cepat menyusuri koridor sekolah. Meninggalkan Shenina yang masih terdiam dan tercengang oleh ucapan Evgen.
Ia mungkin selama ini tidak pernah akur dengan Evgen. Tapi ia juga tidak menyangka, bahwa Evgen peduli pada kesusahan orang lain.