
Shenina berlari dengan cepat menyusuri koridor sekolah. Sesekali ia menaikan tali ranselnya yang melorot karena berlari.
"Evgen, sorry," ucap Shenina sambil menarik nafas panjang yang sedikit memburu karena berlari.
Evgen mengalihkan pandangannya dan melihat Shenina yang berdiri di ambang pintu toilet.
Dengan santai Evgen memeras kain pel yang ia gunakan dan meletakannya kembali ke tempat semula.
"Lu sudah kerjain semuanya sendiri?" Tanya Shenina saat melihat toilet sekolah sudah bersih seluruhnya.
"Hem," jawab Evgen pasrah.
Tanpa melihat Shenina, Evgen langsung mencuci tangannya. Sementara Shenina masih tak percaya, Evgen Aulia, sejak kapan ia begitu sangat dermawan.
"Evgen, elu lagi sakit?" Tanya Shenian sambil menangkupkan punggung tangannya di dahi Evgen.
Dengan cepat Evgen memukul tangan Shenina dan kembali membilas tangannya.
"Jangan sentuh sembarang kulit gue," ucap Evgen garang.
"Enggak, gue heran saja. Kenapa elu bisa bersihin semuanya sendiri?" Tanya Shenina yang masih kebingungan.
Evgen hanya mengerdikan bahunya, ia menarik tisu dan mengelap tangannya sampai kering.
"Cepat pulang dan istirahatlah yang cukup." Evgen menyentuh pucuk kepala Shenina dengan lembut, berjalan dengan santai meninggalkan Shenina di dalam toilet.
Sementara Shenina masih terdian terpaku, ia masih mencerna perlakuan Evgen yang berubah lembut seketika.
"Evgen Aulia," ucap Shenina kaget.
"Benarkah dia Evgen Aulia yang ku kenal?"
***
Rezi tak bisa berhenti tersenyum, hatinya bersorak gembira sedari tadi. Entah sihir apa yang di gunakan oleh Neha. Sampai Rezi bisa sangat jatuh cinta pada Neha di awal pertemuan mereka.
Dengan santai Rezi memarkirkan mobilnya di depan sekolah Niki. Menjemput adik bungsunya itu dari sekolah dasar paling unggul di kota mereka.
Tak menunggu waktu lama, Niki sudah keluar dan langsung berlari memasuki mobil Rezi.
Niki mengernyitkan dahinya saat melihat Kakak tertuanya itu tersenyum sendiri memandangi setir mobilnya.
Bahkan Rezi sama sekali tidak menyadari kalau Niki sudah masuk kedalam mobil.
"Kak," panggil Niki lembut.
Namun Rezi masih senyum-senyum sendiri. Sesekali Rezi menghela nafasnya dan kembali tersenyum. Ternyata cinta Neha membuat Rezi benar-benar gila.
"Kak!" Panggil Niki sedikit berteriak.
"Eh, Niki. Sejak kapan kamu disini?" Tanya Rezi yang terkejut saat melihat Niki sudah ada di dalam mobilnya.
"Aku sudah dari tadi disini, Kakak saja yang sama sekali gak sadar. Kakak kenapa?" Tanya Niki penasaran.
"Enggak, Kakak gak kenapa-kenapa. Kita pulang yuk!" Ajak Rezi lembut.
Rezi menghidupkan mobilnya dan mulai melaju dengan santai, menembus jalanan sore hari yang sedikit lebih padat dari biasanya.
"Kak, Kakak kenapa senyum-senyum sendiri? Kakak sakit?" Tanya Niki penasaran.
__ADS_1
"Enggak, Dek. Kakak baik-baik saja."
"Kakak yakin? tapi kenapa Kakak aneh?"
"Aneh bagaimana? Kakak biasa saja."
"Hem yasudah deh, aku tanya sama Mama saja, kenapa Kakak bisa seperti ini."
Seketika Rezi menginjak rem mobilnya saat mendengar ucapan Niki.
Braaakkk
Sebuah mobil menabrak bumper belakang mobil Rezi dengan kuat.
"Niki kamu gak apa-apa?" Tanya Rezi saat merasakan guncangan karena tabrakan itu.
"Gak apa-apa Kak, Kakak kenapa? Kakak sakit ya?" Tanya Niki cemas.
"Enggak, Kakak gak kenapa-kenapa. Kamu tunggu di dalam, Kakak lihat keluar dulu ya."
Rezi membuka seat belt yang ia gunakan dan memeriksa bumper belakang mobilnya.
Rezi menghela nafasnya dan tersenyum kecut saat melihat bumper belakang mobil silvernya remuk.
"Maaf ya," Rezi menangkupkan tangannya di dada, meminta maaf pada pengemudi di belakangnya.
Pengemudi itu keluar dan melihat keadaan mobil miliknya. Tak separah mobil Rezi, namun kerugian ini juga tidak sedikit.
Lelaki itu memandang Rezi dengan wajah datar.
"Aku ganti biaya pembetulannya, kamu gak keberatan kan?" Tanya Rezi tak enak.
"Kamu Fachrezi, Fachrezi Putra. Benar?" Tanya lelaki.
"Iya, kamu kok tahu?"
"Asisten Dosen dan mahasiswa S2 termuda di kampus kan."
"Iya,"
"Aku Chen, salah satu mahasiswa yang saat ini sedang anda ambil alih pengajarannya."
Lelaki itu mengulurkan tangannya, Rezi dengan cepat menyambut uluran tangan lelaki itu dan tersenyum.
"Maaf ya Chen, bagaimana jika kita bawa dulu mobil-mobil ini ke bengkel?" Tanya Rezi lembut.
"Gak usah, Pak. Saya masih ada urusan, lain kali Bapak bantu saya dalam kelas saja ya."
Lelaki itu langsung masuk kedalam mobil hitamnya dan pergi begitu saja. Sementara Rezi hanya melihat mobil milik lelaki itu, pergi dengan cepat meninggalkannya.
"Dasar aneh? Chen ya? kita lihat nanti saat kelas ya, semoga kamu tidak menyulitkan aku."
Rezi membuka pintu depan mobil dan mengeluarkan Niki.
"Mobil kita tinggal saja, ya. Biar di bawa orang bengkel."
"Kakak sebenarnya kenapa sih?" Tanya Niki bingung.
"Ehm, Niki. Kamu mau makan burger gak?"
__ADS_1
"Mau, mau Kak," jawab Niki cepat.
"Kalau gitu, kamu harus janji satu hal dulu sama Kakak."
"Apa?"
"Jangan bilang-bilang soal kejadian hari ini sama Mama dan Papa. Janji?" Rezi mengangkat jari kelingkingnya ke depan wajah Niki.
"Janji." Jawab Niki cepat.
Rezi tersenyum dan mengacak rambut Niki, menggandeng tangan Niki memasuki restoran cepat saji.
Rezi memesan beberapa junk food untuk di makan oleh Niki. Dengan lahap, Niki memakan beberapa makanan yang di pesan Rezi.
Rezi hanya tersenyum dan mengelus kepala Niki lembut. Tingkah polos Niki membuat ia kembali pada pandangan mata Neha.
Ah ... Neha, lagi dan lagi. Ia sudah meracuni pikiran dan juga hati Rezi. Pesonanya begitu kuat menarik Rezi jatuh semakin dalam.
Rezi menghela nafasnya dan meraih soft drink miliknya, meneguknya sedikit.
Tanpa sengaja mata Rezi teralih pada dinding kaca pembatas toko. Melihat seorang anak lelaki berdiri dan menatap ke jajaran meja dengan wajah sendu.
Perlahan Rezi bangkit dan berjalan mendekati anak lelaki itu.
"Seta, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Rezi saat melihat Seta berdiri di depan kaca restoran.
"Kak Rezi," ucap Seta terkejut.
Dengan cepat langkah Seta berlari meninggalkan Rezi. Melihat seta yang berlari, Rezi mengejar langkah kaki Seta yang berlari semakin.
"Seta tunggu!" Panggil Rezi lantang.
Namun bukannya berhenti, Seta malah berlari semakin kencang. Karena takut ketangkap dengan Rezi. Seta berlari dengan beberapa kali melihat kearah belakang.
Bugh
Seta terjatuh saat badannya menabrak keras kaki seseorang di bibir jalan.
"Maaf, maaf Kak," ucap Seta bersalah.
"Bangun!" Perintah lelaki itu dingin.
Dengan sesikit takut, Seta bangun dan menundukan pandangannya. Takut melihat mata tajam milik lelaki tinggi itu.
"Seta!" Panggil Shenina dari ujung jalan.
Seta memalingkan pandangannya kearah Shenina. Dengan merentangkan satu telapak tangannya, Shenina berlari menyeberangi jalanan.
"Kamu kenapa bisa ada disini?" Tanya Shenina bingung.
"Aku cuma gak sengaja lewat sini, Kak," jawab Seta dengan menundukan kepalanya.
"Kamu buat nakal lagi ya?" Tanya Shenina dengan menajamkan tatapannya.
"Eh tunggu dulu," tahan Evgen saat melihat Shenina yang begitu akrab berbicara dengan anak kecil yang menabrak ia tadi.
"Shen, ini siapa elu?" Tanya Evgen penasaran.
"Ini adik gue, kenapa?"
__ADS_1
Evgen menyeringai dengan lebar saat mendapati pernyataan Shenina. Kali ini, dia punya kesempatan untuk membalas perbuatan Shenina beberapa hari ini padanya.