Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
47


__ADS_3

Rezi mencengkeram kera kemeja Chen, matanya menatap Chen dengan segudang amarah yang ingin ia tumpahkan.


Rezi mengepalkan tangannya, bersiap untuk menghantam wajah Chen sekali lagi.


"Stop!" Tahan Chen cepat.


"Tunggu dulu, Pak. Bapak salah paham sama saya," ucap Chen lembut.


Rezi tersenyum getir dan menguatkan cengkraman tangannya.


"Salah paham ya? kalau gitu coba jelasin sama tangan aku saja!" Rezi kembali mengangkat tangannya dan melayangkan kewajah Chen.


"Aku dan Neha tidak pacaran!" Teriak Chen keras.


Seketika tangan Rezi terhenti sebelum menyentuh kulit wajah Chen. Rezi melepaskan cengkeraman tangannya dan memandang wajah Chen.


"Maksud nya?" Tanya Rezi tajam.


"Aku, dan Neha. Kami hanya sebatas teman lama," ucap Chen lembut.


***


Evgen menyandarkan kepalanya diatas senderan kursi taman. Ia menghela nafasnya keatas.


Ia benar-benar pusing menghadapi situasi ini. Gara-gara melihat Shenina dan Rezi di taman hari itu, ia menjadi sangat kesal saat melihat Shenina.


Shenina menekuk wajahnya saat berjalan mendekati Evgen. Ia masih kesal oleh perlakuan lelaki tengil itu. Namun apalagi mau dikata?


Ia terhutang dengan Evgen.


Shenina duduk disebelah Evgen dengan membanting kasar. Ia mengerucutkan bibirnya, masih kesal oleh lelaki disebelahnya ini.


Evgen melirik kearah Shenina, melihat ekspresi Shenina yang cemburut begitu, membuat ia merasa bersalah. Evgen mengubah posisi duduknya dan melihat kearah Shenina.


"Shen," panggil Evgen lembut.


Shenina mengalihkan pandangannya, ia hanya melihat Evgen dengan cemberut.


"Gue ... Gue," ucap Evgen ragu.


Shenina hanya memandang Evgen, menunggu Evgen mengucapkan perkataannya.


"Gue gak tahu mau kemana," ucap Evgen membuang pandangannya.


Shenina menghela nafasnya dan kembali memandang kedepan.


"Kalau gak tahu mau kemana, yasudah pulang saja. Gue juga lelah sekali," ucap Shenina ketus.


"Yasudah," jawab Evgen mengalah.


Shenina bangkit dari kursinya dan berniat untuk meninggalkan Evgen sendiri.


"Maaf," lirih Evgen pelan.


Shenina mengalihkan wajahnya seketika. Ia melihat kearah Evgen yang sedang tertunduk.


"Lu ngomong sesuatu?" Tanya Shenina lembut.


"Maaf," ucap Evgen kembali.


"Gue gak salah dengar? lu ngomong maaf?" Tanya Shenina tak percaya.

__ADS_1


Evgen bangkit dan menatap Shenina dengan kesal.


"Kalau elu gak dengar yasudah!" Teriak Evgen ketus.


"Heh, elu itu niat minta maaf gak sih?"


"Enggak!" Tekan Evgen tepat didepan wajah Shenina.


"Yasudah!" Balas Shenina ketus.


"Yasudah!"


"Kalau begitu, bye!" Shenina membalikan badannya dengan cepat.


Evgen meraih pergelangan tangan Shenina dan menarik Shenina kedalam pelukannya.


"Maaf Shenina, gue minta maaf," ucap Evgen lembut.


Tangannya memeluk Shenina dengan sangat erat. Shenina hanya terdiam, ia masih mencerna perbuatan Evgen.


Shenina mendongakan kepalanya, melihat wajah Evgen yang terlihat begitu lega.


Shenina tersenyum dan menempelkan kepalanya didada Evgen. Mendengarkan detak jantung Evgen yang terdengar sampai keluar.


***


Neha melukis teratai ungu yang ada di kolam Rezi, dibuku biasa miliknya.


Saat ini hatinya merasa sepi, setelah berhari-hari. Ia juga masih tidak bisa lupa dengan ekspresi raut wajah Rezi yang begitu terluka.


Perlahan Neha bangkit, ia melihat teratai itu dengan sangat lekat. Memperhatikan detilnya dengan sedikit membungkuk di ujung jembatan.


"Hati-hati," ucap Rezi lembut.


"Hai," sapa Rezi ramah.


Neha menutup bukunya dan berniat berjalan menjauh. Nahas, heels sepatunya menyangkut di papan jembatan.


Byuuuuurrr


Neha tercebur kedalam air. Rezi berlari keujung jembatan dan langsung melompat kedalam air.


Rezi melihat kebawah, ia tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat dirinya tidak genggelam saat masuk kedalam kolam.


Ia lupa, bahwa kolam ini hanya di buat setinggi dadanya. Neha tersenyum dengan lebar saat melihat Rezi yang ikut melompat bersamanya.


Ia menggelengkan kepalanya dan berjalan mendekati ujung jembatan. Rezi mengangkat pinggang Neha, menaikan Neha ketas jembatan.


"Basah semua deh," ucap Rezi lembut.


Neha mengibaskan bukunya yang basah karena ikut masuk kedalam kolam.


"Itu sudah basah, nanti aku belikan yang baru ya," ucap Rezi lembut.


Neha mengeluarkan ponsel dari dalam kantungnya. Ia lupa bahwa ponselnya juga ikut terendam air.


Neha mencoba menghidupkan ponselnya beberapa kali, tetapi layar ponsel Neha hanya berwarna hitam. Dengan tulisan brand milik ponsel tersebut.


Rezi tersenyum dan merebut ponsel Neha. Ia membongkarnya dan mengeluarkan sim card milik Neha.


"Biar aku yang benerin ya, nanti kalau sudah hidup, aku berikan ke kamu." Rezi menyerahkan sim cardnya ketangan Neha.

__ADS_1


Rezi bangkit dan meraih ranselnya, ia berjalan kembali mendekati Neha yang masih terduduk di ujung jembatan.


"Ayo, kamu harus mandi sebelum masuk angin," ajak Rezi lembut.


Rezi mengulurkan tangannya dan tersenyum dengan lembut. Neha menatap wajah Rezi dan ikut tersenyum.


Neha meraih tangan Rezi dan bangkit dari duduknya. Berjalan kehalaman belakang rumah Neha.


"Jangan sampai sakit, mandi terus ya." Rezi meraih pucuk kepala Neha dan mengelusnya lembut.


"Aku pamit," ucap Rezi membalikan badannya. Berjalan perlahan menjauh dari Neha.


Langkah Rezi terhenti saat merasakan tarikan di belakang kemejanya. Rezi memalingkan kepalanya, melihat jari Neha yang menarik ujung kemejanya.


"Ada apa?" Tanya Rezi lembut.


Neha memainkan jemari tangannya dengan cepat. Rezi hanya menaikan sebelah alis matanya, mencerna gerakan tangan Neha.


Neha menghela nafasnya dan menarik tangan Rezi berjalan masuk kedapur. Mendorong badan Rezi ke kamar mandi dan menyerahkan sebuah handuk ketangan Rezi.


Neha langsung pergi memasuki kamarnya, membiarkan Rezi mandi, dikamar mandi dapur rumahnya.


Rezi melepaskan senyumnya saat melihat tingkah Neha. Setelah Neha mengetahui perasaan Rezi yang sebenarnya, ia tidak pernah mengambil inisiatif begini.


Selesai mandi, Neha menyeduhkan secangkir teh dan mengantarkannya kehadapan Rezi yang sedang membongkar ponsel miliknya.


"Terima kasih," ucap Rezi lembut.


Neha menyodorkan sebuah tulisan kehadapan Rezi.


(Kamu bisa benerin ponsel?)


"Tidak sih, tapi mungkin rangkainnya sama dengan laptop. Kalau ponselnya gak bisa hidup, nanti aku gantikan yang baru saja ya," ucap Rezi lembut.


Neha menggelengkan kepalanya, ia berbicara dengan gerakan tangannya. Rezi kembali mengernyitkan dahinya, ia masih belum mengerti dengan gerakan tangan Neha.


Neha hanya tersenyum dan menundukan pandangannya. Ia menulis kembali diatas kertas.


(Tidak usah, kan aku yang jatuh sendiri).


"Tapi kamu jatuh kan karena terkejut saat dengar suara aku," ucap Rezi yang kembali terfokus dengan ponsel Neha.


Neha kembali menyodorkan sebuah kertas kehadapan Rezi.


(Sudah berapa lama kamu bisa benerin laptop seperti ini?)


Rezi memutar bola matanya, mengingat kapan pertama kali ia sangat tertarik dengan laptop.


"Aku juga tidak ingat, tapi yang jelas ini adalah hobiku, dan sekarang menjadi mimpiku," jawab Rezi lembut.


Neha hanya tersenyum dan menuangkan teh kedalam gelas milik Rezi. Ia berjalan kembali kedapur dan kembali dengan sepiring camilan.


Meletakan dengan lembut di meja sebelah Rezi.


Rezi melirik kedalam piring camilan itu dan tersenyum lembut.


"Neha, aku lapar. Kamu lihat tanganku begini." Rezi mengangkat kedua tangannya yang sedang memegang alat-alat kecil.


"Boleh gak, kalau kamu suapi aku beberapa potong kue itu?" Tanya Rezi lembut.


Neha melirik kearah potongan kue itu dan mengambilnya, menyuapkan kedalam mulut Rezi.

__ADS_1


Rezi tersenyum dan membuka mulutnya, menggigit potongan kue itu dan mengunyahnya perlahan.


Matanya memandang Neha dengan lekat, bisa melihat Neha dalam jarak yang sedekat ini, benar-benar membuat harapannya kembali mengawan jauh.


__ADS_2