Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Season 2 (06)


__ADS_3

Rezi membuka daun pintu rumah Sean dengan lebar. Niki langsung berlari memeluk Megi yang sedang duduk dengan Sean di sofa tengah.


"Kemana saja kalian? kenapa malam baru pulang?" tanya Megi lembut.


"Mama tadi kak Rezi ajak aku makan kue." jawab Niki polos.


"Benarkah?" Megi memalingkan pandangannya kearah Rezi yang masih berdiri di ambang pintu.


"Terus Mama gak di beliin kue?" tanya Megi kembali.


"Ada." jawab Niki cepat.


"Mana?"


"Ma." panggil Rezi lembut.


"Iya, Sayang."


"Ada yang mau bicara sama Mama."


"Oh, siapa?"


Evgen muncul dari samping pintu dengan tampilan rambut pendeknya, membawa sebuket bunga besar dan juga kue di tangannya.


Evgen langsung berlutut di hadapan Megi dan memeluk kedua kaki Megi.


"Mama, aku minta maaf, ampuni aku Ma." ucap Evgen menjatuhkan buliran air matanya.


Melihat Evgen menangis, Megi ikut menjatuhkan buliran air matanya juga, sekecewa apapun seorang ibu. Tetap tidak akan tega pada anaknya sendiri.


Megi meraih helaian lebat rambut Evgen. Membedirikan badan Evgen dan memeluk badan Evgen yang sudah jauh lebih tinggi dari dia.


Megi meraih kedua belah pipi Evgen dan menatap mata Evgen dengan lekat.


"Kamu mirip sekali dengan Papamu, Evgen. Semua tingkahmu juga tak berbeda dari Papamu, tapi Papamu tidak pernah menyakiti perempuan. Papamu tidak pernah menggunakan kekuatannya melawan perempuan. Papamu itu, sangat menghormati Oma kamu."


"Aku tahu, Ma. Aku minta maaf."


Megi tersenyum dan mengelus bahu Evgen. Megi memeluk bahu Evgen dan menghela nafasnya.


"Belajarlah dewasa, kamu bukan lagi anak kecil Evgen."


"Iya, Ma. Aku akan berusaha." Evgen meleraikan pelukannya dan menghapus buliran air matanya.


"Baiklah, ayo makan. Mama sudah menyiapakan makan malam."


"Em, Ma." panggil Evgen kembali.


"Hem."


"Buat Mama." Evgen menyerahkan sebuket bunga besar yang di beli Rezi tadi dan juga satu kotak kue.


Megi tersenyum dan mengacak rambut pendek Evgen.


"Anak nakal." ucap Megi tersenyum lembut.


***


Megi mengetuk daun pintu kamar Rezi. Tak lama Megi masuk dengan membawa sebuah nampan berisi cake dan juga teh.

__ADS_1


Meletakan dengan lembut di atas meja.


"Kamu buat apa, Rezi?" tanya Megi lembut.


"Aku lagi menyempurnakan virus."


"Wah ... Sepertinya kecerdasan Mama menurun padamu." Megi duduk di sebelah Rezi, menatap kedalam layar datar milik Rezi.


Rezi hanya tersenyum, matanya menatap lekat layar datarnya yang berisi tulisan-tulisan kode seperti ribuan semut.


"Mama bingung lihat itu, bagaimana kamu bisa mengerti?" tanya Megi heran.


Rezi tersenyum dan menutup laptopnya, meletakan laptopnya di atas kasur.


"Jelas Mama gak akan mengerti, itu semua kode. Bukan keahlian Mama disana, Mama kan keahliannya melukis desain."


Megi melepaskan senyumnya dan meraih pipi Rezi.


"Mama tahu, kamu kan yang nyuruh Evgen minta maaf sama Mama." ucap Megi lembut.


"Evgen sendiri yang menyesal, Ma."


"Walaupun Evgen menyesal, tapi belum tentu dia mau mendengarkan Mama. Mana mungkin dia mau memotong rambut kesayangannya itu kalau bukan kamu yang minta."


Rezi hanya tersenyum dan menggaruk kulit kepalanya. Megi memang pintar sekali memahami karakter keluarganya.


"Rezi, entah kamu masih ingat atau enggak. Tapi Mama selalu bilang sama kamu kan, kamu memang gak lahir dari rahim Mama ..."


"Tapi aku lahir dari hati Mama. Iya kan." putus Rezi lembut.


"Aku gak pernah lupa, Ma. Aku selalu ingat apapun yang Mama dan Papa bilang sama aku."


"Kamu itu selalu lembut dan juga menenangkan, Rezi. Kamu adalah penyejuk keluarga ini." ucap Megi lembut.


"Dari dulu Mama selalu takut kamu menjadi dewasa dan menikah, Mama takut kamu meninggalkan rumah ini Rezi."


Rezi tersenyum dan meleraikan pelukan Megi, Rezi meraih kedua belah pipi Megi dan menghapus buliran air mata Megi yang sempat menetes.


"Ma, dari aku kecil. Mama, Papa, Opa, Oma dan keluarga ini memperlakukan aku seperti darah mereka sendiri. Bagaimana aku bisa melupakan itu semua? bahkan sampai aku punya keluarga sendiri, aku janji sama Mama. Keluarga ini tetaplah keluarga aku."


"Janji ya Sayang, janji ya putra sulung Mama. Jangan biarkan Mama sendiri."


"Iya, Mama." jawab Rezi lembut.


Rezi mengambil kedua jemari Megi dan menciumnya dengan lembut.


"Kemanapun aku pergi, aroma dari tangan ini yang selalu aku rindukan, Ma. Tangan yang membesarkan aku selama puluhan tahun."


Megi kembali menjatuhkan air matanya dan membalas genggaman tangan Rezi. Megi menjatuhkan kepalanya di atas pundak Rezi.


"Sejak kapan anak pertama Mama sedewasa ini? Mama gak rela, bocah-bocah kecil Mama dewasa dan akan segera membawa menantu kerumah ini."


"Mama ngomong apa? aku masih belum kepikiran soal wanita." jawab Rezi sedikit malu.


Rezi tersenyum, pikirannya kembali mengawan oleh kejadian tadi sore.


'Kecuali wanita bermata bening itu, dia yang saat ini mengacaukan pikiranku, Ma.' lirih Rezi dalam hati.


***

__ADS_1


Setelah hari itu, Rezi selalu pulang membawa sebuket bunga.


Setiap sore Rezi ketoko bunga itu, mencari wanita yang ingin ia jumpai itu. Namun usaha Rezi beberapa hari ini sama sekali tak menghasilkan apapun.


Rezi meletakan vas bunga berisi bunga anyelir diatas meja ruang tengah. Menatap kelopak bunga itu dengan lekat.


Beberapa kali Rezi menghela nafasnya, tangannya menyentuh setiap kelopak bunga anyelir itu. Menghitung kelopak dalam setiap tangkai bunga anyelir didepannya.


Sementara Megi dan Evgen duduk berdua di depan piano. Megi meletakan kepalanya di atas bahu Evgen, memandangi putra sulungnya yang sedang menatap bunga anyelir di depannya dengan raut wajah kecewa.


"Kakak kamu kenapa, Evgen?" tanya Megi bingung.


"Jatuh cinta mungkin, Ma." balas Evgen cuek.


"Jatuh cinta atau patah hati?" tanya Megi kembali.


Evgen memandangi Rezi, melihat tingkah Rezi memang lebih seperti seseorang yang sedang patah hati.


"Apa dia patah hati sama Aya ya, Ma."


Mendengar ucapan Evgen, Megi mengangkat kepalanya dan mentoyor kepala Evgen dengan kuat.


"Jangan sembarangan kamu, Soraya itu sepupuan sama kalian."


"Walaupun sepupu, memang kalau cinta bisa di tahan?" ucap Evgen datar.


"Tante." panggil Aya dari pintu belakang.


"Baru di sebut namanya, sudah nongol saja batang hidungnya." ucap Evgen dengan membalikan badannya, tangannya mulai menari diatas tuts piano.


"Eh, kebetulan kamu datang, Aya. Tante mau nanya sesuatu sama kamu."


"Tanya apa Tante?"


"Rezi di kampus ada deket sama cewek gak sih?"


"Rasanya gak ada deh, Tante. Kenapa?" tanya Aya kembali.


"Lihat itu, dia gak pernah seperti itu sebelumnya. Dia kenapa ya?" tanya Megi bingung.


Mendengar ucapan Megi, Soraya memalingkan pandangannya melihat Rezi yang masih melamun di depan bunga anyelir.


Perlahan Aya mendekat dan menyentuh bahu Rezi. Merasakan ada sentuhan tangan, Rezi langsung memalingkan pandangannya.


"Eh, Aya." Rezi bangkit dengan cepat.


"Lu kenapa?" tanya Aya bingung.


"He he he. Gak apa-apa, aku cuma lagi mau lihat detil kelopak bunga saja." jawab Rezi mengelak.


"Buat apa?"


"Penasaran saja. Kamu kesini ada perlu apa? ada tugas?" tanya Rezi mengalihkan perhatian.


"Enggak, gue cuma mau main."


"Oh, kalau gitu aku naik duluan ya. Kalau ada perlu ketuk saja kamar aku." Rezi langsung berjalan melewati Aya.


Sementara Aya hanya terdiam memandangi punggung badan Rezi yang berjalan semakin jauh.

__ADS_1


Dia kenal Rezi dari kecil, ada yang aneh dari sikap Rezi. Biasa Rezi selalu terbuka padanya, namun kenapa kali ini Rezi menghindar.


__ADS_2