
Evgen mencepit batang leher Niki dan menjitak pucuk kepala Niki.
"Ayo main sekali lagi!" Ajak Evgen kembali.
"Aku gak mau Kak, Kakak jahat, jitak aku beneran," ucap Niki melas.
"Sudah, ayo main lagi."
"Aku gak mau. Mama, Kak Evgen jahat!" Teriak Niki lantang.
"Evgen, jangan suka main di meja makan," ucap Megi lembut.
"Hanya bercanda Mama," ucap Evgen lembut.
"Tapi kak Evgen beneran jitak kepala aku, Ma," adu Niki melas.
"Sudah, jangan main terus, cepat makan!" perintah Megi lembut.
"Papa sama kak Rezi mana, Ma?"
"Mereka belum pulang, entah Papa ini, kemana? gak ada kirim pesan kalau pulang telat," ucap Megi sambil melihat jam di dapurnya.
"Ciye ... Mama khawatir ya? cemburu kalau Papa pulang telat kemana-mana," ledek Evgen senang.
"Evgen, jaga ucapanmu. Jelas Mama khawatir, tapi Mama bukan khawatir karena itu."
Megi kembali berkutat didapurnya, membuat beberapa makanan lain untuk menu hari ini.
"Assalamualaikum," Sean masuk dari pintu depan dengan melepaskan kancing kemeja di pergelangan tangannya dan menggulung lengan tangannya keatas.
"Wangi banget, Mama masak apa?" Tanya Sean dengan berjalan mendekati Megi.
Sean melingkari pinggang Megi dengan satu tangannya dan mencium kepala Megi dengan lembut.
"Kakak baru pulang? kemana saja?" Tanya Megi manja sambil mengelus pipi Sean.
"Ada masalah sedikit di perusahaan, maaf ya gak sempat kirim pesan," jawab Sean lembut.
"Hem, aku pikir Kakak kemana?"
"Hadeuh, awas saja setelah ini Mama kasih kabar lagi, aku gak mau punya adik lagi, Ma." Ledek Evgen dengan menyendoki nasinya.
"Eh, aku mau, Kak," ucap Niki lembut.
"Enggak, malu tahu. Aku sudah besar masa punya adik bayi lagi, ih ogah!" Ucap Evgen malas.
"Evgen!" Megi berjalan mendekat dan menjewer telinga Evgen.
"Siapa yang ngajarin kamu bicara seperti itu?" Tanya Megi ketus.
"Aiya, Mama. Aku kan sudah besar, sudah belajar ilmu biologi."
"Awas saja kalau kamu macam-macam, Mama akan masukin lagi kamu ke perut."
"Sudah kebesaran Megi, Evgen sudah terlalu tua buat di masukin ke perut," tengah Sean lembut.
"Biar saja, biar tua sekalian di perut!" Ucap Megi kesal.
"Memang kalau aku tua di perut, Mama gak lelah ya bawa aku kemana-mana?" Tanya Evgen meledak.
"Evgen!" Megi semakin mengencangkan tarikannya di telinga Evgen.
"Haduh, haduh Ma, ampun." Ucap Evgen merintih.
"Tarik saja terus, Ma. Tarik sampai melar," ucap Niki mengompori.
__ADS_1
Sean hanya melepaskan senyumnya dan mengelus pucuk kepala Niki.
"Rezi belum pulang?" Tanya Sean lembut.
"Assalamualaikum," ucap Rezi sambil berjalan terus menaiki anak tangga rumahnya.
Rezi menekuk wajahnya, ia berjalan dengan sedikit kesal menaiki anak tangga.
"Rezi, kamu gak makan?" Tanya Megi lembut.
"Aku gak lapar, Ma," jawab Rezi tanpa menoleh karah Megi.
"Eh, Rezi kenapa ya?" Tanya Megi bingung.
Selama ini, ia tidak pernah melihat Rezi bertingkah seperti ini.
"Aduh, aduh Ma. Ini kapan mau dilepas?" Rintih Evgen melas.
Megi melepaskan tarikan tangannya dan menarik kursi di sebelah Sean. Ia masih bingung dengan tingkah Rezi yang seperti itu.
Sementara Evgen terus menggosok telinganya yang panas akibat tarikan Megi. Evgen menatap kearah Sean yang saat ini makan dengan lahap.
"Pa," panggil Evgen lembut.
"Hem," jawab Sean yang masih asyik memakan makanannya.
"Aku sudah memutuskan ingin kuliah dimana," ucap Evgen lembut.
"Dimana?" Tanya Megi dan Sean serentak.
"Aku, mau kuliah di London, Pa."
"Hah? London?" Ucap Sean dan Megi tak percaya.
Rezi membasahi seluruh tubuhnya dengan air, perasaannya benar-benar sangat kacau saat ini.
Ia baru saja ingin mengejar Neha, namun keadaannya sudah terlanjur berantakan begini.
Neha sama sekali tidak mau mendengarkan apapun, ia memilih untuk tetap diam dan mengusir Rezi dari kebunnya.
Rezi memukul tembok keramik kamar mandinya dengan keras. Kesal oleh keadaan ini, baru saja ia mengecap manisnya jatuh cinta. Kini Rezi harus menerima pahitnya patah hati.
Rezi membuka pintu balkon kamarnya dan duduk dibibir ranjang. Rezi menangkupkan tangannya didepan dahi.
Ia benar-benar merasa bodoh dan gagal. Bahkan sudah sedekat itu ia masih belum bisa melangkah untuk maju.
"Neha, Neha. Kenapa mendekatimu harus lebih sulit daripada menakhlukan virus?" Ucap Rezi depresi.
Suara ketukan dari balik pintu, menyadarkan lamunan Rezi.
"Siapa?" Tanya Rezi sedikit berteriak.
"Aku, Kak!" Jawab Evgen lembut.
Rezi bangkit dan membukakan pintu untuk Evgen, lalu menutupnya kembali dengan rapat. Ia sama sekali belum mengenakan pakaian, masih hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggang.
"Kakak baru selesai mandi?"
"Hem, begitulah."
"Oh, ini Mama nyuruh aku bawakan makanan untuk Kakak," ucap Evgen sambil meletakan nampan berisi makanan di meja Rezi.
"Letakan saja disitu, nanti Kakak makan,"
Evgen duduk dibibir ranjang dan memperhatikan gerakan Rezi yang saat ini sedang memakai kembali pakaiannya.
__ADS_1
"Kak,"
"Hem,"
"Aku ingin kuliah di London," ucap Evgen senang.
"Hem, London?" Tanya Rezi lembut. "Kenapa London?"
"Yah, ingin saja kuliah disana, Kakak kan tahu, aku mengagumi arsitektur gaya Eropa,"
Rezi tersenyum dan memakai satu persatu pakaiannya kembali.
"Bukan hanya karena kamu kuliah disana, itu artinya kamu juga mengikuti orang sana, Dek. Kamu tetap harus punya kualifikasi diri, itu yang membedakan kamu dan orang lain," ucap Rezi lembut.
"Iya, aku tahu,"
"Terus apa tanggapan Mama dan Papa?"
"Mereka bilang aku harus lulus dengan nilai tinggi dulu,"
Rezi tersenyum dan menatap Evgen dari pantulan kaca lemarinya.
"Persiapkan dirimu, kualifikasi luar negeri itu ketat, Dek."
"Iya, Kak." Evgen mengangguk dan menatap Rezi yang terlihat lebih murung dari biasanya.
"Kak,"
"Ada apa?" Tanya Rezi malas.
"Kakak bertengkar ya sama Soraya?"
"Enggak."
"Jadi kenapa akhir-akhir ini, Kakak gak pernah bareng Soraya lagi?"
"Kakak lagi sibuk,"
"Lagi sibuk?" Evgen menaikan sebelah alis matanya.
"Lagi sibuk atau lagi jatuh cinta?" Tanya Evgen kembali.
Rezi memghentikan gerakan tangannya yang sedang menyisir rambut. Rezi memalingkan pandangannya, dan tersenyum lirih.
"Jatuh cinta?" Ucap Rezi dengan tersenyum pahit.
"Kakak rasa, cinta itu hanyalah kepahitan yang di bungkus cantik dengan kemanisan, cinta yang benar-benar manis itu tidak ada?" Rezi kembali menyisir rambutnya dengan santai.
Sementara Evgen hanya tercengang, biasanya Rezi hanya akan bilang tidak, kalau membahas masalah cinta.
Sejak kapan Rezi bisa bicara filosofi cinta yang begitu menyakitkan ini. Perlahan Evgen bangkit dan memandang wajah Rezi dari dekat.
Memastikan dengan jelas, ini Rezi kakaknya atau hanya jelmaan setan?
"Ada apa?" Tanya Rezi saat melihat wajah Evgen yang menatapnya dengan binar mata kebingungan.
"Kak, ini beneran Kakak?" Tanya Evgen lembut.
"Jadi?"
"Kenapa Kakak jadi begini?"
"Maksudnya?" Tanya Rezi dengan menaikan sebelah alis matanya.
"Kakak aneh? Kakak patah hati ya?"
__ADS_1