
Evgen memandangi Shenina yang sedang memotong sayur dengan gerakan cepat. Beberapa kali Evgen menghela nafasnya karena lelah menunggu Shenina yang sedang memasak dengan waktu lama.
Evgen menumpuhkan dagunya diatas kepalan tangan dan mengetuk meja dengan jari tangannya.
"Harus berapa lama lagi Shen? gue lapar," ucap Evgen melas.
"Lapar?" Tanya Shenina ketus.
Evgen menganggukan kepalanya dengan melas. Ia sudah lama menunggu Shenina, tapi sampai saat ini Shenina belum juga kelar memasak satu hidangan pun.
"Lama!" teriak Evgen kesal.
"Heh, elu kalau mau makan ya usahalah. Jangan selalu merintah orang seenaknya, lu sendiri kalau disuruh masak bisa gak?" Tanya Shenina keras.
"Kalau sudah ada elu, kenapa gue harus masak?" Evgen menyilangkan kedua tangannya di dada.
Shenina hanya diam, ia memotong wortel itu dengan kesal. Tidak ada gunannya ia berdebat dengan Evgen. Hanya membuang energi dan tenaganya saja.
Evgen melirik kearah Shenina, ia bangkit dan berjalan kesisi Shenina.
"Ada yang mau gue bantu?" Tanya Evgen mengalah.
Shenina hanya melirik kearah Evgen dan memayunkan bibirnya.
"Heh, ada yang mau gue bantu?" Tanya Evgen ketus.
"Menurut lu?" Tanya Shenina ketus.
"Heh, sudah bagus ya gue mau bantu, elu di tanyain baik-baik malah begini!" Teriak Evgen ketus.
"Memang kalau gue minta bantuan, elu bisa?"
Evgen tergagap untuk menjawab pertanyaan Shenina. Benar juga, kalau dia ingin membantu, ia bisa apa?
Bahkan apa yang dipegang dan di potong oleh Shenina saja dia bingung namanya apa?
"Itu, itu, walaupun gue gak bisa. Tapi lu kan bisa ajari dulu."
"Mau ngajari elu lagi? halah buang-buang waktu. Gue masak cepat begini saja elu sudah gak sabar, apalagi ngajari elu, bisa ngamuk elu karena kelaparan."
Evgen kembali menarik kursi didepan Shenina dan duduk dengan tenang. Melihat Shenina yang memotong dengan cepat
Melihat raut wajah Evgen yang terlihat begitu kecewa. Shenina merasa kasihan dan juga tidak tega.
"Lu benar-benar mau bantuin gue?" Tanya Shenina lembut.
Evgen hanya menganggukan kepalanya.
Shenina membanting kantungan di depan Evgen.
"Lu kupasi itu bawang, awas loh jangan sampai nangis lu ya," ucap Shenina ketus.
Evgen membuka kantungan itu dan mengupas kulit bawang itu.
"Hanya seperti ini, kecil buat gue," ucap Evgen meremehi.
__ADS_1
Setelah lima menit, bukannya kulit bawang yang terkupas malah Evgen yang menangis bombay.
Shenina tersenyum melihat ekspresi Evgen yang sudah banjir air mata saat berhadapan dengan bawang merah.
Tidak ada niat buat mengerjai Evgen, tapi siapa sangka jika Evgen benar-benar tersiksa saat mengupas kulit bawang.
"Sialan elu!" Evgen membanting pisaunya diatas meja.
"Lu ngerjain gue ya?" Tanya Evgen kesal.
Shenina melepaskan tawanya, ia sakit perut melihat Evgen si lelaki tengil itu bisa menangis hanya karena mengupas bawang.
Evgen bangkit dari kursinya dan mendekati Shenina yang sedang tertawa lepas.
Evgen mengusap wajah Shenina dengan kasar. Ia benar-benar kesal di buat oleh Shenina hari ini.
"Ha ha ha, sumpah gue gak niat kerjain elu. Tapi gue gak ngira elu bisa nangis hanya karena bawang merah," ucap Shenina dengan tertawa lepas.
Evgen menyilangkan kedua tangannya didada, ia ikut tersenyum tipis saat melihat Shenina tertawa dengan lepas.
"Ah, au. Mata gue ikut perih," ucap Shenina menghentikan tawanya.
"Sini, gue lihat." Evgen menarik kepala Shenina dan mengucek mata Shenina.
Shenina kembali tertawa lebar dan mendorong badan Evgen.
"Mata gue perih karena tangan elu, kenapa elu tambahi lagi, bodoh?" Tanya Shenina berusaha menghentikan tawanya.
"Oh, sorry."
"Ha ha ha, gue gak ngerjai elu. Tapi itu karma buat elu," ucap Evgen meledek.
Shenina mengucek matanya, mencoba membuka matanya yang terasa semakin perih.
Evgen mengambil kepala Shenina dan menghembus mata Shenina.
Shenina kembali tertawa, perutnya sampai sakit karena tertawa terus tanpa bisa berhenti.
"Evgen mata gue perih karena bawang, bukan kena debu. Kenapa elu hembus?" Tanya Shenina melepaskan tawanya.
Evgen ikut tersenyum, benar juga yang di ucapkan oleh Shenina. Evgen menatap lekat, wajah Shenina yang terus tertawa dengan lebar.
Wajah kuning langsat Shenina terlihat sangat mempesona saat ia tertawa lepas seperti ini.
Evgen menghela nafasnya dan menarik badan Shenina. Memeluk badan kecil Shenina dengan erat.
"Kalau gitu, lu kucek di baju gue saja. Ini bersih kok, kalaupun kotor, itu karena elu yang mengotorinya," ucap Evgen lembut.
"Sialan elu, sudah begini masih saja nyalahin gue." Shenina menumbuk dada bidang Evgen dengan lembut.
Kembali tertawa lepas didalam pelukan Evgen.
***
Rezi meletakan ranselnya diatas meja, ia membuang badannya keatas kasur. Lelah sekali, seharusnya ia tidak mengambil tawaran untuk menjadi asisten dosen.
__ADS_1
Waktunya banyak tersita disana, belum lagi kelas mata kuliahnya dan juga project yang sedang ia kerjakan. Ia hampir gila membagi waktu.
Rezi menghela nafasnya dan menarik gulingnya, ia memejamkan matanya. Sekilas bayangan Neha bermain didalam pikirannya, Rezi tersenyum sendiri.
Tak lama ia sadar dan terduduk diatas kasur.
"Sial, gue lupa sama bibit bunganya," ucap Rezi terkejut.
Rezi berlari kearah balkon dan membuka pintu balkon kamarnya.
Matanya membulat sempurna saat melihat salah satu potnya jatuh dan berantakan.
"Astaga! kenapa bisa begini bibitnya?" Rezi berjongkok didepan bibit itu dan membangunkan pot kecilnya.
Menanam kembali bibit itu kedalam pot mininya.
"Evgen, awas saja kamu Dek. Jangan harap bisa lepas saat kamu pulang nanti."
***
"Haaatciiiih." Evgen menggosok hidungnya yang sedikit gatal.
"Kenapa elu? flu?" Tanya Shenina sambil mengangkat piring-piring kotor sisa makan malam mereka.
"Gak, gak tahu juga kenapa tiba-tiba bersin," ucap Evgen menggosok hidungnya.
"Ha ha ha, makanya jangan banyak sekali musuh. Jadi elu banyak di kutuk sama orang kan."
"Halah, mitos itu. Percaya banget sama yang begituan," ucap Evgen tidak percaya.
Evgen memalingkan pandangannya kesekeliling. Ia sama sekali tidak menemukan satupun tanaman dihalaman rumah Shenina.
Shenina kembali keluar dan memberikan segelas air kehadapan Evgen.
"Shen, rumah elu kok sepi banget sih?" Tanya Evgen lembut.
"Memang rumah gue sepi, kan gue cuma berdua sama Seta dirumah ini," jawab Shenina lembut.
"Maksud gue itu, kenapa dihalaman rumah elu gak ada tanaman?"
"Itu, ada rumput dan pohon jambu. Apa elu gak bisa lihat?" Balas Shenina ketus.
Evgen mengacak rambutnya dan menghela nafas berat.
"Maksud gue, kenapa gak ada bunga sama sekali? biasa anak gadis itu kan suka merawat bunga?" Tanya Evgen kesal.
"Menurut elu, gue ada waktu gitu ngurus tanaman? gue gak ada waktu senggang untuk melakukan hal seperti itu. " Jawab Shenina ketus.
"Oh, tapi elu suka bunga?" Tanya Evgen kembali.
"Gak juga sih, gue gak telaten merawat yang seperti itu."
Evgen memanyunkan bibirnya, dan mengangguk kan kepalanya.
'Yes....' Sorak Evgen dalam hati.
__ADS_1
Jika Shenina tidak terlalu peduli pada tanaman, kemungkinan terbesar bibit bunga yang ada pada Rezi itu, bukan Shenina yang memberikan.