Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
12


__ADS_3

Sean melepaskan senyumnya saat Rezi tergagap menjawab pertanyaannya.


"Rezi, kalau kamu jatuh cinta, jangan pernah takut untuk mengakuinya."


"Memang aku boleh jatuh cinta, Pa?" Tanya Rezi polos.


"Ha ha ha, siapa yang mau larang, Nak?" Tanya Sean dengan tertawa keras.


"Apa Papa gak akan marah kalau aku jatuh cinta?"


"Kamu sudah dewasa. Jatuh cinta itu hal yang biasa, Nak. Jangan batasi diri hanya karena kamu gak berani, cobalah untuk lebih membuka diri, Rezi. Lihatlah, banyak hal yang menunggu kamu datang dan menghampiri."


Rezi tersenyum dan memandang wajah Sean dengan sendu.


"Aku hanya takut Pa, takut mengecewakan Mama dan Papa."


"Kalau kamu tak pernah melakukan kesalahan, maka kamu gak akan pernah tahu bagaimana itu penyesalan, Rezi. Jangan pernah takut untuk mencoba, karena sesuatu gak akan tahu hasilnya sebelum kita mencoba, iyakan."


"Iya, Papa benar."


"Papa memang selalu benar. Ngomong-ngomong apa wanita itu Soraya?" Tanya Sean dengan memainkan kedua alis matanya.


"Papa!" Tekan Rezi lembut.


"Ha ha ha, Papa hanya bercanda. Baiklah, Papa gak akan menganggu kamu lagi. Papa keluar ya." Sean mengacak rambut Rezi dan berjalan kedepan pintu Rezi.


Saat Sean ingin keuar, Sean kembali memalingkan wajahnya kearah Rezi.


"Rezi."


"Hem."


"Akuilah kalau kamu memang jatuh cinta, Nak. Jangan terlalu angkuh dan berusaha menutupinya, atau gak, kamu akan menyesal saat kamu melewatkannya," ucap Sean sendu.


Sean tersenyum dan langsung berjalan keluar. Membiarkan Rezi kembali sendiri dengan pemikirannya.


"Tapi aku ragu, Pa. Apa Mama dan Papa akan terima seandainya tahu wanita yang aku cintai itu, Neha. Gadis manis tanpa suara itu."


***


Evgen membanting nampan di tangannya dengan kuat. Ia memandang Shenina yang sedang duduk santai di salah satu kursi dalam kantin.


"Heh, kapan wajah elu itu sembuh? sudah seminggu, kenapa belum sembuh juga?" Tanya Evgen ketus.


"Kenapa tanya sama gue? seharusnya elu ngukur seberapa kuat elu tumbuk wajah gue?" Jawab Shenina angkuh.


"Apa elu mau gue tambahin di pipi sebelah lagi?"


"Kalau elu suka nyuci mangkuk bakso sih, ya gue gak masalah."


Evgen menumbuk meja di depan Shenina dan duduk di sebelah Shenina. Tak lama Evgen meletakan kepalanya di bahu Shenina.


"Gue lelah banget, Shen. Elu gak bisa lepasin gue aja?" Pinta Evgen manja.


Shenina memindahkan bahunya dengan cepat dan menepuk dahi Evgen dengan kuat.


"Heh, elu pikir bahu gue ini apa? kasur? enak banget elu tiduran di sini."


"Alah." Evgen menendang bahu Shenina kuat. Karena Evgen tak bisa menakar kekuatan tenaganya, seketika Shenina terjungkal kebawah.

__ADS_1


"Evgen!" Teriak Shenina lantang.


"Elu cari masalah sama gue?" Shenina bangkit dan memegangi sudut dahinya yang memar karena terbentur tembok.


"Sorry, Shen. Gue gak sengaja, sumpah!" Evgen mengangkat tangannya dan membentuk jarinya menjadi huruf v.


"Mau sengaja, mau enggak. Habis elu gue buat!" Teriak Shenina geram.


Evgen berlari keluar dari kantin secepat yang ia bisa. Menghindari kejaran Shenina yang mungkin akan membuat ia mati.


Tak peduli cuaca panas dan terik, Evgen dan Shenina kejar-kejaran di tengah lapangan.


Tak peduli juga pada perhatian seluruh siswa sekolah yang memperhatikan mereka dari pinggir lapangan.


Beberapa siswa hanya bisa menggeleng melihat Evgen dan Shenina yang selalu bertengkar dari pertama kali masuk sekolah.


Shenina menarik nafasnya dengan sedikit memburu, perbedaan besar badan dan juga panjang kaki Evgen, membuat Shenina tak mampu mengejar langkah Evgen.


Karena geram tak bisa menangkap Evgen. Shenina melepaskan sebelah sepatunya dan melempar kearah Evgen. Namun lemparan Shenina masih kurang tepat sasaran.


Shenina melepaskan sebelah lagi sepatunya, kali ini ia melemparnya sekuat tenaga, tersasar pada kepala Evgen.


Refleks, Evgen menunduk saat sepatu Shenina melayang kearahnya.


Bugh


Sepatu Shenina mendarat tepat di wajah kepala sekolah. Seketika Evgen dan Shenina terdiam, mereka hanya saling pandang berdua.


Sementara wajah kepala sekolah sudah memadam karena menahan amarah dan juga malu luar biasa.


"Shenina, Evgen! ikut kalian ke kantor kepala sekolah!"


***


Wajah Sean sudah memadam, tak tahu harus bagaimana menghadapi kepala sekolah. Dalam sebulan, entah sudah beberapa kali, Sean dan Megi keluar masuk kantor kepala sekolah karena ulahnya Evgen.


Mungkin jika bukan karena Sean donatur terbesar sekolah, Evgen sudah di keluarkan sejak lama.


Sean menghela nafasnya, matanya masih memandang Evgen dengan lekat.


"Pak Sean, ini adalah panggilan yang ketiga kalinya dalam bulan ini. Sebenarnya saya juga bingung bagaimana lagi harus menghukum Evgen agar dia bisa jera." Jelas kepala sekolah itu lembut.


Sementara Sean masih tak bergeming, ia terus menatap Evgen dengan sinis. Sementara, Evgen sudah banjir peluh keringat, tak sanggup lagi menahan debaran jantung yang semakin menguat.


"Pak, apa anda mau mengatakan sesuatu?" Tanya kepala sekolah itu hati-hati. Sebenarnya ia pun takut melihat ekspresi Sean yang begitu mengerikan.


Sean menghela nafasnya dan mengubah duduknya. Evgen memegangi dadanya dan menghembuskan nafasnya sedikit lega.


"Terserah pihak sekolah mau buat apa, saya gak peduli lagi. Mau di gantung di tiang bendera juga saya ikhlas." Jawab Sean sambil berdiri dan berjalan keluar.


"Evgen, Shenina. Kalian saya hukum untuk membersihkan toilet selama dua minggu setiap pulang sekolah."


"Apa?" Ucap Shenina dan Evgen serentak.


"Tapi ini salah dia, Bu." Ucap Shenina dan Evgen bersamaan, saling menyalahkan.


"Saya gak mau tahu itu salah siapa, yang penting kalian berdua yang berbuat."


"Tapi, Bu ...."

__ADS_1


"Shenina, dalam bulan ini kamu sudah 2 kali masuk ruangan saya. Kalau sekali lagi kamu bermasalah, saya akan tarik beasiswa kamu."


"Jangan, Bu. Jangan cabut beasiswa saya," ucap Shenia melas.


"Kalau kamu gak mau saya cabut beasiswanya, jangan buat masalah lagi."


"Baik, Bu." Jawab Shenina lemas.


"Sudah, kalian sudah boleh keluar."


Evgen dan Shenina bangkit secara bersamaan, keluar dari ruangan kepala sekolah dengan lemas.


Evgen langsung berjalan ke parkiran mobil, menemui Sean yang sedang duduk diatas kap depan mobil. Memegang sebatang rokok.


Langkah Evgen terhenti saat melihat Sean sudah berubah penampilan. Sean menggulung lengan kemeja panjangnya, rambut yang sudah tak tersisir rapi lagi dan dengan kepulan asap yang keluar dari bibirnya.


Mata Sean menatap Evgen dengan sangat lekat. Seketika Evgen memundurkan langkahnya saat melihat wajah Sean yang berubah sangat mengerikan.


"Maju," ucap Sean lembut.


Evgen menelan salivanya yang terasa sangat pahit. Dengan sedikit gemetar Evgen memajukan langkahnya. Mendekati Sean yang duduk santai dengan kepulan asap di atas kap depan mobil hitamnya.


Evgen berdiri dengan gemetar di hadapan Sean. Ia menundukan pandangannya jauh kebawah.


"Lepaskan tas mu!" Perintah Sean lembut.


Evgen mendongakan pandangannya seketika, dengan sedikit gemetar ia melepaskan tas yang hanya menyangkut di salah satu bahunya.


Sean turun dari kap mobilnya dan memijak batang rokok yang baru 3 kali ia hisap.


Sean menendang tas Evgen sekuat tenaganya, seketika tas Evgen melayang beberapa meter kedepan.


Evgen tercekat memandangi tas nya yang hancur hanya dengan sekali tendangan Sean.


"Arrrrgggg!" Sean menumbuk kap depan mobilnya dengan kuat.


Membuat kap depan mobilnya yang hitam mengkilap, remuk hanya dengan sekali tumbukan.


Kembali Evgen terdiam, matanya tak bisa lepas dari kap mobil yang remuk itu, seandainya tangan itu menumbuk ia. Mungkin ia akan pingsan atau koma.


Sean mengambil nafasnya yang memburu kencang, mengalihkan mata tajamnya ke wajah Evgen yang sudah memucat pasi.


Perlahan Sean berjalan mendekati Evgen, Evgen langsung bersujud di kaki Sean dan memeluk betis Sean dengan kuat.


"Ampun, Pa. Ampuni aku Papa," ucap Evgen dengan menangis


"Jangan kamu uji terus kesabaran Papa, Evgen. Papa masih bisa bunuh orang hanya dengan tangan kosong," ucap Sean menekan.


Sean menarik kemeja putih Evgen dan mencengkram keranya dengan kuat.


"Kalau kamu penasaran bagaimana kekuatan Papa dulu, kamu bisa buat ulah terus kedepannya," ucap Sean lembut.


"Kamu tahu, tangan kosong Papa bisa membunuh lawan dengan cepat, sangat cepat malah," ancam Sean dengan tersenyum sinis.


Sean menguatkan cengkraman tangannya, perlahan ia mendekatkan bibirnya ke telinga Evgen.


"2 detik, Papa hanya butuh 2 detik untuk menarik nyawamu keluar dari raga," bisik Sean lembut.


Perkataan Sean sangat lembut, namun itu bisa membuat nyali Evgen langsung menciut.

__ADS_1


__ADS_2