
Evgen menyodorkan sebuah es krim ke hadapan gadis kecil berambut pirang yang sedang duduk santai di tengah taman kota.
Krystal menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan membuang pandangannya ke sisi kosong.
Evgen menghela napasnya, duduk menyempiti Krystal, membuka es krim yang ada di tangannya dan menyuapi gadis kecil itu.
Krystal memalingkan wajahnya, terdiam, tidak menggubris keberadaan lelaki angkuh itu di sampingnya.
"Gue sudah bicarain hal ini sama Papa, dia bilang masalah ini lagi diselidiki, tetapi Papa gak bisa mengembalikan perusahaan kalian lagi," ucap Evgen lembut.
Krystal melepaskan silangan tangannya dan melirik ke arah Evgen. Ia mengambil es krim yang ada di genggaman tangan Evgen.
"Maaf ya Kak, aku terkesan memaksa. Sebenarnya aku hanya gak tega melihat penderitaan Papa saat ini. Aku tahu Papa gak nyaman tinggal di London. Tapi Papa gak bisa bilang apa-apa karena kami tidak memiliki apapun lagi yang tertinggal di sana."
Evgen menganggukan kepalanya, memakan cone es krim miliknya.
Ia menatap wajah gadis kecil itu dengan lekat, ternyata di balik sikap menyebalkannya dulu. Gadis ini memiliki sikap dewasa dan sayang dengan keluarga.
Evgen tersenyum lembut dan meraih pucuk kepala Krystal. Mengelus kepalanya dengan lembut.
"Ehm, iya. Aku ada bawa beberapa buku tentang arsitektur. Ini buku yang bagus banget dan mungkin sekarang sudah tidak ada lagi di pasaran."
Krystal melepaskan ransel mungilnya dan mengeluarkan beberapa buku tebal.
Evgen menaikan sebelah alis matanya, melihat beberapa buku klasik tentang dasar gambar bangunan itu.
"Dari mana elu dapati buku-buku ini?" tanya Evgen bingung.
Krystal tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. Evgen menajamkan matanya, melihat gelagat mencurigakan gadis kecil ini.
Evgen menarik kedua belah pipi Krystal dengan kuat.
"Katakan, dari mana elu dapati buku-buku ini?" tanya Evgen sembari menarik kedua belah pipi Krystal.
"Aduh Kak, aduh," ucap Krystal memukul kedua tangan Evgen kuat.
"Katakan! Dari mana elu dapati buku
ini, kalau enggak elu katakan, maka gak akan gue lepasi."
"Iya, iya. Tapi lepasi dulu, ini sakit."
Evgen melepaskan cubitan tangannya. Sedang, Krystal memegangi kedua belah pipinya yang sedikit kram.
"Itu, aku ambil dari perpustakaan Grandpa," jawab Krystal lemas.
"Kakek elu kok bisa banyak buku-buku begini? Kakek elu arsitek juga, ya?" tanya Evgen penasaran.
"Bukan."
"Jadi?"
"Grandpa itu mantan Dosen, dulu Grandpa itu magister arsitektur. Sempat membuat beberapa bangunan sih, tapi sekarang enggak lagi."
"Oh." Evgen mengambil beberapa buku klasik itu dan membukanya.
"Bilang sama Kakek elu, gue akan pinjam ini beberapa waktu lama," ucap Evgen membuka lembaran buku itu.
Krystal menangkupkan tangannya di depan bibir. Kembali tertawa kecil.
Evgen melirik ke arah Krystal. Mengetuk kepala Krystal dengan salah satu buku tebal yang sedang ia pegang.
"Auw," lirih Krystal sambil memegangi pucuk kepalanya.
"Kak Evgen apa-apaan sih?" tanya Krystal jutek.
"Apa yang elu sembunyikan dari gue?" tanya Evgen ketus.
"Apa? Sembunyiin apa?" tanya Krystal memalingkan wajahnya.
Evgen kembali mengetuk kepala Krystal menggunakan buku tebal itu. Mencoba membuka bibirnya tentang rahasia yang ia sembunyikan.
"Ih ... kak Evgen apaan sih?" Krystal menghujani lengan tangan evgen dengan pukulan dan cubitan.
Kesal oleh tingkah Evgen yang selalu menyiksanya. Evgen hanya tertawa, beberapa kali mencoba menghindari cubitan gadis itu.
Kembali tangan Evgen menarik kulit pipi Krystal.
"Dari mana elu dapati ini? Bilang sama gue!" ancam Evgen sekali lagi.
"Iya, iya aku bilang." Krystal melepaskan cubitan tangan Evgeb di kedua pipinya.
"Itu aku curi di perpustakaan Grandpa," jawab Krystal sambil tersenyum kuda.
Evgen hanya memandang Krystal tajam. Kembali mengetuk pucuk kepala Krystal dengan buku yang ada di tangannya.
"Dasar anak nakal," ucap Evgen ketus.
"Kakak apaan sih? Sudah bagus aku kasih pinjami, masih saja tampol kepala aku." Krystal menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
Duduk membelakangi Evgen, kesal setengah mati.
__ADS_1
"Baikpah, gue minta maaf." Colek Evgen di lengan tabgan Krystal.
Krystal memukul punggung tangan Evgen. Menjauhkannya dari lengan tangannya.
Evgen tersenyum dan menggelitiki pinggang Krystal. Gadis itu menggeliat dan melepaskan tawanya. Geli oleh gelitikan tangan lelaki itu.
Di tengah candaan mereka berdua, ponsel Evgen berdering keras.
Evgen meletakan satu tangannya di depan bibir, mencoba memberikan kode agar gadis ini diam sejenak.
Krystal menghela napasnya, merapikan helaian rambut dan juga letak topi rajutnya.
Rezi tersenyum dari layar datarnya, memandang wajah adiknya itu dengan lekat.
"Ada apa Kak?" tanya Evgen lembut.
"Kamu sedang di mana?"
"Aku di pusat taman kota."
"Ini musim dingin, kenapa kamu selalu berada di luar ruangan?" tanya Rezi rewel.
"Hanya musim dingin, memang apa yang perlu ditakuti?"
Rezi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Menarik salah satu kursi di depan bar restoran mewah milik Papanya tersebut.
"Kakak lagi di hotel ya?" tanya Evgen saat melihat latar belakang tempat duduk Rezi.
"Iya."
"Ngapain?" tanya Evgen lembut.
"Kakak mengurus beberapa bisnis di sini. Kamu ingat Kakak akan menikah, jadi harus belajar untuk memulai usaha."
"Aku pikir Kakak akan membuka kebun bunga setelah menikah, ha ha ha," ledek Evgen senang.
"Dasar kamu ini," balas Rezi lembut.
"Kamu, sedang bersama siapa di sana?" tanya Rezi kembali.
Evgen menarik bahu Krystal, menunjukan wajah Krystal di depan layarnya.
Krystal tersenyum dan melambaikan tangannya, saat melihat Rezi tersenyum dalam layar datarnya.
"Hai," sapa Krystal ramah.
"Hallo," balas Rezi tersenyum lembut.
Shenina memalingkan wajahnya saat mendengar ucapan Rezi. Tanpa disadari, ia membersihkan lantai sampai ke belakang tempat Rezi duduk.
Shenina melihat layar datar Rezi, penasaran oleh wanita yang dikatakan oleh Rezi itu.
"Shenina," lirih Evgen saat melihat Shenina berada di belakang Rezi.
Evgen langsung melepaskan pelukannya di bahu Krystal. Sementara Rezi memalingkan wajahnya, melihat Shenina yang berada di belakang.
Shenina melepaskan senyumnya, ia mengangguk dan mengangkat ember pelnya. Berjalan menjauh dari Rezi dan Evgen.
Shenina meletakan pel itu kembali di kamar mandi. Menyandarkan bahunya di balik pintu toilet.
Walaupun ia berkata ingin melepaskan, namun melihat Evgen bisa dekat dengan wanita lain secepat itu membuat hatinya terasa perih.
Shenina melipat kedua kakinya, menyembunyikan wajahnya di atas dengkul. Meluruhkan air matanya satu persatu.
Perlahan isak tangis itu menjadi dalam. Shenina menangis tergugu, berusaha melepaskan rasa sakit di dalam hatinya.
"Gue pikir, perpisahan ini akan menjadi jalan untuk kita kembali. Apakah elu akan mengingat kisah cinta kita saat itu Evgen? Gue pikir gue mampu bertahan, tapi ternyata gue menelan kekecewaan yang teramat dalam," ucap Shenina tergugu pilu.
Sementara, Rezi hanya bisa menghela napasnya. Ia kembali melihat Evgen di seberang sana.
"Dia, temanku di Indonesia dulu Kak. Tanpa sengaja kami bertemu, aku minta bantuan dia untuk mencari buku di sini," jelas Evgen lembut.
"Kenapa kamu jelasi sama Kakak? Kakak gak butuh penjelasanmu. Saat ini yang sedang terluka adalah Shenina, katakan itu padanya," jawab Rezi.
Evgen menundukan pandangannya, ia menelan salivanya yang terasa sedikit pahit.
"Buat apa? Aku dan Shenina, kami ... bukan apa-apa lagi. Hak aku mau berteman dengan siapa saja, lagian siapa aku buatnya?" tanya Evgen pahit.
Evgen tersenyum pahit dan menghela napasnya berat.
"Evgen, sebenarnya Shenina--"
"Kak, aku mau cari buku dulu. Nanti kita bicara lagi ya," putus Evgen langsung.
"Baiklah," jawab Rezi mengalah.
Evgen mematikan panggilannya dan melirik ke arah Krystal. Gadis itu hanya tersenyum, menampilkan lesung di kedua belah pipinya.
"Kenapa elu senyum-senyum?" tanya Evgen ketus.
"Dia mantan Kakak?" tanya Krystal penasaran.
__ADS_1
Evgen mendekatkan wajahnya ke depan Krystal. Menatap binar bening mata gadis itu dengan lekat.
"Ke-po!" ketus Evgen kasar.
Krystal mengerdikan bahunya, menggelengkan kepalanya pasrah.
"Hahhh, ternyata Kakak ke sini karena patah hati ya? Aku pikir beneran mau kuliah," ledek Krystal senang.
"Sudahlah, ayo bangkit dan temani aku ke perpusatakaan. Aku masih harus menyiapkan beberapa bahan pelajaran." Tarik Evgen di lengan tangan Krystal
Krystal menghela napasnya dan membereskan ransel mungilnya. Berjalan mengikuti langkah kaki Evgen pergi.
Shenina menyentuh bahu Rezi dengan lembut. Lelaki itu memalingkan wajahnya, melihat wanita muda yang berdiri di belakangnya.
Shenina tersenyum dengan mata sembab dan hidung yang memerah. Walaupun ia berusaha menyembunyikannya, namun keadaan wajahnya sudah mampu menyampaikan suasana hatinya.
"Ayo duduk sini!" perintah Rezi lembut.
Shenina menaiki kursi di sebelah Rezi. Ia mengeluarkan selembar tiket dan menyodorkannya ke Rezi.
"Aku sudah pikirkan, Mas," ucap Shenina lembut.
Shenina menarik tanganya dan kembali tersenyum.
"Aku, gak bisa berangkat ke London."
"Kenapa?" tanya Rezi langsung. "Apa karena Evgen tadi bersama dengan wanita?"
Shenina memainkan bibirnya dan menggelengkan kepala.
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku pikir, setelah kehilangan Evgen aku akan merasa lega. Tetapi aku salah, setelah kehilangan dia, aku baru menyadari, bahwa yang paling aku cintai adalah dia," jelas Shenina lembut.
"Terus, kenapa gak mau pergi?"
"Tapi masalah aku dan Evgen tidak sesederhana yang terlihat, Mas. Aku dan Evgen, kami. Gak akan bisa bersama."
"Kita gak akan tahu sebelum mencoba. Kamu rindu dia tapi kamu tidak bisa mengatakan bahwa kamu rindu. Shenina, apakah seberat itu untuk mengungkapkannya?"
Sejenak Shenina terdiam, matanya hanya memandang tiket pesawat itu dengan tatapan kosong.
"Terserah apa maumu, aku hanya niat membantu. Semua perasaan dan tindakan ada di bawah kendalimu. Tetapi jika aku adalah kamu." Rezi tersenyum dan kembali menyodorkan tiket itu ke arah Shenina.
"Lebih baik mencoba, namun gagal. Dari pada berdiam dan pada akhirnya hanya meninggalkan penyesalan."
Rezi bangkit dari kursinya, meninggalkan gadis itu kembali dengan tiket pesawat yang tidak ia bawa.
Shenina menghela napasnya, ia meraih tiket itu dan merematnya.
"Saat ini kehangatan yang tertinggal dalam ingatan hanya menjadi bekas luka yang teramat dalam. Haruskah aku kembali? Mencoba menemukan sisa hati yang telah pergi?"
***
Evgen meletakan kedua tangannya di kantung jaket tebalnya. Memandang langit London yang senantiasa dihiasi buliran putih salju.
Evgen menghela napasnya, menghembuskan kabut dari dalam bibirnya.
Evgen mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi wanita muda yang senantiasa menemaninya selama beberapa minggu ini.
Tanpa sengaja, ia malah membuka galeri foto. Sebuah wajah kembali mengingatkannya pada luka yang ingin ia tinggalkan.
Evgen tersenyum lembut dan mengelus lembut layar ponsel itu.
"Shenina, gue rindu elu. Tapi gue gak bisa mengatakan rindu, entah sampai kapan rindu ini terus menyiksa gue?"
Evgen kembali menghela napasnya, duduk di kursi yang terjejer di bibir jalan.
"Langit selalu berubah warna, banyak keindahan yang ditampilkan alam. Tapi kenapa? Sedikit saja, kisah kita tidak bisa berakhir dengan indah?"
Evgen menjatuhkan kepalanya di atas senderan kursi. Memandang langit London yang masih berhiaskan salju putih.
Seorang gadis duduk menyempiti Evgen. Mata lelaki itu melirik ke gadis yang ada di sebelahnya.
Perlahan Evgen mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Memandang wajah gadis itu dengan lekat.
"Kenapa?" tanya Evgen lembut.
Gadis itu melirik ke arah Evgen, ia tersenyum lembut dan mengehela napas dengan mengeluarkan kabut dari mulutnya.
"Ingin menikmati musim dingin London, gak boleh?" tanyanya kembali.
Evgen tersenyum kecut dan menggelekan kepalanya.
"Hati-hati, perhatikan pakaian elu. Atau gak, elu bisa mati kedinginan di sini."
"Bagaimana gue bisa merasakan dingin? Jika satu-satunya yang bisa buat gue merasa hangat ada di sini," ucapnya lembut.
"Terlambat, gue gak akan pulang. Walaupun elu sudah rela menjemput gue ke sini, Shenina."
__ADS_1