
"Soraya, kenapa elu bisa ada di sini?" tanya Evgen datar.
"Bukannya elu tinggal sama suami elu ya?" sambung Evgen lembut.
Soraya menuruni anak tangga dengan tersenyum lembut. Mendekati dua lelaki sepupunya itu.
"Gue ke sini untuk melihat keponakan baru gue. Ternyata elu kembali juga ya?"
Evgen melirik ke arah Rezi dan menyikut perut Rezi dengan kuat. Evgen menjatuhkan bokongnya di atas sofa dan menuangkan segelas air.
"Kalau bukan tipuan receh dari Kak Rezi, gue mana mungkin pulang," jawab Evgen ketus.
Soraya duduk menyempiti Evgen, mengacak rambut Evgen dengan sedikit geram.
"Banyak dong bawa oleh-oleh, gue minta dong. Sekalian buat dua keponakan elu juga ya," pinta Soraya manja.
Evgen menggeser duduknya dan mengeluarkan dompetnya.
"Tuh, lihat saja sendiri. Bahkan uang yang gue bawa saja masih pound sterling semua."
Soraya mengambil dompet Evgen dan memeriksanya, mata Soraya teralih pada foto wanita yang berada di sudut dompet Evgen.
Soraya mengeluarkan beberapa lembar uang kertas itu, bersamaan dengan foto wanita yang ada di dalam dompet Evgen.
"Gue minta 200£, ya. Buat jajan keponakan elu."
"Ambil saja kalau cukup," jawab Evgen malas.
"Eh, nanti malam ke rumah gue ya. Gue masakin makan malam buat elu," ajak Soraya lembut.
"Jangan sekarang, Aya. Gue belum ada tidur selama tiga hari, gue istirahat dulu ya." Evgen mengelus pucuk kepala Soraya dan berjalan menaiki anak tangga rumahnya.
Meninggalkan dompetnya di atas meja begitu saja. Aya memperhatikan punggung badan lelaki yang semakin tegap itu memasuki kamarnya.
"Eh, sini gue bilang sama elu," panggil Aya pada Rezi.
Rezi mendekat ke Soraya dan duduk di sebelahnya.
"Gue nemu ini di dompet, Evgen. Lu tahu dia siapa?"
Rezi mengambil selembar foto itu, memperhatikan wajah di dalam foto itu.
Rezi tersenyum dan menyimpannya kembali ke dalam dompet Evgen.
"Jangan diambil, kalau Evgen kehilangan foto ini, ia akan mengamuk nanti," jawab Rezi lembut.
"Lu kenal?" tanya Aya penasaran.
"Dia--" Rezi menatap ke dalam foto itu dan kembali tersenyum.
"Shenina, pacar Evgen waktu SMA," jawab Rezi lembut.
"Hah? Sudah selama ini? Dia masih menyimpan foto gadis itu?" tanya Aya tak percaya.
"Kita gak tahu Aya, apa yang telah mereka lewati bersama. Dan aku hanya tidak percaya saja, bahwa Evgen masih menjaga hatinya." Rezi memandang pintu kamar Evgen.
Tersenyum lembut, entah apa yang telah terjadi tujuh tahun lalu. Tetapi yang pasti, masih ada cinta yang tersisa di hatinya, namun entah mengapa, Evgen masih tetap bertahan di Eropa.
'Evgen, ternyata hatimu masih tidak berubah. Kamu masih mencintai Shenina. Tepat, seperti apa yang aku pikirkan.'
***
Evgen mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia mengusap wajahnya dengan kasar dan meraih ponsel. Melihat jam yang tertera dalam ponsel genggamnya.
__ADS_1
Evgen menghela napas dan merentangkan badannya. Melihat ke arah jendela yang sudah terang dengan sinar mentari.
"Kamu sudah bangun?" tanya Sean di sudut ranjang.
"Papa, sejak kapan di sana?" tanya Evgen, bangkit dari tidurnya.
"Sudah lumayan lama. Bagaimana keadaanmu, bahkan kamu tidur selama 28 jam tanpa makan."
"Aku hanya kelelahan. Aku sudah tidak tidur selama tiga hari," jawab Evgen mengusap wajahnya.
Kepalanya terasa mulai berdenyut.
"Bangun, mandilah. Papa ingin berbicara padamu," ucap Sean lembut.
"Ya, aku akan turun satu jam lagi."
Sean menutup pintu kamar putranya itu. Evgen menghela napasnya dan berjalan ke depan jendela. Melihat cahaya mentari pagi yang mulai terik menyinari.
Matanya mulai jernih memandang ke halaman depan. Bibirnya tersenyum tipis, ada sebuah rindu yang ingin ia sampaikan. Tetapi, rindu itu bahkan telah kehilangan tuannya.
Rindu akan semua kenangan yang pernah terukir di sini, dan malu dengan janji yang telah ia ingkari.
"Musim terus berganti. Dan dunia telah banyak mengalami perubahan. Tapi kenapa aku masih menanti? Padahal aku yang tidak kembali," lirih Evgen pahit.
"Hari-hari dimana kita tertawa bersama, hari di mana kita berharap untuk tetap bisa terus bersama. Hari di mana aku menangis merindukanmu, ingin sekali menemuimu tetapi aku tidak berdaya untuk bisa menggapaimu. Dan hari di mana aku selalu menanti akan sentuhanmu."
Evgen memejamkan kedua kelopak matanya, menikmati hangatnya sinar mentari yang menembus kulit wajahnya.
"Saat aku memejamkan kedua mataku dan mengingatnya. Kenapa rasanya sangat menyakitkan?"
Evgen membuka matanya dan kembali memandang ke arah depan.
"Shenina, maaf karena tidak menepati janjiku, padamu."
***
"Papa dengar, kamu mau pindah warga negara? Benarkah?" tanya Sean tanpa basa-basi.
"Benar."
Sean menggebrak meja makan di depannya. Memandang putranya itu dengan tajam.
"Apa kamu menganggap kami semua sudah mati, Evgen? Kamu ingin pindah warga negara saat semua keluargamu berkumpul di sini?" tanya Sean ketus.
Evgen hanya menghela napasnya, ia memandangi Sean dengan tatapan datar.
"Aku ada pekerjaan di Sevilla. Jadi aku berniat untuk tinggal dan menetap di sana. Karena Sevilla kota yang sangat tepat untuk membangun nama kembali."
"Evgen, Papa sudah tua. Papa butuh kalian untuk menjalankan perusahaan ini. Kalau kamu menetap di Spanyol, siapa yang akan meneruskan bisnis ini?"
"Ada kak Rezi, ada Niki. Kenapa Papa bingung seperti ini?"
"Apa kamu pikir Rezi saja sanggup mengurus bisnis ini? Rezi butuh partner dan Niki, dia bahkan baru memasuki awal semester. Evgen, kalau kamu mau menjadi arsitek, Papa gak larang. Tapi sudah saatnya kamu pulang. Papa gak ingin kamu kembali ke London apalagi menjadi warga negara Spanyol."
"Mana bisa seperti ini, Pa. Aku gak bisa lepasi mimpi ini. Apalagi aku harus memulai nama mulai dari bawah lagi kalau kembali ke sini. Papa pikir aku akan kalah begitu saja? Masih ada dendam yang ingin aku balaskan pada mereka-mereka yang menyakiti aku dua tahun lalu, Pa."
"Papa mengerti perasaan kamu. Tapi bukannya dia sudah hancur bersamaan dengan naiknya nama kamu? Apalagi yang kamu ingin lakukan? Apa itu belum cukup untuk memuaskan hasrat dendammu?"
"Belum! Aku selamanya tidak akan melepaskan dia. Bahkan kalau dia mati sekalipun, akan ku buat kematiannya itu adalah nereka terdalam buatnya," jawab Evgen membara.
"Terus apa bedanya kamu sama dia?" tanya Sean ketus.
"Jika kamu melakukan hal yang lebih buruk darinya. Berarti jiwamu bahkan tidak lebih baik darinya, Evgen. Hentikan sekarang, sebelum dendammu itu akan menjadi bara api yang hanya menghanguskan dirimu sendiri."
__ADS_1
"Papa gak ngerti, karena dia aku terpuruk dua tahun yang lalu. Karena dia aku melepaskan janjiku, aku berutang pada seseorang. Dan saat ini utangku hanya menjadi penyesalan yang paling dalam. Lalu, apakah dia peduli? Tidak, Pa. Dia bahkan teman yang paling tahu pribadiku, tapi dia juga yang mengkhianatiku."
Evgen membanting sendok makannya dan berjalan menaiki anak tangga.
"Aku sudah putuskan akan kembali ke London minggu ini. Kebetulan aku pulang, jadi aku akan sekalian mengurus berkas untuk pindah warga negara," ucap Evgen sembari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Evgen, kamu gak bisa seperti itu!" teriak Sean kesal.
"Pa, ingat kesehatan Papa," ucap Rezi menengahi.
Sean mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menyentuh sudut dahinya yang terasa cenutan karena ulah putranya itu.
"Biar aku yang bicara sama Evgen nanti. Saat ini dia sedang merasa lelah, beri dia waktu untuk lebih tenang sejenak," bujuk Rezi lembut.
Evgen membuka pintu balkon kamarnya, memperhatikan dua bocah kecil yang sedang bermain di halaman belakang rumahnya.
Evgen tersenyum lembut, melihat kedua anak Soraya yang sedang aktif bermain di bawah Sana.
"Evgen!" panggil dua wanita cantik itu serentak.
Evgen membalikan badannya, melihat pemilik suara yang memanggilnya itu.
"Ya ampun, kangen!" ucap keduanya serentak.
Dua gadis cantik itu memeluk badan Evgen dengan erat. Tak lama mereka berdua meleraikannya.
"Bagaimana kabar kaliam berdua, Twins?" tanya Evgen lembut.
"Kami baik. Kamu ini, pulang dari London malah tidur sepanjang hari. Sudah bangun juga masih di kamar saja. Ayo keluar, kita buat reuni dadakan buat kamu," ucap Siera lembut.
"Reuni?" tanya Evgen menaikan sebelah alis matanya.
"Iya, reuni seluruh anak angkatan kita. Mau ya?" bujuk Siena lembut.
Evgrn mengernyitkan dahinya dan meraih kedua pucuk kepala si kembar.
"Nanti gue pikirkan lagi ya. Gue hanya beberapa hari di sini. Untuk mengurus beberapa berkas, untuk persiapan agar gue bisa menetap di Sevilla awal tahun depan."
"Yah ... kok gitu sih, Evgen? Aku pikir elu akan tinggal di sini lagi. Aku akan menikah tahun depan, kalau kamu gak di sini, maka seperti yang sudah-sudah. Bahkan kamu gak mau pulang saat kak Rezi menikah."
"Saat ini berbeda, gue sudah ada uang sendiri. Jadi gue bisa pulang kapan saja."
"Ah ... kamu. Ngapain sih pindah ke sana? Seperti gak ada yang bisa kamu kerjain saja di sini?" tanya Siena memanyunkan bibirnya.
Evgen hanya tersenyum dan mengelus pipi kedua gadis kembar itu lembut.
"Eh, oleh-oleh mana?" tanya Siera.
"Oleh-oleh apa? Gue pulang buru-buru karena tertipu sama kak Rezi. Bahkan bawa uang saja hanya yang tersisa di dompet. Masih uang pound sterling lagi."
"Hem, padahal pulang setelah tujuh tahun. Tetapi sebutir salju pun elu gak bawa untuk kami," jawab Siena merajuk.
Evgen hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. Bahkan si kembar saja sudah banyak mengalami perubahan. Bagaamana lagi dengan Shenina?
Mungkin saat ini ia sudah menikah dan hidup bahagia. Lantas, apakah ia harus merusaknya?
Kesalahan ada pada dirinya, ia yang tidak menepati janji dua tahun lalu. Jika saat ini semua sudah berlalu, maka melewatkan Shenina adalah utang yang harus ia tanggung seumur hidup.
Evgen menghela napasnya, kembali menatap dua bocah yang sedang bermain di bawah sana.
Banyak orang-orang baru yang telah hadir dalam keluarganya, begitu pula dengan hidupnya.
Namun entah kenapa? Hatinya tidak pernah berubah. Ia masih merindukan orang yang sama.
__ADS_1
"Reuni ya?" lirih Evgen sendiri.
"Kita coba saja, siapa yang tahu, rencana apa yang telah Tuhan siapkan?"