Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
143


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Ayunda Shenina dengan mas kawin logam mulia seberat 10 gram dibayar tunai."


"Bagaimana, sah?"


"Sah ...."


Ucapan hamdalah dan gema takbir serempak, memenuhi ruangan.


Sesimpul senyuman tergaris di wajah tampan lelaki tampan itu, melegakan perasaannya yang sempat tegang sebelum prosesi akad dimulai. Sembari mengadahkan tangan, mendengarkan doa yang dipanjatkan penghulu menambah khidmat prosesi pernikahan ini.


Sebuah langkah kaki mendekat, dengan gaun putih pengantin yang ia kenakan. Memasuki ruangan masjid tempat saksi atas ikatan suci antara ia dan lelaki itu.


Seuntai senyum terus menghiasi wajah manisnya, dengan hijab putih yang melilit kepalanya dan riasan tipis yang membuat kecantikan raut wajahnya semakin terlihat sempurna.


Sesaat, Evgen masuk ke dalam pesona kecantikan istri yang baru dinikahinya itu. Terpenjarat dalam indahnya ciptaan Sang Maha Langit.


Betapa sempurna rancangan yang Dia ciptakan. Betapa indah jalinan liku cinta yang telah Dia tuliskan. Hingga pada akhirnya, pelabuhan hati yang terbaik adalah cinta di atas janji suci, akad pernikahan.


Shenina tersenyum lembut, duduk di sebelah suami yang masih terus memandanginya tanpa berkedip.


Sampai sentuhan lembut di punggung tangannya, menyadarkan lamunan.


Evgen tersenyum dan menundukan pandangannya, tersipu malu dengan tetesan air bahagia yang luruh dari matanya.


"Shen," panggil Evgen lembut.


"Hem."


"Alhamdulillah, yang gue nikahi adalah ciptaan indah Sang Maha Kuasa. Makhluk yang bernama wanita, dengan segala sifat yang terkadang buat sakit kepala."


Shenina melepaskan tawanya, mendengar ucapan pertama yang keluar setelah ijab selesai.


"Lu sedang meledek gue?" tanya Shenina lembut.


"Tapi Inshaa Allah, gue akan menjaga titipannya dengan segenap jiwa. Karena elu adalah tulang rusuk, maka teruslah berdiri di samping gue. Meluruskan dengan kelembutan, menjaga dengan keimanan, ikhlas dengan segala tuntutan dan tetaplah bertahan dalam badai perjuangan."


Evgen meraih dagu Shenina dan mendongakan kepalanya. Memandang wajah Shenina dengan jelas.


"Karena gue adalah imam, maka dampingi gue untuk menjalankan rumah tangga ini bersama. Menjadikannya surga di dunia, dan tetap berjalan bersama hingga sampai jannah."


"Inshaa Allah, Evgen. Gue akan menjaga apa yang harus gue jaga, dan gue akan melindungi apa yang harus gue lindungi. Karena elu memilih gue, maka izinkan gue berbakti sama elu, di dunia maupun di jannah.


.


.


.


Shenina keluar dari kamar mandi kamarnya, mengeringkan rambut dengan handuk kecil di tangannya.


"Lu gak mandi?" tanya Shenina saat melihat Evgen masih sibuk dengan laptopnya di malam pertama pernikahan mereka.


"Sebentar lagi, ada hal yang harus gue email ke London."


Shenina meletakan handuknya dan menaiki ranjang, melihat pekerjaan yang sedang dilakukan oleh suaminya itu.


"Evgen, gue rasa kita gak adain resepsi juga gak masalah. Kalau elu memang gak bisa lebih lama lagi tinggal di sini. Kita kembali ke London saja."


Evgen menghentikan gerakan jemarinya, melirik ke arah Shenina yang duduk di sebelahnya.


"Gue merasa apa yang dibilang Papa benar, Shenina. Gak adil buat elu kalau hanya menikah saja. Gue akan selesain ini dulu dan mempersiapkan resepsi pernikahan kita secara sempurna. Gue janji," ucap Evgen lembut.


"Evgen, gue gak masalah kalau memang tidak mengadakan resepsinya. Bagi gue, yang penting itu akadnya, bukan acaranya."


"Gue tahu, tapi setiap wanita pasti menginginkan pernikahan yang sempurna kan. Gue akan menyesal seumur hidup kalau gue gak bisa menuhi keinginan elu, Shen. Padahal gue mampu."

__ADS_1


Shenina tersenyum lembut dan mengambil kedua jemari tangan Evgen.


"Tidak semua wanita hanya terfokus oleh acara resepsinya saja, Evgen. Buat gue inti dari menikah itu adalah kehidupan setelah akad, bukan acara meriah yang di susun setelah akad. Ada atau tanpa acara resepsinya, itu tidak menjadi tolak ukur kebahagian kita, Evgen. Pernikahan, itu berjalan setelah akad, bahagia atau tidaknya, itu tergantung kita menjalaninya."


"Shen, elu memang wanita sederhana. Terkadang elu berpikir terlalu sederhana, tetapi itu pula yang membuat gue jatuh cinta."


"Gue tahu elu mampu memberikan apapun, Evgen. Elu tidak kekurangan apapun soal materi, tapi bukan itu yang buat gue mau menikahi elu."


"Lalu?" tanya Evgen lembut.


Shenina menjatuhkan kepalanya ke dalam dada bidang lelaki itu. Memejamkan kedua matanya, menikmati kehangatan yang tidak pernah berubah.


"Karena elu, adalah seseorang yang selalu bisa memberikan kehangatan buat gue, Evgen. Bahkan saat kita berpisah lama sekalipun. Gue hanya ingat, bahwa gue pernah memiliki tempat yang paling hangat, dan itu hanya ada saat gue berada di dalam dekapan elu."


Evgen meletakan dagunya di atas pucuk kepala gadis itu. Mendekap erat badan mungil gadis itu dengan kedua tangannya.


"Sekarang elu punya banyak rangkaian kata ya, Shen."


"Hem, memang dari dulu gue sudah punya banyak. Tapi kadang elunya saja yang susah diajak bicara," jawab Shenina lembut.


Evgen tersenyum dan melepaskan dekapannya. Meraih dagu gadis itu. Menatap ke dalam binar mata Shenina, antara nyata dan ilusi.


Setelah mengalami banyak sekali cobaan, bahkan waktu tidak mampu menghapus perasaan mereka satu sama lain.


"Shen, bolehkah gue--"


"Tentu saja," putus Shenina langsung. "Bukankah gue sudah halal buat elu sentuh?"


Evgen tersenyum dan menarik dagu Shenina perlahan. Mendekatkan wajah gadis itu ke wajahnya.


Perlahan Shenina memejamkan matanya, saat merasakan hangat napas Evgen dan debaran jantungnya yang semakin kuat menendang tangannya.


"Shenina, terima kasih telah bersedia menjadi istri gue."


***


"Kak Ruby," panggil Niki lembut.


"Eh, Niki. Tumben ke sini?"


"Aku mau kasih list nama bunga yang dibutuhkan untuk acara kak Neha," jawab Niki lembut.


"Kok kamu yang mengaturnya? Memang kak Neha gak pakai EO?"


"Hem, pakai. Tapi kata kak Rezi khusus bunga dipesan di sini," jawab Niki malas.


Ruby tersenyum tipis, menarik kertas yang Niki berikan.


"Kakak kamu memang baik sekali," ucap Ruby sembari memeriksa list yang diberikan Niki.


"Kenapa banyak sekali pakai bunga segar? Memang acaranya sebesar apa?"


"Oh, itu karena sekalian acara resepsi pernikahan kak Evgen dan Kak Shen. Papa buat acaranya sedikit lebih besar."


"Evgen?" tanya Ruby bingung. "Seperti tidak asing namanya?"


"Itu Kakak aku, adiknya kak Rezi yang kuliah di London."


"Oh iya, aku ingat sekarang. Sebentar ya, aku lihat dulu semua pesanan bunganya."


Niki menganggukan kepalanya, berjalan ke jajaran bunga segar yang berada di depan kaca toko.


Memperhatikan satu persatu jenis bunga yang ada di sana.


Seorang gadis masuk ke dalam toko itu, mengambil beberapa tangkai bunga dan mencolek lengan tangan Niki.

__ADS_1


"Tolong ikat ini, ya. Cepat sedikit, aku buru-buru," pinta gadis itu lembut.


Niki memandangi wajah cantik gadis itu. Dengan bentuk badan yang sangat bagus dan rambut pirang panjangnya yang sedikit ikal. Dan dua lesung pipi menghiasi pipi chubbynya.


"Hello," panggil gadis itu kembali.


Niki masih terdiam, memandangi bola matanya yang sedikit kekuningan seperti madu. Bibir merah muda seperti kelopak mawar yang ada di genggamannya.


Gadis itu mampu membuat Niki terpesona dari semenjak pertama memandangnya.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, berjalan ke depan display kasir.


"Tolong ini," pinta gadis itu lembut.


Sesaat Niki tersadar, ia berjalan mendekati Ruby.


"Kak Ruby, sini aku bantu ikat pita," pinta Niki lembut.


"Memang kamu bisa?" tanya Ruby.


"Bisa." Niki tersenyum dan mengelus tengkuk lehernya. "Aku rasa," sambungnya kembali.


Ruby tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Mengikat pita pada bunga mawar yang diminta pelanggannya itu.


"Berapa semua?" tanya gadis itu kembali.


"Ambil saja untukmu, aku yang membelikannya," jawab Niki langsung.


"Maaf, tapi aku punya uang untuk membayar." Gadis itu mengeluarkan selembar uang dan meletannya di atas display.


"Tidak usah kembali," ucap gadis itu berjalan keluar pintu.


Niki tersenyum kecut, ia melihat ke arah Ruby yang sedang berdiri berseberangan display dengannya.


"Hem?"


"Apa?" tanya Niki kesal.


"Kalau suka ayo kejar, sebelum orangnya jauh. Kesempatan gak akan datang dua kali loh."


Niki mengalihkan pandangannya ke arah gadis itu, ia berlari mengejar gadis itu.


"Tunggu!" tahan Niki cepat.


"Ada apa?"


"Hanya ingin kenalan, boleh kan?"


Gadis itu mengernyitkan dahinya, memandang wajah lelaki yang mungkin lebih muda darinya itu.


"Kenapa?" tanyanya bingung.


"Karena kamu membuat aku terpesona," jawab Niki jujur.


Gadis itu tersenyum kecut dan melambaikan tangannya.


"Maaf, aku buru-buru," tolak gadis itu.


Ia kembali membalikan badannya, tangan Niki meraih pergelangan tangan ramping gadis itu. Menahan langkah gadis itu untuk tidak pergi.


"Hanya sekedar memberitahu nama, apakah memakan waktu selama itu?" tanya Niki kembali.


Gadis itu hanya tersenyum, menampilkan dua lubang dalam di pipi chubbynya.


"Niki," ucap Niki mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Krystal."


__ADS_2