Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 23


__ADS_3

"Hana." Ucap Sean lirih.


Bibir Hana menyungging lebar. Menampilkan sederet gigi rapinya, ada ginsul yang manambah indah senyumnya.


Manis dan juga cantik, perpaduan wajahnya sangat ayu, Wajahnya terlihat kalem.


Sean menurunkan Megi dari atas gendongannya. Ia seperti kehilangan kekuatan dari seluruh badannya.


"Farrel, antar Megi kerumah sakit." Titah Sean.


Tanpa berbelit, Farrel menuntun tubuh lemah Megi berjalan melewati koridor. Megi hanya bisa menurut walaupun hatinya kecewa melihat Sean seperti itu.


Sean membuang pandangannya, tak di lihat gadis langsing di hadapannya. Setelah beberapa menit berdiam, Sean beranjak pergi. Tetapi cepat tangan gadis itu menarik pergelangan tangan Sean.


Sontak Sean menghempas tangan Hana kuat. Gadis itu seperti kehilangan keseimbangan, dan hampir jatuh.


"Jangan sentuh gue!" ucapnya ketus.


"Sean, aku cuma mau jelasin sesuatu."


"Sssttt... Cukup. Gue gak perlu penjelasan apapun."


Sean beranjak meninggalkan Hana sendirian. Di susuri koridor penginapan itu dengan jalan cepat.


"Sean." Teriak Hana kencang.


Sean hanya menghentikan langkahnya.


"Aku merindukanmu."


Seperti tak peduli, Sean memakai kacamatanya dan kembali melanjutkan perjalanannya.


Ia menuruni anak tangga dengan sedikit berlari. Memasuki mobil hitam legamnya dan melajunya dengan kencang. Mencari tempat agar rasa sesaknya bisa berkurang.


Setahun sudah berlalu, tapi perasaan sakit itu seperti kemarin terjadi. Hana, ia terlalu dalam mengorek luka hati Sean.


Sayatan yang ia buat halus, namun perihnya sangat membekas.


Sean menghentikan mobilnya di ujung barat kota. Lokasi luas tempat ia akan membangun apartemennya nanti.


Ia mamarkirkan mobilnya di lapangan luas, duduk di atas kap depan mobilnya dan membakar sebatang rokok.


Ia merebahkan badannya sambil menghembuskan kepulan asap dari bibirnya.


Bebannya terasa semakin berat, setelah ia melihat Hana kembali.


"Hana, kenapa lu harus muncul lagi sih?"


Sean memandang luas bentangan langit-langit hitam malam hari.


Berhiaskan taburan sinar-sinar putih yang menambah indah langit hitam itu.


Pikirannya melambung jauh, mengingat ke beberapa tahun silam. Saat ia pertama kali bertemu Hana di bangku sekolah.


Hana, si gadis kalem yang sangat cantik. Seluruh mata memandang ia begitu, tapi tidak dengan kelakuannya.


Setelah delapan tahun menjalin cinta, tiba saatnya Sean ingin menikahinya. Tanpa banyak berucap, Hana mencampakan Sean begitu saja.


Entah hilang kemana kenangan indah yang pernah mereka rajut bersama. Hana, menghempaskan Sean dari impian indahnya.

__ADS_1


Sean tersenyum getir, pahit luka masa lalunya kini terasa lagi di kerongkongannya.


Hana, membawa rasa itu kembali untuk di telan oleh Sean.


Deringan ponsel Sean mengakhiri perjalanan kenangan masa kelamnya.


Tanpa melihat, ia langsung mengusap layar ponselnya.


"Bos, Nona Kecil bagaimana? Apa saya tinggal saja?"


"Tinggal saja. Gue akan kesana."


"Baik, Bos"


Hana, ia membuat Sean kembali melupakan segalanya. Jika ada Hana, maka pikiran Sean hanya akan tersita untuk ia saja.


Bahkan setelah luka yang Hana ciptakan, Sean masih tak mampu mengendalikan hati dan pikirannya untuk melawan Hana.


Sesaat ia lupa jika sekarang ada masalah Megi dan juga Rena yang harus ia hadapi. Sean menghela nafas panjang dan turun dari kap mobilnya.


Membuamg puntung rokoknya dan mencoba mewaraskan diri.


Sean kembali melajukan mobilnya di tengah malam. Sudah seperti terbiasa, malam hari Sean begitu padat aktivitas.


Sean langsung berjalan memasuki koridor rumah sakit. Ada Farrel dan dua anak buahnya berdiri di depan kamar rawat inap Megi.


"Farrel, apa ada perkembangan soal Rena?"


"Belum ada, Bos." jawab Farrel tegas.


"Kalian udah boleh pergi."


Sean langsung masuk kedalam kamar Megi. Di atas kasurnya Megi tertidur pulas, sesekali sesegukannya masih membuat tidurnya terganggu.


Sean meraih kepala Megi, di elus rambut Megi dan menciun dahinya lembut.


"Apa yang harus gue katakan sama Mika, Meg? Ia pasti kecewa sama gue, melihat adik kesayangannya begini."


Sean menghela nafas panjang, di lempar bokongnya di sofa kamar Megi.


Kembali ia menatap tubuh mungil Megi, sebelum ia merebahkan badannya dan menutup mata lelahnya.


Tak butuh waktu lama, Sean sudah tertidur lelap, mengistirahatkan badan dan juga pikirannya yang teramat letih.


"Pa... Papa. Kak... kak Mika..."


Suara itu terdengar lirih, membangunkan Sean dari tidurnya yang masih sesaat.


Sean mencoba untuk kembali menyadarkan dirinya. Mendekat ke ranjang Megi. Di lihatnya Megi dengan peluh keringat yang membanjiri sekujur tubuhnya.


Tidurnya tak tenang, matanya masih terpejam namun bibirnya terus berucap.


"Pa... Papa. Jangan pergi... Megi rindu."


Ucapan Megi mampu membuat hati Sean tersayat, sungguh pilu derita gadis kecil itu.


"Meg... Megi..." Sean menempelkan punggung tangannya di dahi Megi.


Suhunya meninggi, membuat Sean sedikit panik. Ini sudah dini hari pagi, tak mungkin ia mencari Dokter.

__ADS_1


Di putuskan untuk mencoba menyadarkan Megi.


"Megi, Megi... Bangun Meg." Di tepuk lembut pipi Megi untuk mengembalikan kesadarannya.


Tak lama Megi membuka matanya, di tatap lelaki yang saat ini duduk di sampingnya.


"Kak Sean." ucapnya lirih.


"Iya, gue. Elu kenapa? Mimpi buruk?"


Megi hanya menggelengkan kepalanya lemas. Di bantu Sean ia mencoba untuk duduk. Cepat, tangan Sean meraih gelas di atas nakas dan meminumkannya ke Megi.


Terdengar helaan nafas panjang dari Megi. Seperti mimpi tadi membuatnya sedikit lelah.


"Kakak kapan kesini?"


"Kenapa? gak boleh gue disini?" ucapnya ketus.


"Biasa aja kak. Gak usah nge gas." ucap Megi lemah.


"Lu kenapa? Mimpi setan?" tanya Sean penasaran.


"Iya, kakak setannya!" jawab Megi kesal.


"Biasa aja, gak usah nge gas." timpal Sean kesal.


Megi hanya memandang Sean dengan ujung matanya. Tak lama ia menjatuhkan kepalanya ke dada bidang milik Sean.


Dengan terkerjut Sean langsung menarik tubuh Megi menjauh.


Tak terbiasa di sentuh, Sean merasa risih jika tiba-tiba di peluk.


"Aku rindu Papa kak, aku rindu kak Mika. Boleh gak aku peluk kakak?"


Sean menaiki sebelah alisnya, di tatap wajah Megi yang hanya menunjukan ekspresi sendu. Tak ada senyum dan juga air mata. Wajahnya hanya terlihat begitu sendu.


"Yakin lu peluk gue karena rindu Mika? Bukan cuma cari alasan karena pingin pegang-pegang gue?"


Mendengar ucapan Sean, Megi memutar bola matanya malas. Lelaki ini selain kasar ternyata pede gila. Megi membetulkan posisi duduknya dan menarik kembali selimutnya untuk kembali tidur.


Dengan cepat Sean memeluk tubuh kecil Megi dari belakang. Tangan kanannya melingakari bahu Megi. Ia meletakan dagunya di pucuk kepala Megi.


"Seperti ini?" Tanya Sean.


Perlahan wajah Megi merona merah, hawa dingin kini berubah menjadi hangat. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada perasaan lain saat Sean melakukan hal seperti ini.


Hanya beberapa menit, lalu Sean kembali menguraikan pelukannya. Namun kini Megi berbalik memeluk badan Sean. Membenamkan wajahnya di dada Sean.


"Sebentar lagi kak, aku mohon. Aku rindu sekali dengan mereka."


Sean hanya menghela nafas panjang, di biarkan Megi mengisi ruang hampa di dalam hatinya. Kini mulai terasa buliran hangat menyentuh kulit Sean. Buliran air mata Megi, membasahi kaos Sean.


Sementara Megi, ada rasa yang lain saat ia memeluk Sean. Seperti bisa mengurangi beban hatinya, pelukan Sean mampu memberikan ia kekuatan.


Ia tak tahu bagaimana jadinya jika saat ini tak ada Sean di sampingnya. Sean dingin dan juga tak terkendali, tapi ia masih memiliki hati. Tak salah jika Megi mampu jatuh cinta dalam waktu singkat. Sean, tanpa ia sadari, ia adalah lelaki yang bisa di andalkan.


Sean terdiam, di gerakan tangannya untuk mengelus pucuk kepala Megi. Sungguh, ini kali pertama ia memeluk wanita selain Hana dan Miranda. Rasa yang di buat Megi begitu berbeda di hatinya. Seperti ada sebuah kehangatan yang menjalar di darahnya. Seperti ada semangat yang mengangkat lelahnya.


'Sungguh Megi, gue gak paham perasaan apa ini.' Lirihnya dalam hati.

__ADS_1


Bahkan sensasi pelukannya sangat berbeda dari Hana, Wanita yang ia cintai sepenuh hati. Hana hanya memberikan rasa nyaman dalam pelukannya. Tetapi Megi, ia memberikan segala rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


'Huuuh, Megi. Gadis kecil ini seorang penyihir.'


__ADS_2