Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 131


__ADS_3

"Mama." panggil Rezi membuyarkan lamunan Megi.


"Iya, Nak."


"Aku mau itu." Rezi mengangkat piringnya dan meminta makanan yang lainnya.


Dengan cepat Megi mengambil makanan yang di tunjuk oleh Rezi dan memberikan kembali ke tangan Rezi.


"Kakak mau nambah?" Megi memalingkan pandangannya kearah Sean, namun Sean sudah tidak ada di tempat semula.


"Rezi, Papa kemana?" tanya Megi saat tak melihat Sean berada di sebelahnya.


"Itu." Rezi menunjuk ke arah di pinggir danau.


Megi menghela nafasnya saat melihat Sean yang duduk sendiri dengan sebatang rokok di tangannya.


"Rezi, tunggu disini sebentar ya. Mama mau jumpai Papa. Rezi jangan kemana-mana." ucap Megi tegas.


Rezi hanya menganggukan kepalanya dengan memasukan makanan kedalam mulut kecilnya.


Perlahan Megi bangkit dan berjalan mendekati Sean. Duduk di sebelah Sean yang masih menatap kosong ke danau.


"Kak."


"Hem."


"Kakak masih pikiri soal status Rezi ya?" tanya Megi lembut.


"Apa yang harus di pikiri lagi? status Rezi memang begitu adanya."


"Tapi aku lihat kakak seperti sedang banyak pikiran, ada apa Sayang?" Megi meraih pipi Sean dan memalingkan wajah Sean kearahnya, agar bisa menatap wajah Sean.


Sean menghela nafasnya dan melepaskan pegangan tangan Megi. Mengusap kasar wajah letihnya.


"Ada masalah serius di beberapa perusahaan cabang, Megi. Aku gak tahu harus menyelesaikan yang mana dulu, jujur aku lelah sekali. Aku butuh orang baru yang sama handalnya dengan Ayah Rezi. Kalau hanya Yohan saja, semua bisa berantakan." ucap Sean stres.


"Apa kak Mika gak bisa kakak andalkan?" tanya Megi lembut.


"Mika bukan seseorang yang handal dalam bidang ini, Mika itu masih dasar sekali."


"Jadi kalau kak Mika gak bisa membantu, kenapa kakak rekrut dia? apa karena kak Mika itu kakak aku?"


"Mika itu anak om Fandy dan juga sahabat aku, Megi. Gak mungkin aku biarin dia kembali ke laut dan ninggalin anak-anaknya."


"Oh." jawab Megi datar.


Sean menghembuskan asap rokoknya keatas dan kembali mengusap wajahnya.


"Jangan disini, aku lagi merokok. Itu gak bagus buat anak kita."


"Kalau begitu jangan merokok, kenapa malah aku yang di usir?" tanya Megi meradang.


"Megi aku lagi stres, jangan pancing emosi aku."


Mendengar jawaban Sean, Megi menampel tangan Sean dan menjatuhkan batang rokok di jari Sean. Menatap wajah Sean dengan lekat.


Sean melirik kearah Megi, memandang Megi yang duduk di sebelahnya mengunakan ujung matanya.


"Kalau aku gak mau pergi, kakak yang gak boleh merokok." ucap Megi ketus dengan mendacakan tangan di pinggang.


Sean melepaskan senyum sinisnya dan meraih wajah Megi, menempelkan dahinya di dahi Megi.

__ADS_1


"Dasar, lihat Rezi sana. Jangan ganggu aku disini." ucap Sean dengan memainkan ujung hidungnya di hidung Megi.


"Kak, aku bantu kakak ya." pinta Megi lembut.


Sean melepaskan pegangan tangannya dan menarik kembali nafasnya.


"Lihat keadaanmu, jangan buat anak aku menanggung beban sebelum ia lahir, Megi." ucap Sean datar.


"Jadi mau bagaimana? kakak juga lagi kebingungan kan, gak masalah aku bantu sedikit."


Sean kembali menatap kearah Megi dan meraih pucuk kepala Megi.


"Aku akan urus ini sendiri, ayo ke tempat Rezi." Sean tersenyum lembut dan bangkit perlahan.


Beberapa kali Sean menghela nafasnya yang terasa semakin berat menyengal pernafasannya.


Megi ikut bangkit dan berjalan bersisian dengan Sean. Kembali mendekati anak semata wayangnya.


"Seandainya Mirza mau kembali kesini, mungkin dia bisa menjadi pedangku, Megi."


"Hah? Kak Mirza?" tanya Megi bingung.


"Mirza itu di didik dengan baik oleh Papamu, dia juga disiapkan menjadi penerus usaha keluargamu. Jadi, walau dia tidak bisa meretas jaringan seperti Farrel, tapi teknik bisnis dia lebih hebat dari Farrel."


"Kakak tahu dari mana?" tanya Megi menghentikan langkahnya.


"Saat dia masih SMP saja, dia bisa memenangkan sebuah proyek besar, walau lewat nama Papamu, namun itu semua murni ide dari dia."


"Masa sih?" tanya Megi tak percaya.


"Mirza itu pintar dan juga cerdik. Tapi jika di bandingkan aku, jelas aku lebih pintar dari dia." Sean memainkan kedua alis matanya dan tersenyum sinis.


Megi menyungging sebelah bibirnya, melihat sikap angkuh Sean yang kembali muncul menghiasi wajah tampannya itu.


"Kenapa?" tanya Sean lembut. "Semakin aku dewasa, semakin terlihat tampan kan? siapa dulu." ucap Sean angkuh.


"Ya ampun, pede sekali singa Afrika ini. Bagaimana bisa semakin tua semakin tampan? semakin tua semakin keriput, iya." balas Megi ketus.


"Jadi kenapa kamu bisa kembali jatuh cinta sama aku setelah lima tahun gak ketemu? padahal aku sudah tua dan keriputkan? hem?" tanya Sean dengan memainkan kedua alis matanya.


"Itu kan karena kakak ngejar-ngejar aku, dan ngelamar aku dengan kejutan yang, yah ... Bisa di bilang baguslah."


"Benarkah?" Sean menundukan badannya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Megi.


"Jangan lupa, aku ini pengusaha muda di Shanghai, mana mungkin aku menghabiskan waktu lima tahun hanya untuk menunggu kakak. Aku juga gak bakalan jatuh cinta sama kakak, seandainya kakak gak berusaha buat aku jatuh cinta lagi." jawab Megi mengelak.


"Echem." Sean berdehem dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Satu tangannya mengelus ujung dagunya.


"Tapi seingat aku ada wanita muda yang gak tahu diri, mencium singa tua di pinggir jalan umum, hanya karena takut kehilangan." Sean memutar bola matanya dan mencoba mengingat-ingat kembali.


Bibir Sean tersenyum dan memandang Megi di sebelahnya dengan sinis. Sean mendekatkan bibirnya ketelinga Megi.


"Bukankah Nona Megisia Moran yang mencium aku duluan?" bisik Sean lembut di telinga Megi.


"Ah, itu, waktu itu, aku, hanya ..."


"Hanya apa? hem?" goda Sean memainkan kedua alis matanya.


"Hanya kesalah pahaman saja." jawab Megi cepat.


Sean merangkul bahu Megi dan menempelkan ke badannya.

__ADS_1


"Sudahlah, berhenti mengelak, aku tahu selama lima tahun ini kamu selalu mengejarku." ucap Sean kembali melanjutkan langkahnya yang terhenti tadi.


"Cih ... Kenapa aku harus menghabiskan waktu selama itu hanya untuk mengejar kakak?" tanya Megi ketus.


"Aku hanya mengejar kakak selama 10 bulan, setelah itu kakak sudah jatuh cinta sama aku kan." bela Megi kembali.


Sean menghentikan kembali langkahnya dan meraih kedua ujung bahu Megi. Membalikan badan Megi agar berhadapan dengannya.


"Tak peduli mau 10 bulan atau 5 tahun kamu mengejarku. Semenjak aku menginginkan dirimu, maka seumur hidup ini aku hanya akan mengejarmu, Megi."


Megi menyilangkan kedua tangannya di dada dan memutar bola matanya.


"Sejak kapan kakak menginginkan aku?" tanya Megi ketus.


"Entahlah, mungkin dari pertama kali kita bertemu, aku memang sudah menginginkamu. Kalau tidak, aku tak akan membelimu malam itu." jawab Sean lembut.


"Benarkah? rasanya selama aku tinggal sama kakak, Kakak terus menolak aku."


"Karena hari itu, aku terlalu angkuh untuk mengakuinya, atau mungkin karena masa laluku dengan Hana, juga menjadi alasan aku mengingkarinya selama ini."


"Ahhhhh ..." Teriakan suara Rezi mengalihkan perhatian Sean dan Megi.


Dengan cepat Sean berlari kearah Rezi.


"Ada apa, Sayang?" tanya Sean cemas.


"Lihat di piring aku ada bola, Pa." rengek Rezi ke Papanya.


Sean menghela nafasnya dan mendekati Rezi, berjongkok di sebelah Rezi.


"Hey, anak laki-laki itu gak boleh mengadu. Kalau begini yasudah, jangan makan lagi makanan ini."


"Kakak ini bola aku." rebut anak perempuan berumur tiga tahun yang baru datang.


Dengan cepat Rezi mendorong anak perempuan itu karena kesal. Seketika tubuh mungil perempuan itu jatuh ke tanah.


"Rezi, Mama gak mau lihat kamu begini sama anak perempuan." ucap Megi sambil mengangkat tubuh anak perempuan itu dan membersihkan beberapa kotoran di sebagian badannya.


"Tapi dia jahat, Ma!" teriak Rezi kesal.


"Rezi, bicaralah yang baik dengan orang yang lebih tua. Apalagi itu Mama kamu." tekan Sean ketus.


"Hiks, hiks." perempuan kecil itu mulai merengek dan menangis.


"Sayang, maafin anak Tante ya. Jangan menangis gadis cantik." bujuk Megi lembut.


"Dia jahat, Tante." tunjuk gadis kecil itu ke arah Rezi.


"Iya, Tante tahu dia jahat. Nanti Tante hukum ya. Tapi kamu jangan nangis."


Mendengar ucapan Megi, Rezi ikut menangis, memeluk badan Sean yang berada di sampingnya.


"Papa, aku gak mau Mama." adu Rezi menangis dengan keras.


"Anak laki-laki gak boleh cengeng. Gak boleh nangis, malu sama perempuan cantik itu."


"Dia gak cantik, dia jelek. Aku gak suka dia, aku suka Aya, Papa." ucap Rezi sambil menangis kencang.


"Aqila, kamu kenapa?" suara lembut seorang wanita mengalihkan perhatian mereka semua.


Mata Megi membulat saat melihat wanita yang berdiri di belakangnya. Dengan cepat Megi bangkit dan berjalan ke samping Sean.

__ADS_1


"Hana." lirih Sean lembut.


__ADS_2