
Sudah beberapa jam berlalu, Sean dan Farrel masih terfokus pada berkas yang mereka periksa. Mata Sean dengan jeli memeriksa setiap lembaran yang di bawa oleh Farrel tadi.
Sementara Farrel terus terfokus pada layar datar yang berada di hadapannya saat ini.
Disini Megi mengerucutkan bibirnya dengan kesal, baru juga ingin bercanda mesra, Farrel malah menganggu saja.
Megi menghentakan kedua kakinya di atas kasur. Sebal, Sean lebih memilih menghabiskan malam bersama kertas dan laptopnya di bandingkan ia.
"Bos, ketemu!" ucap Farrel dengan senyum melengkung dari bibirnya.
Usaha yang ia fokuskan selama berjam-jam akhirnya membuahkan hasil memuaskan.
Sean mengalihkan perhatiannya ke layar laptop Farrel. Memperhatikan dengan seksama.
"Benar kata pepatah, persembunyian yang paling aman adalah markas lawan. Tapi sayang, lawannya lebih licik dari seekor kancil." jawab Sean dengan bibir menyungging sebelah.
"Tapi saya yakin, masih ada kepala yang harus di cari, Bos."
"Gue tahu kepalanya, hanya tinggal cari nama dan lengkapi semua bukti." ucap Sean sambil merenggangkan semua otot badannya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Bos."
"Makan malam." jawab Sean datar, dengan senyum yang merekah lebar.
"Makan malam, Bos?" tanya Farrel tak yakin, senyum Sean yang di tampilkan saat ini bukan senyum keramahan. Namun itu senyum kesadisan, senyum Sean membawa arti lain.
"Megi, gue laper!" teriak Sean lantang.
Gesekan suara daun pintu terdengar, dengan wajah yang di tekuk, Megi keluar. Ia berjalan dengan menghentakan kakinya menuju dapur.
"Gue keluar dulu ya, kalau lu butuh kopi minta saja sama Megi." ucap Sean sambil bangkit dari atas sofa dan menuju balkon villa.
"Minta sama Nona kecil? apa Bos gak salah?" lirih Farrel tak percaya.
Sean membakar sebatang rokok, ia menumpuhkan kedua siku tangannya diatas pagar balkon. Gayanya bisa di buat setenang mungkin, tapi tidak dengan kerja otaknya.
Sean mengeluarkan ponselnya dan menekan sederet angka. Menelpon seseorang di seberang sana.
Tak lama, panggilan itu tersambung.
"Papa dimana?" tanya Sean langsung, setelah panggilan terangkat.
"Di hotel, ada apa Sean?"
"Saat ini, Papa jangan percaya sama siapapun, selain aku."
"Maksud kamu?" tanya Rayen bingung.
"Back up semua data penting dan jangan sampai siapapun tahu. Back up secepat yang Papa bisa." perintah Sean.
"Ada apa Sean? apa yang terjadi?" tamya Rayen semakin cemas.
"Aku akan memblok semua jaringan kantor pusat, dan Papa bakc up secepat yang Papa bisa, karena aku hanya bisa memblock selama dua jam."
"Sean apa semua akan baik-baik saja?" tanya Rayen khawatir.
__ADS_1
"Semua akan baik-baik saja, jika Papa ikuti yang aku bilang, Papa hanya perlu menunggu, karena semua akan terjadi sesuai keinginanku."
"Baiklah, kamu hati-hati, Nak." ucap Rayen sebelum memutuskan panggilannya.
Sean menghela nafasnya dan menyisir rambutnya kebelakang. Ia membuka pintu kaca dan kembali masuk ke dalam. Sudah tercium aroma sedap masakan.
Bibir Sean tersenyum, dengan cepat ia melangkahkan kakinya ke dapur.
"Wah gak sia-sia gue bawa pembantu pribadi, ternyata kerjanya bagus juga." ucap Sean dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Megi memandang Sean dengan ujung matanya, tangannya dengan cepat mengaduk-aduk kuah yang saat ini sedang ia masak.
"Kenapa lihat gue gitu banget?" tanya Sean berjalan mendekat. "Terpesona ya?" bisik Sean di telinga Megi.
"Cih ... Terpesona apanya? aku sekarang gak akan terpesona sama wajah songong kakak itu. Gak sudi!" jawab Megi sambil mengambil sedikit kuah dan ingin menaruhnya di telapak tangan.
Namun karena rasa kesalnya dengan Sean, Megi lupa mendinginkan terlebih dahulu. Ia langsung menyiram ke atas telapak tangannya.
"Ah..." Megi mengkibas-kibaskan tangannya yang terasa panas.
Secepat yang ia bisa, Sean menarik tangan Megi dan menghidupkan keran air di wastafel. Menyiramkan air ke telapak tangan Megi.
"Dasar bodoh, lu pikir lu lagi main masak-masak an?" tanya Sean sambil membasuh telapak tangan Megi lembut.
"Kalau tangan lu rusak gimana? lu lupa, kalau lu gak punya tangan ini, lu gak akan bisa meraih mimpi." ucap Sean geram.
Megi hanya memandang wajah Sean yang saat ini terfokus oleh telapak tangannya. Wajah Sean terlihat garang, Megi melepaskan senyumnya.
"Kalau aku gak bisa meraih mimpi, berarti aku masih bisa disini?" tanya Megi dengan menatap wajah Sean lekat.
"Jangan mimpi, lupakan saja!" Sean melepaskan pegangan tangannya dan berlalu pergi.
Dari dapur Megi melihat punggung badan Sean yang berlalu menjauh.
"Bahkan saat ini bermimpi bisa bersamamu saja aku tak boleh?" ucap Megi lirih.
***
Sudah dua malam berlalu, namun Sean dan Farrel masih sibuk dengan pekerjaan mereka berdua. Berada di balik layar datar dan duduk bersebelahan, seperti sepasang kekasih yang saling mencintai.
Entah apa yang membuat mereka terfokus, namun selama dua hari ini bahkan tidur dan mandipun terlupakan oleh dua manusia yang saling mengikat janji setia itu.
Di kamar tidur, Megi hanya menatap layar ponselnya. Sudah dua malam, bahkan Sean hanya bicara saat ia butuh, bukan karena marah. Namun karena pekerjaan membuat ia lupa segalanya.
Megi membanting ponselnya di atas kasur, ia merebahkan badannya dan menatap langit-langit villa. Di bawa ke barat kota, malah hanya jadi penunggu villa.
Megi menelungkupkan badannya, ia menghentakan kedua kakiknya dengan keras. Kesal setengah mati melihat ulah Sean yang luar biasa cuek saat bertemu dengan kekasih sejatinya itu.
"Aku kesal!" teriak Megi sambil menghentakan kakinya kuat diatas kasur.
Sementara di luar kamar, Sean dan Farrel hanya saling memandang. Terkejut dengan teriakan seorang gadis di tengah malam.
"Bos, sepertinya pawang singa sedang mengamuk." ucap Farrel sambil menelan salivanya.
"Huft..." Sean merenggangkan badannya. "Lanjut besok deh, Farrel. Kita udah disini sejak dua abad yang lalu." ucap Sean dengan sedikit malas.
__ADS_1
"Tapi ini sedikit lagi selesai, Bos."
"Lu istirahat aja dulu, jangan gara-gara kecapekan kerja, lu ikut ngamuk juga kayak pawang singa di dalam." ucap Sean dengan sedikit tersenyum.
Sean menutup laptopnya, ia memutarĀ badannya untuk mengusir lelah dan juga pegal.
"Gue istirahat duluan, lu pakai aja salah satu kamar disini dan istirahat juga."
"Gak usah Bos, saya balik ke losmen saja ya."
"Terserah!" ucap Sean sambil berlalu ke dalam kamar.
Melihat Sean yang masuk ke dalam kamar, Megi hanya memalingkan pandangannya keluar. Sean hanya melepaskan senyumnya dan berlalu ke kamar mandi.
Sinar mentari pagi menembus kulit wajah tampan lelaki bengis ini. Dengan sedikit mengerutkan dahinya, Sean membuka mata letihnya.
Ia terduduk dan memegangi sudut dahinya yang terasa sedikit pusing. Matanya melirik jam di sebelah kasur. Sudah jam 9 pagi, pantas saja suasana nya sudah secerah ini.
Dengan malas, Sean bangkit dan mengguyur badannya yang terasa lebih letih dari biasanya. Sean keluar dan mengeringkan rambutnya.
Sean mencari istri kecilnya di setiap sudut villa, namun tak di jumpai si bocah kecil itu ada dimana.
Sean mengikat rambutnya dan berjalan keluar, sudah ada sarapan tersedia, namun manusianya tak ada.
Suara deringan ponsel Sean menjerit keras, Sean mengangkat panggilan itu setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel.
"Bos, kita menemukannya." ucap Farrel sesaat setelah Sean mengangkat panggilannya.
Bibir Sean melengkung dengan indah, Sean membuka pintu balkon villa dan menumpuhkan kedua sikunya di atas pagar balkon.
"Bagus." jawab Sean datar. "Atur semuanya Farrel, kita harus bergerak dengan cepat kali ini."
"Baik, bos." jawab Farrel dan langsung menutup teleponnya seketika.
Mata Sean teralih saat mendengar teriakan bocah-bocah yang sedang bermain di pesisir pantai. Bibir Sean kembali melengkung saat melihat Megi tengah asyik bermain pasir dengan beberapa anak kecil.
"Dasar bocah, kemana aja pergi pasti ketemunya sama bocah juga." ucap Sean lirih.
Mata Sean terus menatap pergerakan Megi, sikap polos Megi selalu menarik perhatian Sean hanya padanya. Walaupun Sean sendiri yang bilang di pantai banyak cewek seksi yang aduhai, namun bagi Sean satu-satunya wanita disana hanyalah Megi.
Saat menyadari ada mata yang terus memandanginya, Megi mengalihkan perhatiannya ke seberang jalan. Bibir Megi tersenyum manis, ia melambaikan tangannya memanggil Sean di seberang sana.
Sean hanya menggelengkan kepalanya. Tak ingin bergabung dengan bocah.
Megi kembali asyik bermain, tak peduli pada suaminya yang saat ini sedang memandangnya dari balkon rumah.
"Megi!" panggil Sean lantang.
Megi memalingkan pandangannya, melihat kearah Sean. Kali ini Sean yang melambaikan tangannya, memanggil Megi untuk kembali. Namun Megi menggelengkan kepalanya, tak mau pulang.
"Megi!" panggil Sean sekali lagi.
"Gue mencintai elu!" sambungnya dengan suara di buat selantang mungkin.
Sementara disini Megi terpaku, matanya membulat sempurna. Termasuk semua orang yang berada disana memandang kearahnya, seketika.
__ADS_1
Sementara Sean hanya tertawa lebar, ternyata menggoda gadis muda itu bahagia luar biasa.