
Sean membuka pintu rumahnya, terdengar bantingan suara gelas di arah dapur.
Sean berjalan ke arah dapur, melihat istrinya itu sedang minum dengan sedikit tergesa.
"Megi," panggil Sean lembut.
"Kakak dari awal sadar? Kalau wanita itu Kak Hana?" tanya Megi ketus.
"Kalau memang dia, terus kenapa?"
"Kenapa?" tanya Megi meradang.
Megi berjalan mendekati Sean, memandang wajah Sean dengan lekat.
"Kakak sadar tapi Kakak gak bilang sama aku? Kak, Soraya itu keponakan kesayangan aku, Kakak pikir aku rela, biarin Soraya menjadi menantu, dari mantan Kakak itu?" tanya Megi ketus.
"Megi, ini sudah bertahun lamanya, tidak bisakah kamu melupakan persoalan lama? Aku, kamu, Hana. Kita semua, sudah hidup baik-baik saja, dengan keluarga masing-masing," jelas Sean geram.
Megi tersenyum kecut dan membuang pandangan matanya.
"Terus kalau sudah punya keluarga masing-masing, tetap gak menutupi kemungkinan kalau masih ada benih cinta yang tertinggal di hati dia, kan, Kak? Delapan tahun, bukan waktu yang sebentar untuk saling mencintai," ucap Megi ketus.
"Lalu kita sudah delapan belas tahun, apakah waktu selama itu tidak bisa membuatmu percaya sedikit saja denganku? Anak kita sudah besar-besar Megi, sekarang kamu hamil anak keempat, tidak bisakah kamu menilai pernikahan kita selama ini?"
Megi menghela napasnya dan kembali berjalan ke belekang pantry. Meminum kenbali air yang berada dalam gelasnya.
"Aku tetap gak setuju dengan lelaki itu, aku gak setuju kak Hana menjadi bagian keluarga kita."
Sean tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya. Mengusap wajahnya dengan kasar.
"Kamu Tantenya, tapi kamu gak punya hak untuk melarangnya, Megi. Soraya berhak atas hidupnya, dia jatuh cinta sama siapa, itu sudah menjadi urusan dia, Megi!" tekan Sean, geram.
"Kamu yang paling tahu rasanya bagaimana? Kamu yang tahu sekali, sakit yang timbul akibat perpisahan dengan orang yang kamu cintai, kenapa? Bukankah Soraya besar bersamamu di Beijing? Apakah kamu ingin membuat nasibnya sama denganmu?"
"Kakak!" bentak Megi ketus.
"Jangan pernah berdoa agar Soraya menjalani hidup yang sama denganku. Soraya gadis yang baik, dia gak boleh menjadi menantu kak Hana."
"Oh ... jadi sekarang kamu merasa lebih baik dari Hana? Kamu bukan lagi bocah kecil Megi. Kemana sikap bijakmu yang dulu pernah meluluhkan hati aku? Kenapa sekarang malah hanya ada ke-egoisanmu saja?"
"Terus kenapa Kakak selalu belain Kak Hana? Kakak itu suami aku."
__ADS_1
"Aku gak belain Hana, aku bicara atas dasar perasaan Soraya. Dia juga keponakan aku, Megi. Kamu pikiri, bagaimana jika Soraya harus gagal menikah hanya karena kecemburuan kamu?" tanya Sean ketus.
Megi menyilangkan kedua tangannya di dada. Membuang pandangannya ke sisi kosong.
"Beginilah kamu, saat kamu hamil, sikapmu akan terus seperti ini. Keras kepala, dan semakin egois saja," ucap Sean meninggalkan Megi sendiri.
Megi melirik tajam ke arah Sean, menatap punggung besar lelaki itu yang berjalan semakin jauh darinya.
Megi menghapus sudut matanya, menahan airmata yang ingin tumpah karena ucapan suaminya.
***
"Sebenarnya ada apa antara Mama dan keluarga Aya, Ma? Kenapa acaranya bisa berantakan seperti ini?" tanya Chen saat keluarga mereka memasuki kediaman besar milik keluarga Stewart.
"Tidak ada apa-apa, Chen. Maaf, maaf karena Mama, kamu harus mengalami ini," ucap Hana sambil memegangi sudut dahinya.
"Ma, jujur sama aku. Ini ada apa?" tanya Chen memaksa.
Mark menyentuh ujung bahu, Chen. Menghentikan pertanyaan anak tunggalnya itu.
"Chen, sudahlah. Biarkan Mamamu sendiri," ucap Mark menengahi.
Beberapa kali Mark menghela napasnya, mencoba mengingat kembali kejadian belasan tahun silam. Saat pertama kali ia bertemu dengan Hana di Nevada.
Saat itu, Hana pergi kesana karena ingin melepaskan diri dari Ayah angkatnya. Tak sengaja Mark bertemu dengannya, menjadi teman dan saling bertukar cerita.
Setelah berteman lebih tiga tahun, Mark kembali ke Indonesia dan menikahi gadis lain, karena terikat perjodohan dari keluarganya.
Setahun setelah mereka menikah, Chen di lahirkan. Namun istri Mark meninggalkan Chen begitu saja dengan Mark. Memutuskan ikatan pernikahan mereka berdua secara sepihak, dan memilih jalan hidupnya sendiri.
Karena tak tega dengan keadaan bayi kecil itu, Hana membantu Mark merawat Chen, sampai akhirnya, Mark menikahi Hana setelah umur Chen tiga tahun.
"Sean, itu mantan Mama kamu," ucap Chen mengakhiri penggalan kisah masalalunya.
Chen memalingkan pandangan matanya, menatap wajah lelaki tua itu dengan sedikit terkejut.
"Ada selisih paham antara Mama kamu, Sean dan juga istrinya. Karena itu, jangan terkejut jika hasilnya begini," sambung Mark, lembut.
"Tapi, Pa. Masalalu Mama dan Tantenya Soraya, itu bukan masalah kami. Kami gak tahu apa-apa, kenapa kami yang kena imbasnya?" tanya Chen tak terima.
"Chen, percaya sama Papa. Ini hanya sebuah awalan saja, Mama kamu dan keluarga Soraya sama-sama terkejut. Beri mereka waktu, masalah ini akan dingin dengan sendirinya," bujuk Mark kembali.
__ADS_1
"Tapi, Pa. Jika keluarga Soraya tidak bisa menerima Mama, maka aku juga tidak bisa bersama mereka. Aku, tidak akan menukar Mama dengan siapapun," jawab Chen lemas.
Mark tersenyum dan menepuk bahu besar anak semata wayangnya itu. Ia tahu betul, bagaimana hubungan Chen dan Hana, Chen bahkan lebih menyanyangi Hana di bandingkan Ibu yang melahirkannya, namun juga meninggalkannya secara bersamaan.
...
"Chen," panggil Soraya sambil mengejar langkah kaki Chen.
Chen membalikan badannya dan menunggu gadis itu sampai di sisinya. Chen tersenyum lembut dan mengelus pucuk kepala Soraya.
"Kenapa? Tumben pagi-pagi nyariin gue?" tanya Chen lembut.
"Chen, soal kejadian akhir minggu, gue mau minta maaf sama elu dan keluarga elu. Gue, gak tahu kalau masalahnya akan menjadi seperti ini," ucap Soraya lemah.
"Sudahlah Soraya, mungkin memang gue yang terlalu terburu-buru. Mungkin juga keluarga elu masih terkejut dengan kehadiran gue. Gue gak nyalahin siapapun kok."
"Tapi, Chen. Papa gue sangat menyanyangi Tante Megi, jika Tante Megi gak setuju, gue gak tahu bagaimana nanti hubungan kita kedepannya."
Chen menghela napasnya, sebenarnya dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Sakit, itu pasti. Apalagi harus terhenti saat hubungannya sudah mulai menampakan hasil seperti ini.
"Yasudah, nanti kita bicarain lagi. Gue masih ada kelas pagi ini, gue masuk kelas dulu ya," pamit Chen, lembut.
Chen membetulkan letak ranselnya, berbalik dan ingin melangkah pergi. Namun tangan Soraya menarik pergelangan tangan Chen. Menghentikan langkah Chen yang ingin pergi.
"Chen, apa elu kecewa sama gue? Elu kecewa sama keluarga gue? Apa elu akan mutusi gue?" tanya Soraya lemas.
"Soraya, gue masih gak tahu harus bagaimana. Gue juga bingung, harus bagaimana untuk menyikapinya," ucap Chen lembut.
Soraya menarik napasnya, menundukan kepalanya jauh kedalam. Dadanya terasa sesak, saat mendapati pernyataan Chen yang begitu pesimis seperti ini.
Chen mengambil dagu Soraya dan mendongakannya. Menatap mata Soraya dengan lekat dan dalam.
"Gue gak berniat untuk ninggalin elu, sumpah, enggak sama sekali. Gue pasti akan memperjuangin elu, Soraya. Tapi saat ini gue belum tahu bagaimana caranya."
Soraya tersenyum lembut dan menarik jemari Chen. Menggenggam jemari tangan Chen dengan erat.
"Lu jangan khawatir Chen, gue akan ikut berjuang bersama elu kok. Gue akan membujuk Tante Megi, karena--"
Soraya tersenyum lembut dan merapatkan badannya. Tak menyisakan jarak antara ia dan Chen.
"Gue gak mau kehilangan elu."
__ADS_1