Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
20


__ADS_3

"Oh, jadi ini adik elu. Karena ini adik elu, gue kasih diskon deh, jadi delapan ratus ribu saja," ucap Evgen dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Apa? apanya yang delapan ratus ribu?" Tanya Shenina bingung.


"Tentu saja ganti rugi," ucap Evgen dengan memainkan kedua alis matanya.


"Ganti rugi apa?"


"Lu gak lihat, celana gue kotor. Ini semua kerjaan adik elu."


"Yaelah, tingkat celana kotor saja. Gue cuci sini."


"Eh, elu pikir gue siapa? gue gak sudi pakai celana yang sudah kotor begini!"


"Ya tapi gak harus delapan ratus ribu juga lah, hanya setingkat celana sekolah juga. Di pasar hanya delapan puluh ribuan."


"Hey ... Shenina yang terhormat. Apa elu pikir gue sudi pakai baju dan celana keluaran pasar?" Tanya Evgen ketus.


"Gue gak level, tahu gak elu."


"Heh, sombong banget sih jadi manusia? ketimbang numpang hidup sama orang tua saja elu udah belagak kaya."


"Elu!" Evgen menggeretakan rahangnya dan mengepalkan tangannya dengan kuat.


Baru saja ia terpesona oleh sikap lembut Shenina. Sekarang Shenina malah membuat ia kesal setengah mati.


"Kak, maafin aku. Ini salah aku, jangan libati kak Shen." Seta meraih pergelangan tangan Evgen.


Dengan kuat Evgen menghempaskan tangannya dan hampir membuat Seta terjatuh. Untung Shenina sigap menangkap badan Seta.


"Hey Evgen, bisa gak sih jangan kasar sama anak kecil?"


"Gue gak suka di sentuh, apalagi sama tangan orang yang sudah merugikan gue!" teriak Evgen keras.


"Halah, hanya setingkat celana kotor, kenapa harus di perpanjang sih."


"Hanya? lu bilang hanya? kalau elu bisa bilang hanya, elu seharusnya bisa ganti rugi tanpa banyak bicara!" Teriak Evgen tepat di depan wajah Shenina.


Shenina mendorong dada Evgen dengan cepat.


"Hanya masalah ini, berani elu bicara lantang di depan wajah gue?"


Shenina mengambil nafasnya yang memburu kencang. Kapanpun itu, saat ia berhadapan dengan Evgen, emosinya selalu terbakar habis.


Shenina menurunkan ranselnya dan mengeluarkan dompetnya dengan cepat. Mata Shenina mulai memerah dengan lapisan bening di permukaan, menatap Evgen dengan sangat lekat.


"Delapan ratus ribu, kan?" Shenina mengeluarkan lembaran uang dari dalam dompetnya.


"Ambil ini, setelah ini elu dan gue gak ada urusan lagi."


Shenina memberikan uang itu ke tangan Evgen. Bersamaan dengan air mata yang ikut mengalir melintasi pipi Shenina.


Ia terlalu kesal dengan sikap angkuh Evgen. Shenina menarik tangan Seta dan pergi dengan cepat dari hadapan Evgen.

__ADS_1


Sementara Evgen terus meremat uang yang di berikan oleh Shenina. Ia hanya ingin membalas perbuatan Shenina. Namun bukannya membuat ia puas, Evgen malah semakin kesal.


"Aaarrggg!" Teriak Evgen lantang.


Ia benci, ia benci sekali saat melihat air mata Shenina melintas karena menahan amarah.


"Shenina, urusan kita terus berlanjut sampai kedepan. Lihat saja nanti," ucap Evgen dengan mengenggam kuat uang yang di berikan Shenina tadi.


***


Rezi terus memandangi wajah Sean dan Megi secara bergantian. Ia bingung bagaimana caranya meminta izin untuk membantu Neha di kebun.


Tidak mungkin juga ia mengatakan yang sebenarnya. Sean dan Megi pasti tidak akan menyetujuinya.


"Rezi."


"Iya, Pa."


"Mobil kemana? kok gak ada dihalaman rumah?" Tanya Sean datar.


"Emh, itu, Mobil aku masuk bengkel, Pa."


"Hem, kok bisa?"


"Tadi waktu aku pulang jemput Niki, aku berhenti tiba-tiba karena ada anak kucing yang melintas, Pa. Jadi bumper belakang remuk karena di tabrak orang."


"Lain kali hati-hati, Rezi," ucap Megi lembut.


"Benar menghindari kucing?" Tanya Sean dengan menatap tajam kearah Rezi.


"Kalau Papa tahu kamu nyetir ugal-ugalan. Papa akan tarik SIM kamu."


"Baik, Pa," jawab Rezi lembut.


"Aku kapan di kasih pakai mobil, Pa?" Tanya Evgen lembut.


"Tunggu umur kamu 20 tahun dulu."


"Eh, kenapa lama sekali? Papa kan bisa kasih aku hadiah mobil saat ulang tahun 18 tahun."


"Yasudah, kalau begitu tunggu umur kamu 25 tahun saja," jawab Sean datar.


"Mama," adu Evgen melas.


Megi hanya tersenyum dan meraih gelas airnya.


"Mama juga gak berani lawan Papa, kamu bujuk sendiri gih," ucap Megi dengan sedikit tersenyum.


"Bukannya Mama itu pawang singa? aneh kalau Mama gak berani sama singa."


"Evgen, kamu!" Ucap Megi sedikit menekan.


"Em, Ma, Pa," panggil Rezi menengahkan.

__ADS_1


"Untuk beberapa bulan ini, sepertinya aku tidak bisa menjemput Niki. Mobil juga gak pakai, soalnya aku lagi mau ngurus sebuah proyek, dan waktu aku akan banyak tersita disana."


"Jangan terlalu di paksa Rezi. Mama gak mau kamu sakit karena kelelahan," ucap Megi lembut.


"Jangan takut Ma, aku pasti akan jaga kesehatan. Mungkin aku akan berangkat subuh dan pulang agak larut untuk beberapa bulan. Jadi aku gak bisa makan malam dan sarapan dirumah lagi."


"Kamu sih, selesai S1 bukannya berhenti dulu. Jadi gak sibuk terus seperti ini," ucap Megi lembut.


Sementara Sean hanya memandangi wajah Rezi dengan sangat lekat. Menyadari pandangan mata Sean, Rezi hanya bisa menelan salivanya dengan berat.


"Biarkan saja, Megi. Biarkan Rezi mengejar impiannya. Biar Rezi paham dan mengerti bagaimana rasa dan pahitnya perjuangan," ucap Sean dengan memandang Rezi lekat.


"Papa izini?" Tanya Rezi lembut.


"Iya."


"Hem, yasudah kalau Kakak sudah kasih izin. Aku gak bisa bilang apa-apa lagi," ucap Megi mengalah.


"Makasih ya, Ma, Pa," ucap Rezi senang.


Rezi langsung tersenyum dengan lebar, menghela nafasnya yang begitu sangat lega.


Neha memejamkan matanya, tangannya menyentuh setiap kelopak bunga yang bermekaran di kebun bunganya.


Merasakan setiap sentuhan lembut yang di berikan kelopak bunga itu di jari lentik tangannya.


Neha berjalan dengan santai sambil menyentuh kelopak-kelopak bunga tersebut. Matanya masih terpejam, menikmati sentuhan alam dan juga udara segar di pagi hari.


Harum dari ribuan bunga yang mekar pagi ini, membuat suasana hati Neha menjadi ceria.


Bugh


Langkah Neha terhenti saat badannya tertabrak oleh seseorang.


Perlahan Neha membuka matanya dan melihat tubuh yang berada di depannya.


"Hai." Sapa Rezi dengan tersenyum lembut.


Neha tersenyum lebar saat melihat Rezi sudah berada di hadapannya.


Neha menarik pergelangan tangan Rezi. Mengajak Rezi untuk ke kursi yang berada di samping kebun.


Sudah ada beberapa sarapan yang tersaji di atas meja bundar itu. Rezi langsung duduk saat melihat menu yang ada di atas meja.


"Ini sarapan buat aku?"


Neha hanya mengangguk dan kembali tersenyum lebar.


Rezi langsung melahap makanan yang di sajikan oleh Neha. Sementara Neha hanya tersenyum melihat Rezi yang begitu lahap memakan masakannya.


"Neha, jangan tersenyum terus," ucap Rezi yang tak bisa melepaskan pandangannya saat melihat Neha tersenyum.


Neha mengernyitkan dahinya dan memainkan tangannya.

__ADS_1


"Karena aku merasa, waktu terhenti saat aku melihat senyummu."


__ADS_2