
Sean tersentak dari lelapnya, dahinya mengernyit, sekedar untuk mengembalikan kesadarannya. Sean melihat jam di tangan kirinya, ini sudah dini hari.
Ia tertidur saat menemani Megi tidur tadi, Sean menghela nafasnya dan mengusap wajahnya kasar. Menggeser kepala Megi yang saat ini sedang tertidur berbantalkan lengan tangannya.
Sean mengelus pucuk kepala Megi, menaikan selimut sampai ke dada Megi. Sean beranjak dan kembali bekerja di balik layar datarnya.
Sampai adzan subuh menghentikan segala aktifitasnya. Sean membereskan pekerjaannya dan bersiap untuk memacu kendaraanya kembali pada rutinitasnya.
Sean membelai kepala Megi lembut, mencium pipi Megi yang saat ini sedang tertidur pulas.
"Gue pergi, Sayang." bisiknya di telinga kiri Megi yang saat ini sedang tertidur membelakanginya.
***
Ting...
Bel rumah besar kediaman Rayen berbunyi, sudah panggilan ketiga namun penghuni rumah besar ini belum ada yang keluar satupun.
Megi menghela nafasnya, ia merapikan helaian rambutnya yang sempat berantakan karena angin yang berhembus sedikit kencang dari biasanya.
Ting...
Kembali Megi menekan bel rumah. Setelah menunggu beberapa lama, terdengar suara gagang pintu di buka.
"Megi." ucap seseorang riang di balik daun pintu.
"Ayo masuk." perintahnya dengan mengumbar senyum bahagia.
Megi meraih tangan Miranda, mencium punggung tangannya sebelum melangkahkan kakinya kedalam.
"Kamu sendiri saja?" tanya Miranda sambil merangkul bahu Megi kedalam.
"Iya, kak Sean lagi ada pekerjaan di barat kota." jawab Megi dengan tersenyum.
"Kamu kesepian ya, kalau kesepian main kesini saja. Sean itu tak pernah bisa di cegah, kalau urusan yang sudah ia tangani, dia bisa sampai lupa segalanya."
"Wah ... Ini harum masakan apa, Ma? enak sekali?" tanya Megi antusias.
"Oh ya ampun, sampai lupa. Mama lagi masak di dapur, Mama tinggal sebentar ya." ucap Miranda berjalan meninggalkan Megi sendiri.
"Ehm, Ma." panggil Megi menghentikan langkah kaki Miranda.
"Iya."
"Aku bantu Mama masak ya."
"Hem, boleh." jawab Miranda dengan mengumbar senyumnya.
Megi dan Miranda asyik bercengkrama sambil memasak beberapa makanan untuk makan siang.
Semenjak Rena masuk penjara, Miranda lebih sering berkutat di dapur hanya sekedar untuk mencari kesibukan agar tak kembali bersedih.
Telah banyak yang terjadi di kehidupan ia, Miranda juga tak bisa terus-terusan bersedih meratapi nasibnya.
Untunglah jika Megi masih mau menginjakkan kakinya setelah apa yang Rena perbuat padanya. Seperti tak pernah menyimpan dendam. Megi adalah seorang gadis yang sangat baik hatinya.
"Megi." panggil Miranda di tengah kesibukan mereka di dapur.
"Iya, Ma."
"Mama dengar katanya kamu mau kembali ke Beijing ya?" tanya Miranda hati-hati.
__ADS_1
Sejenak kegiatan tangan Megi yang sedang mengiris wortel terhenti. Ia memalingkan kepalanya melihat Miranda yang saat ini sedang memasak membelakanginya.
"Kak Sean udah cerita ya, Ma?" tanya Megi sendu.
"Sean bilang, saat Mika kembali, dia akan membawamu kembali ke Beijing."
"Iya, Ma. Megi akan pergi ke Beijing untuk meneruskan kuliah Megi, Ma." jawab Megi sedih.
Miranda menghela nafasnya, ia meletakan sendok masaknya dan mendekat kearah Megi. Menarik kepala Megi untuk di sandarkannya ke dada ia.
"Mama berharap, kamu akan tetap menjadi menantu keluarga ini, Megi." ucap Miranda sambil mengelus punggung badan Megi.
"Apa Mama gak bisa, bujuk kak Sean untuk tetap menahan aku disini?"
Miranda menarik nafasnya dalam, meleraikan pelukan Megi.
"Sean tahu apa yang dia lakukan, Megi. Apapun itu, pasti untuk kebaikanmu." jawab Miranda menenangkan.
"Ehm." Megi menganggukan kepalanya.
Miranda menghapus sudut matanya yang sedikit berair. Melepaskan pelukannya dan beranjak kembali ke tenpat ia masak.
Megi menarik pergelangan tangan Miranda, sebelum Miranda sempat pergi.
"Ma," panggil Megi lembut.
"Bisakah Mama memeluk aku sedikit lebih lama?" tanya Megi sendu.
"Selama ini, aku tak pernah merasakan hangat pelukan seorang Mama." sambungnya dengan menundukan pandangannya perlahan.
Miranda tersenyum sendu, ia kembali memeluk badan mungil Megi erat. Kali ini pelukan Miranda di balas oleh Megi, lebih erat.
"Peluk selama yang kamu mau, Sayang." ucap Miranda parau.
Perlahan badan Megi mulai bergetar, menangis semakin dalam. Hangat pelukan Miranda, membuat ia sadar, bahwa Sean telah membawa sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.
Apakah ia terlalu egois jika minta bertahan di sisi Sean? ia telah mendapatkan apapun yang tak pernah ia dapatkan selama ini. Apakah ia akan menjadi serakah, jika ingin tetap memiliki ini semua.
"Kamu gadis yang luar biasa Megi, Mama akan sangat bangga jika kamu itu putri yang lahir dari rahim Mama." ucap Miranda mengelus kembali punggung badan Megi.
"Aku menyayangi Mama, seperti Mama aku sendiri." jawab Megi dengan suara paraunya.
Untuk beberapa saat, Miranda membiarkan Megi larut dalam tangisannya. Setelah agak membaik, Miranda meleraikan pelukannya dan mengahpus sisa buliran air mata Megi.
"Sampai kapanpun, Megi. Mama akan tetap menjadi Mama kamu." ucap Miranda sambil meraih kedua tangan Megi.
"Kamu itu Putri Mama, bukan menantu Mama. Kapanpun kamu rindu, kamu harus temui Mama, ya." ucap Miranda kembali, ia mencium kedua jemari Megi yang ia genggam tadi.
Megi menggulum senyumnya, walaupun saat tersenyum airmata nya masih menetes dengan deras.
"Emh." jawab Megi sambil mengangguk pasrah.
Miranda tersenyum, ia merapikan helaian rambut Megi yang menutupi sebagian wajahnya. Menarik kepala Megi dan mencium dahi Megi lembut.
"Jangan menangis lagi anak gadis. Nanti cantik kamu akan sirna."
Megi melepaskan tawa pahitnya saat mendengar ucapan Miranda. Mereka kembali berkutat di dapur, menyiapkan makan siang mereka berdua.
"Hah, akhirnya selesai juga ya." ucap Miranda saat meletakan hidangan terakhir di meja makan.
"Mama, kita masak sebanyak ini memang siapa yang mau makan?" tanya Megi saat melihat meja makan yang penuh dengan berbagai jenis masakan.
__ADS_1
"Iya ya." jawab Miranda melihat kembali hidangan yang memenuhi meja makan besarnya itu.
"Habisnya Mama seneng bisa masak bareng kamu. Jadi sampai lupa deh." jawab Miranda sambil menarik salah satu kursi di meja makan.
"Mama aku ambilin makan ya."
"Boleh."
"Mama mau makan yang mana?"
"Hem, yang mana saja lah. Pasti enak."
Dengan sigap Megi mengambil piring dan mengisi piring itu dengan beberapa hidangan yang sempat ia masak tadi.
"Megi."
"Iya."
"Selama Sean gak disini, kamu nginep di rumah mama saja ya."
"Ehm" Megi menggaruk tengkuk lehernya. "Gimana ya Ma? sepertinya gak usah deh Ma." tolak Megi lembut.
"Loh kenapa? dari pada kamu kesepian sendiri di hotel. Disini kan gak kalah nyaman sama di hotel ataupun di apartemen." bujuk Miranda kembali.
"Bukan itu masalahnya Ma." jawab Megi sungkan.
"Jadi apa? Sean gak izini kamu? biar Mama yang minta."
"Bukan Ma, kak Sean malah nyuruh aku nginep disini nemeni Mama."
"Kalau gitu sudah gak ada masalah dong."
"Hem, masalahnya itu, Ma." ucap Megi sedikit takut.
"Apa? masalahnya apa lagi?"
"Masalahnya itu, aku ... Aku..." jawab Megi terbata.
Megi membuang pandangannya kearah Miranda yang berada di hadapannya. Miranda hanya memandang Megi dengan tatapan bingung.
"Aku, aku..." kembali Megi menggantungkan kalimatnya.
"Masih agak takut sama Papa Rayen." sambungnya lirih, bibirnya bergetar saat mengucapkan kata itu.
"Apa? kenapa bisa?" tanya Miranda tak percaya.
"Aku gak tau, Ma. Aku hanya takut saja."
Miranda melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah. Tak menduga, Megi mampu melawan Sean namun takut saya Rayen yang bahkan tak ada apa-apanya di bandingkan Sean.
"Papa Rayen bukan orang jahat, Megi. Kamu gak perlu takut sama Papa Rayen."
Di tengah obrolan mereka berdua, tanpa mereka sadari ada sebuah langkah kaki yang saat ini datang mendekat.
"Aku tahu Ma, Papa Rayen bukan orang jahat. Tapi aku juga gak tahu kenapa, saat di hotel, kalau Papa Rayen nyapa aku, bahkan bernafaspun susah."
"Puft ... Ha ha ha." seketika tawa Miranda meledak.
"Kamu takut karena sering lihat Papa Rayen bersiteru sama Sean ya?"
"Aku ngerasa kalau dengar suara Papa Rayen seperti mendengar suara..."
__ADS_1
"Suara apa?" sambung seorang pria dengan suara nge bas nya.
Seketika Megi menjatuhkan piring di tangannya saat mendengar suara itu menyambung perkataannya. Matanya membulat sempurna saat melihat lelaki itu berada di hadapannya.