
Dengan sedikit berlari Sean menuruni anak tangga rumah mewah itu. Miranda menyadari pergerakan putra sulungnya itu, bibirnya tersungging indah, saat melihat badan besar anaknya turun dari tangga.
"Sean." panggilnya dengan senyum manis.
"Megi, mana, Nak?"
"Di apartemen, Ma." jawab Sean lembut.
"Mau sarapan? ayo duduk."
Sean hanya menggeleng kan kepalanya, ia berjalan mendekat kearah Miranda. Menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Miranda.
"Ma, boleh Sean tanya sesuatu?"
"Mau tanya apa, Nak?"
"Setelah apa yang di buat oleh Rayen, kenapa Mama masih bisa maafin dia?"
Miranda menghela nafas panjang saat mendengar ucapan Sean. Ia menarik kursi dan duduk di sebelah Sean. Miranda tersenyum getir dan meraih dahi Sean.
"Kenapa sekarang kamu tanya soal itu, Sayang?" tanya Miranda lembut.
"Kenapa? kenapa Mama masih sanggup bertahan?"
"Suatu saat kamu akan mengerti, Nak. Terkadang kita harus memilih luka di bandingkan suka. Bukan karena kita tak mampu bahagia, tapi terkadang tak selamanya luka itu pahit." jawab Miranda lembut.
"Ma, katakan yang jelas. Sean gak paham."
"Saat kamu dikhianati dalam suatu hubungan, kadang kamu harus memilih bertahan dari pada harus menyerah, Nak."
"Kenapa, Ma?"
"Karena menyerah pun tak semudah yang kamu bayangkan, Sayang. Apalagi dalam pernikahan, bertahan dan menyerah sama-sama akan menghasilkan luka. Mama pilih bertahan karena kamu dan adik kamu, Nak."
"Sekarang Sean dan Rena sudah besar, Ma. Kami sudah tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, kenapa Mama gak pilih berpisah saja?"
"Karena, hati, Sayang. Mama masih sangat mencintai Papa kamu."
"Walaupun Rayen sudah mengkhianti Mama? Mama gak sakit hati? apa Mama gak terluka?"
Miranda hanya tersenyum lirih, bukan tak terluka. Jika hatinya tak sakit dan tak terluka, tak mungkin selama bertahun-tahun ia hanya menangis dan meluoakan perkembangan putra-putrinya.
"Suatu saat nanti kamu akan paham, Nak. Jika Mama menyerah, maka Mama akan kalah, Sayang. Kalah dengan wanita-wanita yang jatuh cinta sama Papa kamu karena uangnya. Mama menemani Papa kamu dari bawah, Nak. Mama paham sifat Papa kamu, dia hanya khilaf."
"Ini sudah bertahun-tahun lamanya, Ma. Tapi Rayen gak pernah berubah, Ma. Mau sampai kapan Mama bertahan dalam luka ini?"
__ADS_1
"Terus kalau Mama menyerah, apa kamu pikir Mama tidak akan terluka? apapun pilihan Mama, Mama juga akan terluka, Sayang. Sulit memang buat kamu mengerti, Nak."
"Mama masih punya Sean dan Rena, Ma. Mama gak akan kehilangan apapun saat pisah dengan Rayen. Sean akan bertanggung jawab untuk keluarga kita, Ma. Sean akan buat Mama bahagia."
Miranda meraih kedua pipi Sean, ia tersenyum sendu.
"Kamu ingin lihat, Mama bahagia, Sayang?" tanya Miranda lembut.
Sean hanya mengangguk kan kepalanya, mengambil kedua tangan Miranda yang menyentuh pipinya, lalu mencium punggung tangan Miranda lembut.
"Kembali kesisi, Mama, Nak. Bawa pulang menantu Mama kerumah ini."
Kembali Sean tersenyum sinis, ia menggelengkan kepalanya.
"Itu gak mungkin, Ma. Mama bisa pindah dari rumah ini, tinggalkan Rayen, Ma. Sean yakin dia bisa urus hidupnya sendiri."
"Itu gak mungkin, Nak. Bagaimana kamu ingin Mama terbang tinggi, tapi kamu meminta Mama mematahkan sebelah sayap, Mama. tanpa kamu dan Rena Mama gak bahagia, Sayang. Tanpa Papa kamu pun Mama tidak lengkap."
Sean menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, ia menghela nafasnya berat. Kenapa pemikiran wanita itu sangat rumit, ia tak mengerti hal-hal seperti ini. Kenapa wanita sangat mudah memaafkan dan sangat mudah menerima kembali.
Setelah luka yang di goreskan oleh Rayen tapi Miranda masih bisa dengan mudah membuka kembali pintu maafnya. Bahkan Sean sebagai anak saja tak terima oleh perlakuan Rayen.
"Sean lelah, Ma. Sean pulang ya." Sean mencium punggung tangan Miranda dan berlalu meninggalkan Miranda.
Miranda hanya bisa menatap punggung lelaki itu berlalu pergi. Putranya telah besar, putranya sudah sangat dewasa, sejak kapan putranya sudah tumbuh sedewasa itu.
Sean membuka pintu kamarnya, ia merebahkan badannya. Berpikir semalaman, dan bertanya langsung pada Miranda pun ia masih tak menemukan jawaban apapun. Hanya menambah teka teki saja.
Sean memejamkan mata lelahnya, dan tak lama pun kesadaran ia mulai menghilang.
Lengketan keringat di badannya membuat Sean terbangun karena gerah. Di lihat matahari sudah jauh berada diatas kepala. Sean memegang dahinya, kepalanya sedikit pusing.
Terlalu banyak misteri yang terjadi dalam kisah hidupnya, entah bagaimana ia harus memecahkannya, semua terasa sangat samar.
Dengan cepat ia membasuh badannya dan mencari sesuatu yang bisa mengisi perutnya. Di lihat tak ada apapun diatas meja makan. Istri belianya pun tak ada dirumah.
Sean menumpuhkan siku tangannya diatas meja dan memegang dahinya kembali. Pikirannya kembali mengawan, membuka kisah masa lalunya dan mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang tak pernah terjawab.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat. Megi kembali dengan beberapa kantung plastik di tangannya.
"Kak, sudah bangun?" tanya Megi sambil berjalan menuju pantry.
"Gue laper, masak dong." perintah Sean ketus.
"Kakak mau makan apa?"
__ADS_1
"Makan elu." jawabnya ketus.
"Apa?" tanya Megi sambil membalikan badannya.
"Ya makan nasi lah, lu pikir gue mau makan kuaci?!l"
"Ya Tuhan, Kak. Aku cuma tanya, kenapa harus pake emosi."
"Lu bisa masak makanan China?"
"Bisa, dong. Megi gitu loh." jawab Megi angkuh.
"Yaudah kalau gitu buatin gue makanan Tiongkok."
"Kakak mau aku buatin apa?"
"Apa aja, banyak tanya deh!" jawab Sean kesal.
"Cih... Ditanya marah, kalau gak ditanya nanti salah." ucap Megi kesal.
Tanpa banyak bertanya lagi, Megi menyiapkan bahan-bahan yang ia beli tadi.
"Kakak suka makanan pedas?" tanya Megi sambil membelakangi Sean.
"Suka." jawab Sean cuek.
"Iya, aneh juga kalau kakak gak suka pedas."
"Kenapa?"
"Secara omongan kakak aja pedas."
"Apa?" teriak Sean
"Mulai deh, nge gas."
Sean hanya menggelengkan kepalanya, sementara Megi terlihat kesusahan saat mengupas kulit udang di atas pantry.
Sesekali tangannya memindahkan helaian rambut yang menempel di pipinya. Ia lupa mengikat rambut panjangnya yang di gerai.
Sean yang melihat pergerakan Megi dari belakang mulai risih, Sean berjalan mendekat dan memegangi rambut Megi. Terasa harum rambut Megi mulai memasuki rongga hidungnya.
Sesaat keharuman shampo dari rambut Megi membuat ia terkesima, Sean perlahan mulai mencium rambut Megi, membenamkan hidung mancungnya kedalam helaian lebat rambut Megi. Sementara Megi masih sibuk mengupas kulit udang yang baru saja ia beli.
Saat udang terakhir selesai, dengan cepat Megi membalikan badan, Sean terkejut karena pergerakan Megi. Mata mereka saling bertautan, Sean memandang Megi dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
Deg... Debaran jantung itu mulai terasa.