
"Mirza!" suara lantang terdengar tak asing di telingan Megi.
"Wo ... Wo ada adik ipar gue datang berkunjung." ucap Mirza dengan senyum meledek.
"Lu gak pernah jera ya." Sean menarik kerah baju Mirza.
Matanya menatap Mirza dengan sangat tajam. Sean mulai kembali berkobar melihat lelaki tengil di hadapannya.
"Sabar, dek. Gue cuma kangen sama adek kandung gue." Mirza menepuk pipi Sean lembut.
"Jangan sentuh gue!" dengan cepat tangan Sean menepis pergerakan Mirza.
"Gue gak suka di sentuh, apa lagi dengan tangan kotor milik lu." Sean melepaskan cengkramannya dan membuang badan Mirza kasar.
"Meg, buka pintunya, ini gue." ucap Sean sambil mengetuk daun pintu kamar Affandy.
Dengan sisa tenaganya Megi mendorong kembali buffet yang ia buat untuk menghalangi pintu. Megi membuka pintu kamarnya, langsung tangan Sean menarik tubuh Megi saat Megi keluar dari kamar.
"Lu gak apa-apa?" Sean meraih kedua pipi Megi, jari jempol Sean mengelus pipi mulus Megi dengan lembut.
Sementara Megi hanya menggeleng pasrah. Sean mendekap tubuh mungil Megi menggunakan satu tangannya, matanya tajam menatap Mirza yang saat ini berada lima meter di hadapan mereka.
"Gue bisa pidanain elu, Mirza. Sekali lagi elu sentuh apa yang menjadi tanggung jawab gue." ancam Sean kasar.
"Benarkah?" Mirza mendekat kearah Sean.
Sean semakin mendekap erat tubuh mungil Megi dengan tangan kirinya, sementara satu tangannya ia biarkan kosong. Menjadi tameng untuk melawan pergerakan Mirza.
"Lu lupa? Adik lu cinta mati sama gue. Dia akan berontak jika elu pidanain gue."
Sean mencengkram pipi Mirza dengan tangan kanannya. Geram sekali melihat makhluk yang berada di depannya saat ini. Perlahan retakan rahang Sean terdengar.
"Jangan main-main sama gue Mirza. Lu pikir gue takut masuk penjara? gue bisa bunuh lu hanya dengan tangan kosong!"
"Lakukan! lakukan jika elu berani!" ucap Mirza menantang.
Dengan cepat Sean membalikan badan Mirza, melilit batang leher Mirza dengan tangannya.
"Lu pikir gue gak berani? hanya butuh satu putaran dari tangan gue, nyawa elu bakalan hempas dari raganya."
"Kak Sean aku mohon jangan." Megi memegang bahu Sean dari belakang.
Sean pun hanya mengancam, ia sudah berjanji pada Mika untuk tidak membunuh Mirza. Posisinya saat ini sangat sulit, di satu sisi jika Mirza di biarkan hidup maka ia akan terus mengancam.
Disisi lain, Mirza adalah adik dari sahabatnya, anak dari lelaki yang ia kagumi selama ini. Mirza juga kakak dari istrinya, hubungan ini membuat Sean kesal sendiri.
Sean menghempaskan badan Mirza kuat.
"Berterima kasihlah pada adikmu, beberapa kali dia sudah menyelamatkanmu dari maut."
Sean berjalan mendekat kearah Mirza, satu tumbukan kembali ia layangkan. Mirza terbatuk dan sedikit tersengal, Megi sebenarnya tak tega melihat Mirza seperti ini. Tapi mengingat semua perlakuannya, Megi hanya memalingkan wajahnya kesisi kosong.
"Sekali lagi, lu berani nyentuh kulit istri dan adik gue! gue masukin elu ke bui." ucap Sean tegas.
Sean menarik tangan Megi mendekat, tangan kirinya mendekap kembali Megi dengan erat. Membawa Megi keluar dari rumah itu, namun langkahnya terhenti kembali di depan Mirza.
"Saat lu hidup di penjara, percayalah. Elu sendiri yang akan memohon kematian sama gue." Sean menatap Mirza tajam.
Bahkan tajamnya mata dia lebih menusuk dari pada sebilah belati. Sean memberikan helmnya pada Megi. Tanpa banyak berkata Sean melajukan motornya kembali ke lokasi pembangunan.
Entah apa yang akan terjadi jika tadi ia tidak membelokan motornya kerumah Affandy. Ada firasat yang menyeret motor Sean untuk mengunjungi rumah Affandy, ternyata firasat itu hadir karena rintihan Megi.
Sean memarkirkan motornya asal, Sean meninggalkan Megi diatas motornya. Ia masih sangat kesal oleh tingkah gadis itu yang begitu ceroboh.
Membuang waktu kerjanya dan kembali harus menatap wajah milik **** itu. Sean menyingkap kaca matanya saat bertemu investor asing di depannya.
Bibirnya tersenyun manis saat ia berjabat tangan, Sean berbicara manis dengan bahasa asing. Seperti dua orang yang berbeda dari tadi, kini wajah Sean bak seorang pangeran yang sedang bertemu kekasihnya.
__ADS_1
Megi hanya terdiam di atas motor Sean. Panas matahari yang menyengatnya tak ia pedulikan. Peluh keringat mulai bercucuran dari dahinya, salah seorang investor itu melihat kearah Megi.
Dengan memaksakan senyumnya Megi hanya mengangguk dan tersenyum kaku, di balas dengan tatapan tajam dari Sean.
Tak lama berselang, Farrel datang mendekat.
"Nona, ayo ikut gabung. Nanti Nona bisa pingsan disini."
Megi turun dari motor besar Sean. Ia berjalan mengikuti langkah Farrel, Sean menarik kursi di sebelahnya. Namun matanya masih sinis menatap Megi.
Sepanjang percakapan Megi hanya menunduk dan terdiam. Bukan ia tak mengerti pembicaraannya, tapi ia lebih memilih untuk tidak ikut campur.
Setelah percakapan yang sangat panjang, ketiga investor itu berpamit diri. Sean bangkit dan menyalami investor itu, sementara Megi hanya tertunduk lesu.
Sean menghela nafasnya saat melihat Megi yang masih tertunduk tanpa suara. Ia geram setengah mati melihat ulah gadis ini.
Sean mengancungkan dagunya, memberikan perintah untuk Farrel dan anak buahnya menjauh dari cafe.
"Lu itu sengaja cari masalah? kenapa lu balik kerumah itu?" ucap Sean kesal.
Megi hanya terdiam, ia masih menundukan wajahnya. Tak ingin membalas ataupun menatap wajah suaminya.
"Gimana tadi kalau gue gak datang? ponsel, tas, semua lu tinggal di konter!" kembali Sean membentak kasar.
Megi masih tertunduk, ia hanya menerima kekesalan Sean.
"Megi lihat gue!" Sean mengangkat dagu Megi.
Perlahan buliran air itu melintasi pipi putih Megi. Kembali Sean menghela nafasnya, air mata Megi membuat ia gamblang.
"Aku cuma rindu Papa, kak." ucap Megi parau.
"Udahlah jangan nangis." ucap Sean melemah.
"Gue minta maaf atas sikap gue sama lu." sambungnya lembut.
"Gue mohon jangan nangis lagi, lu tau kan gue bisa meledak kalau ngadepin cewek nangis."
Megi tersenyum getir mendengar ucapan Sean. Megi mengangkat kepalanya dan melihat wajah Sean. Kembali jantungnya berdebar saat menatap wajah Sean dengan jarak yang begitu dekat.
Kenapa, pertahanannya begitu mudah hancur saat melihat Sean. Ia kembali jatuh cinta pada Sean, berulang kali Sean membuat ia jatuh cinta.
Sean mengambil tas kecil Megi yang dari tadi ia letakan diatas meja. Sean membuka tas Megi dan mengeluarkan paper bag kecil yang ia beli tadi.
"Bayaran untuk hasil desain elu." ucap Sean sambil menyerahkan paper bag itu.
Megi mengernyitkan dahinya, ia kembali tersenyum saat melihat kantongan itu. Tak menyangka Sean bisa bersikap seperti ini.
Megi mengambil bungkusan itu, perlahan ia membuka kotak berlapiskan beludru berwarna biru elektrik. Matanya membulat sempurna saat melihat sebuah kalung dan gelang dengan hiasan bintang.
"Kakak beli ini buat aku?" tanya Megi dengan senyum sumringah. Seperti hilang entah kemana kesedihannya tadi.
"Bukan, gue belik itu buat tukang kebon."
"Ya ampun, kak Sean." Megi meletakan tangannya di pipi kiri.
Megi memonyongkan bibirnya mencium lewat udara untuk suami di sampingnya. Sean hanya memutar bola matanya malas. Cepat sekali suasana hati gadis ini berubah.
Baru tadi ia menangis, sekarang sudah bisa tersenyum dengan sumringahnya. Megi mengambil gelang dan kalung itu, matanya menatap dua benda itu dengan binar takjub.
Bukan takjub dengan bentuk ataupun kalungnya. Tapi takjub dengan sisi Sean yang bisa romantis juga. Megi tersenyum puas, mungkin ia terlalu cepat menyerah. Mungkin Sean tak sekeras yang terlihat.
Megi memakai gelang yang di berikan, Sean hanya mentap dengan sudut matanya. Sean ingin tersenyum, namun karena gengsinya ia hanya mengehela nafasnya.
Suasana hatinya ikut senang saat melihat gadis itu suka dengan hadiahnya. Megi mulai melingkari kalung itu di lehernya, namun seperti kesusahan untuk mengaitkan kalungnya.
"Kak."
__ADS_1
"Hem."
"Bantu aku kaitkan kalungnya."
Sean menghela nafas panjang, ia sebenarnya ingin membantu dari tadi. Namun gengsi jika tidak di suruh, nanti Megi akan kembali besar kepala.
"Kak."
"Hem."
"Cepat dong!" ucap Megi kesal.
"Iya." Sean dengan gaya malas bangkit dari kursinya.
Saat berada di belakang Megi bibirnya tersenyum, tingkah gadis ini memang luar biasa unik. Menangis sejadinya, tersenyum semanisnya, nyebelin senyebelinnya.
"Udah." ucap Sean sambil kembali duduk di sebelah Megi.
Megi mengeluarkan kaca dari dalam tasnya, melihat kalung yang baru bertengger di leher.
"Cantik, Ih... " ucapnya sambil senyum-senyum sendiri.
"Makasih suamiku, Unch ... Unch ..." Megi menyubit kedua pipi Sean geram.
"Haduh..." Sean memukul pelan tangan Megi yang mencubit pipinya dengan keras.
Megi kembali menatap wajahnya dari kaca cermin, lehernya yang di pakaikan kalung tapi wajahnnya yang di lihat terus.
Sean hanya menggeleng pasrah, ia memegang kedua pipinya yang kram karena cubitan Megi. Seumur hidup tak ada yang berani mencubit pipinya seperti Megi.
Namun seperti tak merasa kesal, Sean hanya tersenyum lirih. Ada apa dengan dirinya, mengapa kali ini sulit sekali untuk mengendalikan dirinya. Ia seperti kehilangan kendali atas dirinya saat bersangkutan dengan Megi.
"Kak, aku cantik gak?" tanya Megi antusias.
"Iya, cantik."
"Memang aku cantik." ucap Megi pede.
Sean hanya memutar bola matanya malas, ia mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya.
"Kak, kakak masih hutang satu bayaran lagi kan."
"Iya." jawab Sean cuek.
"Kalok gitu bayarannya aku mau kakak bawa aku jalan-jalan."
"Kemarin di ajakin jalan-jalan ke Beijing gak mau."
"Aku gak mau ke Beijing kak. Aku minta waktu kakak seharian bareng aku, tanpa pekerjaan dan tanpa telepon."
"Apa? gak waras lu?"
"Ih ... Iya dong kak."
"Megi, lu tau kan gue sibuk. Mana bisa gue matiin ponsel."
"Dari pada aku minta kakak cinta sama aku. Pilih mana?"
"Ya baiklah, nanti aku pilih waktunya."
Megi tersenyum lebar, sampai matanya menyipit karena senyumnya. Perlahan rona kemerahan mulai menampil di pipi Sean. Senyum Megi yang begitu manis membuat jantungnya bertabuh tak beraturan.
Sean membuang pandangannya kesisi kosong. Ia menutupi mulutnya dengan tangkupan tangannya. Sebelum ia benar-benar jatuh pada jebakan si penyihir cilik ini.
"Makasih, kak." sebuah ciuman mendarat di pipi kanan Sean.
Sean menatap Megi sinis dengan sudut matanya. Sementara Megi hanya bergidik, tak peduli pada ancaman yang di berikan Sean. Ia masih sibuk dengan hadiah yang di berikan Sean.
__ADS_1