
Evgen memanyunkan bibirnya, ia melihat kejadian tadi dari atas balkon kamarnya.
"Dasar kak Rezi bodoh, apa dia gak nyadar kalau selama ini Soraya suka sama dia?"
Evgen beranjak dari balkonnya dan turun dari lantai dua.
"Evgen," panggil Sean lembut.
"Iya,"
"Kepala kamu bagaimana?" Tanya Sean lembut.
"Oh ini?" Evgen menyentuh plester perban di kepalanya, "Ah ... Luka segini, kecil, Pa," ucap Evgen angkuh.
"Kecil ya?" Sean menganggukan kepalanya, "Hanya luka kecil untuk pengorbanan cinta, iyakan," ledek Sean senang.
"Papa!" tekan Evgen malas.
"Eh, Evgen sudah punya pacar?" Tanya Megi yang sedang duduk di kursi pianonya.
"Minggu lalu sepertinya Papa lihat Evgen makan sama cewek di hotel, kalau gak salah namanya Son, apa ya?" Sean meletakan tangannya di depan dagu, memutar matanya mencoba mengingat nama wanita itu.
"Sonade, Pa. Namanya Sonade," ucap Evgen kesal.
"Mama, kak Evgen bohong itu, Sonade itu nama cewek cantik di kartun Naruto, Ma,"
Evgen dengan cepat membekap mulut Niki yang ingin membongkar rahasianya.
"Shenina, namanya Shenina kan?" Tanya Sean lembut.
"Eh, nama yang bagus," ucap Megi lembut.
"Meg, setelah ini jaga Niki ya, jangan sampai dia terpikat juga sama wanita,"
"Ha ha ha, benar itu. Anak kecil jangan pacar-pacaran ya," Evgen menepuk tengkuk leher Niki, keras.
"Mama!" teriak Niki manja.
"Kamu juga masih kecil ya Evgen, awas saja kalau kamu sampai kelewat batas." Ancam Megi kasar.
"Iya, iya." Evgen mengelus tengkuk lehernya dan duduk menyempiti Niki yang sedang berlatih piano dengan Megi.
"Padahal umur 18 tahun Mama sudah ganjen sama Papa," lirih Evgen lembut.
"Apa? kamu bilang apa?" Tanya Megi meradang.
"He he he, bilang apa?" Evgen bersiul dan membuang pandangannya kesisi kosong.
Megi hanya bisa menghela nafasnya dan menggelengkan kepala.
"Ma," panggil Evgen lembut.
"Kenapa?" Tanya Megi yang masih terfokus pada permainan piano Niki.
"Sugar daddy itu apa sih, Ma?"
"Sugar itu gula, daddy itu Papa. Jadi Papa gula kan, Ma?" Jawab Niki cepat.
Evgen kembali menepuk tengkuk leher Niki.
"Heh anak kecil, jangan sok tahu,"
__ADS_1
"Evgen, kenapa suka sekali main tangan sih?" Tanya Megi kesal.
"Bercanda, Ma," jawab Evgen bersalah.
"Sini kamu, biar Mama tepuk juga! mau?"
"Iya, iya. Maaf."
"Kenapa kamu tanya-tanya sugar daddy?"
"Penasaran saja, Ma. Kata teman aku, Papa itu sugar daddy," ucap Evgen enteng.
"Apa?" Megi langsung bangkit dan melihat kearah Sean yang sedang serius bekerja dibalik laptop.
Megi mendekati Sean dan menutup laptop Sean dangan cepat.
"Megi apa yang kamu lakukan?" Tanya Sean terkejut.
"Katakan! Kakak itu jadi sugar daddy-nya siapa?" Tanya Megi membara.
"Sugar daddy? maksudnya?" Tanya Sean bingung.
"Gak usah pura-pura, aku tahu Kakak masih terlihat muda. Tapi itu bukan berarti Kakak bisa jadi sugar daddy juga, kan?"
Sean mengacak rambutnya dan menghela nafasnya. Ia bingung dengan sikap Megi yang spontan begini.
"Megi maksudnya apa ini? sugar daddy? sugar daddy apa?" Tanya Sean sedikit kesal.
Sementara Niki dan Evgen saling pandangan berdua. Mereka bingung kenapa Megi tiba-tiba marah pada Sean.
"Kakak jujur sajalah, memang aku gak cukup cantik lagi? sampai Kakak masih harus pelihara sugar baby diluar sana?"
Sean menghela nafasnya dan kembali mengacak rambutnya. Dari mana lagi Megi mendapat kabar berita seperti ini.
Sean mengambil laptopnya dan berjalan menaiki anak tangga lantai dua.
"Kakak tunggu!" Panggil Megi keras.
Megi mengejar langkah kaki Sean dan menarik tengan Sean, dengan lembut Sean menghempaskan tangan Megi.
"Sugar daddy, sugar baby, sugar plum, sugar cane? kenapa bisa banyak sekali sugar?" Tanya Evgen bingung.
Rezi masuk kedalam rumahnya, ia sedikit bingung saat melihat Megi dan Sean bertengkar. Tidak seperti biasanya, mereka berdua selalu akur-akur saja.
Bahkan mereka bertengkar didepan Evgen dan juga Niki.
"Ada apa ini? kenapa Mama dan Papa berantem?" Tanya Rezi lembut.
"Mama berantem gara-gara kak Evgen," ucap Niki lembut.
"Enak saja gara-gara gue, Mama berantem gara-gara sugar daddy, sugar baby, sugar plum dan sugar cane, Niki." Ucap Evgen dengan mengusap wajah Niki kasar.
"Maksudnya apa sih? sugar daddy, apa maksudnya?" Tanya Rezi lembut.
"Aku juga gak tahu sugar daddy apa, karena itu aku tanya sama Mama sugar daddy itu apa, kata teman aku Papa itu sugar daddy?"
"Apa?" Teriak Rezi keras,"Mana mungkin Papa sugar daddy. Evgen kamu itu kalau ngomong yang jelas, ada bukti kalau Papa itu sugar daddy?"
"Mana aku tahu? lagian sugar daddy itu apa saja aku gak tahu?" Bela Evgen ketus.
"Mau tahu sugar daddy itu apa?" Tanya Rezi lembut, "Sugar dady itu om-om kaya, yang jalan sama gadis muda," jelas Rezi ketus.
__ADS_1
"Apa?" Teriak Evgen lantang, "Sialan si amoeba, dia pikir Papa gue apaan?"
"Besok-besok kalau ngomong hati-hati, sekarang Papa dan Mama berantem gara-gara kamu, bagaimana?" Tanya Rezi lembut
Evgen menyeringai dan menggaruk kulit kepalanya.
"Kak, itu, bantu jelasin sama Mama ya. Aku mohon Kak, please." Evgen menangkupkan tangannya didepan dada.
Rezi menghela nafasnya dan menaiki anak tangga lantai dua perlahan. Saat seperti ini Evgen selalu mengandalkannya.
Evgen mengepalkan tangannya, giginya mengeretak dengan kuat.
"Shenina, awas saja elu. Berani-beraninya kerjain gue, gue buat elu balas ini semua," ancam Evgen kesal.
***
Megi menyiapkan beberapa piring sarapan diatas meja makan. Setelah selesai menyiapkan semuanya, Megi langsung naik keatas.
"Megi," panggil Sean lembut.
Megi berlari menaiki anak tangga dengan sedikit berlari. Sean menghela nafasnya dan kembali meletakan sendok makannya.
Evgen dan Rezi hanya saling pandang, kalau sudah menyangkut Sean, Megi pasti akan bersikap seperti anak remaja lagi.
"Kalian gak berangkat? ini sudah siang loh," ucap Sean lembut.
Rezi langsung bangkit dan mencium tangan Sean.
"Eh, aku belum siap sarapan, Kak," ucap Evgen lembut.
"Sudah, ayo berangkat saja," tarik Rezi di kera belakang baju Evgen.
Rezi paham sekali, semalam mereka berdua belum berbaikan. Sean butuh waktu sedikit lebih lama untuk meluruskan kesalah pahaman ini.
Setelah anak-anak itu pergi, Sean menaiki anak tangga rumahnya dan menyusul Megi di kamarnya.
"Sayang," ketuk Sean lembut di pintu kamar.
Tidak mendengar jawaban dari dalam, Sean masuk kedalam dan mendekati Megi yang sedang tengkurap, membenamkan wajahnya diatas bantal.
Sean duduk disebelah Megi dan mengelus kepala Megi dengan lembut.
"Sayang, ini hanya salah paham. Kamu percaya kalau aku mau main-main sama gadis seumuran anak-anak kita?" Ucap Sean lembut.
Sean menghela nafasnya dan memeluk badan mungil Megi. Mencium tengkuk leher Megi
"Megi, apa kamu pikir aku mau mengulangi kesalahan Papa dulu, dan mrngorbankan anak-anak kita? apa kamu pikir aku mau menempatkan kamu dalam posisi Mama dulu?" Tanya Sean lembut.
"Sayang, seperti apa dulu aku membenci Papa, kamu tahu. Apa kamu pikir aku mau menjadikan anakku seperti aku dulu? aku yang seperti ini, mungkinkah akan mengulangi kesalahan masa lalu?"
Sean membalikan badan Megi dan memeluknya dengan sangat erat.
"Hanya disini tempat ternyaman buat aku, Megi. Tak peduli seperti apa rupamu, atau setua apa umurmu, asalkan hangat peluk ini tidak pernah berubah. Aku berpikir untuk pergi saja tidak pernah," ucap Sean lembut.
Megi mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya didada bidang Sean.
"Kamu yang aku pilih, maka sampai kapanpun tetap kamulah yang selalu ada dihati aku, Megi. Belasan tahun sudah berlalu, jangankan main-main sama wanita lain. Memandang wanita lain saja aku tidak pernah, bukan karena tidak ada, tapi karena aku tidak mau,"
Megi tersenyum dan melihat wajah Sean dengan sedikit tersenyum.
"Kak, bagaimana jika aku hamil lagi?" Tanya Megi lembut.
__ADS_1
Sean memutar bola matanya dan mengernyitkan dahinya. Melihat wajah Megi yang sama masih imut di umur 40 tahunan.
"Hem, ayo."