Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
57


__ADS_3

Rezi berjalan mendekati Neha dengan tersenyum lembut. Ia menyodorkan sebotol air kehadapan Neha.


Neha meraih botol itu dan hanya memegangnya dengan erat. Ia menghela nafasnya dan terus menatap Rezi dengan sangat lekat.


Rezi menaikan sebelah alis matanya, ia duduk disebelah Neha dan membuka air mineralnya.


"Kenapa lihati aku begitu?" Tanya Rezi lembut.


Neha memanyunkan bibirnya dan menggelengkan kepalanya.


"Baru sadar ya? kalau aku keren?" goda Rezi lembut.


Neha memutar bola matanya, malas sekali mendengar celoteh Rezi yang terkadang receh sekali.


"Ayo, sepertinya barisan sudah mau jalan. Aku juga harus cek barisan aku." Ajak Rezi lembut.


Neha menggelengkan kepalanya, ia tidak mau ikut dalam barisan itu.


"Ayolah," bujuk Rezi lembut.


Neha kembali menggelengkan kepalanya. Rezi menghela nafas dan mengacak rambutnya, terkadang sulit sekali berinteraksi dengan Neha.


"Baiklah, kalau begitu kamu disini saja ya. Ruby, ayo kita kebarisan," ajak Rezi lembut.


"Ayo." Ruby bangkit dengan cepat.


Neha memalingkan pandangannya, melihat wajah cantik Ruby dan menggelengkan kepalanya.


"Kalau kamu gak mau ikut yasudah. Tapi aku mau ikut, kamu disini saja," ucap Ruby lembut.


Neha mengambil jemari Ruby dan menahannya. Ia kembali menggelengkan kepalanya.


"Maaf Neha, tapi kapan lagi aku bisa ikut karnaval?" Ruby melepaskan tangan Neha dengan lembut.


Neha menghela nafasnya dan ikut bangkit perlahan. Ia mengalah pada mereka berdua.


Rezi tersenyum dan menggandeng tangan Neha. Neha melepaskan dengan cepat, ia melingkari lengan tangan Ruby.


"Baiklah, ayo jalan." Ajak Rezi kembali.


Rezi memeriksa beberapa alat marching band sebelum barisan mereka keluar untuk konvoi.


Panas teriak matahari menemani karnaval mereka hari ini.


Bahkan sebelum mereka keluar dari tempat perkumpulan. Keringat sudah bercucuran deras.


Rezi menaikan rambutnya yang beberapa kali jatuh menutupi dahinya. Sama dengan peserta lainnya, ia pun sudah banjir keringat.


Ruby mengeluarkan tisu dari dalam tasnya. Ia memberikan tisu itu kepada Neha.

__ADS_1


Neha mengambil tisu itu dan menghapus dahinya yang ikut berkeringat, karena terpapar matahari.


"Hey, aku kasih ini bukan buat kamu," ucap Ruby cepat.


"Aku kasih ini ke kamu biar kamu kasih ke Pak Rezi, lihat dia sudah banjir keringat begitu."


Neha langsung mengembalikan tisunya ketangan Ruby. Ia menggelenglan kepalanya. Tidak mau jika harus memberikan tisu ke Rezi.


"Sudah, jangan malu-malu. Ayo berikan ke dia," ucap Ruby kembali memberikan tisu itu ke tangan Neha.


Neha kembali menggelengkan kepalanya. Ia ingin keluar dari lapangan, namun Ruby menarik tangannya dan mendorong badan Neha mendekat ke Rezi.


Rezi mengernyitkan dahinya, melihat ulah gadis dua ini yang berisik sekali dari tadi.


"Ada apa Neha?" Tanya Rezi saat melihat Neha berdiri didepannya.


Neha menggelengkan kepalanya, ia meremat tisu yang ada dalam genggamannya.


Rezi melirik ke tangan Neha, bibirnya tersenyum lebar saat melihat tisu ditangan Neha.


"Kamu mau berikan tisu itu ke aku?" Tanya Rezi menggoda.


Neha menggelengkan kepalanya dengan cepat, perlahan rona wajahnya memerah padam. Entah karena malu atau karena terpapar terik matahari.


"Oh bukan ya," ucap Rezi kecewa, ia membalikan badannya dengan cepat.


Melihat raut wajah Rezi yang kecewa seperti itu, Neha menarik tangan Rezi. Membalikan badan Rezi kembali berhadapan dengan ia.


Rezi memandang wajah Neha yang semakin memerah padam. Bibirnya kembali tersenyum, Rezi meraih tangan Neha yang masih menghapus peluh didahinya.


"Wajahmu merah sekali, kalau panas cari tempat teduh dulu," ucap Rezi lembut.


Neha menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia malu sekali saat Rezi melihat dia saat wajahnya memerah begini.


Rezi kembali tertawa dan mengelus pucuk kepala Neha. Semakin hari, ulah Neha semakin ada-ada saja.


Suara terompet pembukaan sudah berbunyi, setiap pengawas akan melepaskan barisannya untuk konvoi bersama, memperingati ulang tahun berdirinya kota.


"Ayo," ajak Rezi saat barisan marching band nya sudah mulai berjalan.


Neha menggelengkan kepalanya, Rezi merangkul bahu Neha dan memaksanya untuk ikut berjalan. Saat ingin berjalan, Rezi memalingkan kepalanya, ia mencari keberadaan Ruby.


"Ruby, ayo."


"Kalian saja," jawab Ruby lembut.


"Hadeuh." Rezi mengacak rambutnya, "Ini lagi satu," ucap Rezi kesal.


Rezi menarik tangan Ruby dan mensejajarkannya dengan Neha. Membiarkan Ruby dan Neha jalan lebih dulu. Sementara ia hanya mengawasi mereka berdua dari belakang.

__ADS_1


Neha hanya berjalan dan melihat kesekeliling. Ia malu sekali saat banyak orang memperhatikannya begini.


Neha menundukan kepalanya, ia berjalan sambil melihat kearah bawah. Kenapa ia malah terjebak oleh acara seperti ini?


Suara hentakan dan juga ketukan dari para peserta konvoi memenuhi seluruh kota. Tak sedikit juga masyarakat yang ikut meramaikan konvoi, berjalan mengelilingi kota.


"Neha, semangat sedikit. Lihat banyak yang ikut kan?" Ucap Rezi menyemangati.


Neha hanya memalingkan pandangannya, ia menyilangkan kedua tangannya dan menekuk wajahnya.


Ruby tersenyum melihat Neha yang seperti itu, Ruby mengambil pergelangan tangan Neha dan mengangkatnya keatas. Ruby berputar seakan sedang berdansa dengan Neha.


Neha melepaskan senyumnya, ia ikut berputar saat Ruby mengangkat tangannya keatas.


Perlahan, karena suasana yang bisa dibilang sangat meriah. Neha menjadi menikmati suasana. Ia mulai tersenyum lebar dan berjalan dengan semangat, menikmati irama musik, dan menari bersama Ruby, sesekali.


Rezi hanya tersenyum dan menepukan tangannya, ikut meramaikan suasana yang begitu meriah.


Mata Ruby teralih saat melihat orang yang berada di bibir jalan. Senyum dan keceriaannya memudar seketika.


Saat melihat Chen dan Soraya sedang bercanda di bibir jalan. Sesekali Chen mencolek lengan mulus Soraya, di balas dengan pukulan yang membuat senyum Chen merekah dengan lebar.


Ruby menundukan pandangannya, ia keluar dari barisan dengan cepat.


Neha mengernyitkan dahinya, ia melihat kearah Rezi.


Rezi mengerdikan bahunya, ia juga tidak tahu kenapa Ruby keluar tiba-tiba.


Neha menyusuli langkah Ruby, mengejar Ruby yang berlari degan menghapus air matanya sesekali.


Disisi lain, Chen menghela nafasnya. Ia tahu Ruby ada didalam barisan itu. Tapi ia tidak tahu jika Ruby akan bereaksi seperti itu.


"Hey," senggol Aya di lengan tangan Chen.


Chen mengalihkan matanya, melihat Soraya yang berdiri didepannya.


"Bengong aja mulu, kalau elu kesurupan gue buang elu ditengah jalan," ucap Aya jutek.


Chen tersenyum dan mengacak rambutnya.


"Tega apa? masa cowok keren seperti gue, mau elu campakan begitu saja," ucap Chen menggoda.


Soraya menaikan sebelah bibirnya, geli dan juga jijik mendengar ucapan Chen.


"Sorry ya, bagi gue elu itu bocah," jawab Soraya ketus.


"Gue memang bocah, tapi gue juga sudah bisa ngasilin bocah loh." Chen memainkan alis matanya, menggoda Soraya yang saat ini terlihat begitu jijik terhadap dirinya.


"Hah ... Sudahlah. Kalau elu mau bengong dirumah saja. Gue gak punya waktu nemeni bocah seperti elu," ucap Soraya beranjak pergi.

__ADS_1


Chen tertawa lepas, ia suka sekali saat melihat Soraya yang seperti ini. Chen membalikan badannya, melihat kearah Ruby berlari tadi.


"Maaf Ruby, tapi aku memilih melepaskanmu. Bukan karena aku tidak cinta kamu, tapi aku ingin memulai cinta yang baru."


__ADS_2