Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 43


__ADS_3

Sean bangkit dari duduknya, membersihkan bagian celananya yang kotor karena pasir.


"Yuk, cari makan." ajak Sean sambil merenggangkan otot badannya.


Megi bangkit dan ikut membersihkan bajunya yang kotor, sebagian poninya terbang karena hembusan angin yang bertiup kencang.


Sean menatap Megi dengan sudut mata tajamnya, ia menggaruk-garuk kulit kepalanya, dan menghela nafas berat.


Sean melepaskan jaketnya dan menutupi badan kecil Megi.


"Sexy banget sih sekarang pakaian elu?" ucapnya ketus.


Megi melihat drees yang ia gunakan, matanya menatap pakaiannya lekat. Megi mencoba mengingat pakaian yang selama ini di kenakan Hana.


Iya, Hana memang tak pernah memakai drees. Beberapa kali Megi bertemu Hana, ia selalu menggunakan jeans panjang, walaupun atasannya memakai baju tanpa lengan.


Bahkan saat datang di acara party tadi saja Hana masih memakai jeans dan riasan tipis. Wajahnya memang sudah cantik saat tampil biasa saja.


Megi menatap Sean yang berjalan di sampingnya, Sean memang tidak suka ribet. Mungkinkah seperti Hana itu yang di sukainya? simple namun modis.


"Lu mau makan apa?" tanya Sean saat memasuki mobil berbody besarnya.


"Apa aja deh kak."


Sean melajukan mobilnya dengan pelan, mencari cafe yang mungkin akan mereka singgahi. Pandangan Megi jatuh pada seorang pedagang kaki lima yang menjual nasi goreng di bibir jalan.


"Kak, makan disitu yuk." Megi menunjuk gerobak tua seorang pedagang di bibir jalan.


"Gak salah, Meg?"


"Kenapa? takut sakit perut?" tanya Megi ketus.


"Enggak, siapa bilang?" ucap Sean sambil menuruni mobilnya.


Mereka duduk di bangku plastik yang sengaja di susun untuk para pelanggan. Megi memesan dua piring nasi goreng.


"Lu pernah makan di pinggir jalan saat masih di Beijing?" tanya Sean memecah keheningan.


"Sering kak."


"Maksud gue, saat Tante Fera masih hidup."


"Sering dong, kak. Di Beijing banyak jajanan pinggir jalan yang enak-enak loh kak. Apalagi saat perayaan imlek. Wah banyak banget makanan enak disana kak." bibir Megi tersenyum manis saat mengingat kejadian manis masa lalu.


Sean hanya memandang Megi dengan rasa takjub. Seorang gadis dari keluarga kaya, sanggup menanggung beban hidup yang luar biasa pahit. Lain hal nya jika ia terlahir dari keluarga sederhana, mungkin dari kecil hidupnya memang sulit, namun ini?


Sean tersenyum getir dan kembali menggeleng, Megi sungguh luar biasa. Bahkan dia sanggup melewati ini semua tanpa berputus asa.


Tak lama pesananan makanan mereka datang, dengan cepat Megi melahapnya. Sean hanya tersenyum menatap Megi yang sedang memakan isi di piringnya. Menunjukan lesung di pipi kanannya yang tak begitu dalam.


"Meg, lu gak kangen sama Beijing?"


"Kangen lah kak. Kangen banget malah." ucap Megi ceria.


"Mau gak jalan-jalan kesana?"

__ADS_1


"Uhuuuk..."


Sean mengambil air di sampingnya dan dengan cepat menyodorkan ke depan Megi.


"Maksud kakak mau pulangi aku kesana?" tanya Megi terkejut.


"Bukan, jalan-jalan kuaci! 2 atau 3 hari gitu. Tapi gak sekarang, gue carik waktu senggang dulu."


"Ciyeee... Kakak ngajakin aku bulan madu?" Megi menyenggol lengan tangan Sean manja.


Sean memutar bola matanya malas. Megi sudah kembali pada ke gila annya.


"Gue bilang jalan-jalan. Gak usah mengkhayal yang enggak-enggak."


"Ciye... Bisa ae cacing pita."


"Apa?" teriak Sean kencang.


Megi menutup mulut Sean dengan cepat. Sean memukul tangan Megi keras, sontak Megi mengibas-kibaskan tangannya karena sakit.


"Sakit banget loh kak. Kasar banget sih?" ucap Megi lemah.


"Ngapain lu nutupi mulut gue? mau bunuh gue?" jawab Sean ketus.


"Lagian kakak ngapain teriak-teriak?" Megi masih mengibaskan tangannya. Tangan Sean terlalu besar, sedikit aja ia pukul dengan tenaga mampu membuat tangan Megi kebas.


"Ngapain juga lu bilangi gue cacing pita?"


"Canda kali, kak. Kaku banget kayak kanebo kering."


Sean menarik tangan Megi yang sakit karena pukulannya. Ia melirik kearah Megi dan menyingkap lengan jaket yang Megi gunakan.


Sedikit memerah karena mungkin Sean tak bisa mengontrol kekuatannya.


"Sakit banget ya? sorry ya, gue spontan." Sean mengurut pelan lengan kecil milik Megi.


"Lagian elu sih." ucap Sean lemah.


"Kan aku lagi yang salah." ucap Megi kesal.


Dalam hatinya Megi tersenyum puas, Sean mulai memperhatikan ia dan juga mulai khawatir oleh keadaannya.


"Tapi aku belum mau kembali ke Beijing kak."


"Kenapa?"


"Nanti kalau aku kesana, aku gak bakalan pulang kesini lagi, kakak mau?"


"Ya gak papa. Bagus malah." ucap Sean datar.


"Ih... Kakak kok jahat banget sih?" Megi memukul bahu Sean yang saat ini sedang menunduk untuk mengurut tangannya.


"Udah gue urut pun lu masih gebukin gue, dasar." ucap Sean ketus.


Megi belum siap untuk kembali menginjak kota itu, bukan karena tak rindu pada kota yang telah membesarkannya itu.

__ADS_1


Tapi ia belum siap untuk kembali mengingat seluruh luka yang mungkin akan kembali membuat lubang di dalam hatinya. Ia masih terlalu lemah karena kepergian Papanya, kota itu hanya akan mengingatkannya kembali pada luka lama.


"Kak." panggil Megi lembut.


"Hem." ucap Sean cuek.


"Makasih,"


"Gak perlu berterima kasih, kan gue yang buat tangan lu begini."


"Makasih karena sudah membawa Mama di kehidupan aku, kak."


Sean menegakkan badannya seketika, ia memandang Megi yang saat ini matanya mulai berembun.


"Makasih untuk kesempatan yang udah kakak berikan untuk aku. Kesempatan untuk bisa punya orang tua lagi." bibir Megi bergetar saat mengatakan hal itu.


"Megi." Sean menghapus jejak buliran di pipi Megi.


"Jangan benci om Rayen lagi kak. Saat kakak gak bisa melihat om Rayen lagi suatu saat nanti, aku takut kakak akan menyesal seumur hidup kakak nanti."


Sean hanya menundukan kepalanya. Perasaan nya mulai kacau saat ini, Megi terus membuat keadaannya bingung. Megi terus membuat pikiran Sean berperang sendiri.


"Gue gak bisa, Megi. Rayen terlalu kejam untuk seorang Papa." jawab Sean lemas.


"Aku tahu kak, om Rayen bersalah sama hidup kakak. Om Rayen bersalah dengan Mama dan juga Rena. Tapi apakah kakak, Mama, dan Rena gak pernah berbuat kesalahan? sampai kakak harus menghukum om Rayen begini?"


"Lu gak ngerti, Megi." suara Sean mulai meninggi. Sean kembali kehilangan kesabarannya.


"Kalau gitu ceritakan, apa yang buat aku gak ngerti kak."


"Dia bukan cuma mengkhianati gue, tapi dia juga mengkhianati keluarga kami, Megi."


"Apa kakak pernah bertanya kenapa Mama masih bisa memaafkan om Rayen kak? apa kakak pernah berpikir kenapa Mama dan om Rayen masih terus berasama setelah pengkhiantan yang di lakukan om Rayen?"


Sean terdiam, ia memandang Megi lekat. Ia memang tak pernah menanyakan kenapa Miranda masih bisa terus hidup dengan Rayen yang sudah menyakiti hatinya.


"Mama mengalah kak, Mama melupakan sakit hatinya agar keluarga kalian tetap bersama kak."


"Gue gak perlu keluarga yang utuh jika begini keadaannya, Megi."


"Kak, saat perempuan menikah, maka yang ada di dalam pikirannya adalah bagaimana mempertahankan keluarganya agar tetap utuh kak. Mama melupakan semua perihnya kak, Mama mengorbankan banyak air matanya, cuma demi kakak, dan om Rayen bisa kembali bersatu. Biar keluarga kalian bisa bersama lagi kak."


"Untuk apa Meg? untuk apa bertahan dengan lelaki seperti dia?"


"Kak, setiap orang punya kesalahannya masing-masing. Cobalah untuk berbicara pada Om Rayen kak. Cobalah untuk saling mengalah."


"Apakah dia pernah berpikir untuk mengalah, Meg?"


"Kak, kakak itu anak, jangan menunggu orang tua yang meminta maaf sama kakak duluan. Sadar gak kak? jika kakak dan om Rayen terus egois seperti ini, siapa yang paling terluka? kakak atau om Rayen?" tanya Megi sedikit menekan.


"Bukan kalian berdua, tapi Mama."


"Arrggghhhh...!" Sean menendang kuat kursi di sampingnya, piring makanan yang ia letakan di atas kursi ikut melayang jauh.


Megi terpaku memandang Sean, wajahnya berubah menggarang seketika.

__ADS_1


__ADS_2