Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
61


__ADS_3

Evgen mengantarkan Shenina sampai kedepan rumahnya, bahkan sampai pulangpun Shenina hanya diam tanpa suara.


"Gue langsung balik ya," pamit Evgen lembut.


Shenina hanya menganggukan kepalanya, ia sama sekali tak peduli pada Evgen. Rasa sakit hatinya telah membuat ia kehilangan rasa pada apapun.


Melihat Shenina yang seperti itu, Evgen hanya bisa diam. Apa daya dia, jika Shenina punya lelaki yang ia sukai.


Mungkin hanya dengan cara ini, agar ia bisa mengetuk pintu hati Shenina sedikit demi sedikit.


Evgen berjalan memasuki perkarangan rumahnya. Saat ia ingin membuka pintu rumahnya, bersamaan Rezi juga ingin masuk kedalam rumah mereka.


"Eh ... Dek, baru pulang?" Tanya Rezi lembut.


"Iya," jawab Evgen malas.


Ia langsung membuka pintu rumahnya, tak peduli pada Rezi dan juga yang lainnya. Walaupun disisi lain ia senang bisa lebih dekat dengan Shenina.


Tapi rasa sakit lebih dalam menyelimuti hatinya. Ia juga sakit hati saat melihat Shenina terluka seperti itu.


Evgen membanting pintu kamarnya, ia mengacak kasurnya dan menjatuhkan badannya.


Selain lelah, ia sama sekali tidak merasakan bahagia.


"Shenina, jika tidak ada dia. Apakah kamu akan melihatku?"


****


Setelah kejadian itu, Shenina lebih terlihat murung. Ia jadi lebih pendiam dan sama sekali tidak bereaksi.


Apapun yang Evgen katakan, Shenina hanya menuruti apa kata Evgen.


"Shen," panggil Evgen lembut.


"Apa?"


"Nanti pulang langsung ke mall yuk."


"Ngapain?" Tanya Shenina malas.


"Senin ini kita akan ujian semester. Lu temeni gue belanja buat acara pensi ya," ucap Evgen senang.


"Memang elu panitia?" Tanya Shenina ketus.


"Apasih? gue kan ingin tampil juga walaupun sudah kelas tiga."


"Hem," jawab Shenina cuek.


Evgen menarik nafasnya yang memburu dengan sangat kencang. Sungguh, ia bosan sekali melihat ulah Shenina yang terus begini.


"Sumpah, elu gak asyik banget tahu gak, Shen," ucap Evgen geram.


"Gue lagi gak mood, kalau elu sudah siap makan. Gue angkat ya." Shenina mengangkat nampannya dan berjalan keluar dari kelas Evgen.


Kali ini Evgen benar-benar kehabisan cara, ia tidak tahu lagi bagaimana caranya agar Shenina kembali ceria.


Evgen membanting pintu rumahnya, ia kesal, tidak tahu harus berbuat apa. Evgen berlari menaiki anak tangga, ia melemparkan tasnya kelantai kamarnya.

__ADS_1


"Aaarrrrg!" Teriak Evgen kesal.


Evgen menumbuk pintu lemarinya, membiarkan jemarinya terluka dengan tumbukannya sendiri.


Rezi mengetuk pintu kamar Evgen, tak biasa Evgen mengamuk seperti ini.


Rezi berjalan mendekat dan menarik bahu Evgen. Evgen melayangkan tangannya kearah Rezi. Namun tumbukannya terhenti sebelum menyentuh kulit wajah Rezi.


"Kenapa?" Tanya Rezi lembut, "Kenapa berhenti?" Sambungnya.


"Jika kamu kesal, tumbuk saja Kakak, Dek. Pukul Kakak sebanyak yang kamu mau, asalkan kamu puas. Amarah kamu reda, Kakak bisa terluka demi kamu. Tapi jangan lukai diri kamu sendiri," ucap Rezi lembut.


Evgen mengehela nafasnya dan melepaskan kepalan tangannya. Ia duduk dibibir ranjang.


"Ada apa? akhir-akhir ini kamu kenapa?" Tanya Rezi lembut.


"Aku gak apa-apa Kak," jawab Evgen malas.


"Hei, lihat Kakak." Rezi menepuk pipi Evgen dengan lembut.


"Jangan bebankan pikiranmu terus. Coba cerita, setidaknya itu akan membuat kamu lega," bujuk Rezi lembut.


"Kakak sendiri, saat patah hati kenapa gak cerita?" Tanya Evgen ketus.


Rezi menundukan pandangannya, benar juga yang di katakan Evgen. Ia saja selalu bebankan pikirannya saat sedang terluka.


"Kakak cerita kok, Kakak cerita sama Papa," ucap Rezi berkelit.


"Ah." Evgen menghempaskan tangan Rezi yang di letakan diatas bahu Evgen.


Evgen menarik kursi belajaranya dan mencoret desain sketch miliknya. Rezi menghela nafasnya dan berjalan mendekati Evgen.


"Dek," panggil Rezi lembut.


"Hem."


"Ajarin Kakak buat sketching dong," pinta Rezi lembut.


"Hah." Evgen langsung berbalik melihat kearah Rezi.


"Kakak gak salah?" Tanya Evgen bingung.


"Enggak," jawab Rezi cepat.


"Apa Kakak sudah bosan dengan yang namanya virus dan jaringan?" Tanya Evgen kembali.


"Bukan sih, Kakak hanya ingin bisa menggambar."


"Aku tahu Kakak itu pintar, tapi apa bakat Kakak yang selama ini Kakak punya itu belum cukup?"


"Bukan itu maksud Kakak, Dek. Kakak hanya ingin bisa menggambar, itu saja."


"Gak semuanya yang Kakak ingini bisa Kakak dapatkan. Apalagi hobi dan bakat, setiap orang itu pasti berbeda Kak. Puaslah dengan apa yang Kakak miliki, jangan ingin memiliki apa yang tidak mampu Kakak kuasai," jawab Evgen sambil melanjutkan gambarnya.


Rezi menaikan sebelah alis matanya. Tumben sekali anak ini bisa bicara dewasa.


"Tumben kamu bicaranya benar? memang patah hati bisa buat orang berpikir lebih jernih ya?" Ledek Rezi lembut.

__ADS_1


Seketika gerakan tangan Evgen terhenti, ia kembali terpikir oleh Shenina.


Apa yang dimiliki Rezi, tapi ia tidak bisa miliki. Kenapa Shenina bisa suka sama Rezi namun tidak padanya. Padahal mereka berdua adalah saudara.


"Kak," panggil Evgen lembut.


"Apa?"


"Gimana kalau kita tukaran. Kakak belajar desain, dan aku belajar jaringan."


"Eh, kenapa?" Tanya Rezi bingung.


"Gak apa-apa, aku hanya ingin bisa seperti Kakak."


"Ingin seperti Kakak itu gak mudah loh, kamu gak bisa berada di posisi aku. Begitupun sebaliknya Dek."


"Kenapa? apa Kakak pikir aku gak mampu jadi sehebat Kakak?" Tanya Evgen ketus.


"Bukan, bukan gak mampu, Dek. Lebih tepatnya berbeda," jelas Rezi lembut.


"Maksud Kakak?"


"Kamu dan Kakak, itu punya jalan hidupnya masing-masing, Dek. Kamu tetap berada pada jalurmu dan begitu juga Kakak."


"Tapi jalurku susah Kak, aku mau cari yang lebih mudah saja."


Rezi terssnyum dan membuka pintu balkon kamar Evgen. Membiarkan udara luar masuk untuk menyejukan suasananya.


"Apa yang kamu lihat mudah, belum tentu mudah juga untuk dijalani Evgen. Setiap dari kita punya perannya masing-masing. Kita juga punya hambatannya masing-masing, jika jalan orang lain terlihat lebih mudah, itu artinya bukan jalan dia yang mudah. Tapi orang itu membuat seolah-olah jalannya mudah, tetapi tidak seperti itu sebenaranya."


Rezi tersenyum kecut dan berjalan keaisi pagar balkon. Ia memandang kosong ke hamparan luas taman belakang rumahnya.


Jika memang seperti itu, ia juga ingin bertukar tempat dengan Evgen. Hidup nyaman tanpa memikirkan apapun.


Evgen memang memiliki hidup yang tidak mudah, tetapi setidaknya Evgen tidak memiliki beban hidup yang harus ia pikul sepanjang hidupnya.


Evgen tetap bisa hidup dengan jalannya yang suka buat ulah dan bertingkah tanpa harus menanggung beban dari hidupnya.


Tidak seperti ia, yang terus berada dibawah persembunyian akan status asli dirinya. Selalu takut, kalau Evgen sampai mengetahui ia bukan Kakak kandungnya, akankah Evgen tetap akan menyanyanginya.


'Jika kamu jadi Kakak Dek, sanggupkah kamu memikul beban ini? bersembunyi terus dariĀ  kenyataan yang mungkin kamu sendiri akan takut untuk mengakuinya.'


Rezi menghela nafasnya dan kembali kesamping Evgen. Rezi tersenyum lembut dan menepuk bahu Evgen dengan lembut.


"Dek."


"Kenapa?"


"Apapun yang akan terjadi kedepannya nanti. Kamu dan Niki adalah adik yang paling Kakak sayangi. Ingatlah ini Evgen, kemanapun kamu pergi atau seperti apapun sulitnya hidup kamu nanti. Kakak tetaplah tempat untuk kamu mengadu dan berlindung, ya," ucap Rezi lembut.


Rezi menghela nafasnya dan berjalan meninggalkan Evgen sendiri. Meninggalkan banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Evgen.


"Maksud Kakak?" Tanya Evgen bingung.


Rezi menutup pintu kamar Evgen dan tersenyum lembut.


"Istirahatlah, tenangkan pikiranmu," ucap Rezi sambil menutup pintu kamar Evgen.

__ADS_1


"Maksudnya apa sih? kak Rezi kenapa bicaranya seperti itu?" lirih Evgen sendiri.


__ADS_2